Showing posts with label Ulasan Market. Show all posts
Showing posts with label Ulasan Market. Show all posts

Sunday, October 23, 2016

Dampak Positif dan Negatif Perubahan Nilai Tukar Rupiah

Berita ekonomi setiap harinya selalu menyajikan informasi nilai tukar Rupiah. Biasanya, disajikan informasi nilai tukar Rupiah terhadap USD. Pergerakan nilai tukar Rupiah selalu ber-fluktuatif. Kadang menguat, kadang melemah. Jika Anda belum paham mengenai kurs beli dan jual, serta penggunaannya, silahkan baca pos: Memahami Kurs Beli dan Kurs Jual.

Tapi, pernahkah Anda bertanya-tanya: Kalau nilai tukar Rupiah menguat atau melemah apa dampaknya bagi sektor usaha? Apakah nilai tukar menguat berarti pasti semakin baik untuk sektor usaha di Indonesia? Di pos ini, saya akan membahasnya. 

Nilai tukar Rupiah menguat menandakan bahwa perekonomian negara semakin baik. Artinya ketika pembagunan infrastruktur berjalan lancar, daya beli masyarakat meningkat, termasuk kebijakan tax amnesty yang baru2 ini berhasil menyerap sentimen positif dari masyarakat Indonesia, maka nilai tukar Rupiah akan menguat.  

Tetapi nilai tukar Rupiah yang terus menguat tanpa ada pelemahan sama sekali, juga memiliki dampak yang kurang baik. Apa dampak kurang baik yang dimaksud? Dampaknya adalah pada neraca perdagangan (terutama pada ekspor). Neraca perdagangan adalah catatan perdagangan ekspor dan impor dalam suatu perioda tertentu. Indonesia dikatakan memiliki surplus dalam neraca perdagangan apabila nilai eskpor lebih besar daripada impor. Sedangkan neraca perdagangan dikatakan defisit apabila nilai impor lebih besar daripada ekspor (pengeluaran ke luar negeri lebih besar daripada pemasukan ke dalam negeri).

Kegunaan neraca perdagangan adalah salah satu alat untuk mengukur kekuatan perekonomian negara. Neraca perdagangan surplus berarti Indonesia memiliki pendapatan dalam bentuk mata uang asing. Pendapatan mata uang asing ini digunakan untuk menutup utang luar negeri, memperoleh pinjaman luar negeri dan transaksi luar negeri. Demikian juga sebaliknya, jika defisit, maka pemerintah akan kekurangan uang untuk membayar utang luar negeri, transaksi luar negeri tidak bisa berjalan dengan lebih lancar.

Nah, salah satu yang mempengaruhi transaksi ekspor dan impor adalah mata uang suatu negara. Intinya:

Ketika nilai tukar menguat --> Menguntungkan untuk impor, merugikan untuk eskpor.

Ketika nilai tukar melemah --> Menguntungkan untuk ekspor, merugikan untuk impor.

"Kok bisa begitu Bung Heze?" Tanya Anda

Oke, saya akan jelaskan dengan ilustrasi. Saya berikan ilustrasi menggunakan nilai tukar Rupiah terhadap USD.

Karena berbagai kebijakan pemerintah yang menimbulkan sentimen positif, nilai tukar rupiah menguat menjadi:

Kurs beli: 1 USD = Rp11.700. 
Kurs jual: 1 USD = Rp12.000

Karena Dollar sedang perkasa dan pemerintah Amerika mengeluarkan kebijakan2 baru, dalam kurun waktu tertentu akhirnya  nilai tukar melemah menjadi:

Kurs beli: 1 USD = Rp11.900.  
Kurs jual: 1 ISD = Rp12.200

KASUS IMPOR

Apabila perusahaan2 di Indonesia impor barang dari negeri Paman Sam sebanyak $1.000, maka Indonesia harus menukarkan uang Rupiah ke dalam USD. Karena impor artinya membeli barang dari luar negeri, maka Indonesia harus menyediakan mata uang asing (membeli dollar). 

Mengacu pada contoh diatas, kurs jual saat itu adalah 1 USD = Rp12.000. Maka, Indonesia harus menukarkan uang rupiahnya sebanyak Rp12.000.000 (Rp12.000*$1.000) supaya bisa membayar harga barang impor seharga $1.000. 

