Showing posts with label Belajar Saham Pemula. Show all posts
Showing posts with label Belajar Saham Pemula. Show all posts

Saturday, October 29, 2016

Pasar Saham: Ketika Teori Lebih Mudah Ketimbang Praktik

Investasi saham bisa mendapatkan pengembalian yang berlipat-lipat. Atau, kalau Anda seorang trader, maka dengam membeli saham, Anda bisa mendapatkan keuntungan yang besar dibandingkan Anda mendepositokannya. 

Benarkah pernyataan tersebut?

Saya setuju. Tetapi, permasalahannya tidak semudah itu. Itu kan baru teorinya. Waktu saya masih kuliah, saya mempelajari teori2 teknikal yang mengatakan bahwa ketika garis stochastic naik keatas, maka itulah saatnya buy. Sekilas terlihat sangat mudah, dan saya suka sekali. Tapi ternyata, seringkali saya membeli ketika garis stochastic naik.. ehhh.. besok malah turun harga sahamnya. Baca juga: Mengapa Indikator Teknikal Sering Menipu?

Anda barangkali sering mendengar, bahwa investasi saham, trading saham bisa menghasilkan return yang besar. Tapi faktanya, banyak pemain saham yang ternyata, juga sering melakukan cut loss. Pembelajaran2 tentang dunia saham seakan begitu mudah untuk mendapatkan profit yang cepat dan besar. Seakan-akan pasar saham adalah ladang emas tempat meraup kekayaan yang besar.. Tetapi ketika kembali pada praktik, teori seringkali tidak sejalan dengan praktiknya. 

Bagi Anda yang sudah berpengalaman menjadi pemain / investor saham setujukah Anda dengan saya?

Jangan suka ber-teori. Praktik dan pengembangan sistem teknikal itu yang lebih perlu. Dengan berjalannya waktu, Anda akan lebih mengerti bagaimana mengkombinasikan analisis teknikal yang benar untuk mendapatkan profit, ketimbang merasa pintar hanya karena sudah bisa baca indikator (padahal belum dipraktikkan). 

Kalau Anda mengikuti seminar2 saham, Anda sering mendengar asumsi2 yang cenderung mengarah pada teori. Misalnya: IHSG tahun 1982 masih 100 perak, dan tahun 2016 IHSG sudah mencapai 5.400. Berarti kalau seumpama saya pegang saham mulai tahun 1982, return saya sudah ribuan kali lipat. 

Saya setuju dengan pernyataan tersebut, tetapi tidak sepenuhnya. Mengapa? Karena itu cuman teorinya alias hitung2an kasar saja. Kalau Anda nggak tahu cara berinvestasi yang baik, kalau Anda nggak tahu cara trading yang benar, kalau Anda nggak bisa kelola psikologis dan mindset trading yang benar, ya Anda tetap sulit mendapatkan profit. Semua itu, kembali lagi pada praktik riil. 

"Bung Heze, berarti nggak bisa kaya donk dari saham?" Tanya Anda

Kaya dari saham? Sangat bisa. Kalau nggak bisa dapat profit dari saham mana ada orang yang mau trading dan investasi saham?  Tapi, kaya dari saham itu tidak bisa dibangun dalam sekejap mata. Setiap trader akan merasakan yang namanya cut loss. Coba Anda bayangkan, seorang Chris John membutuhkan waktu 6 tahun di ring profesional (terus berlatih dan bertanding) untuk menjadi juara dunia. 

Kalau buanyaak orang mematok target2 yang tidak masuk akal (baru belajar sudah berharap untuk ratusan persen), maka karir trading Anda tidak akan bertahan lama. Karena teori seringkali tidak sejalan dengan praktikknya. Dan orang2 yang menganggap sudah pintar padahal baru "pandai" membaca indikator dan belum praktik, waktu terkena kerugian besar, mareka akan menyalahkan pasar saham sebagai tempat judi, bandarnya kurang ajar, salahnya broker dan lain2. 

Jadi sekali lagi, kalau Anda memang benar2 memiliki niat kuat untuk trading saham, Anda harus banyak berlatih (eksekusi jual dan beli). Seiring berjalannya waktu, Anda akan tahu sendiri, bahwa teori di pasar saham dan praktikknya memang seringkali tidak sejalan. Dan seiring berjalannya waktu itu pula, Anda akan semakin mahir menemukan pola2 pergerakan harga saham yang layak untuk dibeli. 

