Friday, May 06, 2016

Arti dan Ilustrasi Pembagian Dividen

Tanggal 26 April 2016 lalu waktu ngecek email, tiba2 ada email masuk pemberitahuan dari kantor sekuritas saya tentang informasi corporate action. Saya dapat dividen dari PT Perusahaan Gas Negara (PGAS). Berikut adalah buktinya.


Sebagai informasi, PGAS memang membagikan dividen kas sebesar Rp91,32 per lembar saham, dengan rincian sebagai berikut.

Cum Date                         : 15 April 2016
Ex Date                             : 18 April 2016
Tanggal Recording         : 20 April 2016
Tanggal Pembayaran     : 12 Mei 2016
Dividend per Share        : Rp91,32

Setiap emiten yang akan membagikan dividen pasti memberikan informasi2 tersebut seperti yang tertera diatas. Dari data2 tersebut, ada 3 informasi penting yang harus Anda cermati: Cum date, Ex date, dan tanggal pembayaran.

Cum date adalah hari terakhir dimana Anda berhak untuk mendapatkan dividen. Jadi, kalau cum date adalah tanggal 15 April 2016, maka batas terakhir Anda dapat dividen kas adalah sampai tanggal 15 April 2016 jam 16.15 sampai pasar tutup. 

Ex date adalah hari dimana Anda sudah tidak berhak mendapatkan dividen lagi. Jarak antara tanggal cum dengan tanggal ex dividen selalu 1 hari. Kalau Anda lihat, cum date dan ex date PGAS diatas jaraknya malah 3 hari, bukan 1 hari. Hal tersebut dikarenakan tanggal 16 dan 17 April 2016 adalah hari sabtu dan minggu. Pokoknya, jarak cum dengan ex date selalu 1 hari.  Jadi, kalau Anda membeli saham tanggal 18 April 2016 yaitu pada saat cum date, ya Anda tidak dapat dividen.  

Tanggal pembayaran / tanggal distribusi. Merupakan tanggal dimana emiten membayarkan dividen kepada pemegang sahamnya. Jarak antara cum date dengan tanggal pembayaran biasanya hampir selisih 1 bulan. Kalau Anda sudah berhak atas dividen, Anda tinggal tunggu saja perusahaan membayarkan dividen ke rekening efek Anda. Anda nggak usah ngapa-ngapain. 

Selain itu, perlu Anda catat kalau Anda ingin dapat dividen Anda tinggal membeli sahamnya melalui transaksi di PASAR REGULER. Anda nggak usah daftar apa2, isi formulir dan sebagainya. Tinggal klik mouse buy Anda, dan beli saham sebelum ex date. 

Jadi siapa yang berhak dapat dividen? Apakah pemegang saham lama? Apakah pemegang saham mayoritas? 

Tidak

Seperti saya paparkan, yang berhak untuk mendapatkan dividen adalah Anda yang memiliki saham sampai tanggal cum date. Misalkan Anda memegang saham PGAS mulai tahun 2013, kemudian Anda tidak menjual sampai pada tanggal cum date, maka Anda berhak atas dividen. Kalau Anda baru membeli pada tanggal cum date, Anda juga berhak atas dividen. 

Kalau Anda memiliki saham kemudian menjual saham pada tanggal ex date, yaitu pada contoh adalah pada tanggal 18 April 2016, maka Anda juga masih berhak atas dividen. Akan tetapi, kalau Anda membeli dan Anda menjual pada tanggal cum date, maka Anda TIDAK BERHAK atas dividen. Karena yang berhak atas dividen adalah mereka yang menyimpan saham  dan tidak menjualnya sampai tanggal cum date.

Demikianlah informasi yang dapat saya berikan pada Anda tentang pembagian dividen kas dan cara membaca informasi dividen yang benar. Dividen dibagikan melalui hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Besarnya dividen yang dibagikan setiap perusahaan pasti berbeda-beda. Perusahaan pada umumnya membagikan dividen kalau mereka dapat laba. 

Namun, TIDAK SELALU perusahaan yang dapat laba membagikan dividen. Biasanya perusahaan yang memutuskan untuk tidak membagikan dividen, karena mereka ingin melakukan ekspansi atau alasan lain. Kalau perusahaan mengalami rugi, sesuai aturan Bursa Efek Indonesia (BEI), tidak boleh membagikan dividen. Perusahaan2 yang rutin membagikan dividen, dan jumlah dividen per lembarnya cukup besar biasanya adalah perusahaan2 blue chip yang kinerjanya sudah mapan, seperti BBCA, BBRI, UNVR dan lain-lain.

Lalu, dimana saya bisa mendapatkan informasi tentang pembagian dividen? Kalau saya biasanya melihat melalui situs: http://www.eddyelly.com. 

Thursday, May 05, 2016

IHSG dan Pertumbuhan Ekonomi

Beberapa hari lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia Kuartal I 2016. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh hanya 4,92%, sama sekali tidak seperti apa yang telah diprediksi para analis. Para analis sebelumnya memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2016 mampu tumbuh hingga 5,07%. Perbandingan analis ini mengacu pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2015 yang mampu naik signifikan sampai 5,04%. 