Jika nilai tukar melemah menjadi 12.200, maka para importir harus menukarkan uang Rupiahnya sebanyak Rp12.200.000 (Rp12.200*$1000). Artinya, kalau kurs Rupiah melemah, para importir harus menyediakan uang yang lebih besar untuk membayar biaya transaksi impor. Sehingga, dapat disimpulkan, jika nilai tukar Rupiah melemah, maka akan memberikan dampak negatif bagi transaksi impor. 

KASUS EKSPOR

Ketika perusahaan Indonesia menjual barang ke negeri Paman Sam (ekspor), dengan nilai jual $4.000, maka Indonesia akan menerima uang masuk dalam bentuk mata uang asing (USD). Para eskportir harus menukarkan uangnya dalam bentuk mata uang Rupiah pasar valuta asing, agar bisa digunakan untuk bertansaksi dalam negeri (eksportir harus menjual Dollar untuk mendapatkan Rupiah). 

Jika mengacu pada kurs diatas, maka para eksportir harus menukarkan uang USD menjadi Rupiah. Dan eksportir akan mendapatkan nilai sebesar Rp46.800.000 ($4.000*Rp11.700). 

Jika nilai tukar Rupiah melemah menjadi Rp11.900, maka eksportir akan mendapatkan uang yang lebih besar dari penukaran mata uang USD kedalam Rupiah, yaitu sebesar Rp47.600.000 ($4.000*Rp11.900). Jadi, jika nilai tukar Rupiah melemah, maka akan memberikan dampak positif bagi transaksi ekspor. Karena dengan melemahnya nilai tukar Rupiah, para eksportir akan mendapatkan uang masuk yang lebih banyak.  

Mana yang baik, nilai tukar Rupiah melemah atau menguat?

Secara umum, nilai tukar menguat menandakan kondisi perekonomian Indonesia yang semakin bagus dan stabil, dan sebaliknya jika nilai tukar terus melemah, berarti perekonomian Indonesia sdang lesu. Tapiii...

Kalau nilai tukar Rupiah terus menguat, maka dampak yang akan ditimbulkan adalah pada transaksi ekspor. Penguatan nilai tukar Rupiah secara terus menerus akan merugikan transaksi ekspor. Artinya, jika Rupiah terus menguat, maka pendapatan yang diterima negara akan turun, walaupun juga akan memberikan keuntungan dari sisi impor (karena importir membayar biaya yang lebih murah).  Sehingga, kalau Indonesia memiliki banyak transaksi ekspor dan mata uang Rupiah menguat terus, maka hal ini bisa merugikan eksportir, dan bisa memungkinkan adanya defisit neraca perdagangan. 

Sehingga, kalau nilai tukar Rupiah terus menguat, Bank Indonesia (BI) akan mengeluarkan kebijakan2 tertentu, untuk menahan laju penguatan nilai Rupiah.

Pengaruh Nilai Tukar Rupiah Terhadap Harga Saham

Nilai tukar rupiah secara umum berpengaruh terhadap harga saham. Tetapi, Anda jangan salah mengartikan, bahwa ketika nilai tukar Rupiah hari itu menguat, maka saham2 Anda akan naik. Tidak ada hubungannya sama sekali. Jadi, kalau Anda trader saham, jangan menggunakan informasi nilai tukar Rupiah harian sebagai dasar pengambilan keputusan trading. 

Nilai tukar Rupiah yang menguat mampu memberikan dampak positif pada IHSG akan terasa dalam jangka waktu tertentu, yang tampak dari kebijakan2 ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik dan perbaikan fundamental negara. Ketika nilai tukar Rupiah stabil, dan kebijakan2 pemerintah mampu mendorong perekonomian, maka IHSG juga akan naik.


Salah satu penyebab IHSG naik, salah satunya ditopang oleh data neraca perdagangan. Neraca perdagangan surplus secara umum akan membawa pada kenaikan IHSG dan sebaliknya. Dan neraca perdangan surplus atau defisit, salah satunya juga dipengaruhi oleh nilai tukar Rupiah. 

Wednesday, October 19, 2016

Arti dan Ilustrasi Kurs Beli dan Kurs Jual

Pagi hari sebelum jam trading, kalau Anda ngopi sambil baca2  berita ekonomi, maka berita ekonomi akan selalu menyajikan kurs beli dan kurs jual. Omong2 soal kurs beli dan kurs jual, apakah Anda sudah tahu cara membaca kurs beli dan kurs jual? Dan apa pengaruhnya ke perekonomian Indonesia? Dan apa pula pengaruhnya ke harga saham? Silahkan baca pos ini sampai habis.  