Friday, October 28, 2016

Cara Mencari Data Harga Saham Yahoo Finance

Pernahkah Anda mencari-cari data tentang histori harga saham? Dimanakah Anda bisa mendapatkannya? Anda bisa mendapatkan history harga saham perusahaan melalui situs Yahoo Finance. Berikut adalah langkah-langkah cara mendapatkan data history harga saham di Yahoo Finance.

1. Buka situs www.finance.yahoo.com

2. Ketikkan kode saham yang ingin Anda cari datanya. Jika Anda belum hafal daftar kode saham, silahkan googling. Disini saya kasih contoh saham PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM). Ketikka mengettikan kode saham harus Anda tambahkan .JK di belakang kode saham. JK ini sebenarnya kepanjangan dari JKSE yang artinya adalah Jakarta Composite Index. 

Kalau sudah, klik search.

3.  Maka Anda akan diarahkan ke halaman Yahoo Finance. Klik saja halaman pertama di Yahoo Finance, yang ada situs finance.yahoo. Contohnya seperti gambar dibawah ini. 

4. Setelah itu, klik Historical Data. Perhatikan gambar dibawah.  


5. Setelah itu akan muncul tampilan seperti dibawah ini.


Nah, di Yahoo Finance data historical harga saham yang bisa Anda download terdiri dari data: Tanggal, harga pembukaan (open), harg tertinggi (high), harga terendah (low), harga penutupan (close), Adj close (harga penutupan yang telah disesuaikan), dan volume. Adj clos maksudnya adalah harga saham penutupan yang sudah disesuaikan ketika terjadi aksi korporasi perusahaan, dalam hal ini adalah dividen dan stock split. 

Time Period: Anda bisa mengubah sesuai data tanggal harga saham yang Anda butuhkan,
Show: Ada beberapa pilihan, Anda bisa memilih historical prices, dividend atau stock split.
Kemudian untuk mengunduh data harga saham, klik menu: Download Data.

Begitulah cara mendapatkan data historical harga saham di Yahoo Finance. Data ini sangat berguna terutama untuk analisis OHLC, untuk pengerjaan skripsi Anda atau data2 lainnya.

Saturday, October 22, 2016

Perbedaan Mendasar Saham dengan Forex

Saya beberapa kali menjumpai pertanyaan rekan2 yang masih awam di Facebook Belajar Saham: 

"Apa bedanya saham sama forex?"
"Apakah saham dan forex itu sama?"
"Saya mau main forex, enaknya beli perusahaan apa?"

Jika Anda masih awam soal dunia trading dan investasi, dan Anda punya pertanyaan serupa, maka jawabannya adalah: BEDA. Dimana letak perbedaannya yang mendasar?

Yang paling harus Anda pahami adalah instrumennya. Saham adalah bukti kepemilikan Anda terhadap suatu perusahaan. Berarti trading / investasi saham Anda membeli saham sebuah perusahaan dengan tujuan agar Anda "memiliki" perusahaan tersebut (investasi), atau membeli saham perusahaan dengan tujuan untuk diperdagangkan (trading). Intinya, saham adalah MEMBELI PERUSAHAAN GO PUBLIC (membeli bukti kepemilikian / saham, bukan membeli asetnya secara fisik) untuk "dimiliki" dalam jangka waktu lama atau diperdagangkan. 

Sedangkan forex itu sendiri adalah kepanjangan dari foreign exchange (biasanya orang2 sering memberikan singkatan FX), yang artinya kira2 perdagangan mata uang asing. Jadi, forex adalah kegiatan membeli dan menjual mata uang asing, misalnya: membeli USD, JPY, EUR dan mata uang asing lainnya. Forex sama sekali tidak ada hubungannya dengan perusahaan. Jadi, kalau Anda membeli mata uang asing, tidak ada pengaruhnya dengan perusahaan manapun. Hubungannya ya sama nilai tukar mata uang itu sendiri. 

Bagaimana Anda sudah paham perbedaannya?

Intinya, saham dan forex itu jelas2 berbeda. Perbedannya jelas, karena instrumen yang diperdagangkan antara saham dengan forex saja sudah beda. 

