Friday, July 08, 2016

Cara Menggunakan Indikator Bollinger Bands

Indikator Bollinger Bands (BB) adalah indikator lagging yang diciptakan oleh John Bollinger. Jika Anda belum memahami istilah indikator lagging, silahkan baca: Analisis Teknikal: Indikator Leading Vs Indikator Lagging.  Indikator BB digunakan untuk mengukur volatilitas pasar, minat pelaku pasar terhadap suatu saham. Indikator BB juga bisa digunakan untuk menentukan tren harga saham. Indikator BB terdiri 3 garis utama: Upper band, middle band dan lower band. Apa kegunaan ketiga garis tersebut?


Cara menggunakan indikator BB: Middle band tidak lain adalah garis moving average (MA). Itulah mengapa indikator BB juga bisa berfungsi untuk mengukur tren harga saham. Sedangkan upper band dan lower band, dan juga middle band itu sendiri  digunakan untuk mengukur volatititas pasar. Jarak antar band yang semakin besar, menunjukkan volatilitas yang semakin besar. Jika indikator BB menunjukkan jarak yang semakin lebar, artinya minat pelaku pasar terhadap suatu saham semakin tinggi. Ketika indikator BB menunjukkan jarak yang semakin sempit dan atau datar, artinya minat pelaku pasar terhadap suatu saham semakin kecil.  


Perhatikan gambar diatas. Pada saat garis BB menyempit (minat pasar rendah), biasanya diikuti dengan penurunan harga saham. Dan Ketika garis BB melebar (minat pasar tinggi), akan diikuti pula dengan kenaikan harga saham. Garis BB yang menyempit mengindikasian bahwa minat pasar terhadap saham tersebut sedang sepi, sehingga harga cenderung bergerak datar. Sedangkan, ketika garis BB melebar, artinya minat pasar sedang ramai. Biasanya, kenaikan harga saham secara drastis setelah keluar dari tren sidewaysnya, akan diikuti dengan garis BB yang melebar. Hal tersebut mengindikasikan adanya minat pelaku pasar yang besar. 

Indikator BB lebih digunakan sebagai "alat bantu" untuk melihat tren saham dan arah minat pelaku pasar. 


Membeli dan Menjual Saham Menggunakan Indikator BB




Ketika indikator BB mulai melebar dengan dukungan kenaikan harga saham, maka hal tersebut menandakan saham tersebut sedang "ramai", sehingga Anda bisa mulai entry (buy) pada saat terjadi kenaikan harga saham, yang disertai dengan indikator BB melebar. Biasanya, indikator BB mulai jelas terlihat melebar ketika harga saham breakout dari harga sidewaysnya, atau dari tren turunnya. Perhatikan grafik saham INDY diatas. Saham INDY tampak sideways (tanda kotak), ketika harga saham breakout dari tren sidewaysnya, garis BB tampak melebar.

Fungsi garis MA pada BB



Seperti pemaparan diatas, indikator BB terdiri 3 garis utama: Upper band, middle band dan lower band. Middle band garis BB adalah garis Moving Average (MA). Penggunaan garis MA pada BB sama dengan cara menggunakan indikator MA. Silahkan baca: Cara Menggunakan Indikator Moving Average. Ketika candle memotong garis MA keatas, harga saham akan rebound, dan juga sebaliknya. Perhatikan tanda panah biru, ketika candle memotong garis MA dari atas, hal tersebut adalah indikasi harga saham akan mengalami koreksi.  

Karena indikator BB sifatnya adalah sebagai "alat bantu" untuk menentukan tren dan minat pasar, ada baiknya penggunaan indikator BB dikombinasikan dengan indikator lainnya. 

Thursday, June 30, 2016

Virtual Trading Begitu Mudah Profit, Begitu Trading Beneran.......

Pernahkah Anda melakukan virtual trading (demo trading), sebelum Anda benar2 melakukan trading beneran? Sebagian besar pemula di kalangan dunia persahaman sudah pernah mencicipi virtual trading.

[Catatan: Virtual trading adalah trading yang dilakukan tidak menggunakan uang sungguhan alias menggunakan dana virtual, dan karena tidak pakai dana beneran, saham yang dibeli juga hanyalah catatan diatas kertas/ demo, namun tetap menggunakan situasi market secara riil.]