Kurs beli = Kurs yang digunakan pada saat pihak bank membeli mata uang asing (Saat Anda menjual  mata uang asing).

Kurs jual = Kurs yang digunakan pada saat pihak bank menjual mata uang asing (Saat Anda menjual  mata uang asing).

Kurs tengah = Rata2 kurs beli dan kurs jual

Jadi, untuk memudahkan supaya Anda lebih cepat paham, maka kurs beli dan jual dilihat dari sisi bank. Kalau kurs beli, berarti bank yang beli mata uang asing (masyarakat jual). Kalau kurs jual, berarti bank yang jual mata uang asing (masyarakat beli).

ILUSTRASI (Saya menggunakan ilustrasi kurs Rupiah terhadap USD)

Kurs beli = Rp12.800
Kurs jual = Rp13.000

Cara membaca kurs diatas: Perbankan membeli Rp12.800 uang Anda untuk senilai 1 Dollar (USD). Sedangkan perbankan akan menjual 1 USD senilai Rp13.000. 

Kalau Anda perhatikan, kurs jual selalu lebih besar daripada kurs beli. Hal ini adalah keuntungan yang diperoleh pihak bank. Itulah kenapa kurs jual selalu > kurs beli. Jadi jika mengacu contoh diatas, maka ada selisih kurs jual dengan kurs beli sebesar Rp200. Rp200 inilah yang menjadi keuntungan bank. Kurs jual ditetapkan lebih tinggi ketimbang kurs beli dengan tujuan agar perbankan dan tempat pertukaran uang (money changer) mendapat keuntungan lebih besar dari transaksi jual mata uang asing dibandingkan transaksi beli. 

Pada saat apa kurs beli dan jual digunakan?

Kurs beli digunakan saat Anda mendapatkan uang / penghasilan apapun dari luar negeri dan Anda ingin menukarkan menjadi Rupiah.  Kurs jual digunakan saat Anda ingin menukarkan Rupiah untuk mendapatkan Dollar, saat Anda membeli barang dari luar negeri. 

Contoh Penggunaan Kurs Beli dan Jual 

Perhitungan Penggunaan Kurs Jual

Misalnya, Anda ingin membeli barang dalam mata uang USD sebesar $20, maka Anda harus membeli Dollar terlebih dahulu, menggunakan kurs jual (bukan kurs beli, jangan terbalik). Maka jika mengacu pada contoh diatas, Anda harus mengeluarkan uang dalam Rupiah sebesar: Rp13.000 x 20 = Rp260.000, untuk ditukarkan menjadi mata uang USD (260.000:13.000= @20). .

Perhitungan Penggunaan Kurs Beli

Misalnya, Anda mendapatkan penghasilan online shop dari luar negeri sebesar $100 dan Anda ingin menukarkannya menjadi  Rupiah. Maka yang Anda gunakan disini adalah kurs beli (bukan kurs jual, jangan terbalik). Jika mengacu contoh diatas, maka Anda akan mendapatkan uang rupiah sebesar $100 x Rp12.800 = Rp1.280.000

Itulah pemahaman mengenai kurs beli dan kurs jual mata uang asing. Masuk ke tahap berikutnya: Apa gunanya Anda mengetahui posisi kurs beli dan kurs jual (terutama bagi pengusaha)? Apa pula pengaruhnya ke perekonomian Indonesia? Bagaimana pengaruh penguatan dan pelemahan kurs? Dan apa pengaruhnya ke pasar modal (harga saham)? Baca pos: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Sektor Usaha. 

Thursday, October 06, 2016

Suku Bunga BI dan Pengaruhnya ke Harga Saham

Sudah sejak dahulu pengumuman suku bunga selalu membuat pergerakan harga saham naik maupun turun. Artinya, di pasar suku bunga memiliki pengaruh terhadap harga saham. Lalu, mengapa suku bunga bisa memberikan pengaruh terhadap harga saham?

Setiap kali Bank Indonesia (BI) mengumumkan kenaikan suku bunga, biasanya IHSG akan cenderung terkoreksi. Sebaliknya, kalau suku bunga BI turun, IHSG akan cenderung naik. Suku bunga bank BI / suku bunga acuan digunakan sebagai acuan bagi perbankan untuk menentukan suku bunga pinjaman dan bunga tabungan, deposito, obligasi dan instrumen keuangan lainnya.