Perbedaan saham dan forex lainnya, adalah terletak pada jam trading. Market forex buka 24 jam (minggu libur). Sedangkan market saham hanya buka sampai pukul 16.15 (sabtu-minggu libur). Jika Anda belum memahami jam trading pasar saham, silahkan baca pos: Jam Trading Bursa Saham Indonesia. 

"Lalu apakah nggak ada persamaannya Bung Heze?" Tanya Anda

Tentu saja ada. Persamaan inilah yang membuat orang seringkali tertukar antara saham dan forex. Persamaannya adalah: analisis teknikal yang digunakan saham dengan forex sama. Baik trader saham maupun trader forex harus mengerti candlestick, garis support dan resisten, indikator-indikator dan momentum (seperti stochastic, MACD, RSI, dan lain2) yang dapat memprediksi harga saham. Jika Anda ingin belajar analisis teknikal full melalui website Saham Gain, Anda bisa mendapatkan ebooknya disini: Buku Saham. 

Di satu sisi, walaupun dasar2 analisis teknikal forex dan saham semua sama, namun penerapannya di market bisa saja berbeda. Karena market forex itu lebih likuid dibandingkan saham, trader forex banyak yang menggunakan analisis grafik dan candlestick menitan untuk keluar masuk pasar dengan cepat. Sedangkan, kalau Anda seorang trader saham, menggunakan grafik menitan kurang cocok, karena pergerakan harga saham tidak se-liar pergerakan mata uang (forex). 

Trader saham lebih cocok menggunakan analisis grafik bulanan (1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun). Kalau trader saham menggunakan analisis grafik menitan, mungkin tidak akan berdampak banyak seperti pada forex (volatilitasnya tidak akan terlalu tampak).  

"Bung Heze mana yang lebih enak, saham atau forex?" Tanya Anda. 

Semua kembali lagi pada diri Anda. Kalau Anda siap dengan risiko volatilitas yang jauh lebih besar, keuntungan yang jauh lebih cepat, Anda bisa mempertimbangkan masuk pasar forex. Kalau Anda ingin membeli perusahaan, Anda harus masuk pasar saham. Tapi, terlepas dari semua itu, cocok tidaknya Anda menekuni saham atau forex, Anda harus mencoba dengan belajar dan latihan (akun demo). 

------------------------$$$$$$$$$$$$$---------------------------

Dari semua yang saya tulis di pos ini, kalau saya rangkum kembali perbedaan saham dan forex, termasuk persamaannya adalah sebagai berikut:

- Instrumen yang diperdagangkan pasar saham dengan forex berbeda. Saham memperdagangkan bukti kepemilikan perusahaan go public di Bursa Efek. Saham sebagai investasi juga berarti "membeli" perusahaan. Forex memperdagangkan mata uang asing. 

-  Market forex buka 24 jam (minggu market tutup), sedangkan pasar saham hanya buka hingga pukul 1.615 (sabtu-minggu market tutup).

- Persamaan: Sama2 harus mempelajari analisisi teknikal. Baik trader saham maupun forex, harus paham candlestick, garis support dan resisten, serta indikator2 lainnya seperti stochastic, MACD, RSI dan lain2. 

Saturday, October 08, 2016

Ujian Yang Sebenarnya di Pasar Saham

Kondisi pasar saham yang sedang bullish sangat memungkinan para trader mencetak cuan (baca: profit) berlipat dari transaksi tradingnya. Ketika para trader merasa cuan, saya banyak sekali menjumpai hal2 seperti dibawah ini:

- Para trader cuap-cuap di medsos sambil pamer profitnya (padahal yang profit cuman 1 saham, lainnya nyangkut).
- Para pemula merasa seperti pahlawan kesiangan di pasar saham.
- Timbulnya kepercayaan diri berlebihan (0vercofidence).
- Terus membeli saham dalam jumlah banyak.
- Trader merasa lebih ahli daripada trader lainnya (padahal sama sekali tidak).
- Trader merasa bisa terus profit dalam keadaan apapun dan mulai mengabaikan risiko.

Okelah, Anda memang bisa dapat profit dalam kondisi pasar saham bullish... tapi.....

