Friday, June 24, 2016

Hindari Day Trading, Cara Instan Jadi Kaya !

Day Trading adalah aktivitas trading saham, di mana trader membeli dan menjual saham dalam satu waktu (hari) yang sama. Istilah populer lainnya adalah scalping trading. Day trading berarti Anda bisa membeli saham, kemudian menjualnya dalam hitungan jam, bahkan menit. Pokoknya trading pendek, dalam satu hari beli dan langsung jual. Saya pribadi menyarankan pada Anda untuk menghindari cara ini. 

Lho, apa yang salah dari day trading? 

Day trading cenderung dilakukan oleh orang yang tidak sabaran karena ingin cepat kaya dari saham, tanpa mempertimbangkan faktor analisis teknikal dan fundamental perusahaan. Dalam trading saham, saya sendiri adalah seorang swing trader murni, yang sangat berpatok pada tren following. Kalau tren bilang harga saham naik, ya saya beli, kalau tren bilang turun, ya saya jual sahamnya. 

Entah mengapa tiba2 karena saya merasa cuan saya kurang, saya malah pindah menjadi seorang day trader, beli saham sehari, jual 10 menit kemudian. Tujuan utama saya menjadi day trader adalah tidak lain: Supaya bisa cepat dapat cuan instan. Sekali dua kali berhasil, tapi setelah saya lakukan banyak transaksi day trading, yang ada bukan untung tapi malah buntung. Terus mengapa saya tidak menyarankan Anda melakukan day trading? 

Pertama. Day trading berpotensi mengurangi tingkat enjoy Anda dalam aktivitas trading, karena Anda HARUS terus memantau layar monitor setiap saat, setiap menit. Masalahnya, harga saham akan terus berubah, dan kalau jadi day trading, artinya saham Anda nggak bisa nginap di portofolio. Jadi, kalau harga saham Anda tiba2 turun dan Anda sudah terlanjur membeli dalam jumlah lot yang banyak, psikilogis Anda akan mudah terganggu ketika harga saham turun. Anda jadi mudah bingung, stres dan kehilangan rasionalitas.

Kedua. Kebanyakan day trading, hanya membeli saham berdasarkan pada saham2 yang banyak diminati pelaku pasar saja, atau cuma beli saham karena rumor, alias cuma ngikut arah angin yang ada di pasar.  Sehingga, analisis2 penting dalam saham, seperti chart malah diabaikan. Akhirnya, trading hanya terkesan seperti judi yang tidak ada dasar analisis sama sekali.

Ketiga. Anda bisa saja untung, tapi potensi rugi Anda jauh lebih besar. Rasio untung banding rugi hanyalah 1:4. Artinya, peluang Anda untung hanyalah 1 kali dari 5 kali transaksi, jika Anda melakukan day trading. Potensi Anda kehilangan modal jauh lebih besar daripada potensi profit yang Anda dapatkan.

Keempat. Harga saham sering berbalik naik, setelah Anda jual. Sering sekali, waktu saya ingin day trading, beli satu saham yang kira2 bisa naik dalam hitungan menit. Setelah saya beli, bukannya naik malah turun. Esok harinya, terkoreksi lagi. Saya stres, akhirnya karena takut turun terus, akhirnya saya jual sahamnya. Beberapa hari kemudian tiba2 harga sahamnya malah balik arah sampai satu minggu.

Tapi bukannya di pos: Menjadi Trader atau Investor Saham? - Part II, Bung Heze menuliskan bahwa strategi investasi atau trading terbaik semua kembali ke karakter diri kita masing2? 

Benar. Tetapi kalau Anda baca alasan kedua diatas, maka penjelasan tersebut bisa menjelaskan pertanyaan Anda. Percayalah, trading saham bukan berarti Anda harus memantau layar setiap saat untuk melihat fluktuasi jangka pendek yang membuat Anda stres. Kerugian yang saya alami saat mencoba menjadi seorang day trader yang handal, membuat saya kembali pada jalur swing trading, yang murni mengandalkan analisis teknikal, dan tidak mengabaikan poin2 penting dalam trading itu sendiri. Pikiran ingin cepat kaya dari saham, saya tuangkan salah satunya dalam pos berikut: Trading Saham, Bikin Kaya? Anda harus baca.

Apabila Anda seorang trader, akan sangat lebih baik jika Anda melakukan strategi Buy and Hold. Saham2 yang bisa memberikan return adalah saham2 likuid yang sedang berada dalam tren naik (uptrend). Mengandalkan analisis teknikal akan jauh lebih baik ketimbang Anda sekedar gambling dan ngarep untuk cepat kaya. 