Lalu, apa pengaruh pertumbuhan ekonomi Indonesia terhadap IHSG? Pengaruhnya sangat besar. Pada saat pertumbuhan ekonomi diumumkan turun, IHSG sesi I tanggal 4 Mei 2016 langsung turun sebesar 0,86% menjadi 4.770,75. Pengaruh pertumbuhan ekonomi Indonesia juga Anda bisa lihat di pos saya: Ulasan Pasar Saham 2015 dan Prediksi IHSG 2016. 

Memang sulit menyimpulkan, apakah pertumbuhan ekonomi punya pengaruh yang sangat signifikan terhadap IHSG, karena Anda sendiri juga pasti setuju dengan saya bahwa, pergerakan IHSG di pasar modal dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Tidak hanya pertumbuhan ekonomi. Namun, setiap kali pemerintah merilis data pertumbuhan ekonomi, IHSG selalu naik signifikan (kalau pertumbuhan ekonomi berhasil naik diatas prediksi), atau turun signifikan (kalau pertumbuhan Indonesia dibawah prediksi).

Kalau Anda perhatikan, pertumbuhan ekonomi Indonesia sebenarnya kalah jauh sama negara2 ASEAN. Myanmar mampu mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 8,7%. Kamboja: 6,9%, Vietnam: 5,46%. Sedangkan Indonesia hanya 4,92%. Tentu hal tersebut adalah pencapaian yang sangat kurang kalau dibandingkan sama negara2 tetangga.

Beberapa penyebab penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia karena menurunnya pengeluaran konsumsi rumah tangga yang hanya tumbuh sebesar 4,94%. Pertumbuhan di sektor perdagangan juga turun karena produksi barang dalam negeri dan persediaan barang impor memang sudah turun sejak awal 2016. Kuartal I biasanya terjadi pola musiman belanja pemerintah yang cenderung melambat untuk konsumsi dan investasi. 

Lalu bagaimana dengan investasi saham? Apakah dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang selalu naik atau turun yang seringkali lain dari prediksi, Anda perlu memindahkan instrumen investasi saham ke instrumen investasi lain yang lebih aman seperti emas?

Itu sih terserah Anda. Tapi kalau menurut saya pribadi, Anda yang sudah investasi saham di pasar modal, saya tetap optimis dengan Indonesia bisa mencetak rekor2 yang jauh lebih baik untuk kedepan. Misalnya: pembangunan infrastruktur yang jauh lebih baik. Tentunya, kita semua berharap agar birokrasi pemerintahan bisa bekerja dengan baik, karena kunci keberhasilan ada di sumber daya manusia. Sebagus apapun kebijakan ekonomi pemerintah, kalau SDM nggak main, ya percuma saja. 

Di balik semua itu, semua analisis ujung2nya hanyalah prediksi. Tidak ada yang tahu kuartal II 2016 pertumbuhan ekonomi Indonesia bakalan naik atau turun ke angka berapa. Jadi, jangan pegang kata2 saya 100%. Baca pos: Seberapa Akurat Rekomendasi Para Analis? Kalau Anda mau investasi saham, mau trading di pasar modal dalam kondisi market yang bergejolak dan dipenuhi oleh para bandar2, maka Anda harus pertimbangkan segala risiko. Anda harus punya pengetahuan. Anda harus bisa mengontrol emosi trading Anda. Baca juga: Psikologi Pasar: Empat Tahapan Penting. 

Lalu, apa yang harus Anda lakukan kalau Anda menyikapi berita tentang pertumbuhan ekonomi, yang terbukti memiliki dampak pada IHSG? Saran saya: WAIT AND SEE. Ketika mendekati kuartal II berakhir, ada baiknya Anda mengurangi dahulu transaksi Anda di pasar saham. Perhatikan dahulu, apakah pertumbuhan ekonomi akan bergerak ke arah mana, naik atau turun? Kalau memang pertumbuhan ekonomi Indonesia turun, jadikanlah kesempatan untuk memburu saham2 di harga rendah. Kalau pertumbuhan ekonomi naik, dan mampu menaikkan IHSG, siap2 Anda belanja saham2 yang bagus. 

Kemungkinan pemerintah akan merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2016 sekitar akhir Juli atau awal Agustus. 

Sunday, May 01, 2016

Fraksi Harga Baru dan Dampaknya pada Pasar Modal

Per 2 Mei 2016 besok (pos ini ditulis tanggal 1 Mei 2016) ada sesuatu yang bakal berbeda dengan fraksi harga saham di pasar modal. Apa yang berbeda?

Fraksi harga di BEI akan segera direvisi menjadi fraksi harga yang baru. Kalau fraksi harga yang lama hanya ada 3 fraksi harga, maka fraksi harga yang baru ini akan berubah menjadi 5 fraksi harga. Aturan tentang fraksi harga yang baru ini sebenarnya sudah lama diperbincangkan dan berita simpang-siur tentang aturan ini sudah lama dibahas. Banyak pro dan kontra? Anda termasuk yang mana, pro atau kontra?