Para trader seringkali mendapatkan "cuan" yang besar dalam waktu yang cepat dari aktivitas virtual trading. Bahkan para pemula yang baru saja belajar saham, waktu disuruh virtual trading ternyata bisa dapat "cuan" banyak. Trader yang bisa dapat "cuan" besar dari aktivitas virtual trading, seringkali merasa sangat percaya diri ketika trading di pasar saham riil. Tidak jarang para newbie yang akhirnya merasa dirinya seolah-olah sudah pintar dan hebat mengeksekusi pasar. 

Tapi begitu trading pakai modal beneran... Bukannya untung malah buntung... Bukannya profit gede malah profit pas-pasan. Nah, kenapa ya kok bisa begitu?

Situasi dan kondisi virtual trading dengan trading beneran sangatlah berbeda. Terutama dalam hal PSIKOLOGIS. Virtual trading memberikan Anda rasa free. Mengapa demikian? Karena Anda trading pakai uang2-an. Kalau Anda untung, meskipun untung puluhan juta, uangnya ya nggak bisa Anda gunakan untuk apa2. Sebaliknya, kalau Anda rugi toh juga nggak ada efeknya, kan nggak pakai uang beneran?

Sedangkan kalau Anda sudah trading sungguhan, Anda mempertaruhkan dana Anda di saham. Dana Anda ibarat nyawa. Selama masih ada nyawa, Anda tetap bisa hidup. Selama masih ada dana, Anda tetap bisa trading. Nah, kalau udah nggak ada nyawa (modal) gimana? Kan nggak bisa trading lagi? Karena pakai modal beneran, pasti akan ada rasa fear and greed. Silahkan Baca postingan: Psikologi Pasar Saham: Empat Tahapan Penting. Baca juga: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I) (Baca sampai Part III).

Kalau IHSG naik, saham Anda naik akan ada kecenderungan untuk jadi serakah (greed). Kalau IHSG turun, saham Anda turun, akan ada kecenderungan untuk jadi takut dan panik (fear). Inilah yang membedakan trading pakai uang dengan trading pakai "uang". Kalau pakai "uang", Anda mau untung atau rugi segeda apapun nggak akan ada pengaruhnya. Inilah mengapa kalau trading di pasar beneran akan sangat berpengaruh pada psikologis Anda. 

Di pasar virtual, Anda bisa meraup untung besar. Tapi, jangan harap Anda bisa mendapatkan hal yang sama pada saat Anda trading beneran. Jadi, ingatlah: TRADING VIRTUAL SITUASINYA JAUH BERBEDA DENGAN TRADING BENERAN.  

"Nah terus, berarti latihan pakai virtual trading itu nggak penting dong Bung Heze?" Tanya Anda.  

Anda jangan terlalu cepat menyimpulkan demikian. Trading pakai akun virtual itu SANGAT PERLU, terutama untuk pemula yang baru memutuskan akan trading di pasar saham. Atau sangat berguna untuk Anda yang sudah mengalami kerugian besar, kemudian Anda mau bangkit lagi, alangkah baiknya kalau Anda melakukan recovery dengan berlatih dahulu pakai akun virtual.

Jadi, kegunaan Anda melakukan virtual trading adalah untuk BERLATIH. Berlatih untuk apa? Untuk membaca kondisi pasar, untuk membaca situasi market, untuk memahami pergerakan harga saham dan teknikalnya, untuk membiasakan diri Anda melihat pasar. Ibarat Anda mau lomba menyanyi. Bagaimana mungkin Anda bisa menang lomba menyanyi dengan ditonton oleh ratusan orang, kalau Anda tidak berlatih dahulu? Berlatih menyanyi sendiri, berlatih saat nggak ada siapa2. Itulah ibarat perlunya virtual trading untuk Anda.

"Jadi, Bung Heze apa sebenarnya inti dari pos ini?" Timpal Anda.   

Ada dua hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda, dan poin2 ini sekaligus meluruskan persepsi banyak para pemula yang selama ini salah besar. 

Pertama. Virtual trading bukanlah sebagai ukuran seberapa besar Anda bisa meraup profit, dan Anda umpamakan profit tersebut akan terjadi di pasar riil saat Anda mempertaruhkan dana Anda. Saya ulangi sekali lagi: Virtual trading bukanlah sebagai ukuran seberapa besar Anda bisa meraup profit, dan Anda umpamakan profit tersebut akan terjadi di pasar riil saat Anda mempertaruhkan dana Anda.