PERUSAHAAN SEKURITAS DAN KARAKTER DAY TRADING

Tetapi dilema lain muncul, perusahaan sekuritas tempat Anda membuka akun rekening saham, tentu akan lebih menyukai apabila Anda melakukan day trading. Kenapa begitu? Karena semakin sering Anda transaksi, perusahaan sekuritas akan semakin sering menerima fee transaksi. Bukankah begitu? 

Tidak jarang pula, mungkin dari pengalaman Anda juga saat Anda sedang hold saham2 yang naik, Anda direkomendasikan untuk segera menjual dan mengalihkan ke saham2 rebound lainnya. Dan percayalah broker Anda tidak suka kalau Anda hold saham terlalu lama, apalagi sampai investasi. Hehehe. Semakin lama Anda hold saham, artinya transaksi Anda semakin sedikit dan fee yang diterima perusahaan sekuritas akan semakin kecil. Tetapi kalau Anda mematuhi trading plan Anda, Anda harusnya bisa secara objektif memutuskan saham2 mana yang harus Anda jual terlebih dahulu.  

Trading Saham, Bikin Kaya?

Setelah menjalani trading saham, setelah merasakan jadi seorang pemula, setelah gonta-ganti sistem dan trading plan. Setelah mengalami seluk beluk dunia trading, kadang untung, kadang rugi. Sekarang saya menyimpulkan, tipe trading yang paling cocok untuk saya adalah swing trading. Bagaimana dengan Anda? 

Sebagai seorang trader, apalagi kalau Anda pemula, Anda akan menghadapi suatu dilematis, yang saya namakan dengan DILEMA TRADING. Dilema trading yang saya maksud adalah:
Saham rebound secara indikator, tapi begitu sahamnya dibeli, harganya langsung turun. Saham yang ragu dibeli, harganya langsung melejit naik. Beli saham dalam jumlah lot sedikit, harganya naik banyak. Beli saham dengan jumlah lot yang besar, harganya langsung anjlok. Punya 3 pilihan saham rebound, salah satu dibeli harganya langsung turun, tapi saham 2 saham lainnya yang tidak dibeli itulah yang harganya naik kencang. Take profit saham, harganya malah lanjut naik. Cut loss saham, harganya balik naik.  Ragu beli saham ini itu karena saham sudah rally dan ketinggian, harganya tambah naik lebih kencang. Tapi kalau saham yang sudah naik kencang dibeli, harganya langsung koreksi. 
Kalau Anda seorang pedagang saham, coba Anda renungkan dilema trading diatas. Saya yakin Anda, saya tidak akan menyangkal kenyataan yang menyakitkan tersebut. Mengapa saya menulis quote tersebut? Karena itulah yang saya alami sendiri sebagai seorang trader. Dilema, pengalaman, dan kenyataan trading inilah yang paling amat sangat menjengkelkan. Dan percaya nggak percaya, banyak bahkan semua pedagang saham mengalami hal yang sama, namun mereka malu untuk mengakuinya. Para trader kebanyakan memamerkan profit yang mereka raih, namun apakah dibalik semua itu mereka juga menyembunyikan dilema tradingnya? 

Seminar2 saham, pelatihan2 tentang investasi saham, workshop apapun yang berhubungan dnegan dunia persahaman, setiap pembicara akan selalu men-sugesti Anda: "Investasi saham itu mudah untuk dapat profit". Mereka menctohkan tokoh A lah, tokoh B lah yang terjun ke dunia saham dan dapat profit berlipat-lipat. Seakan sungguh men-sugesti Anda kalau inilah saatnya Anda buka akun rekening saham dan investasi saham, karena dengan saham Anda bisa profit berlipat-lipat. 

Kemudian para pemula buanyakk, yang tanpa bekal apapun mengenai risiko saham bertanya: "Pak, apakah bisa profit 30% sebulan?" "Metoda trading Anda bisa menjamin profit berapa persen sebulan?" Sungguh salah dan ngawur semua pemikiran2 tersebut, pemikiran2 yang hanya bertujuan dapat profit instan tanpa ada usaha keras. Kata2 yang menjebak dan men-sugesti calon2 investor dan trader saham untuk segera masuk ke dunia saham... dan kemudian hasilnya?... Bukan untung, malah buntung.... 

Kalau sudah buntung, akhirnya menyalahkan pasar saham sebagai penyebab kerugian. Pasar saham judi lah, pasar saham suka bohong lah, orang lain yang salah lah. Tidak mau mengakui kesalahan sendiri.  