Nah sebelum masuk ke bahasan utama di pos ini, ada baiknya Anda mengenal tentang fraksi harga terlebih dahulu. Silahkan baca pos-nya lagi: Fraksi Harga Kecil Vs Besar, Mana yang Lebih Cepat Cuan? Nah, bagaimana perbedaan aturan fraksi harga lama dengan fraksi harga baru mulai tahun 2016? Mari simak tabelnya dibawah.

Aturan fraksi harga lama dari BEI dibagi menjadi 3 fraksi harga sebagai berikut:



Sedangkan aturan fraksi harga baru dari BEI yang akan diterapkan per tanggal 2 Mei 2016 dibagi menjadi 5 fraksi harga sebagai berikut:


Perbedaannya sekarang pada fraksi harga baru ada tambahan fraksi harga Rp2 untuk fraksi 200-500. Kalau pada fraksi lama, harga saham 200-500 fraksi harganya tetap dihargai Rp1. Perbedaan kedua ada fraksi harga Rp10 untuk harga saham yang berada pada rentang  2.000-5.000. Kalau pada fraksi harga lama, harga saham 2.000-5.000 fraksi hargnya cuman dihargai Rp5. 

Jadi, fraksi harga yang baru ini intinya rentang harganya diperlebar. Nah, kalau melihat fraksi harga yang awalnya Rp1 bisa menjadi Rp2, kemudian fraksi harga Rp5 kemudian ada tambahan fraksi harga Rp10, maka saya yakin Anda sudah bisa menebak apa tujuan BEI mentetapkan fraksi harga yang baru ini.


Yang jadi pertanyaan: Apakah dengan fraksi harga baru investor benar-benar semakin cepat cuan? Sebenarnya, selain meningkatkan likuiditas, kenaikan harga saham yang lebih cepat dari sebelumnya juga patut diwaspadai,karena adanya aksi para spekulan atau yang kita sebut dengan bandar bisa semakin liar memancing investor ritel yang hanyamemiliki dana terbatas.



Saham-saham gorengan akan lebih cepat naik dengan fraksi harga yang baru. Apalagi biasanya, saham-saham gorengan rentang harganya antara Rp200-Rp500 fraksi harganya menjadi Rp2 (sebelumnya Rp1). Kalau Anda tidak hati-hati dalam menyeleksi saham, hanya ikut “arah angin”, tidak menutup kemungkinan dengan fraksi harga baru, justru akan mempercepat pasar modal kita menjadi tempat spekulan, bukan menjadi tempat bisnis saham yang menjanjikan. Pada akhirnya, pasar modal akan menimbulkan kesan judi.



Pelajaran yang bisa diambil dari saya dan juga Anda sebagai investor ritel, yang notabene masyarakat umum: Dengan fraksi harga baru nanti, yang memungkinan naiknya harga saham lebih cepat, jangan terlalu cepat terbawa oleh euforia pasar. Kenaikan harga saham yang cepat justru akan membawa dampak psikologis yang buruk jika tidak diimbangi dengan perencanaan trading setiap investor. Jangan sampai karena fraksi harga baru, modal para investor justru tergerus habis.



Sebagai para investor dan trader, harus tetap bisa mengimbangi situasi euforia yang mungkin terjadi dengan fraksi harga baru ini, dengan menyeleksi saham-saham yang bagus secara analisis yang didukung fakta. Baca juga: Psikologi Pasar: Empat Tahapan Penting.



Lalu bagaimana praktik fraksi harga saham yang baru ini pasar modal kita? Apakah membuat IHSG semakin jatuh atau semakin melesat? Tentu saja saya akan membahas di pos selanjutnya setelah beberapa bulan kedepan fraksi harga ini telah ditetapkan ke pasar saham (belum terbit.. coming soon).

Saturday, April 30, 2016

Fraksi Harga Kecil Vs Besar, Mana yang Lebih Cepat Cuan?

[Bagi Anda yang ingin mendapatkan ebook pasar modal, strategi trading dan belajar saham terbaru, + free software saham dan konsultasi, Anda bisa mendapatkannya disini: Buku Saham.]

Harga saham di pasar modal sangat bervariasi. Harga saham terendah di pasar reguler adalah Rp50 per lembar saham (bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan Bursa Efek Indonesia). Dan harga saham tertinggi tidak terbatas. Tinggi rendahnya harga saham sangat berpengaruh terhadap modal yang Anda trading-kan di pasar saham. Semakin tinggi harga saham, maka semakin besar modal yang Anda butuhkan dan sebaliknya.

Nah, saat Anda ngomong tentang harga saham, maka harga saham tidak bisa lepas dengan yang namanya fraksi harga. Fraksi harga adalah batasam harga dan kelipatan harga saham yang diatur dalam perdagangan saham di pasar saham. Aturan fraksi harga sekarang (bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan Bursa Efek Indonesia) adalah sebagai berikut. 


Per 2 Mei 2016, Bursa Efek Indonesia sudah merevisi fraksi harga menjadi 5 fraksi, bukan 3 fraksi. Silahkan simak selengkapnya di pos saya: Fraksi Harga Baru dan Dampaknya terhadap Pasar Modal.

