Wednesday, April 13, 2016

Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part II (Konsistensi Trading Plan)

Di pos saya sebelumnya: Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part I saya sudah membahas cara membuat trading plan. Nah, barangkali Anda orang yang kritis kemudian bertanya kembali:

 "Berarti dengan trading plan dan memtauhinya, sudah menjamin saya bisa langsung untung besar donk?"

Kalau Anda bertanya seperti itu, jujur saja saya jawab apa adanya: Tidak juga....

Selalu saya utarakan kepada Anda khususnya melalui tulisan2 yang saya utarakan di pos web ini, jangan memiliki harapan yang terlalu besar untuk bisa profit segede mungkin dari pasar saham. Dapat profit dari pasar saham itu tidak mudah. Maka dari itu, untuk menyiasatinya dan untuk mematahkan siklus psikologi pasar yang berulang, Anda harus disiplin dan konsisten dalam menjalankan trading plan Anda. Ketika Anda bisa menjalankan trading plan dengan konsisten, maka profit juga akan mengikuti dengan konsisten. Baca pos: Kesalahan Utama Trading: Untuk Uang. 

Perhatikan kata kunci dari kata2 yang saya cetak tebal: KONSISTEN. Jadi, tujuan PERTAMA ketika Anda membuat trading plan adalah membuat supaya Anda bisa UNTUNG KONSISTEN dan bisa menekan kerugian Anda secara KONSISTEN pula. Untung konsisten bukan berarti untung gede dan spektakuler!

Wah, berarti saya tidak bisa untung besar donk kalau sudah punya trading plan?

Maksud saya bukan seperti itu. Sekarang saya beri 2 pilihan pada Anda:

1. 25 kali transaksi saham Anda menghasilkan 18 untung dan 7 cut loss tapi keuntungan Anda sangat konsisten walaupun kecil dan cut loss Anda dua kali lebih kecil dari cuan Anda. Total: Anda cuan

2. Anda dalam 2 kali transaksi untung Rp10.000.000, tapi dalam 5 transaksi saham berikutnya rugi Rp10.000.000. Total: break event poin (BEP).

Anda pilih yang mana? Kalau menurut ilmu konsistensi, seharusnya yang lebih baik yang pilihan nomor 1. 

Kenapa Anda perlu untung konsisten dahulu? Karena di pasar saham Anda tidak akan mudah untuk meraup keuntungan. Seperti pengalaman saya, 6 bulan pertama trading saham, saya bisa mendapatkan cuan yang gede, setelah itu hanya 2 transaksi saya, bisa menimbulkan kerugian sebesar cuan yang saya peroleh di 6 bulan pertama. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena saya tidak punya trading plan.  

Jadi perlu Anda ketahui, kalau Anda trading tidak punya trading plan dampaknya akan sangat berbahaya bagi modal yang Anda tanamkan di saham. Kenyataannya, banyak sekali pemula yang cuma mau untung besar dalam sekejap tanpa punya trading plan. Banyak sekali orang2 yang terjebak dalam iming2 bahwa trading saham itu mudah tanpa memaparkan risiko dan pentingnya trading plan. Dan percayalah Anda tidak akan untung tapi malah buntung.. 

Dengan trading plan bukan berarti Anda tidak bisa untung besar dari pasar saham. Para full time trader pasti bisa mendapatkan keuntungan besar dari saham? Lho kok bisa begitu? Jelas saja, karena para full time ini hanya memenuhi kebutuhuan hidup sehari-harinya dari saham saja, sehingga dipastikan full time bisa dan paham cara mencetak cuan yang besar dari pasar saham. Baca juga pos: Menjadi Full Time Trader Part I.

Tapi yang saya tekankan disini bukan cuan yang besar, namun konsistensinya. Para full time trader bisa mencetak cuan yang besar, dan mereka melakukannya secara KONSISTEN, termasuk ketika mereka harus menetapkan batasan cut loss secara KONSISTEN juga. Para trader yang sudah bisa mencetak keuntungan secara spektakuler di pasar saham, bukan berarti mereka trading beberapa bulan kemudian cuan gede.