Banyaknya trader yang mulai merasa sangat sakti dan terlalu yakin dengan kemampuannya, ketika harga saham sudah berada di puncaknya dan pasar mulai berbalik arah (koreksi), disinilah mental trader mulai diuji. Apakah mereka bisa tetap profit ketika pasar bearish? Apakah trader bisa cut loss sedini mungkin? Apakah trader bisa mengamankan portofolionya ketika pasar bearish? Apakah trader bisa mengatur strategi, kapan harus keluar ketika pasar mulai ada tanda2 bearish?

Faktanya, buanyaaaakkk sekali trader yang awalnya merasa pintar dan jago trading, waktunya pasar berbalik arah, portofolionya langsung nyangkut semua. Dan, cuap-cuap yang semula ramai tiba2 nggak kedengaran lagi.   

Pesan saya di pos ini: Di pasar saham Anda jangan pernah merasa pintar. Karena pasar saham akan menghukum orang yang merasa pintar dan sombong. Di pasar saham, ujian yang sebenarnya bukan datang ketika pasar saham sedang bullish, tetapi ketika pasar saham sedang bearish.

Anda baru bisa dikatakan seorang trader hebat kalau Anda bisa mengambil keputusan trading dengan bijaksana. Artinya, Anda tahu kapan kondisi pasar akan bearish, kapan kondisi pasar akan pulih kembali. Sehingga, Anda tahu kapan harus masuk dan keluar pasar terlebih dahulu ketika Anda 'mencium' IHSG akan turun. 

Mental trader yang sesungguhnya akan diuji ketika kondisi market akan berbalik arah menjadi bearish. Karena disinilah psikologis trader biasanya akan kacau balau. Awalnya melihat saham2 naik, tiba2 anjlok seketika. Dalam kondisi seperti, ternyata banyak trader yang masih merasa dirinya sakti. Membeli saham ketika kondisi pasar sedang tidak mendukung, dengan harapan bisa mengulang profit seperti saat kondisi pasar bullish. Alih-alih untung, ruginya malah tambah gede.

Kalau Anda ingin cuan konsisten di pasar saham, teruslah belajar dan menganalisis. Nggak perlu cuap2 pamer profit, padahal yang profit cuman satu saham, sedangkan lainnya nyangkut semua.... Di pasar saham berlaku istilah: Panas setahun dihapus hujan sehari (untung berbulan-bulan, dihapus dengan kerugian satu hari).

Sunday, September 25, 2016

Belajar Saham: Mulailah dengan Memahami Risikonya

Belakangan ini, gencar sekali promosi2 seminar saham maupun forex yang menawarkan financial freedom dari saham dan forex. Saya sebagai penulis web Saham Gain, seringkali mendapat tawaran2 YANG TIDAK REALISTIS. Misalnya: 

- Dapatkan sistem trading profit no loss. 
- Trading jaminan 100% profit, hanya ada di sistem kami.
- Sistem kami menawarkan profit berlipat. Hadiri workshopnya......
- Dan masih banyak tawaran2 tidak realistis lainnya.

Kalau para pemain saham kawakan (sudah berpengalaman), saya rasa mereka sudah tahu betul bahwa trading saham ternyata tidak se-bombastis itu (semudah yang dibayangkan). Tetapi, seorang pemula yang mendengar "harapan2" tersebut, biasanya akan langsung bersemangat untuk mulai mencetak return sebesar-besarnya dari pasar saham. 

Pemula yang sudah terlau bersemangat, ternyata ketika menerima kenyataan2 pahit (rugi, cut loss, harga saham turun terus, saham dibeli harganya langsung turun) mulai menyalahkan pasar saham sebagai arena judi. Akhirnya, kekecewaan mereka akan jauh lebih besar. Karena saya juga sudah pernah menjadi pemula di dunia saham, maka pada pos ini saya ingin memberikan langkah sederhana yang harus Anda pelajari terlebih dahulu, kalau Anda ingin serius belajar saham. 

Bagaimana, Anda serius ingin belajar saham? Silahkan baca pos ini sampai habis. 

Jika Anda serius ingin belajar saham, Anda harus memulai dahulu MENGENALI RISIKONYA. Bukan "berapa persen profit yang bisa saya dapatkan dalam satu bulan". Ketika berbicara soal risiko, maka kita membahas soal PENGORBANAN YANG DILAKUKAN. Pengorbanan tersebut antara lain: Pengorbanan rugi, pengorbanan cut loss, pengorbanan saham2 nyangkut dan lain2. 