Mengapa jarang sekali ada para trader maupun "pakar" yang mau mengakui  dan menuliskan seperti quote saya diatas? Kebanyakan karena orang2 tidak mau mengakui bahwa itulah kenyataan yang sebenarnya. Sedikit ada yang berani mengungkap kesulitan2 dalam trading saham. Sedikit ada yang mengungkap bahwa pemula akan sering salah, pemula akan sering rugi. Sedikit ada yang berani mengungkap kenyataan dan dilema trading. 

Kalau Anda protes: "Mengapa Bung Heze berani menulis pos ini?" 

Karena saya ingin berbagi pada Anda tentang kenyataan trading. Kenyataan artinya bukan hanya memunculkan yang baik2 saja, terus yang buruk2 disembunyikan. Saya menulis pos ini bukan karena ada udang di balik batu. Namun, saya ingin meluruskan persepsi Anda tentang trading dan investasi saham. Sekaligus MENJADI BAHAN EVALUASI untuk diri saya sendiri. 

Sebagai pemula, performa trading saya sebenarnya tidaklah buruk. Selama 6 Bulan pertama saya dapat return yang lumayan gede untuk ukuran seorang pemula. [return akan saya berikan menyusul]. Namun, setelah itu hingga satu setengah tahun saya malah mengalami kerugian dan kerugian. Dan kalau kembali pada quote saya diatas tentang dilema trading, itulah yang saya alami. Akhirnya, cara terbaik adalah berhenti trading sementara dan melakukan evaluasi. 

Jujur saja, ketika dilanda kerugian saya sempat beberapa kali berpikir untuk tutup akun saja dan berhenti total dari trading saham. Tapi dengan segala perjuangan, saya berusaha untuk tidak menyerah saat itu juga. Terus maju, terus evaluasi. Hingga akhirnya saya menemukan pola yang pas, indikator yang tepat yang bisa MEMINIMALKAN KERUGIAN SEKECIL MUNGKIN dan bisa dapat PROFIT KONSISTEN. 

Dengan segala pembelajaran, akhirnya saya lebih siap menerima risiko. Saya tahu jalan menuju sukses tidaklah instan. Saya tahu yang instan2 ujungnya nggak baik. Bahwa untuk berhasil, Anda harus membangun pondasi terlebih dahulu. Membangun pondasi dengan cara belajar rugi dan menerima kenyataan yang nggak enak. Anda harus mau mengakui bahwa pasar adalah benar. Dan itu artinya? Artinya Anda harus ikut yang benar, Anda tidak bisa melawan arus pasar.

Bung Heze, berarti kapan waktu yang pas untuk trading / investasi saham?

Kalau di seminar2 saham, jawabannya adalah sedini mungkin. Tapi, menurut saya itu bukan jawaban. Waktu yang tepat untuk investasi saham adalah ketika Anda sudah siap menerima risiko, ketika Anda tidak berharap dapat profit instan, ketika Anda sudah siap untuk rugi sebagai pemula, ketika Anda siap menerima bahwa Anda memang rugi dan pasar memang benar. 

Jadi kalau Anda sudah siap terjun ke dunia saham, termasuk Anda yang sudah trading tapi mindset Anda masih salah, maka perhatikan tahapan2 supaya Anda bisa kaya dari saham:

Pertama. Siap2 rugi selama 1-1,5 tahun. Walaupun 6 bulan - 1 tahun pertama bisa profit. 

Kedua. Belajar sekuat tenaga menemukan sistem yang tepat, 6 bulan - 9 bulan. Tahap ini, Anda akan sering gonta-ganti sistem.

Ketiga. Mulai belajar meminimalkan rugi.

Keempat. Mulai belajar untuk profit konsisten (bukan profit besar), disertai kerugian yang sangat minimal.

Jadi, tahapan pertama untuk kaya dari saham bukan berpikir bagaimana bisa dapat profit 30% sebulan, tapi langkah awalnya adalah Anda harus sudah siap rugi (Baca: berproses) terlebih dahulu.

Siapkah Anda? 

Cara Menggunakan Volume Saham dan Forex

Kalau Anda membaca pos: Cara Memilih Indikator Teknikal Terbaik, di pos tersebut saya menyarankan pada Anda agar jangan pernah lupa untuk menggunakan analisis volume. Indikator sebagus apapun yang Anda gunakan, jangan lupakan volume. 

Mengapa peran volume begitu penting dalam analisis teknikal?

Volume menunjukkan tinggi rendahnya aktivitas transaksi perdagangan pada satu hari, atau mencerminkan jumlah saham yang berpindah tangan antar para trader. Volume digunakan untuk mengukur perubahan harga yang terjadi. Pada chart, volume digambarkan dalam bentuk batang atua disebut dengan volume bar, dan pada umumnya ditampilkan dibawah grafik.