Jadi, profit yang Anda dapatkan di virtual trading nggak ada hubungannya sama sekali dengan pasar riil saat Anda sudah menyuntikkan modal. Pada virtual trading, Anda trading pakai "uang". Sedangkan pada pasar sungguhan, Anda trading pakai uang. Kondisi psikologi akan sangat berbeda. 

Lalu, apa tujuan dari virtual trading? Kembali lagi Anda baca beberapa paragraf sebelumnya, bahwa virtual trading bertujuan untuk membaca kondisi pasar, untuk membaca situasi market, untuk memahami pergerakan harga saham dan teknikalnya, untuk membiasakan diri Anda melihat pasar. 

Kedua. Kalaupun Anda bisa "profit" gede saat virtual trading, Anda jangan sok pintar dan jangan sok hebat. Apalagi sampai pamer2 kalau Anda sudah merasa bisa trading. Mindset demikian dapat menghancurkan Anda ketika Anda trading di pasar sungguhan, pakai dana sungguhan, beli saham sungguhan.  Karena ketika Anda sudah merasa sok2-an dan ternyata apa yang terjadi sama sekali tidak sesuai, dijamin Anda bakalan luar biasa stress.. 

Cara Menggunakan Indikator Commodity Channel Index (CCI)

Indikator CCI diperkenalkan oleh Donald Lambert pada tahun 1980. Indikator CCI merupakan salah satu indikator teknikal leading yang digunakan untuk mengukur sinyal beli dan sinyal jual. Awal mulanya, indikator CCI digunakan untuk mengukur sinyal perdagangan komoditas, namun sekarang garis CCI banyak digunakan pula untuk menganalisis harga saham. Garis CCI, terdiri dari garis CCI itu sendiri sebagai sinyal untuk memprediksi, zona overbought dan zona oversold. Zona overbought atau jenuh beli berada pada garis diatas 0. Sedangkan zona oversold atau jenuh jual berada pada garis dibawah 0. Perhatikan grafik CCI dibawah. 


  
Garis berwarna merah adalah zona jenuh beli, yang mengindikasikan banyak permintaan, sehingga harga saham naik terlalu tinggi menurut indikator CCI. Garis berwarna biru adalah zona jenuh jual, yang mengindikasikan banya penawaran jual, sehingga harga saham turun terlalu banyak banyak (over) menurut indikator CCI. 

Cara meggunakan indikator CCI sebagai sinyal buy dan sinyal sell: Ketika garis CCI bergerak naik, artinya harga saham akan bergerak naik, maka saatnya Anda beli (sinyal buy). Ketika indikator CCI bergerak turun, artinya harga saham akan bergerak turun, maka saatnya Anda sell (sinyal sell). Ketika garis CCI berada di zona overbought, artinya harga saham cenderung akan terkoreksi karena harga sudah tinggi. Artinya, pada zona overbought, disinilah momen Anda untuk siap2 "buang barang" / sell. Ketika garis CCI berada di zona oversold, artinya harga saham cenderung akan rebound karena harga sudah rendah. Artinya pada zona overbought, disinilah momen Anda untuk buy / akumulasi. 

PENERAPAN INDIKATOR CCI


Perhatikan saham PWON diatas. Pada saat indikator CCI mengalami kenaikan (yang saya beri tanda lingkaran), maka akan diikuti dengan kenaikan harga saham. Sebaliknya, pada saat indikator CCI turun (yang saya beri persegi), maka akan diikuti dengan penurunan harga saham. 

CCI DIVERGENCE


Divergence adalah suatu kondisi dimana indikator memberikan sinyal bullish, namun sebaliknya harga saham malah turun. Dan sebaliknya juga, kondisi dimana indikator memberikan sinyal bearish, namun sebaliknya harga sahma malah naik. Contoh divergence: Perhatikan gambar diatas yang saya beri tanda lingkaran. Pada saat indikator CCI turun, harga saham PWON justru mengalami kenaikan. 

Indikator CCI tidak bisa berdiri sendiri, sama dengan indikator lainnya. Ketika menggunakan indikator CCI, ada baiknya Anda memadukannya dengan indikator lain, seperti MA, stochastic dan lain2.  

Friday, June 24, 2016

Arah Harga Saham itu Mudah Ditebak!