Para trader yang bisa mencetak keuntungan besar diawali dari KONSISTENSI mereka. dari kekonsistenannya menjalankan trading plan itulah, perlahan mereka bisa mencetak trading2 berkualitas dan akhirnya berubahlah menjadi profit yang besar yang diperoleh secara KONSISTEN pula. Jadi, trader yang sudah bisa untung secara konsisten dan atau konsisten dan besar, mereka tidak mudah terpengaruh total oleh kondisi psikologi FEAR AND GREED, karena mereka memiliki dan menjalankan trading plan-nya.

Saya pribadi baru bisa mencetak keuntungan konsisten dengan strategi2 teknikal yang saya buat setelah saya menjalankan trading plan saya. Di awal menjalankan trading plan, saya sering berganti trading plan dan pada akhirnya saya menemukan trading plan dan strategi "bermain" saham yang pas. 

Ketika saya mendapatkan untung konsisten, hal ini bukan juga jaminan untuk saya bahwa saya tidak terbawa oleh arus psikologi fear and greed. Namun, trading plan mampu mengarahkan Anda untuk menuju pada konsistensi trading yang benar..

Jadi, berhentilah berharap terlalu besar dari pasar saham. Tentukan tipe dan strategi trading Anda, dan buatlah trading plan serta laksanakan.  

Saturday, April 09, 2016

Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part I

Berkaitan dengan pos sebelumnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed Part III salah sudah menulis tentang bagaimana cara untuk mengalahkan psikologi yang berulang: FEAR and GREED yang selalu menghantui para trader. Seperti saya paparkan di pos sebelumnya, cara paling penting untuk mengalahkan psikologi tersebut adalah dengan cara membuat dan mematuhi TRADING PLAN Anda. Dengan trading plan, jalan Anda akan lebih lurus dan tidak tergoda dengan saham2 yang tidak jelas.

Lalu Anda bertanya: "Trading plan itu yang seperti apa ya?

Menurut definisi saya trading plan merupakan untuk Strategi perencanaan manajemen modal trader dan investor dalam memetakan portofolio pilihan, menetapkan strategi analisis indikator dan menetapkan batasan take profit (memaksimalkan keuntungan) serta menimimalkan kerugian sekecil mungkin, supaya bisa mendapat profit secara konsisten, yang pada akhirnya bisa membuat profit menjadi besar. 

Jadi kata2 kunci trading plan disini adalah:

- Perencanaan portofolio
- Perencanaan indikator pilihan
- Memaksimalkan profit
- Meminimalkan cut loss
- Memanajemen modal

Tujuan trading plan: sangat jelas untuk menghindarkan Anda dari kondisi psikologis yang berpotensi menyerang Anda: FEAR and GREED, seperti yang saya paparkan di pos2 sebelumnya tentang psikologi trading. Tujuan akhirnya: Anda profit maksimal dan rugi seminimal mungkin.

OK Anda sudah paham apa itu trading plan dan mengapa sangat dibutuhkan. Nanti akan saya jelaskan lebih banyak tentang kegunaan trading plan ini. Mungkin Anda sudah banyak yang tidak sabar dan bertanya: "Terus gimana caranya buat trading plan?"

Disinilah saya akan memberi saran singkat pada Anda mengenai cara membuat trading plan untuk tahap pemula - mahir, berdasarkan pada kata2 kunci diatas. Saya mulai saja.

---------------------------------------------------------

Anda adalah seorang pemula, benar2 pemula... Maka apa yang harus saya lakukan?

Pertama. Tentukan jangka waktu trading. Anda ingin trading harian, mingguan, atau bahkan menjadi scalping trader, yang masuk-keluar pasar hanya dalam hitungan jam bahkan menit? Jika Anda memilih untuk menjadi scalping dan trading mingguan tidak masalah, namun pisahkan dana Anda. Untuk pemula, saya menyarankan Anda trading harian, sekitar 2 hari - 1 minggu. Tujuannya supaya Anda lebih banyak mempelajari analisis teknikal dan mempelajari pergerakan market. Dengan demikian, Anda bisa lebih peka. 