Mengapa dalam bisnis saham ini selalu saya tekankan: Risiko sebelum berbicara profit? Karena saya paham betul  bisnis saham itu risikonya sangat tinggi. Anda bisa untung besar, di satu sisi bisa rugi besar.  Dengan segala risiko tersebut, semua pemain saham, baik pemula maupun pro harus belajar mengenai psikologis investor dan cara bermain saham yang benar. Anda mendapatkan bukunya disini: Buku Saham.

Kenyataannya, para pemula yang terjun di dunia saham justru banyak rugi dan cut loss. Bagi pemula rugi dan cut loss itu sangatlah wajar. Pemain saham pro pun masih melakukan cut loss, apalagi pemula. 

"Bung Heze, apakah berarti pemula belajar saham tidak akan bisa dapat untung besar?" Tanya Anda.

Kalau Anda tanya bisa atau tidak, selalu ada kemungkinan. Toh, saya sendiri bisa profit 30% ketika awal2 trading. Tetapi, semua pemula yang profit besar, pasti akan mengalami juga yang namanya rugi, market crash, cut loss. Itulah risiko dalam trading. Anda yang  bermental baja dalam trading, maka Anda harus mengalami kerugian dan cut loss, dan belajar untuk mengevaluasi. Kalau Anda pikirannya untung melulu, tanpa berpikir risiko, Anda tidak akan bisa bertahan di pasar saham.     

So, kalau Anda menemukan seminar2, workshop, yang judulnya sangat bombastis, seakan memberikan kesan bahwa trading itu sangat mudah. Dengan janji2 bisa profit berlipat-lipat dalam sebulan, sudah dapat dipastikan bahwa mereka bukanlah pakar. Alias cuman mau jualan sistem aja. Dan percayalah, materi2 yang disampaikan tidak akan menekankan pada risiko dalam trading. 

Padahal, kalau Anda adalah pemula yang benar2 newbie dan ingin terjun ke dunia saham, maka yang PERTAMA-TAMA harus Anda pahami adalah: RISIKO TRADING / INVESTASI. Kalau Anda siap menanggung risikonya, Anda baru boleh trading / investasi. Kalau Anda tidak siap, jangan pernah trading dan investasi saham. Saya sarankan carilah bisnis lain. Ketika Anda siap menerima risiko, maka pengalaman, segala pengorbanan Anda, akan membawa Anda pada profit yang konsisten.    

Monday, July 25, 2016

Trading Saham Pakai Modal Besar

Setujukah Anda dengan pernyataan berikut:

"Semakin besar modal yang kita tanamkan untuk trading atau investasi saham, maka profit yang kita peroleh semakin besar.."

"Setuju" Jawab Anda....

Saya juga 100% setuju dengan pernyataan diatas. Kenyataannya, kalau Anda membeli saham cuman 1 lot, 3 lot, 5 lot saja, maka kalau Anda dapat profit meskipun harga sahamnya naik tinggi, ya paling2 profitnya hanya bisa Anda gunakan untuk uang jajan tambahan. Benar kan? Jadi, benarkah modal besar adalah segala-galanya untuk mendapatkan profit? Mari kita bahas secara perlahan.

Anda dan salah seorang teman Anda (teman satu camp) ditugaskan pergi ke medan pertempuran. Anda diperlengkapi senjata yang sangat sangat komplit dan cukup banyak. Anda membawa senapan laras panjang dan cadangan peluru yang sangat banyak, bom waktu, granat, pistol, bayonet, dan beberapa senjata lainnya. Teman Anda hanya diperlengkapi dengan senapan laras panjang. 

Ternyata Anda sama sekali tidak memahami cara menggunakan semua senjata tersebut. Sedangkan, teman Anda yang hanya memiliki senapan laras panjang, paham benar bagaimana cara menggunakannya. Tidak hanya paham cara menembak, tapi juga paham bagaimana caranya membidik lawan dengan akurat, paham bagaimana harus menggunakan senjata dengan efektif dan efisien (baca: mahir). 