Kalau di pasar saham, tentunya ketika waktu pasar buka Anda bisa melihat fraksi harga saham di antrian offer dan bid saham tertentu. Saya contohkan sistem antrian saham GGRM (kiri), PWON (kanan) dan WSKT (bawah). Harga saham GGRM mencapai Rp60.000 per lembarnya, oleh karena itu fraksi harganya adalah Rp25. Karena harga saham PWON dibawah 500, maka fraksi harga adalah Rp1. Sedangkan WKST harganya sekitar Rp1.700, maka fraksi harganya adalah Rp5. 




Gambar diatas menunjukkan sistem antrian saham di pasar modal. Di situlah Anda bisa melihat fraksi harga. Setiap sistem selalu menunjukkan fraksi harga. Misalnya, saham PWON. Lihat Bid Price, ada harga 457, 458, 459, 460, 461. Kenaikan dari 457 ke 458 itu yang namanya fraksi harga. Seperti tabel diatas tadi, semakin besar harga saham, fraksi harganya akan semakin besar juga.  

Yang jadi pertanyaan: Lebih cepat dapat untung mana kalau beli saham yang fraksi harganya kecil atau fraksi harganya besar? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat ilustrasinya dibawah.

ILUSTRASI FRAKSI HARGA

Misalkan Anda membeli saham PWON di harga Rp450 sebanyak 100 lot. Selain beli saham PWON, Anda juga beli saham GGRM di harga Rp60.200 sebanyak 1 lot dan membeli saham WSKT pada harga Rp1.785 sebanyak 26 lot. Lihat tabel dibawah ini (klik untuk memperbesar).

Ilustrasi tabel 1

Ilustrasi tabel 2

Ternyata, kenaikan fraksi harga yang kecil dan fraksi harga yang besar memberikan potensi besar kecilnya cuan yang berbeda. Ketika Anda membeli PWON di 450 dan menjual di 451, Anda belum bisa cuan. Hal ini dikarenakan anda harus menanggung fee beli dan fee jual dari sekuritas (pada contoh ini saya ambil fee beli sebesar 0,17% dan fee jual sebesar 0,27%).

Demikian juga ketika anda membeli saham GGRM. Ketika anda menjual GGRM di 60.225 (beli di 60.200) anda belum bisa cuan. Ketika anda beli WSKT di 1.785 dan jual di 1.790 anda juga belum bisa cuan. 

Anda baru bisa cuan (dengan memperhitungkan fee beli dan fee jual), ketika anda:

1. Menjual saham PWON di harga 453 (naik 2 fraksi). Dengan modal Rp4.517.769 dan kenaikan 2 fraksi harga anda bisa menghasilkan cuan sebesar Rp10.119.

2. Menjual GGRM di 60.500 (naik 11 fraksi). Jika anda beli GGRM, dengan modal lebih besar, yaitu Rp6.033.665, anda butuh kenaikan 11 fraksi baru anda bisa cuan. Cuan yang anda dapatkan pun masih lebih kecil yaitu sebesar Rp3.431.

2.  Menjual WSKT di 1.795 (naik 2 fraksi). Jika anda beli WSKT yang fraksi harganya 5, dengan modal Rp4.654.399 anda sama-sama butuh kenaikan 2 fraksi saja untuk bisa cuan sama seperti PWON. Tetapi, cuan yang anda dapatkan masih lebih kecil dibandingkan PWON, yaitu sebesar Rp5.509.

"Jadi Bung Heze, apa arti semua ini?" Tanya anda 

Artinya, fraksi harga yang kecil-lah yang berpotensi menghasilkan cuan yang cepat dan lebih banyak dibandingkan dengan fraksi harga yang besar. Urutannya: fraksi harga Rp1 yang paling cepat, diikuti fraksi harga Rp5 kemudian fraksi harga Rp25. Semakin kecil fraksi harga saham, maka potensi kenaikan fraksi yang kecil akan lebih cepat menghasilkan cuan. Semakin banyak lot yang Anda miliki, otomatis profit semakin besar ketika Anda menjual saham dengan harga yang lebih tinggi daripada harga belinya. 

Gimana, sudah paham sampai disini?

^_^ ^_^ ^_^ ^_^

Jadi, meskipun BEI pada akhirnya merubah kebijakan fraksi harga, saya rasa fraksi harga yang paling kecil yang akan memberikan return lebih cepat daripada fraksi harga yang besar. Alasan inilah yang menjadi salah satu dasar mengapa, para trader suka harga saham yang kecil, dibawah Rp1.000 per lembar atau bahkan dibawah Rp500 per lembar yang fraksi harganya masih Rp1. Saham2 gorengan banyak sekali yang harganya dibawah Rp500 dan terbukti diminati oleh bandar.

"Lalu, kalau trading enaknya saya pilih mana? Mana yang lebih baik antara fraksi harga kecil dan besar? "

Semua itu tergantung dari dana yang Anda miliki. Tentunya, dana kecil yang hanya Rp5.000.000 tidak akan bisa digunakan untuk membeli, bahkan untuk 1 lot saham GGRM yang harga per lembarnya mencapai Rp60.000. Itu masih belum dikenakan fee transaksi beli. Kalau Anda hanya punya dana Rp2.000.000 untuk trading, maka belilah saham2 yang harganya rendah. 