Kedua. Perencanaan modal dan manajemen modal. Modal pemula yang saya sarankan ada di kisaran Rp1.000.000 - Rp1.500.000. Jangan lebih dari itu. Setelah itu, Anda rencanakan maksimal Anda punya 3 portofolio. Jangan pernah menghabiskan dana Anda 100% pada saham2 yang Anda beli. Selalu sisakan dana di account balance Anda. Untuk memanajemen modal, bahasan trading plan secara jelas silahkan baca lagi pos: Perencanaan Dana Untuk Trading Saham, Baca juga: Ilustrasi Membeli Saham dengan Modal Rp500.000

Ketiga, siapkan portofolio pilihan Anda. Saran saya, usahakan Anda memilih portofolio dari saham2 LQ45. Anda harus memiliki saham2 pilihan Anda yang Anda gunakan untuk trading. Tujuannya agar Anda tidak mudah terjebak dengan saham2 yang pergerakannya tidak likuid. Sudahkah Anda membaca pos: Menggunakan Diversifikasi Saham yang Pas. Baca juga: Menetapkan Saham Pilihan Trading. Baca juga: Trader Harus Punya Saham Pilihan.

Keempat, siapkan indikator2 yang cocok untuk Anda. Setiap indikator yang digunakan oleh orang lain belum tentu cocok untuk Anda. Oleh karena itu, Anda harus memulai dengan trial and error untuk mencoba indikator2 yang cocok dan pas untuk trading Anda. Baca pos: Analisis Teknikal Klasik Vs Teknikal Modern.

Kelima. Nah ini adalah bagian terpenting yang TIDAK BOLEH DIABAIKAN oleh setiap trader. Apa itu? Menentukan take profit dan batasan cut loss. Saat membeli saham, Anda harus sudah tahu kapan Anda tak profit dan kapan Anda cut loss. Lalu berapa persentase saya harus melakukan take profit dan cut loss?

Sebenarnya take profit itu paling tidak harus 2x lebih banyak dari cut loss (take profit: cut loss= 2:1). Kalau sudah expert, take profit harus 3x lebih banyak dari cut loss (take profit: cut loss= 3:1. Intinya, Anda harus bisa sebesar mungkin dengan menyempitkan / meminimalkan sekecil-kecilnya batasan cut loss. 

Tapi kalau Anda pemula, kelihatannya sulit kalau Anda harus menetapkan take profit segede mungkin dan cut loss sekecil mungkin. Maka dari itu, saran saya untuk pemula, Anda menetapkan disiplin cut loss sebesar 5% dengan take profit sebesar 6-7%.. Silahkan lihat tabel dibawah.






Target pertama bukan dapat untung sebesar-besarnya, tapi adalah supaya Anda bisa profit konsisten dan Anda menekan kerugian dengan konsisten. cut loss sebesar 5% terlihat cukup berat, namun setidaknya Anda belajar terlebih dahulu. Setelah Anda sudah mulai memahami pasar, Anda sudah tahu batasan2 cut loss dan take profit. Anda bisa menurunkan batasan cut loss lebih rendah dengan take profit lebih besar. ANda bisa menaikkan 2x liat take profit: cut loss = 2:1. Berikut adalah saran take profit dan cut loss jika Anda sudah mulai memahami kondisi pasar dan seluk beluk trading.





Jika Anda sudah mahir, Anda bisa meningkatkan take profit Anda dan meminimalkan persentase cut loss. Dan tentu saja, inilah akhir dari tujuan dari setiap orang untuk trading dan sekaligus menjadi tujuan akhirnya yaitu memaksimalkan profit dan meminimalkan kerugian sekecil-kecilnya. 

Jika Anda bertanya kembali: "Seberapa lama kira2 seseorang dapat dikatakan mahir untuk menjadi seorang pro dan bisa handal dalam memaksimalkan keuntungan dan menekan kerugian?"

Tidak ada patokan pasti. Namun, kalau Anda baru berkecimpung di dunia saham 2-3 tahun, maka saya pastikan Anda belum cukup kuat untuk bisa naik ke posisi pro..  Coba Anda bayangkan, seorang Christiano Ronaldo (CR). CR bisa bermain di klub2 besar, seperti Manchester United dan Real Madrid, mencetak banyak gol2 spektakuler dengan skill yang menawan, apakah CR hanya butuh berlatih selama 2 tahun? Tentu tidak kan? CR butuh berlatih bertahun-tahun, bahkan mungkin sejak dia masih usia dini. 