Kalau Anda melihat ada volume bar yang sangat tinggi, hal itu artinya minat pelaku pasar terhadap suatu saham tinggi. Sebaliknya, seamkin pendek volume bar, bisa mengindikasikan minat pelaku pasar yang rendah terhadap suatu saham. Volume yang cenderung stabil secara history, menunjukkan saham tersebut likuid, dan saham tersebut sering diperdagangkan investor. Dengan kata lain, volume yang stabil artinya hampir dipastikan saham tersebut bukanah saham2 gorengan. Gambaran volume pada analisis teknikal. 


Volume sangat penting Anda gunakan, karena volume bisa digunakan untuk mengindikasikan sinyal bullish atau bearish. Bagaimana cara membaca volume untuk menghasilkan sinyal jual dan beli? Silahkan simak tabel dibawah.

Kalau harga saham naik, kemudian diiringi juga dengan volume naik, artinya pelaku pasar memiliki minat yang besar terhadap saham tersebut, sehingga diprediksi harga saham keesokan hari akan naik (bullish). Tetapi kalau harga saham naik volumenya malah kecil, berarti minat pelaku pasar terhadap saham kecil. Harga naik volume kecil berarti pelaku pasar tidak ingin harga naik lagi, sehingga diperdiksi harga saham keesokan hari akan turun (bearish).

Kalau harga saham turun dan diiringi dengan penurunan volume, artinya pelaku pasar tidak ingin harganya turun lagi, sehingga diprediksi harga saham akan bullish. Sebaliknya, kalau harga saham turun tapi diiringi dengan volume besar, artinya banyak pelaku pasar yang akan buang barang (sell). Sehingga diprediksi harga saham keesokan harinya akan bearish.

Apa buktinya kalau analisis volume bisa memberikan sinyal beli dan jual? Coba Anda simak grafik saham berkode MNCN dibawah.

Kalau Anda perhatikan tabel dibawah ini, saham MNCN yang pernah saya beli. Perhatikan garis vertikal warna biru. Anda lihat bahwa setelah MNCN harganya turun, tiba2 MNCN naik drastis diiringi dengan kenaikan volume yang drastis. Harga saham keesokan harinya dan besok lusa (saya beri tanda panah biru dan panah hijau), ternyata naik drastis. 

Tanpa sengaja saya lihat saham MNCN naik sampai 7% lebih, saya cek grafik ternyata harga sahamnya naik drastis diiringi volume besar. Akhirnya saya membeli MNCN. Dan karena harga saham naik drastis keesokan harinya (tanda panah biru) naik hingga 11%, saya langsung jual saham MNCN. Analisis volume terbukti memberikan sinyal yang cukup baik. 

Tapi yang jadi permasalahan, apakah tabel volume diatas benar2 100% akurat?

Di pasar modal tidak ada yang 100% benar. Kalau Anda baca lagi paragraf2 sebelumnya, saya selalu menuliskan dengan kata2 diprediksi, dan diprediksi bukan dipastikan. Volume memang indikator yang super penting, karena mengukur minat pelaku pasar terhadap saham. Akan tetapi, semua analisis teknikal ujung2 nya adalah prediksi, bukan memastikan 100% benar. Analisis volume juga tidak 100% benar, sama seperti indikator2 lainnya yang bisa menimbulkan divergence (indikator bilang naik, harga saham malah turun / sebaliknya).

Perhatikan grafik MNCN dibawah.


Kalau Anda perhatikan grafik dibawah, lihat lingkaran biru, harga saham MNCN turun diiringi volume kecil. Kalau mengacu pada tabel diatas, seharusnya harga MNCN naik. Namun keesokan hari bukannya naik, malah turun 2 hari sebelum akhirnya rebound.  Analisis volume ada baiknya Anda kombinasikan dengan beberapa indikator lain.

Target Laba Trading, Hanya akan Membebani Anda

Kalau Anda baca judul diatas, mungkin judul ini berbeda jauh dengan web2 lain, yang kebanyakan malah memberikan saran pada Anda tentang berapa persen target laba yang seharusnya bisa Anda raih. Pada pos ini, saya malahan menyarankan pada Anda untuk melupakan target laba?

Lho, kok begitu? Masa trading nggak ada target labanya? Protes Anda.

Sekarang saya tanya kembali pada Anda: Seandainya hari ini Anda menargetkan bisa profit sebanyak 7%, apa yang akan Anda lakukan? Seandainya pula, Anda punya target setiap bulan bisa profit sebanyak 7 juta supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup. Apa yang akan Anda lakukan?