Mengapa Anda tidak bisa menggunakan semua senjata yang Anda pegang, sedangkan teman Anda bisa menggunakan satu senjata saja dengan baik? Jawabannya karena ketidaktahuan Anda tentang 'cara menggunakan senjata' dengan baik dan benar. Apa penyebab ketidaktahuan tersebut? Bisa jadi karena PENGETAHUAN cara menggunakan senjata, dan JAM TERBANG latihan Anda menggunakan senjata masih sangat sangat kurang, terutama dibadingkan dengan teman Anda yang lebih mahir.

Dari kasus tersebut, manakah yang lebih siap di medan pertempuran? Anda atau teman Anda? Tentu saja teman Anda. Nah, lalu apa hubungannya dengan trading saham?

Medan pertempuran ibarat pasar saham. Senjata2 yang Anda pegang dan senjata yang teman Anda miliki ibarat modal. Senjata Anda yang sangat lengkap ibarat Anda memiliki modal (cash) yang sangat besar untuk siap ditradingkan. Sedangkan senjata seadanya yang teman Anda miliki ibarat modal (cash) yang kecil untuk ditradingkan. Ternyata, modal kecil pun bisa menghasilkan suatu keuntungan yang lebih KONSISTEN ketimbang menggunakan modal besar untuk trading. Nah lho?

Sekali lagi, modal besar sama sekali TIDAK MENJAMIN Anda bisa profit (besar) di pasar saham. Sama juga dengan ilustrasi diatas, senjata banyak bukan berarti lebih bagus ketimbang memegang senjata sedikit. Semua kembali lagi kepada penggunanya, paham cara menggunakannya atau nggak.  

Ingat, tidak menjamin bukan berarti tidak bisa. Lantas apa yang bisa membuat Anda bisa profit konsisten? Tidak lain adalah: PENGETAHUAN (kemampuan membaca grafik, mengenali risiko, analisis, mencerna informasi) dan JAM TERBANG (Semakin lama Anda berlatih kemampuan semakin teruji, kemampuan menerapkan trading plan dan mindset yang benar). 

Penyebab kegagalan seorang trader saham mencetak profit disebabkan karena ketidaktahuan mereka mengenai instrumen investasi tersebut. Ketidaktahuan yang saya maksud adalah seperti yang saya tuliskan di paragraf sebelumnya, yaitu pengetahuan dan jam terbang yang minim.  

 $$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Dengan adanya pos ini, saya berharap supaya Anda jangan berpikir bahwa modal besar semata-mata bisa menghasilkan profit yang besar. Jangan gegabah trading menggunakan dana puluhan sampai ratusan juta Rupiah kalau Anda pemula, yang belum punya bekal pengetahuan dan jam terbang yang cukup. Teruslah berlatih dan belajar, sampai Anda sudah cukup belajar, bisa profit konsisten dan rugi seminimal mungkin, Anda barus boleh tambah modal. 

Lalu Anda bertanya: "Kalau saya sudah jago membaca grafik, apakah saya sudah siap trading dengan modal besar dan profit?"

Tidak. Grafik adalah teori. Jangan bangga kalau Anda lebho jago membaca grafik dibanding orang lain. Yang paling penting untuk menentukan apakah Anda bisa profit konsisten adalah jam terbang dan kemampuan eksekusi Anda.

So, kalau Anda sudah baca pos ini Anda pasti akan berpikir-pikir lagi tujuh keliling untuk trading dengan modal besar.  

Pertanyaan selanjutnya, berapa modal minimal yang dibutuhkan untuk trading saham? Apakah puluhan juta? Ratusan juta? Berapa modal yang harus saya masukkan kalau saya pemula? Anda bisa baca pos2 berikut: Ilustrasi Membeli Saham Dengan Modal Rp500.000 (Strategi Diversifikasi). Dan disini: Modal Minimal untuk Bisnis Saham. Baca pos: Pemula, Jangan Berharap Terlalu Besar dari Pasar Saham.

Trading Saham Mengandalkan Rekomendasi, Pilih yang Mana? - Part III

Baca pos sebelumnya: Trading Saham Mengandalkan Rekomendasi, Pilih yang Mana? - Part II.