Sama juga dengan trading saham. Kalau Anda ingin mahir, mulailah dengan belajar, mulailah dengan membuat trading plan. Kembali lagi ke bahasan poin kelima maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

"Take profit dan cut loss harus ditentukan berdasarkan trading plan Anda, bukan berdasarkan antrian bid-offer".  Anda harus sudah memiliki trading plan dan Anda harus berusaha untuk mematuhi trading plan Anda sendiri. 

Keenam. Disiplin dan konsisten. Ini adalah bagian paling sulit untuk diterapkan. Kalau Anda beli saham, Anda menetapkan take profit sebesar 5%, lalu harganya tiba2 naik 5%, segera tak profit. Itu adalah arti dari disiplin dan konsisten. 

Banyak trader yang terjebak dalam kondisi pasar. Mereka sesungguhnya sudah memiliki trading plan, karena mereka melihat harga saham yang naik cepat, mereka terus ngarep, dan akhirnya mereka yang harusnya sudah profit malah rugi. Sayang sekali bukan?

"Tapi Pak, saya sudah disiplin dan konsisten menjalankan trading plan, kok malah banyak cut loss-nya ya?"

Kalau Anda terus2-an cut loss, berarti ada yang salah dengan salah satu trading plan Anda. KEMUNGKINAN TERBESAR adalah: Kesalahan Anda membaca indikator, kurang peka dalam memprediksi pergerakan market, indikator yang Anda gunakan tidak cocok dengan karakter Anda, atau bahkan Anda malah beli saham2 yang tidak likuid. Jadi, kalau Anda terus2 an cut loss, segera perbaiki cara analisis Anda.

Kemudian Anda masih belum puas dan kembali menimpal: "Hahaha cut loss? buat apa? Toh harganya nanti juga naik, rugi lah kalau cut loss, ntar malah rugi."

Cut loss adalah bagian dari trading plan. Kalau Anda tidak melakukan cut loss, waktu dan modal Anda akan hilang. Mengapa? Karena dengan cut loss sedini mungkin:

1. Anda menyelamatkan modal Anda.
2. Anda bisa memindahkan/membeli saham di harga yang rendah dan bagus.

Dibandingkan menahan saham nyantol yang bisa Anda jual, kenapa tidak Anda alihkan saja ke saham2 yang bisa mencetak profit? Baca juga psos: Penyebab Saham 'Nyantol': Trader Tidak Mau Cut Loss."

Itulah kira2 cara membuat trading plan yang saya sarankan kepada Anda. Ingat itu tadi adalah saran. Sesuaikan sendiri dengan kondisi Anda. 

Jadi Pak, Apakah ketika kita membuat trading plan, maka kita bisa mencetak keuntungan2 spektakuler?... 

Silahkan simak jawabannya di pos lanjutan: Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part II (Konsistensi Trading Plan).

Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part III)

Baca juga pos sebelumnya (Part I): Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)


Di dua pos sebelumnya saya sudah menjelaskan banyak mengenai psikologi pasar yang berulang, dan psikologi bandar. Dan kini Anda mengetahui mengapa di pasar modal psikologi Fear and Greed ini akan selalu terulang, karena dalam ilmu psikologis quote terkenal: Orang akan cenderung merespon dengan emosi yang sama terhadap masalah yang sama. Hal ini juga berlaku untuk pasar modal, di mana cerminan psikologis (pasar merespon masalah yang sama dengan cara yang sama) pasar digambarkan dalam grafik harga saham (chart). Fear and greed akan selalu terulang dan pasar akan meresponnya dengan cara yang sama.

Dari dua pos Part I dan Part II yang sudah saya jelaskan, saya dan Anda pasti setuju bahwa psikologi pasar bisa menjerumuskan kita dalam kerugian yang besar. Bahkan dalam kondisi pasar bullish sekalipun seorang trader tanpa perencanaan yang baik bisa rugi besar. Tapi masalahnya,  walaupun siklus emosi tersebut selalu terulang, namun tidak mudah untuk mengalahkan rasa fear and greed. Lalu bagaimana cara mengatasinya? 

Jawabannya adalah: TRADING PLAN dan KONTROL EMOSI.