Apabila BI menaikkan suku bunga, maka orang akan cenderung memindahkan dana dari pasar modal ke instrumen2 keuangan, seperti obligasi, deposito dan menabung di bank. Karena, ketika suku bunga naik maka bunga dari instrumen2 keuangan dan tabungan juga akan naik. Sehingga, ketika suku bunga naik, imbal hasil (return) yang diterima dari investasi obligasi, deposito, reksa dana pendapatan tetap akan lebih tinggi.

Sebaliknya, jika BI menurunkan tingkat suku bunga maka orang akan memindahkan tabungannya ke instrumen2 investasi saham (pasar modal), karena ketika suku bunga turun, maka bunga bank tabungan, dan instrumen pendapatan tetap lainnya juga akan turun.

Itulah hubungan antara suku bunga dan pergerakan harga saham. Sudah paham? 

Suku Bunga dan Inflasi

Kebijakan BI untuk meningkatkan maupun menurunkan suku bunga, salah satu alasan utamanya adalah tingkat inflasi yang berlaku di suatu negara. Apabila inflasi di Indonesia terlalu tinggi, maka BI akan menaikkan suku bunga. Tujuannya, dengan kenaikan suku bunga, masyarakat kembali menyimpan uangnya di bank, sehingga tingkat konsumsi (permintaan) berkurang. 

Dari sisi usaha, dengan kenaikan suku bunga maka mendorong pengusaha untuk segera melunasi utang, sehingga dapat mengurangi jumlah peredaran uang, yang akhirnya menekan inflasi.  

Jika inflasi di Indonesia dinilai terlalu kecil, maka BI akan menurunkan tingkat suku bunga. Tujuannya, agar masyarakat tidak terus menerus menyimpan uangnya di bank, dan digunakan untuk kebutuhan konsumtif. 

Dari sisi usaha, turunnya suku bunga dapat menodorong pengusaha untuk meminjam uang dari bank untuk digunakan usaha, yang pada akhirnya akan menyerap tenaga kerja, lalu mendongkrak ekonomi, dan naiknya tingkat konsumsi, sehingga inflasi kembali meningkat. 

Namun, perlu Anda ingat, kenaikan maupun penurunan suku bunga memang bisa pengaruh ke  harga saham. Akan tetapi, di pasar modal ada banyak sekali faktor yang menyebabkan harga saham berubah. Ketika pemerintah mengumumkan suku bunga naik maupun turun, kita tidak perlu menanggapinya terlalu serius. 

Kenaikan dan penurunan suku bunga bukan berarti perekonomian langsung naik, karena semua butuh proses. Yang paling penting adalah, Anda harus bisa melihat prospek perekonomian untuk jangka panjang.   

Tuesday, September 27, 2016

Prospek IHSG Masih Sangat Bagus

Sejak disahkan UU tax amnesty, IHSG terus melesat. Walaupun, bulan September 2016 ini IHSG diwarnai dengan koreksi, yang sudah pernah kita bahas disini: Strategi Trading Saat IHSG Down. Akan tetapi, jika saya melihat prospek IHSG 2017 dan pergerakan IHSG jangka panjang, IHSG akan tetap bersinar. Setelah ditutup terkoreksi beberapa hari, IHSG selalu mampu rebound kencang. Hari ini (27 September 2016) saja, IHSG mampu ditutup menguat sebanyak 1,26% ke level 5.419,6. 

Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia sejatinya masih menunjukkan peluang investasi yang bagus. Pasar modal Indonesia masih akan ditopang oleh dana tax amnesty yang masuk. Dana repatriasi maupun dana patriasi dari tax amnesty ini nantinya akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur, dan masuk ke pasar modal, sehingga akan meningkatkan harga saham di pasar modal.

Lalu, bagaimana strategi trading saat ini sampai jangka panjang?

Bagi Anda yang ingin berinvestasi di pasar saham, jangan ragu. Saat ini, mengingat banyak harga saham yang sudah terdiskon dan kini mulai rebound, Anda bisa memanfaatkan peluang. Kalau saya pribadi sih, masih prefer saham WSBP dan PPRO untuk jangka panjang. Kedua saham ini masih berpotensi untuk ditarik naik, terutama saham WSBP, yang prediksi saya akan mengikuti harga saham perusahaan induknya, yaitu WSKT. Kita pernah membahas saham WSBP dan WSKT di pos ini: Strategi Investasi Saham: Perusahaan Induk Vs Perusahaan Anak.