Anda tentu akan berusaha sekuat tenaga, dengan seluruh kemampuan trading Anda untuk mendapatkan itu semua bukan? Iya kalau tercapai, tapi kalau tidak? Dinamika pasar saham sangat cepat. Naik turunnya IHSG sangat cepat. Berita di pasar modal bisa saja langsung mnegguncang pasar saham tanpa Anda duga-duga, sehingga Anda pun sebenarnya susah untuk mematok angka sekian yang harus dicapai.

Tidak jarang saham yang Anda beli, Anda harapkan naik tapi malah turun. Tidak jarang Anda harus menentukan pilihan sulit antara cut loss atau hold dulu. Sehingga, kalau Anda menentukan target laba dengan angka sekian, yang terkesan dipaksakan, Anda akan stress sendiri kalau Anda ternyata tidak bisa mencapainya dalam jangka waktu yang sudah Anda tetapkan. 

Dan kalau Anda memaksakan target laba sekian, maka ketika Anda mulai sulit mencapainya Anda akan kehilangan rasionalitas. Misalnya, mulai nekat beli saham gorengan dalam jumlah lot yang banyak. Membeli saham2 apapun yang harganya naik. Keluar dari jalur trading plan yang sudah ditetapkan. 

Tapi, Bung Heze bukannya target laba adalah bagian dari ukuran keberhasilan trading?  

Benar kata Anda. Bahkan target laba itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari ukuran keberhasilan trading plan yang Anda jalankan. Jika Anda bisa konsisten profit 5% sebulan, maka Anda harus berusaha mempertahankan profit tersebut. Kalau Anda bisa konsisten dapat profit, dan meminimalkan rugi, itu artinya trading plan Anda perlu dipertahankan dan itu artinya pula trading plan Anda memang berjalan dengan baik.  

Lha, berarti kesimpulannya menentukan target laba itu perlu atau tidak?

Anda tidak perlu terlalu kaku mematok berapa hasil yang harus Anda dapatkan untuk besok, untuk sebulan, untuk tiga bulan dan seterusnya. Kenapa? Karena saya paparkan tadi, bahwa hal tersebut hanya akan membuat Anda terbebani ketika Anda tidak bisa menetapkan target. Anda HANYA BOLEH mematok target laba, jika Anda SUDAH BISA PROFIT KONSISTEN, dan Anda bisa mempertahankan dengan dengan rasionalitas Anda. 

Saran saya: Jangan memikirkan berapa laba yang bisa Anda dapatkan dari saham. Teruslah belajar untuk dapat profit konsisten. Kalau Anda sudah bisa profit konsisten dengan menekan kerugian sekecil mungkin, hitunglah berapa persen profit yang bisa Anda dapat. Persentase profit itulah yang nantinya Anda jadikan acuan untuk mematok target laba Anda kedepan. 

Belajar Candlestick Part II

Baca pos sebelumnya untuk memperoleh pemahaman tentang candlestick: Belajar Candlestick Part I.

Candlestick bisa digunakan untuk memprediksi pergerakan harga saham keesokan harinya, dengan cara melihat pola2 candlestick yang terjadi pada jam terakhir pada saat Bursa saham tutup. Baca juga pos: Jam Trading Bursa Saham Indonesia. 

Catatan: Gambar2 candlestick saya ambil dari Buku karangan Edianto Ong, terbitan tahun 2011. Judul buku: Analysis Techical for Mega Profit. Jika Anda ingin mempelajari banyak analisis teknikal, salah satu buku yang saya sarankan adalah buku Edianto Ong.

Jadi pada pos ini Anda akan mempelajari:

Pola format bentuk 1 candle: Sinyal bullish (bullish reversal), yaitu:

- Southern doji
- Southern long leg-doji
- Dragonfly
- Hammer
- Inverted hammer
- Bullish belt hold



Pola format bentuk 1 candle: Sinyal bearish (bearish reversal), yaitu:

- Northern doji
- Northern long leg-doji
- Gravestone
- Shooting star
- Hanging man
- Bearish belt hold



Pola format bentuk 2 candle: Sinyal bullish (bullish reversal), yaitu:

- Bullish pregnant
- Bullish pregnant cross
- Bullish homing pigeon
- Matching low
- Bullish engulfing
- Piercing line
- Tweezer bottom



Pola format bentuk 2 candle: Sinyal bearish (bearish reversal), yaitu:

- Bearish pregnant
- Bearish pregnant cross
- Bearish homing pigeon
- Matching high
- Bearish engulfing
- Dark cloud cover
- Tweezer top



Pola format bentuk 3 candle: Sinyal bullish (bullish reversal), yaitu:

- Morning star
- Morning doji star
- Bullish abandoned baby
- Morning tri star
- Three white soldiers