Tapi ada satu hal lebih penting yang harus anda pahami: Harga saham fraksi harganya  rendah bukan berarti bagus semua untuk trading karena cuannya lebih cepat. Ada faktor lainnya. Apa itu?

Jawabannya adalah: FAKTOR RISIKO. Harga saham yang rendah justru harus Anda waspadai, karena harga saham rendah banyak yang tidak likuid, volatil, dan sering digoreng. Kalau mau beli saham yang fraksi harganya kecil, pilihlah saham yang likuid dan saham2 yang familiar untuk anda. 

Monday, April 25, 2016

Menjadi Full Time Trader Part II

Beberapa bulan lalu saya pernah ngepos tulisan: Menjadi Full Time Trader Part I. Sebenarnya, saya tidak berencana membuat tulisan Part II untuk full time trader. Namun, banyak pengalaman yang mengingatkan saya tentang profesi ini, membuat saya ingin melanjutkan tulisan karya saya tentang full time trader. 

Sudah agak lama, saya pernah bercerita kepada salah seorang teman saya: "Saya ingin sekali menjadi full time trader. Dimana saya trading saham di rumah dan melakukan analisis secara independen"


Mendengar pernyataan saya tersebut, teman saya menjawab sambil senyum2 nggak enak: "Investasi saham nggak ngapa-ngapain donk".

Apa yang bisa disimpulkan dari percapakan diatas, khususnya mengenai profesi full time trader? Ada beberapa poin:

- Full time trader adalah profesi yang aneh bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.
- Full time trader masih banyak belum dianggap sebagai profesi.
- Full time trader adalah "profesi" pengangguran.
- Full time trading nggak perlu ngapa-ngapain. 

Mendengar cerita rekan2 yang juga full time trader, saya juga mengalami hal yang sama. Kalau Anda menjadi full time trader, siap2 saja lingkungan Anda (walaupun tidak selalu), akan selalu mengejek profesi yang Anda tekuni. 

Kalau di pos pertama: Menjadi Full Time Trader Part I saya menyatakan syarat2 yang harus Anda penuhi kalau memang Anda ingin menjadi full time trader. Katakanlah, seluruh syarat2 tersebut sudah Anda penuhi, kemudian Anda sudah siap. Sekarang masalahnya, apakah lingkungan Anda, mungkin keluarga, teman2 Anda bisa menerima profesi tersebut?Apalagi profesi trading adalah profesi yang masih awam, dianggap judi oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Di satu sisi, mindset dan psikologi masyarakat Indonesia tidak terbiasa melihat pekerjaan pemain saham full time. Masyarakat Indonesia setiap hari dihadapkan pada kondisi dimana bekerja adalah 8 jam sehari, mulai pagi hingga sore, mulai hari senin-jumat atau senin-sabtu dan harus bergulat dengan kemacetan lalu lintas. Mindset inilah yang sudah terbentuk dalam benak masyarakat Indonesia, sehingga kalau Anda bekerja mendapatkan uang di depan komputer di rumah Anda sendiri, dan "hanya" klik tombol Buy dan Sell, rasanya aneh sekali. Apakah Anda sebagai trader, merasa layak mendapatkan uang dengan cara trading? 

Mari kita simak....

SELUK BELUK MENJADI TRADER

Saya ingin menekankan kepada Anda, bahwa profesi trading bukanlah profesi yang semudah dan senganggur yang Anda bayangkan. Kalau Anda mau memutuskan menjadi pemain saham full time, Anda mau nggak mau harus duduk tekun di kantor Anda di rumah, untuk menganalisis saham2 yang bagus. Bahkan waktu market tutup, Anda harus menyeleksi saham2 untuk dibeli besok. Anda harus terus-menerus memantau, mengamati berita2 untuk memutuskan IHSG bergerak ke arah mana, untuk memutuskan sektor2 saham mana yang layak untuk Anda tradingkan. Anda bahkan harus bisa memutuskan apakah Anda hari itu perlu trading atau tidak. 

Pada saat di depan monitor - membeli dan menjual saham, disebut dengan eksekusi, Anda harus bisa ambil keputusan cepat. Anda harus mampu mengambil keputusan beli, jual. Anda harus mampu mengambil keputusan cepat dan tepat untuk take profit, untuk cut loss demi melindungi modal Anda. 

Anda akan dihadapkan pada keputusan yang akan membingungkan Anda, apakah harus menjual atau menahan saham yang Anda miliki. Saat prediksi Anda salah, Anda harus membuat keputusan yang tepat. Saat prediksi Anda benar, Anda tidak boleh terbawa euforia pasar. 

Anda harus terus meng-update analisis Anda kalau Anda ingin dapat uang dari trading. Kalau boleh saya samakan, profesi full time trader sebenarnya sama saja dengan profesi seorang broker atau analis saham. Seorang broker harus terus meng-update informasi2 pasar. Harus memiliki informasi saham2 yang bagus untuk dibeli dari para analis berpengalaman di kantor sekuritas-nya. Demikian juga dengan seorang full time trader. So, menjadi seorang trader bukanlah profesi pengangguran.