Bagi Anda yang trading, saya menyarankan Anda tetap waspada, dan kurangi portofolio, karena memasuki akhir bulan Bulan September ini hingga akhir Oktober, para pelaku pasar masih wait and see untuk melihat realisasi dana tax amnesty (30 September 2016) dan akhir Oktober, di mana akan rilis laporan keuangan emiten kuartal III, serta jangan lupa di akhir kuartal III ini juga akan diumumkan pertumbuhan ekonomi. Kita pernah membahasnya disini: IHSG dan Pertumbuhan Ekonomi.

Sedikit bocoran dari saya, ADHI bisa menjadi pilihan trading Anda untuk 28 September 2016. ADHI membentuk matching low candle, yang merupakan potensi rebound. Dua hari terakhir harga low ADHI berada di level yang sama, yaitu 2.310 dan tidak turun dibawah 2.310 yang merupakan tren terendah selama 6 bulan. Target pertama di 2.460 dan target selanjutnya di 2.520. Anda bisa entry buy di harga 2.390 - 2.420.  Berikut analisis teknikal ADHI.

Monday, September 19, 2016

Memahami Bubble Ekonomi dan Gejalanya

Belakangan ini IHSG turun tajam (tepatnya sejak pertengahan Agustus 2016), setelah sempat naik drastis dalam beberapa bulan. Kita pernah membahas di pos ini: Strategi Trading: IHSG Down.... Penurunan IHSG kali ini saya akui cukup tajam, karena IHSG yang sempat menyentuh 5.476 (all time high di tahun 2016, 9 Agustus 2016), kini turun lagi hingga sampai 5.139 (pertengahan September 2016). 

Yang jadi pertanyaan: Apakah ini ada pertanda 'bubble ekonomi'? Sebelum saya menjawab pertanyaan banyak rekan2 trader, ada baiknya Anda mengetahui apa itu bubble ekonomi dan indikasi bubble ekonomi. 

Apa itu Bubble Ekonomi?

Bubble = gelembung
Ekonomi = ekonomi

Berarti kalau diartikan adalah gelembung ekonomi. Apa maksudnya? Bubble ekonomi adalah fenomena dimana ada overreaksi (overconfidence) dari masyarakat dan pelaku pasar terhadap bangkitnya kondisi ekonomi negara, yang menyebabkan harga saham2 naik secara drastis, padahal belum ada dampak positif apapun yang ditimbulkan. Dengan kata lain adalah EUFORIA.

Namanya euforia dan overreaksi pastinya sifat pelaku pasar dan masyarakat tersebut adalah seusatu yang berlebihan, yang tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. Gejala timbulnya bubble adalah sebagai berikut.

Ada suatu harapan dan sentimen positif yang berpotensi untuk mendongkrak perekonomian suatu negara. Sentimen positif ini kemudian direpson sangat baik oleh masyarakat dan pelaku pasar (pasar modal). Harga saham naik, berita bagus sana-sini seakan mewarnai negara. 

Di satu sisi, sentimen itu hanyalah sentimen, yang belum menimbulkan dampak positif apapun ke sektor riil. Justru yang sebenarnya terjadi adalah kondisi perekonomian yang jauh dari harapan. Sementara IHSG naik terus, banyak ekspektasi pelaku pasar (bubble terus membesar) tetapi tidak ditunjang dengan perekonomian yang positif, maka tinggal tunggu saja bubble-nya pecah. 

Suatu saat, cepat atau lama saat banyak sektor usaha yang kinerjanya turun, pendapatan turun, ekspor turun, nilai tukar mata uang turun, maka IHSG akan terjun bebas, ekpektasi tinggi berubah menjadi perekonomian lesu dan lain-lain (bubble pecah).   

Contoh bubble ekonomi

Contoh terbaru, yaitu pada tahun 2015 lalu. Itulah yang bisa kita sebut sebagai bubble ekonomi. Awal dari bubble ekonomi ini sebenarnya sudah terjadi sejak pertengahan 2014, dimana saat itu ada pemilu presiden dan Jokowi terpilih sebagai presiden. Jokowi yang kerap disukai masyrakat karena berwibawa, sangat sosial dan berjiwa pemimpin diyakini mampu mendongkrak perekonomian negeri. Sehingga, muncullah Jokowi Effect. 

Jokowi Effect, seperti penjelasannya berarti masih sekedar euforia saja, belum ada dampak positif apapun ke sektor ekonomi. Dampak positif baru terasa setelah kinerja Jokowi terlihat. Saat Jokowi terplih, para pelaku pasar modal langsung memborong saham, yang membuat IHSG melejit kencang. Kalau saya tidak salah, pada pertengahan 2014, IHSG masih bertengger di 4.700-an. Dan pada Bulan Aprl 2015 IHSG mencapai all time high di 5.524. 