Kalau Anda baca judul pos diatas, saya yakin akan ada tiga multitafsir dari para pembaca web Saham Gain. Pertama, Anda setuju dengan apa yang saya tulis. Anda berpikir: "Iya ya, memang mudah menebak harga saham itu mau naik atau turun. Itulah kenapa saya bisa profit konsisten." Kedua, Anda berpikir kalau saya cuma membual. Anda berpikir: "Ah, masa sih yang nulis ini memang pinter nebak arah harga saham?" Ketiga, Bagi Anda yang masih berada dalam posisi portofolio merah (loss), Anda marah dan merasa tersindir.

Well, pos ini tidak bermaksud untuk menyerang siapapun ataupun membujuk diri saya sendiri. Mengapa saya katakan harga saham itu mudah ditebak? 

Memprediksi harga saham pada dasarnya hanyalah menggunakan garis support dan resisten, serta menentukan arah tren harga saham tersebut. Saham yang berada dalam uptrend yang kuat, maka saham tersebut akan terus menembus resistennya. Artinya? Tentu saja, harganya akan terus breakout dan naik. Jadi, patokan harga support dan resisten yang lama sudah pasti nggak berlaku sama sekali, karena harga sudah terbang tinggi. 

Maka, ketika ada kesempatan untuk membeli di harga "high" dan menjualnya di harga lebih tinggi (buy high sell higher), kesempatan tersebut adalah kesempatan emas. Sebaliknya, kalau harga saham berada pada tren turun, dan harga terus turun, maka harga saham tersebut memiliki potensi besar untuk terus jebol melewati support2 pentingnya. 

Itu artinya, kalau Anda ingin cuan, belilah saham2 yang sedang uptrend, bukan saham2 yang sedang jatuh. Memang, saham2 yang sedang jatuh memiliki potensi untuk rebound dan Anda bisa membeli di harga rendah. Namun, Anda membutuhkan suatu sinyal yang pas, dan hati2 harga saham yang jatuh terus bisa mengindikasikan saham tersebut adalah saham yang tidak likuid. Saham2 uptrend akan naik terus, dan koreksi yang terjadi umumnya adalah koreksi sehat, sehingga jika banyak para trader berpikiran kapan harga saham ini akan jatuh soalnya sudah "kemahalan", sehingga saya bisa membeli di harga yang rendah, maka pemikiran itu sangatlah salah.  

Percaya atau tidak, sebenarnya, banyak dari pedagang saham seperti Anda dan saya yang tidak perlu kesulitan untuk menebak arah harga saham menggunakan analisis teknikal, bahkan dengan analisis yang cukup simpel nggak perlu rumit2. Dibalik semua itu, pernahkah harga saham yang Anda prediksi benar, tapi cuan yang Anda dapat malah nggak segede prediksi Anda yang benar itu?

Jika Anda pernah mengalami hal demikian, maka sesungguhnya yang jadi kendala utamanya sebenarnya bukanlah Anda yang tidak jago memprediksi, tetapi ada satu faktor paling penting lainnya, yaitu KEMAMPUAN EKSEKUSI. Kehebatan Anda dalam memprediksi hanyalah kemampuan Anda diatas kertas. Yang paling penting adalah bagaimana Anda bisa eksekusi saat pasar saham sedang jalan, saat harga saham terus bergerak liar. Disitulah ketangguhan Anda baru diuji. 

Misalkan: Hari ini Anda rencana membeli saham AKRA dengan modal Rp15 juta. Anda yakin kalau saham AKRA akan naik kencang dalam beberapa waktu kedepan. Tiba2 Anda membaca rekomendasi analis lain yang bilan kalau saham LPPF akan naik kencang. Kemudian ada analis lagi yang mengatakan bahwa saham SMGR akan naik. Anda yang pada awalnya berencana memasukkan modal 15 juta di saham AKRA, jadi kalang kabut saat lihat kondisi pasar saham yang sudah jalan, terlebih ketika Anda lihat saham LPPF dan SMGR mulai bergerak naik. Akhirnya, Anda pun beli saham AKRA, LPPF dan SMGR, dengan alokasi dana masing2 5 juta, karena Anda takut ketinggalan kereta. Itu artinya, Anda belum bisa meng-eksekusi pasar.  