Pola format bentuk 3 candle: Sinyal bearish (bearish reversal), yaitu:

- Evening star
- Bearish abandoned baby
- Evening tri star
- Three black crows



Candlestick continuation pattern: Bullish continuation:

- Upward gap tasuki
- Rising three





Candlestick continuation pattern: Bearish continuation:

- Downward gap tasuki
- Falling three 



$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Pola2 tersebut adalah pola2 candle yang seringkali Anda jumpai ketika Anda melihat chart teknikal dari saham2 spesifik. Mungkin kesulitan utama mempelajari pola2 candle ini adalah jumlah polanya yang cukup banyak. Dan kelemahan lainnya, membaca pola candles cukup subjektif, penafsiran setiap orang bisa berbeda-beda. Bisa saja Anda bilang saham A sudah membentuk doji, tapi teman Anda bilang belum membentuk doji. Namun, sejauh ini pola2 candle cukup akurat dalam memprediksi harga saham. 

Lalu, yang jadi pertanyaan selanjutnya baguskah jika saya hanya menggunakan candlestick untuk memprediksi harga saham tanpa atau hanya sedikit menggunakan bantuan indikator? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, silahkan baca pos: Cara Memilih Indikator Analisis Teknikal Terbaik.

Belajar Candlestick Part I

Candlestick chart atau biasa disebut sebagai candlestick merupakan grafik lilin yang digunakan untuk menunjukkan harga pembukaan, penutupan, harga tertinggi dan terendah harga saham dalam satu hari perdagangan. Candlestick bisa digunakan pula untuk memprediksi pergerakan harga saham keesokan harinya. Grafik beberapa minggu, bulan, tahun yang terdiri dari jajaran candlestick bisa berfungsi sebagai suatu tren harga saham. 

Terus candlestick itu sendiri seperti apa, dan bagaimana cara membacanya?

Sesuai definisi diatas, berarti candlestick berbentuk menyerupai lilin, itulah mengapa namanya: candle. Sebenarnya, untuk memprediksi harga saham dan melihat arah perdagangan saham pada hari itu, Anda bisa menggunakan dua chart lain selain candlestick, yaitu grafik garis dan grafik batang. Namun grafik candlestick memberikan informasi yang jauh lebih akurat, lebih up-to-date dan tentunya lebih lengkap. Itulah mengapa dapat saya katakan semua para trader pasti menggunakan candlestick, bahkan sudah tidak ada yang menggunakan grafik garis dan batang. Oleh karena itu, pada pos ini Anda harus memahami betul mengenai candlestick.  

Candlestick dikatakan akurat, bisa memberikan informasi yang lengkap karena candlestick memiliki empat komponen utama yang biasa disingkat dengan OHLC:

O = Opening (harga pembukaan)
H = High (harga tertinggi)
L = Low (harga terendah). 
C = Closing (harga penutupan).

OHLC ini berlaku untuk satu hari perdagangan Bursa saham. Jika Anda belum memahami jam perdagangan Bursa saham, silahkan membaca: Jam Trading di Bursa Saham Indonesia.

OPEN

Open adalah harga pembukaan yang didapatkan dari harga closing pada hari sebelumnya, istilahnya previous price. Jadi misalnya harga penutupan saham ANTM kemarin adalah 700. Maka harga pembukaan hari ini adalah 700. 

Tapi Pak, saya sering menemukan saham2 yang harga opening berbeda dengan previous price.

Hal itu memang sangat sering terjadi. Mengapa bisa terjadi? Karena ada yang namanya pre-opening. Namun perlu Anda ketahui, saham2 yang harga previous price dengan opening berbeda hanyalah saham2 LQ45 saja. Saya sudah pernah membahas melalui pos berikut: Jam Trading Bursa Saham Indonesia.

HIGH

Harga high berarti harga paling tinggi yang terjadi di sesi perdagangan hari itu sampai market benar2 tutup pada pukul 16:15, bukan pada pukul 16:00. Harga high bukan harga closing. Seringkali harga high suatu saham tidak sama dengan harga closing. 

LOW

Harga low berarti adalah harga terendah pada sesi perdagangan tersebut. Saya rasa sudah cukup jelas.

CLOSE

Harga penutupan adalah harga terakhir pada saat pasar tutup pukul 16:15. Harga penutupan bisa diambil dari bid maupun offer, tergantung transaksi terakhir ada di harga bid atau offer.  