Hanya saja, yang membedakannya kalau broker bekerja di kantor sekuritas resmi dengan mengenakan pakaian formal dan jam kerja yang sudah ditetapkan, sedangkan full time trader bekerja di rumah, bisa memakai kaos oblongan dan celana pendek. Pemain saham full time punya waktu yang lebih fleksibel karena tidak terlalu terikat oleh waktu. 

Yang jadi permasalahan, memang banyak dari masyarakat Indonesia, khsusunya masyarakat yang masih awam dengan keberadaan pasar modal, memiliki mindset yang tertanam kuat bahwa kerja harus 8 jam sehari. Sedangkan profesi full time trader tidak mengharuskan Anda untuk bekerja dengan aturan demikian. Profesi ini justru memberikan waktu yang lebih fleksibel kepada Anda.

Melalui pos ini sebenarnya secara tidak langsung saya ingin "mempromosikan" profesi full time trader. Supaya Anda jangan beranggapan yang salah terhadap profesi ini. Seperti yang saya paparkan di pos pertama, bahwa profesi ini adalah profesi yang menjanjikan. APa yang saya paparkan mengenai seluk beluk menjadi trader, setidaknya memberikan gambaran kepada Anda bahwa full time trader adalah sebuah pekerjaan. Anda bisa mempertimbangkannya jika ingin menjadi pemain saham. 

Satu lagi, bagi rekan2 yang memiliki profesi sebagai full time trader, atau pengalaman rekan2 mengenai keberhasilan dan pengalaman2 di dunia trading saham, rekan2 bisa share pengalamannya. Silahkan kirimkan pengalaman Anda ke email: suksesbelajarsaham@gmail.com. Bagi rekan2 yang mengirim ke email saya, pengalaman rekan2 akan saya tampilkan di pos di website ini.. 

Sunday, April 24, 2016

Menjadi Full Time Trader Part I

Profesi full time trader (Tujuan: Trading for A Living).... Kedengarannya keren juga ya? Benar. Full time trader  dalam benak kebanyakan orang, termasuk saya (barangkali Anda juga) adalah: 

- Tidak perlu kerja kantoran.
- Kerja cukup di rumah, cuma trading doank, waktu fleksibel.
- Kaya.
- Punya banyak waktu luang. 
- Punya modal besar untuk trading saham.
- Bisa liburan sesuka hati.
- Memberikan kebebasan waktu dan tempat.

Tokoh yang saya kagumi: meskipun dia investor, bukan trader adalah Lo Kheng Hong. Beliau hanya hidup dari investasi saham saja dan beliau bisa keluar negeri setahun 2 kali.  Walaupun bukan trader, tapi konteksnya disini adalah FULL TIME. Barangkali kalau beliau istilah pas-nya full time investor. Tapi, itu membuktikan bahwa berdagang saham secara full time, memang bisa memberikan Anda kebebasan, keleluasaan. 

Semua itu memang benar. Itulah pekerjaan dan sukacita dari seorang full time trader. Nah, kalau barangkali dari Anda ada yang punya cita2 jadi full time trader, Anda tentu harus mempersiapkan banyak hal, bukan hanya ilmu, tapi kedisiplinan dan faktor psikologis Anda harus siap. So, kesimpulannya untuk menjadi full time trader seperti poin2 yang saya sebutkan diatas tidaklah mudah.

Kemudian Anda memantapkan diri Anda: "Pak, saya memutuskan untuk menjadi full time trader, langkah saya selanjutnya harus bagaimana?"

OK, kalau Anda sudah memutuskan menjadi full time trader, maka saya anggap Anda sudah pintar. Pintar dalam hal apa? Dalam hal menganalisis kondisi market secara global. 

Seorang full time trader (harusnya) paham kapan saatnya masuk pasar - kapan saatnya keluar - kapan saatnya wait and see. Contohnya: akhir April tahun 2015 saat pasar saham mulai anjlok dan banyak berita2 buruk mulai bermunculan soal penurunan perekonomian kita, krisis utang Yunani, perlambatan ekonomi China, apa yang harus dilakukan full time trader? Harusnya dia segera keluar dari pasar (jual saham2nya), kemudian wait and see sampai kondisi pasar mulai bullish, dan sentimen buruk mulai reda.

Kalau Anda masuk pasar saat IHSG anjlok tahun 2015 untuk trading harian, maka keputusan Anda SALAH. Kenapa? Karena banyak sekali harga saham yang sudah terdiskon, eh ternyata harganya masih turun besok, dan turun lagi lebih banyak esok harinya. Kalau Anda berpikir hari ini harga saham BBRI sudah terdiskon (murah karena turun terus), lalu Anda beli, kemudian harganya turun terus, saham Anda pasti 'nyantol'. 

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Nah, sekarang kembali ke pertanyaan tadi: "Saya ingin menjadi full time trader". Menjadi full time trader kelihatannya enak, tapi TIDAK SEMUDAH APA YANG ANDA BAYANGKAN. Ada banyak yang harus Anda pertimbangkan.