Itulah kenapa kalau Anda perhatikan, banyak sekali orang yang bisa ngomong ini dan itu tentang saham, tentang prediksi harga saham, tetapi mereka sendiri belum bisa cuan dari trading saham. 

So, untuk menjadi seorang trader yang handal Anda dituntut untuk tidak hanya jago prediksi harga saham, tetapi Anda harus mampu melakukan eksekusi dengan benar dan sesuai trading plan Anda.   

Cara Menggunakan Indikator Accumulation/Distribution (AD)

Jika Anda mempelajari ilmu bandarmologi, Anda harus banyak belajar dan memahami saham2 yang sedang diakumulasi oleh bandar, atau saham yang akan "dibuang" oleh bandar. Sebenarnya, analisis teknikal menyediakan indikator untuk membaca teori akumulasi dan distribusi yang dilakukan oleh pelaku pasar. Indikator tersebut adalah indikator accumulation/distribution (AD). Sesuai namanya, accumulation berarti akumulasi artinya membaca saham yang sedang diakumulasi. Distribution sesuai namanya berarti distribusi artinya membaca saham yang banyak dijual oleh pelaku pasar. 

Indikator ini saya katakan cukup baik, karena mampu membaca saham2 yang sedang "dikumpulkan" atau yang akan "dibuang" oleh pelaku pasar. Berikut adalah tampilan indikator AD pada charting. 


Cara membaca indikator AD sebenarnya cukup mudah. Hampir sama dengan cara membaca indikator lain. Ketika indikator AD bergerak naik, artinya saham tersebut sedang diakumulasi, dan biasanya akan diikuti dengan kenaikan harga saham. Dan sebaliknya, apabila indikator AD bergerak turun, artinya saham tersebut sedang didistribusi, artinya mulai banyak pekaku pasar yang "buang barang", sehingga pada umumnya akan diikuti dengan penurunan harga saham. 

PENERAPAN INDIKATOR AD


Perhatikan indikator AD pada saham DOID diatas. Ketika indikator AD menunjukkan penurunan, maka akan diikuti dengan penurunan harga saham (yang saya beri tanda persegi). Penurunan indikator AD menunjukkan bahwa saham sedang berada dalam fase distribusi (banyak pelaku pasar yang menjual saham), yang menyebabkan harga saham turun. Ketika indikator AD mulai bergerak turun dan berhenti dari fase akumulasi, maka pada saat itulah Anda disarankan untuk sell. 

Sedangkan pada saat indikator AD mulai mengalami kenaikan, pada umumnya akan diikuti dengan kenaikan harga saham (tanda lingkaran). Kenaikan indikator AD menunjukkan bahwa saham sedang dalam fase akumulasi (banyak pelaku pasar yang membeli saham). Dengan kata lain, permintaan lebih besar ketimbang penawaran, sesuai hukum ekonomi harga akan naik. Ketika indikator AD mulai bergerak naik dan terlihat tanda2 fase distribusi akan berakhir, maka Anda disarankan untuk buy.  

INDIKATOR AD DAN HARGA SAHAM BERGERAK BERLAWANAN


Hati2 apabila harga saham sedang naik, tapi tidak dibarengi dengan akumulasi saham atau sebaliknya, harga saham turun tapi tidak dibarengi dengan distribusi saham. Jika Anda menemukan saham yang demikian, bisa jadi kenaikan maupun penurunan harga saham hanyalah "tipuan". 

Perhatikan chart diatas, saham PNLF (yang saya beri tanda persegi). Harga saham PNLF tampak mengalami kenaikan, akan tetapi indikator AD justru bergerak cenderung sideways. Apa artinya? Artinya, kenaikan harga saham PNLF tidak dibarengi dengan aksi akumulasi yang besar, yang sebenarnya saham PNLF memang "tidak berminat" untuk naik. Kemudian Anda perhatikan, setelah harga saham PNLF naik beberapa hari (tanpa dibarengi kenaikan indikator AD), tren harga saham PNLF langsung terjun bebas. So, kalau Anda menemukan saham sedang uptrend kecil yang tidak dibarengi kenaikan indikator, saran saya jangan membeli saham tersebut. 

Sama seperti indikator lainnya, indikator AD tidak bisa berjalan sendiri. Alangkah baiknya apabila Anda meng-kombinasikan indikator AD dengan indikator2 lainnya, seperti stochastic, RSI, MA, Volume dan lain2.  