Candlestick yang menunjukkan empat komponen OHLC dapat dibagi menjadi 2 warna:

1. Candle berwarna hijau / putih 

Candle berwarna hijau menunjukkan adanya pergerakan harga yang naik pada sesi perdagangan tersebut. Dengan kata lain HARGA PENUTUPAN berada DIATAS HARGA PEMBUKAAN. Perhatikan grafik candlestick yang menunjukkan bahwa harga penutupan berada diatas harga pembukaan. 
Perhatikan, bentuk candlestick terdiri dari body, upper shadow dan lower shadow. Jika candlestick berwarna hijau atau dengan kata lain harga penutupan berada diatas harga pembukaan, maka posisi harga Close selalu berada diatas Open. Hal menandakan harga saham mengalami kenaikan.

2. Candle berwarna merah / hitam

Candle berwarna merah menunjukkan adanya pergerakan harga yang turun pada sesi perdagangan tersebut. Dengan kata lain HARGA PEMBUKAAN berada DIATAS HARGA PENUTUPAN. Perhatikan grafik candlestick yang menunjukkan bahwa harga pembukaan berada diatas harga penutupan. 

Jika candlestick berwarna merah atau dengan kata lain harga pembukaan berada diatas harga penutupan, maka posisi harga Open selalu berada diatas Close. Hal menandakan harga saham mengalami penurunan.

Dari candlestick diatas, dapat disimpulkan mengenai OHLC:

1. Low adalah harga paling rendah yang terjadi pada sesi perdagangan hari itu.
2. High adalah harga paling tinggi yang terjadi pada sesi perdagangan hari itu.
3. Harga close yang berada diatas open, artinya harga saham naik.
4. Harga open yang berada diatas harga close, artinya harga saham turun. 
5. Harga open adalah harga pembukaan yang diambil dari harga closing kemarin.
6. Harga open hari ini belum tentu saham dengan harga closing kemarin (LQ45).
7. Harga close adalah harga penutupan setelah pasar benar2 tutup pada puku 16:15.

CANDLESTICK MARUBOZU

Pernahkah Anda candlestick yang hanya berbentuk persegi, tanpa memiliki upper shadow maupun lower shadow? Candlestick tersebut dinamakan dengan candlestick marubozu. Candlestick ini hanya memiliki body saja. Jenis candlestick marubozu dibagi menjadi 2, yaitu:

1. White Marubozu

Terjadi apabila harga sepanjang sesi perdagangan tidak pernah turun dibawah harga pembukaan, dan harga saham ditutup pada harga tertinggi pada perdagangan hari itu. Hal ini mencerminkan minat beli yang besar, yang artinya adalah sinyal bullish. Berikut gambar white marubozu.


2. Black Marubozu

Terjadi apabila harga sepanjang sesi perdagangan tidak pernah naik diatas harga pembukaan, serta ditutup harga ditutup pada harga terendah pada akhir sesi perdagangan. Hal tersebut menandakan adanya tekanan jual yang besar / kemungkinan besar pelaku pasar banyak buang baran (distribusi), sehingga candle ini mencerminkan sinyal bearish.  Perlu Anda ketahui, semakin panjang body maubozu, melambangkan intensitas yang semakin tinggi. Berikut gambar black marubozu. 

Kalau Anda perhatikan lagi kalimat saya di paragraf pertama pos ini, saya menuliskan: "Candlestick bisa digunakan pula untuk memprediksi pergerakan harga saham keesokan harinya." Ya benar, candlestick bisa digunakan sebagai dasar untuk menentukan apakah harga saham besok cenderung bullish atau bearish. Bagaimana caranya?

Caranya dengan mempelajari pola2 candlestick. Dari pergerakan harga OHLC, posisi candlestick dapat membentuk banyak sekali pola yang bisa memberikan sinyal pada Anda. Jika Anda ingin mempelajari pola2 candlestick, silahkan baca part berikutnya: Belajar Candlestick Part II. 

Makna Penting Garis Support dan Resisten Part II


"PTBA memiliki resisten kuat di rentang harga 4.300-4.350. GIAA memiliki support kuat di 484-488."

Apa itu support kuat dan resisten kuat? Support kuat dan resisten kuat adalah harga saham yang sering menyentuh batas atas (resisten) maupun support (batas bawah). Semakin sering garis support dan resisten tersentuh, peluang harga saham kembali ke harga itu akan semakin tinggi. Sebagai contoh, harga saham ABCD sekarang berada pada rentang harga 4.350. Secara all history, harga saham ABCD pernah mencapai harga tertinggi pada harga 5.000 (resisten), tetapi hanya sekali saja harga saham mampu menyentuh harga 5.000, kemudian harga turun lagi. Sebaliknya, kalau dilihat secara grafik 6 bulan, harga saham ABCD malahan sangat sering menyentuh harga 4.500. Maka, sesungguhnya dapat saya katakan bahwa saham ABCD akan berpotensi lebih kuat untuk kembali ke 4.500 ketimbang ke harga 5.000.