Pertama. Bekal ilmu analisis teknikal. Itu pasti. Saya rasa sudah jelas.  Kalau mau jadi trader, ya Anda harus punya kemampuan trading yang baik. Bukan hanya kemampuan analisis saham spesifik, tapi Anda harus bisa analisis kondisi pasar secara global, termasuk sentimen2 yang berpengaruh kuat terhadap IHSG. Seperti yang saya paparkan tadi, Anda harus paham kapan saatnya masuk pasar - kapan saatnya keluar - kapan saatnya wait and see.

Jam terbang sangat mempengaruhi kemampuan Anda untuk menjadi full time trader. Saran saya, kalau mau jadi full time trader, pengalaman Anda trading di pasar modal harus diatas 5 tahun. Supaya Anda punya kesempatan mempelajari kondisi pasar dalam berbagai situasi.

Kedua.  Full time trader membutuhkan dana besar. Menjadi full time trader artinya Anda harus siap modal besar, karena full time trader penghasilan utamanya dari trading itu sendiri, sehingga kalau modal Rp10.000.000 atau Rp25.000.000 mungkin terlalu kecil. Full time trader, saran saya modal minimal adalah Rp100.000.000. Ingat, semakin besar modal, return semakin besar. Jika Anda ingin mendapat penghasilan lebih dari Rp5.000.000 sebulan, maka saran saya Anda masukkan dana lebih dari Rp100.000.000.

Kalau Anda memutuskan akan terjun sebagai full time trader, maka Anda harus menghitung berapa kebutuhan Anda dalam sebulan dan tingkat keuntungan yang bisa Anda capai dalam sebulan ketika Anda melakukan aktivitas trading sehari-hari. Jadi katakanlah, biaya hidup Anda sebulan adalah 5 juta, dan karena Anda sudah ahli, Anda bisa menghasilkan keuntungan trading sebulan adalah 7%.  Dengan perhtungan tersebut maka Anda harus mengeluarkan dana sebesar Rp71.500.000 (5 juta / 7%).. Tapi, tentu saja Anda nggak mungkin hidup dengan break event point (pendapatan = biaya). Jadi, investasi Rp71.500.000 itu kurang, karena modal sekian hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup Anda saja.

Sedangkan, Anda pasti juga memerlukan biaya darurat, biaya investasi, keperluan2 lainnya. Tentu, Anda harus memasukkan dana lebih dari itu. Apalagi kalau Anda membaca alasan keempat, tentu dana Rp71.500.000 dengan asumsi pengeluaran per bulan Anda 5 juta dan Anda bisa dapat return sebulan 7% sangat dan sangat kurang. Jadi, itulah alasan mengapa Anda harus memasukkan dana minimal Rp100.000.000 jika Anda memutuskan untuk menjadi full time trader dengan tujuan Trading for A Living.

Ketiga. Disiplin eksekusi. Karena modal harus besar, maka Anda harus disiplin melakukan cut loss dan take profit. Jangan sampai Anda tidak disiplin pada aturan cut loss yang Anda tetapkan, saham turun banyak baru Anda cut loss dan ruginya besar sekali, kemudian Anda menangis dan menganggap saham itu judi. Demikian juga, ketika Anda menetapkan take profit di harga sekian, maka Anda juga harus disiplin melakukannya.  

Keempat. Siapkah psikologis Anda, jika tidak ada penghasilan? Perlu Anda ketahui bahwa menjadi full time trader, berarti Anda harus siap2 jika tidak ada penghasilan dalam jangka waktu tertentu? Lho, apa maksudnya?

Maksudnya begini, tadi saya jelaskan dengan contoh IHSG 2015 bahwa Anda harus paham kapan saatnya masuk pasar - kapan saatnya keluar - kapan saatnya wait and see. Nah, kalau pasar saham kita anjlok, artinya Anda jangan masuk pasar. Kalau pasar saham anjlok seperti tahun 2015, sampai 6 bulan (April - September), apalagi waktu IHSG seperti tahun 2008, maka Anda bahkan harus siap tidak ada penghasilan sama sekali selama waktu 6 bulan tersebut, bahkan bisa lebih dri 6 bulan. Siapkah Anda?

Dalam kondisi market bullish, Anda bisa mendapatkan return puluhan kali lipat dalam satu bulan. Apalagi sebagai full time trader yang (seharusnya) sudah paham betul kondisi saham dan market, memperoleh profit dari dana Rp100.000.000 menjadi Rp500.000.000 dalam sebulan bukan hal yang mustahil. Tapi kalau pasar lagi lesu, Anda bahkan harus siap tidak ada penghasilan dari trading. 

Maka solusinya: Anda harus bijak kelola profit yang Anda dapatkan. Kalau dapat profit banyak dalam kondisi pasar bullish, maka jangan boros. Sisakan dana Anda minimal Rp80.000.000 dari profit Anda untuk motif berjaga-jaga: Apabila pasar sedang lesu, Anda sudah punya simpanan. Kalau dalam kondisi market lesu, jangan tergoda masuk, apalagi untuk ambil saham2 gorengan yang tidak jelas arah pergerakannya. 