Cara Menggunakan Indikator Momentum

Indikator momentum adalah indikator dalam analisis leading yang bertujuan untuk menunjukkan tren pergerakan harga dalam memprediksi pergerakan harga, baik kenaikan maupun penurunan harga. Sesuai namanya, momentum berarti memberikan arah momentum rebound atau momentum koreksi pada para trader. 

Indikator momentum memiliki garis penting, yaitu garis angka 100. Dimana ketika indikator bergerak naik menuju garis 100 dan membentuk tanda panah keatas, maka artinya tren harga saham akan segera naik. Sebaliknya, jika indikator bergerak turun menuju garis 100, dan indikator momentum menunjukkan tanda panah kebawah, artinya tren harga saham akan segera turun.  Jadi, ketika indikator momentum berada di level 100 menuju keatas, artinya Anda ambil ancang2 untuk buy, dan sebaliknya ketika momentum menyentuh level 100, dan bergerak turun, Anda ambil ancang2 untuk segera take profit. Ketika indikator momentum berada pada level dibawah 100, menunjukkan besarnya tekanan jual. Sebaliknya, ketika momentum berada diatas 100, menunjukkan adanya tekanan beli yang tinggi. Setingan indikator momentum pada software adalah 12 hari. Berikut adalah tampilan indikator momentum pada software saham.


Anda bisa amati, ada banyak tanda panah pada indikator momentum. Indikator akan memberikan tanda panah sebagai sinyal beli atau jual ketika grafik menyentuh level 100. Level 100 ditunjukkan dengan adanya garis horizontal seperti yang tertera diatas. 

PENERAPAN MOMENTUM - SAHAM ADRO



Perhatikan saham ADRO diatas. Pada saat indikator momentum turun dan kemudian menyentuh angka 100 (lihat tanda yang saya beri persegi), dan diikuti pula dengan gambar tanda panah kebawah, maka harga saham juga mengalami penurunan. Sebaliknya, ketika indikator mulai naik menuju garis 100 (lihat tanda yang saya beri lingkaran), harga saham juga mengalami kenaikan. 

Kalau Anda melihat indikator ini, sekilas agak2 mirip dengan indikator moving average. Hanya bedanya momentum pada dasarnya digunakan untuk memprediksi pergerakan harga kedepan sebagai panduan sinyal buy dan sinyal sell. Kalau indikator moving average, lebih banyak digunakan untuk melihat tren harga saham, karena sifatnya yang lagging. Jika Anda belum paham indikator leading dan lagging, silahkan baca pos: Analisis Teknikal: Indikator Lagging vs Indikator Leading.

Divergence pada indikator momentum 

Divergence dapat dikatakan sebagai false signal. Ketika indikator memberikan sinyal rebound, tetapi harga saham bergerak turun. Ketika harga saham memberikan sinyal koreksi, tetapi harga saham malah bergerak naik 



Perhatikan yang saya beri tanda persegi. Terlihat bahwa indikator momentum memberikan sinyal jual, akan tetapi harga saham bukannya turun, justru bergerak sidways cenderung naik. Kemudian pada gambar yang kedua, terlihat pula indikator momentum memberikan sinyal jual, akan tetapi harga saham justru malah bergerak naik. 

Indikator momentum sama seperti indikator2 lainnya pada umumnya, yaitu tidak berdiri sendiri. Penggunaan indikator momentum ada baiknya Anda kombinasikan dengan indikator2 lainnya, seperti stochastic oscillator, moving average, MACD, RSI dan lain2. 

Cara Menggunakan Indikator MACD

Indikator MACD merupakan indikator teknikal yang cukup populer digunakan. MACD termasuk dalam salah satu indikator lagging. Jika Anda belum paham indikator lagging, baca kembali pos: Analisis Teknikal: Indikator Lagging vs Indikator Leading. MACD adalah kependekan dari Moving Average Convergence Divergence. Indikator ini dikembangkan oleh Gerald Appel. MACD digunakan untuk mengetahui peraliha tren dari bullisg menuju bearish atau sebaliknya, serta digunakan untuk melihat tinggi rendahnya tekanan beli dan jual. 