Disinilah Anda harus jeli sebagai seorang teknikalis. Kalau ada harga saham yang sudah ada indikasi renound, kemudian pada chart terdapat resisten kuat terdekat, maka harga saham berpotensi untuk kembali menuju harga resisten kuatnya. Disinilah momen Anda untuk ambil untung. Coba Anda perhatikan grafik saham APLN tahun 2015 dibawah ini. 

Saham APLN memiliki harga support dan resisten kuat pada harga sekian (lihat chart diatas), sehingga pada saat APLN turun di harga 405-415, harga saham APLN akan kembali rebound (memantul) ke harga (433-440). Harga yang saya beri tanda lingkaran adalah bulan Maret 2015 - Mei 2015. Harga saham terus turun, tapi kemudian mampu memantul pada harga sekian. Karena harga support kuat adalah 405-415, artinya pengujian harga 405-415 lebih kuat ketimbang harga 390. Harga resisten kuat di rentang harga 433-440, artinya pengujian harga 433-440 lebih kuat ketimbang harga 450. Seandainya harga saham APLN sekarang adalah 420, maka akan lebih baik jika Anda menentukan titik resistennya adalah 433-440, ketimbang 450. Karena harga 433-440 lebih sering dilalui. 

PENGALAMAN SAYA DAPAT CUAN DARI GARIS SUPPORT DAN RESISTEN KUAT

Tahun 2015, sebelum pasar saham jatuh pada akhir April 2015, saya pernah trading di saham APLN. Itulah mengapa pada contoh diatas, saya memberi contoh chart saham APLN :). Pada saat itu APLN masih berkisar di harga support 405 dan resisten 442. Kalau Anda lihat grafik diatas, rentang haris harga support dan resisten kuat memang benar, naik turunnya APLN selalu menyentuh harga sekian, sesekali saja naik sampai 442. Sehingga, momen ini saya gunakan untuk mendapatkan cuan. 

Ketika harga saham mulai koreksi, saya hanya menunggu APLN turun menuju support kuatnya di harga 405-415. Ketika APLN sudah turun ke support kuat, saya akumulasi di harga 412. Ketika harga APLN perlahan bergerak rebound, dan berbalik menyentuh resisten kuat, saya segera melakukan take profit. Saham yang awalnya saya beli di 412 saya jual di 435. Kemudian, saya akumulasi lagi di harga 416  ketika turun menuju support kuatnya, dan menjual kembali di harga 438.

Itulah makna garis support dan resisten kuat. Intinya, Anda harus jeli melihat harga batas atas dan harga bawah yang paling sering dilalui pergerakan harga.

BAGAIMANA JIKA SAHAM PUNYA SUPPORT KUAT, RESISTEN KUAT TAPI SAHAMNYA DOWNTREND?

Hati2 jika grafik saham adalah downtrend. Jika Anda belum paham istilah donwtrend, silahkan baca: Saham Uptrend, Downtrend, dan Sideways Part I. Harga saham turun terus, di mana harga support mula-mula jebol dan harga saham anjlok terus. Kalau Anda menemukan harga saham dengan pola strong downtrend, maka analisis menggunakan support kuat dan resisten kuat hampir tidak bermanfaat. Mengapa demikian? Karena jika harga saham turun terus, maka kemungkinan besar harga saham akan sulit untuk kembali menyetuh resisten awal, sebelum harga saham turun drastis. Kalaupun bisa, kemungkinannya kecil. 

Contohnya adalah saham BUMI. Perhatikan chart BUMI dibawah (BUMI Februari 2015 - Agustus 2015). 

Kalau Anda perhatikan grafik diatas, BUMI memang memiliki resisten kuat di harga 85-93 (garis biru diatas), dan support 75-80 (garis merah). Belakangan harga BUMI turun lagi, sehingga support kuatnya jebol. Lebih parah lagi, belakangan kasus utang BUMI sempat menemui jalan buntu yang membuat para investor kabur dan para trader ikut2an menjual saham BUMI. Alhasil, BUMI pun menjadi saham di level gocap. 

Artinya, percuma saja meskipun saham memiliki support dan resisten kuat, kalau harga saham terus turun, maka support dan resisten kuat tidak bisa Anda gunakan sebagai acuan untuk mencetak profit. 

Dalam praktiknya, seringkali harga support berubah menjadi resisten maupun sebaliknya harga resisten berubah menjadi support. Silahkan simak di pos selanjutnya: Makna Penting Garis Support dan Resisten Part III