Di satu sisi, di balik euforia yang terjadi, ada problem yang tidak disadari oleh masyarakat. Di tengah2 kegirangan pelaku pasar, sesungguhnya ekonomi sedang lesu, perlahan tapi pasti. Banyak usaha yang mulai mengalami penurunan pendapatan, nilai tukar Rupiah terus melemah, laba2 emiten diperkirakan akan turun. Intinya, perekonomian tidak seperti yang diharapkan. 

Dengan kondisi seperti itu, ketika April 2015 banyak sekali emiten yang mengumumkan penurunan laba bersih, bahkan rugi, dan petumbuhan ekonomi Indonesia merosot, maka IHSG pun juga ikut anjlok. Itulah contoh bubble ekonomi.

Kapan kondisi tersebut akan pulih? Tergantung dari perekonomian negara. Jika kebijakan pemerintah memiliki dampak signifikan terhadap banyak sektor usaha, maka bubble ekonomi ini akan segera berakhir, dan harga saham pun akan kembali ke nilai intrinsiknya. 

Bubble Ekonomi dan Trading Saham

Jadi begini, kalau memang IHSG naik karena euforia, Anda jangan ikut euforia. Kalau Anda sudah baca tanda2 ekonomi mulai lesu (sektor usaha mulai rugi, nilai tukar melemah dan lain-lain), maka itulah saatnya Anda keluar dari market. Meskipun, IHSG masih naik, tapi cepat atau lama IHSG akan jatuh bebas. Jadi, alangkah baiknya kalau Anda tutup posisi dahulu, daripada pas IHSG down, saham2 Anda malah nyangkut semua. 

Ketika bubble ekonomi terjadi dan bubble (gelembung)-nya meletus, maka strategi trading untuk masuk posisi memang sangat tidak aman dan ruang geraknya rasanya sempit sekali. Lalu bagaimana strateginya? Anda bisa baca disini: Strategi Trading Saat IHSG Down

The last, bubble ekonomi kalau disimpulkan seperti ini:

- Diawali dengan euforia, tetapi tidak diikuti kondisi ekonomi yang bagus.
- Indeks saham naik kuencengg hanya dalam beberapa bulan, dan terkesan tidak wajar.
- Tetapi, Banyak sektor usaha yang sedang lesu.
- Perlahan, saat kondisi fundamental mulai tampak (lesu), indeks saham langsung anjlok drastis dalam waktu cepat. 

Saya rasa itu saja tulisan saya tentang bubble ekonomi......... 

Wednesday, September 14, 2016

Strategi Trading Saat IHSG Down

Setelah IHSG naik kencang sejak akhir Bulan Juni 2016 sampai Agustus 2016, pasar saham tiba2 dikejutkan dengan koreksi besar. Koreksi ini juga terjadi secara cepat sejak pertengahan Agustus 2016 sampai pertengahan Bulan September pos ini ditulis. Lihat grafik IHSG dibawah. 


Belakangan ini, memasuki 4 bulan terkahir di tahun 2o16, IHSG sedang down. Yang jadi pertanyaan, apakah IHSG sampai tahun 2016 akan terus diwarnai koreksi? Tentu saja kita tidak bisa menjawab secara pasti. Namun yang jelas, saya memprediksi, sampai akhir tahun 2016, IHSG rasa-rasanya mustahil kalau bisa menembus 5.500. Menurut saya, penyebab IHSG belakangan ini turun dikarenakan ada 4 hal utama.

Pertama. Kenaikan IHSG sudah terlalu tinggi. Logikanya, nggak mungkin pelaku pasar beli saham terus, tanpa jual. Jika IHSG naik terlalu tinggi, maka suatu saat cepat atau lama pasti akan koreksi.

Kedua. Masih berkaitan dengan poin pertama, IHSG naik tidak didukung dengan fundamental ekonomi. Jadi, cepat atau lama IHSG akan terkoreksi dengan cepat. Baca juga: Bubble Ekonomi, Akankah Terjadi Lagi? (belum terbit.. coming soon)

Ketiga. Target tax amnesty yang masih jauh dari harapan. Target tax amnesty yang diharapkan mencapai 165 triliun sampai akhir September 2016, ternyata masih tercapai hanya 2,6 triliun. Baca juga: Tax Amnesty, Awal Bangkitnya Pasar Modal dan Perekonomian Indonesia? Part ITax Amnesty, Awal Bangkitnya Pasar Modal dan Perekonomian Indonesia? Part II.