Analis saham yang tidak resmi, atau katakanlah mereka yang menyebut dirinya sebagai seorang analis, jumlahnya sangat buanyaak. Tentunya, tidak semua dari mereka BENAR-BENAR berkompeten. Tanpa bermaksud menjelekkan siapapun. tingkat persentase "para analis" tersebut lebih sering salah. Lalu, bagaimana dengan broker saham?

Broker sebenarnya adalah tempat yang baik untuk belajar saham. Mengapa demikian? Karena broker saham mengerti betul kondisi market dan pola2 teknikal saham. Kalau yang ini nggak usah ditanya, broker kerjanya tiap hari mantau pasar saham. Saya pribadi juga banyak belajar saham dari broker. 

Terus kenapa broker bukanlah rekomendasi yang bisa "diandalkan" untuk  belajar saham? Karena broker tidak hanya melayani Anda sebagai nasabah. Broker punya banyak nasabah lain yang mungkin juga memiliki kepentingan yang sama dengan Anda. 

Sehingga, kemungkinan besar Anda tidak mungkin tanya2 ke broker setiap saat, atau meminta broker Anda untuk membuatkan Anda analisis teknikal setiap harinya yang bisa Anda pelajari. Membuatkan analisis teknikal untuk Anda pelajari adalah profesi murni seorang analis saham.   

Selanjutnya adalah mengikuti rekomendasi dari: Teman Anda. Inilah yang sebenarnya tidak saya sarankan pada Anda, teman beli saham, terus Anda ikut2an. 

"Beli saham apa?"

Jawab Anda: Saham INAF.

Kenapa beli INAF, teknikalnya rebound?

Jawab Anda: Nggak lihat teknikalnya sih. Andy (teman Anda yang jago trading) tadi beli INAF. Aku ikut beli. Hehehe. 

Dalam banyak kasus, terkadang trader melakukan trading karena ikut2an teman. Kalau harga sahamnya ternyata malah turun, Anda jadi meng-kambinghitam-kan teman Anda. Kalaupun Anda ingin berguru pada teman Anda, teman Anda belum tentu mau mengajarkan secara detail, apalagi strategi2 trading jitu yang dia gunakan untuk dapat profit. Coba Anda pikirkan, apa untungnya teman Anda menghabiskan waktu untuk mengajari Anda trading, kecuali kalau Anda mau membayar. Kalaupun Anda membayar, belum tentu teman Anda mau memberikan tips2 tradingnya dengan detail. 

Next, bagaimana dengan orang2 di media sosial, seperti forum pasar modal, grup Facebook dan lain2. Kalau Anda pernah join di berbagai grup saham di medsos, Anda pasti seringkali melihat banyak trader yang suka pamer profit. Trader memamerkan beli saham tertentu, dan harganya terbukti naik. Tidak jarang pula, ada "ajakan"untuk membeli saham. Lalu, apakah ada yang ikut2-an? Buanyaak sekali. 

Masalahnya, para trader yang suka pamer profit, belum tentu mereka bisa profit konsisten. Mungkin banyak dari trader yang pamer ketika mendapat durian runtuh, namun dibalik itu, mereka juga menyembunyikan kerugiannya. So, saran saya jangan pernah mengikuti apa yang dipamerkan oleh mereka, dengan ikut2-an membeli sahamnya. Akan lebih baik jika Anda mampu menganalisis sendiri secara objektif. 

Nah, kembali lagi: Kalau para analis ternama dan berpengalaman pun punya kemungkinan besar rekomendasi yang diberikan akan salah, lalu mengapa saya justru lebih percaya dan bisa banyak2 belajar dari mereka? Jawabannya adalah karena saya memilih analis yang tepat, tidak sembarang analis. 

Lalu, bagaimana caranya menemukan seorang analis yang bisa Anda andalkan untuk belajar saham?

Anda harus MENCARI, entah analis di kantor sekuritas Anda, analis maupun analis di tempat lain. Itulah kenapa saya selalu menyarankan Anda untuk banyak2lah belajar pada orang2 yang lebih senior daripada Anda. Dengan banyak belajar, Anda akan menemukan analis yang pas untuk Anda jadikan sebagai wadah belajar saham. Tips dari saya, kalau Anda belajar dari analis pemberi rekomendasi saham, ada baiknya selalu Anda simpan analisis2 teknikal / chart  yang diberikan oleh analis, dan selalu Anda pelajari chart2 tersebut.