Untuk membaca sinyal dan melihat tren harga saham, MACD memiliki dua garis utama. Garis pertama adalah garis indikator MACD (selisih MA jangka pendek dan panjang). Kemudian garis kedua adalah garis yang berfungsi memberikan sinyal (Moving Average). Selain garis MA, MACD juga dikombinasikan dengan histogram (MACD histogram). Histogram membentuk kumpulan batang (bars) yang menghadap ke bawah dan bars yang menghadap ke atas garis level 0.

Cara menggunakan indikator MACD:  Sinyal beli akan terlihat apabila kedua garis berpotongan dari bawah menuju keatas, sehingga posisi garis MACD berada diatas garis sinyal. Perpotongan ini disebut sebagai golden cross. Ketika garis MACD membentuk golden cross, biasanya ditandai dengan mulai munculnya histogram positif dan meredanya histogram negatif, yang menunjukkan mulai banyaknya permintaan pasar.  

Sinyal jual terlihat apabila kedua garis berpotongan dari atas menuju kebawah, sehingga posisi garis MACD berada dibawah garis sinyal. Perpotongan ini disebut sebagai death cross. Ketika garis MACD membentuk death cross, biasanya ditandai dengan mulai munculnya histogram negatif dan meredanya histogram positif, yang menunjukkan mulai banyaknya penawaran jual pasar.  

Histogram bar yang menghadap keatas diatas garis nol, disebut sebagai histrogram positif menunjukkan adanya tekanan beli (banyak permintaan dari pada penawaran) yang sedang terjadi. Sedangkan histogram bar yang menghadap kebawah, dibawah garis nol, disebut sebagai histogram negatif, menunjukkan adanya tekanan jual (banyak penawaran ketimbang permintaan). 

Semakin tinggi histogram, menunjukkan adanya tekanan beli / jual yang semakin tinggi. Jika histogram positif semakin tinggi maka menunjukkan harga saham semakin banyak permintaan, yang menyebabkan harga saham naik tinggi. Jika histogram positif semakin tipis, menunjukan tekanan beli yang mulai reda, dan ada kemungkinan besar akan terjadi koreksi harga saham. Sebaliknya, semakin rendah histogram negatif, menunjukkan tekanan jual yang semakin tinggi, yang menyebabkan harga saham turun. Jika histogram negatif semakin tipis, dan mulai ditunjukan dengan adanya sedikut histogram positif, menunjukkan tekanan jual yang mulai reda, dan merupakan indikasi akan terjadi balik arah.  

Perhatikan cara membaca indikator MACD dibawah ini:


Garis Signal Moving Average = Biru
Garis MACD  = Orange

Pada saat harga saham naik akan selalu ditandai dengan histogram positif dan garis MACD yang naik pula. Histogram positif menunjukkan permintaan tinggi ketimbang penawaran. Sedangkan pada saat harga saham turun, selalu ditandai dengan histogram negatif dan garis MACD yang turun pula.  

Sinyal beli terjadi pada saat histogram negatif mulai tipis dengan munculnya sedikit histogram positif, serta didukung dengan golden cross pada garis MACD. Jika terjadi sinyal jual maka ditandai dengan histogram positif yang mulai tipis dan mulai muncul sedikit histogram negatif, serta didukung dengan death cross pada garis MACD. 

PENERAPAN MACD



Ketika histogram MACD membentuk histogram negatif dan garis indikator menuju kebawah, maka hal tersebut merupakan sinyal jual. Ketika histogram MACD membentuk histogram positif dan garis indikator menuju keatas, hal tersebut merupakan sinyal beli. 
DIVEGENCE MACD

Divergence pada indikator MACD (sama dengan indikator2 lainnya) terjadi ketika indikator menyatakan sinyal buy atau sell, namun tidak diikuti dengan pergerakan harga saham. Ketika MACD menunjukkan sinyal buy, harga saham malah turun / sideways, dan ketika MACD menunjukkan sinyal sell, harga saham justru bergerak naik / sideways.

Berikut adalah contoh divergence pada indikator MACD


Ketika bar MACD masih berada dibawah, seharusnya kalau menurut pemahaman MACD, harga saham masih akan mengalami penurunan. Akan tetapi, kalau Anda perhatikan saham ADHI diatas (yang saya beri tanda persegi), ketika indikator MACD menunjukkan histogram negatif dengan grafik turun, harga saham justru naik. Demikian juga ketika MACD berada pada histogram positif dengan grafik naik, harga saham justru malah turun (tanda persegi yang kedua).