Keempat. Adanya spekulasi AS akan menaikkan suku bunga, mengingat kondisi perekonomian AS yang lebih stabil.

Tanda2 IHSG akan menuju koreksi besar sebenarnya sudah terbaca. Bagaimana cara membacanya? Yaitu dengan analisis teknikal. Perhatikan saham2 yang naik kencang saat IHSG naik. Saya ambil beberapa contoh. 

ASRI misalnya. ASRI dari harga 480 bisa menuju 550. Setelah itu? ASRI nggak bisa naik lagi. Belakangan sebelum market jatuh, ASRI mondar-mandir terus di harga 520-550, setelah itu koreksi lagi. Kondis serupa juga terjadi pada banyak saham. Perhatikan saja PWON, GJTL, JPFA dan lain2. Saham2 ini naik kencang di tengah2 kenaikan IHSG. 

Setelah itu, saham2 tersebut tidak bisa menjebol resistennya dan akhirnya, harganya cuman mondar-mandir. Inilah pertanda IHSG akan jatuh. Dan benar saja, setelah saham2 mulai sulit naik, IHSG jatuh beneran. 

STRATEGI TRADING SAAT IHSG DOWN

Jadi, seharusnya ketika Anda melihat kondisi market dengan banyak saham yang harganya cuman mondar-mandir, padahal sebelumnya saham tersebut naik kencang sekali, maka saat itukah Anda harus keluar dari market. Apapun kondisinya. Kalau saham Anda lagi turun, segera cut loss. 

Nah, bagaimana kalau IHSG sedang turun? Bagaimana strategi tradingnya? Strategi trading saat IHSG down seperti sekarang adalah wait and see. Sebisa mungkin JANGAN MASUK MARKET (baca: Membeli saham). Kalau Anda mengira saham2 sudah terdiskon, harga sahamnya bisa saja malah turun lagi. Jadi, tunggu saja market kondusif baru Anda ambil saham di harga bawah. 

Saat IHSG down, sebisa mungkin Anda cuman wait and see aja (mengamati pasar). Hanya itu pilihannya. Lihat saja berita2 yang dapat mempengaruhi IHSG. Jika sentimen positif mulai datang, Anda bisa pertimbangkan untuk mulai buy. Percayalah, lebih enak punya cash besar daripada nekat beli saham, terus saham Anda nyangkut. Kalau IHSG sudah mulai pulih, barulah Anda masuk.  

Saturday, August 20, 2016

Saham Rally Terus, Turun Terus, atau Fluktuatif?

Di pos ini saya ada pertanyaan untuk Anda. Kalau Anda saya suruh untuk memilih dengan 3 opsi, Anda pilih yang mana: 

1. Kondisi market dengan saham2 yang rally terus
2. Kondisi market dengan saham2 turun terus atau 
3. Kondisi market dengan keadaan saham yang fluktuatif saja

Ok, kita mulai dari opsi pertama. Sebagian trader yang memilih banyak saham yang  rally terus. Rally terus artinya banyak saham2 yang sedang uptrend. Bagi Anda dan saya, kalau melihat saham2 uptrend tentu akan "menyegarkan mata" ketimbang melihat saham2 yang turun terus. Bagi trader, Anda maupun saya, saham2 yang naik akan memberikan cuan yang besar. Tetapi sejujurnya, saya kurang suka kalau saham2 naik terus terlalu kencang. Mau tahu alasannya?

Pertama. Dilema menerapkan strategi buy high, sell higher. Ketika pasar modal bullish kencang, Anda akan sering menemukan saham2 yang naik sampai menembus all time high. Kalau Anda belum pegang sahamnya sama sekali dan harganya sudah naik kencang, maka jika Anda memutuskan buy, Anda harus menggunakan strategi buy high sell higher. 

Dalam kondisi pasar bullish Anda akan sering menemui saham2 yang rally kencang sekali, tetapi pada saat tertentu, saham2 yang naik bisa langsung turun 4% bahkan lebih dalam sehari. Kalau Anda yang punya prinsip buy high, sell higher dan momennya nggak pas, saham Anda bisa2 malah turun banyak. 