Dari pemaparan saya diatas, sudah jelas dan sangat jelas sekali kalau menjadi full time trader atau bahasanya adalah Trading for A Living itu gampang2 susah. Celakanya, banyaaaaak sekali para pemula yang belum apa2, yang ilmunya masih sedikit sudah ngarep dapat penghasilan berlipat ganda dari trading. Bahkan dengan modal yang nggak seberapa besar, banyak pemula yang ngarep dapat penghasilan puluhan kali lipat dalam sebulan. 

Kalau Anda menginginkan menjadi full time trader, Anda harus memenuhi empat aspek tersebut. Bagaimana dengan pemula? Kalau masih pemula jangan menjadi full time trader. Matangkan dahulu analisis Anda dan psikologis Anda, baru menjadi full time trader. 

Dan tentu saja, kalau Anda belum punya semua itu, atau bahkan terlewat satu aspek saja, maka kurungkan niat Anda untuk jadi full time trader dan penuhi dahulu aspek2 tersebut.

Baca pos lanjutan: Menjadi full time trader (Part II)

Friday, April 22, 2016

Menjadi Trader atau Investor Saham? - Part V

Baca part sebelumnya: Menjadi Trader atau Investor Saham? - Part IVPerlu Anda ketahui, untuk menjadi seorang investor, Anda tidak hanya membutuhkan kemampuan fundamental, namun Anda harus memiliki mental yang kuat. Artinya, sebagai seorang investor Anda tidak seharusnya menjual saham ketika harganya baru naik 15% dalam beberapa bulan. 

Namanya juga investor, saham yang Anda pegang harusnya Anda simpan untuk jangka panjang diatas 1 tahun. Di satu sisi, sebagai seorang investor, Anda harus tahan kalau melihat harga saham Anda tiba2 turun, dan Anda tetap memiliki keyakinan bahwa harga saham akan berbalik naik, karena analisis fundamental Anda sudah menyatakan sebelumnya.

Misalnya: Anda membeli saham AABB di harga Rp5.000. Lima bulan kemudian harga saham Anda naik menjadi Rp6.100. Tiba2 karena Indonesia sedang dilanda berita2 buruk,  dan kebetulan berita2 tersebut memberikan pengaruh yang besar pada lini sektor usaha yang Anda investasikan. Harga saham Anda pun ikut ikut turun. Dari 6.100 turun menjadi 5.500. 

Kemudian turun lagi menjadi 4.500. Seorang investor ketika melihat penurunan harga sahamnya, tidak akan langsung melakukan cut loss. Namun, mereka memiliki mental dan prinsip yang kuat dengan tetap memegang sahamnya (hold), karena analisis fundamental Anda sudah mengatakan bahwa perusahaan tersebut prospek dan harganya akan kembali, kecuali jika terjadi hal2 diluar dugaan Anda (misalnya: perusahaan tiba2 berpindah lini bisnis).

Coba perhatikan investor2 yang sudah sukses sebagai seorang investor di pasar modal, contohnya Warren Buffet. Beliau memegang saham dalam jangka waktu yang sangat lama, tidak menjual sahamnya meskipun harga sahamnya mengalami penurunan. Meskipun Bursa saham Amerika sedang dilanda berita buruk sekalipun. 

Perhatikan pula investor Indonesia Lo Kheng Hong, yang dijuluki sebagai Warren Buffet-nya Indonesia. Salah satu saham yang dipegang sampai sekarang adalah PTRO. Saham PTRO Lo Kheng Hong boleh saya katakan mengalami penurunan, namun beliau tidak menjual sahamnya. Mengapa? Karena beliau memiliki prinsip dan mental sebagai seorang investor, bukan sebagai seorang trader.

Seorang investor bahkan berani membeli saham tidur, jika memang analisis mereka menganggap bahwa perusahaan tersebut memiliki prospek yang luar biasa. Bahkan, sampai beberapa bulan kedepan ketika sahamnya masih saja tidur, sang investor tidak akan melepas sahamnya. Berbeda dengan trader, kalau melihat saham tidur, sudah pasti 100% akan dihindari. 

Nah, kalau Anda adalah tipikal orang2 sabar, malahan Anda tidak tahan kalau terus-menerus pantengin layar monitor. Anda juga didukung dengan analisis fundamental yang baik. Maka Anda adalah tipe investor. Memang masih banyak para trader yang ngakunya investor, padahal mereka tidak kuat melihat saham2 yang disimpan turun, akhirnya sebentar langsung dijual. 

Kalau Anda lebih cocok menjadi trader karena karakter Anda sama sekali tidak pernah bisa menyimpan saham untuk jangka waktu yang lama, namun Anda ngotot jadi investor, Anda bisa2 malah rugi bukan untung. Sebaliknya, kalau Anda sangat menyukai perusahaan2 yang bertumbuh dan analisis jangka panjang Anda kuat, Anda bisa menyimpan saham2 yang bagus, namun Anda ngotot menjadi trader, maka kerugian-lah yang akan Anda dapatkan.

Jadi, menjadi trader atau investor tidak ada yang lebih baik, dan tidak ada yang lebih buruk. So melalui pos ini, setidaknya saya ingin memberikan gambaran pada Anda: Anda harus menentukan apakah Anda adalah seorang trader atau investor, ditinjau dari praktik secara langsung di lapangan (pasar saham).