Kedua. Menunggu market dan saham2 Anda koreksi. Masalahnya: Kapan koreksinya? Kalau Anda nggak jago menerapkan strategi buy high sell higher, dan Anda menunggu saham2 turun, tapi malah naik terus, bisa2 Anda nggak trading. Itulah kenapa saya kurang suka kalau market berada dalam kondisi yang bullish terlalu kencang.

Ketiga. Perlu modal lebih besar. Kalau saham2 rally terus, harganya naik terus artinya harga sahamnya akan semakin tinggi. Berarti Anda harus membeli saham dengan modal yang lebih besar. 

Keempat. Harus mengubah lagi titik support-resisten. Anda mungkin sudah nyaman menentukan titik support resisten suatu saham. Misalnya: Saham PWON sebelumnya selalu bergerak dalam range support: 488 - 510 dan resisten: 540-550. Tiba2 saham tersebut naik kencang sampai menembus 630. Maka, analisis garis support-resisten yang lama tidak berlaku lagi, Anda harus menentukan garis support dan resisten yang baru. 

Menentukan titik support-resisten yang baru ada kemungkinan malah bisa meleset. Baca juga: Makna Penting Garis Support dan Resisten Part IMakna Penting Garis Support dan Resisten Part II. Makna Penting Garis Support dan Resisten Part III.

Anda mungkin masih kurang puas dengan jawaban saya diatas, Anda bertanya-tanya lagi: 
Kenapa opsi pertama (saham rally terus) kurang Bung Heze sukai? Bukankah kalau saham2 naik artinya perekonomian juga baik? 

Belum tentu juga. Saham yang rally terus belum tentu mengindikasikan perekonomian yang baik. Bisa saja itu hanyalah euforia pasar semata.  Masalahnya, sekarang pasar modal kita masih dikuasai 64% lebih asing, sisanya domestik. Kalau market naik kencang, biasanya selalu dikaitkan dengan aksi borong saham oleh pihak asing. Nah, yang jadi persoalan kalau kemudian asing tiba2 buang barang, maka saham2 Anda tidak menutup kemungkinan akan ikut turun banyak. 

Contohnya seperti pada tahun 2015, saat perekonomian lesu sebelumnya diawali dengan saham2 yang rally terus akibat euforia pasar. Pada saat asing mulai jual barang, IHSG perlahan-lahan rontok. 

Sekarang saya bahas opsi kedua: Sebagian trader yang memilih agar saham2 turun terus. Lho, apa tujuannya kok Anda ingin market turun terus? 

"Supaya bisa ambil saham di harga bawah". Jawab Anda dengan nada yakin.  

Ya, market turun memang tujuannya untuk itu: membeli saham di harga low (buy low sell highest). Tapi kalau pasar saham turun terus ya nggak enak kan. Anda akan nunggu2 terus kapan ya market naik lagi? Harga saham sudah turun kok malah turun terus. Kalau pasar saham turun terus kan artinya perekonomian juga lesu. Jadi, untuk opsi kedua ini, jelas saya nggak memilih sama sekali. 

Opsi ketiga: Market fluktuatif. Fluktuatif disini maksudnya adalah pasar saham tetap berada dalam tren naikknya, tetapi tidak bergerak naik terlalu liar, tetapi juga tidak anjlok. Kenaikan tetaplah wajar, dan koreksi sehat tetaplah wajar. Inilah market yang saya sukai. 

Market yang lebih fluktuatif, akan lebih mudah menentukan titik support-resisten suat saham, tanpa harus banyak merubah batasan support dan resisten. Sehingga, kalau pasar saham dalam kondisi yang lebih fluktuatif, maka seorang trader bisa mendapatkan cuan dari trading pendek (beberapa hari), hanya dengan menentukan batasan support dan resisten yang lebih pasti. 

Hanya saja, kekurangannya kondisi market yang fluktuatif sekali, bisa menjebak Anda. Saham dibeli, harga bisa turun. Hal ini bisa disiasati dengan trading pada beberapa saham pilihan saja. 

[Catatan: Saham yang rally terus maupun turun terus, bukan berarti sama sekali tidak berfluktuasi. Pasar saham dalam kondisi apapun selalu tetap berfluktuasi.]

Namun Anda dan saya sebagai investor ritel, tidak mungkin bisa mengatur kondisi market. Apapun kondisi market yang sedang terjadi, Anda harus menyikapinya dengan bijaksana. Jangan mudah terbawa euforia, jangan mudah panik kalau saham turun. Jadikan pasar saham sebagai motivasi dan tantangan untuk trading.