Membuat dan mematuhi trading plan Anda adalah hal yang paling penting. Tanpa trading plan, Anda akan kesulitan mengelola portofolio dan manajemen modal Anda. Tidak percaya? Silahkan baca pos selanjutnya: Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part I. Intinya, trading plan membuat trading Anda menjadi lebih teratur dan konsisten. Sangat penting untuk menetapkan kedisiplinan dalam trading plan Anda. Jangan melanggar aturan Anda sendiri. Profit konsisten bisa Anda dapatkan kalau Anda bisa mematuhi trading plan Anda sendiri.

Rekomendasi para analis. Terlalu percaya pada rekomendasi para analis membuat trading plan Anda semakin kacau, yang pada akhirnya percaya atau tidak akan membuat Anda terjebak dalam kondisi fear and greed. Silahkan baca pos: Seberapa Akurat Rekomendasi Para Analis?

Kedua, kontrol emosi. Kontrol emosi tidak lepas dari kemampuan Anda menjalankan trading plan Anda. Ketika Anda bisa menjalankan trading plan dan KONSISTEN melakukannya, Anda tidak akan terjebak dalam kondisi fear and greed. Fear and greed di pasar modal terjadi karena para trader tidak bisa mengendalikan emosi mereka. Emosi yang berlebihan terjadi karena mereka mudah tergoda oleh saham2 yang naik cepat tanpa didasari analisis yang baik. 

Dalam kondisi pasar yang sedang bullish, Anda tidak boleh mudah tergiur untuk lekas membeli saham2 yang harganya naik kencang. Apalagi, kalau saham2 tersebut sudah diluar trading plan Anda. 

Tapi Pak, harganya naik terus nih. Untuk apa momen tersebut kalau nggak dimanfaatin?

Jika Anda bertanya seperti itu maka akan saya jawab: saham2 di pasar modal dalam kondisi bullish, akan ada banyak sekali yang naik, apakah Anda harus membelinya semua? Kalau Anda membeli semua, portofolio Anda akan membengkak, dan profit Anda tidak akan maksimal. Anda harus mampu menyeleksi portofolio berdasarkan analisis Anda. 

Demikian juga dengan kondisi pasar yang sedang bearish. Katakanlah karena kondisi pasar yang sedang bearish, harga saham Anda turun. Apakah Anda harus ketakutan sampai keringat dingin?

Tentu saja tidak. Lalu bagaimana cara mengatasi kondisi pasar bearish? CUT LOSS. Kalau harga saham Anda sudah turun sesuai dengan batasan cut loss Anda, segera cut loss, jangan panik dan jangan terus berharap. Anda tidak perlu takut luar biasa ketika pasar bearish. Ketika Anda cut loss, Anda sudah mengamankan modal Anda. Keputusan selanjutnya adalah wait and see dan melihat peluang di harga rendah.

'Ah, Pak Heze ini. Ngomong gampang. Ngelaksanakannya susah.

Saya akui melaksanakan tidak semudah bicara. Saya sendiri terkadang ragu untuk mematuhi beberapa trading plan saya sendiri, tapi mau tidak mau saya harus melaksanakannya. Ketika saya mematuhi trading plan saya, kerugian saya terkontrol dan saya bisa profit konsisten. 

So, cara mengalahkan kondisi pasar fear and greed itu sendiri adalah dengan mematuhi trading plan Anda. Dengan menyiapkan take profit dan mematuhi batasan cut loss.  Sudahkah Anda membaca pos: Fakta-fakta Psikologi di Pasar Saham? Tentunya, Anda juga harus bisa membaca kondisi pasar. Artinya apa? Artinya, Anda harus bisa melakukan analisis pasar secara objektif dan independen, yang tidak terlalu bergantung pada analis. 

Keberhasilan Anda mematahkan siklus psikologi emosi yang berulang, tergantung dari diri Anda sendiri, bukan pada orang lain, bukan pada pasar. Pasar tidak akan peduli seberapa besar Anda untung, seberapa besar Anda rugi.

Tuesday, April 05, 2016

Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part II) --> Psikologi Bandar

Baca juga pos sebelumnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)

Nah, setelah memahami mengenai psikologi pasar yang utama, yaitu Fear And Greed, Anda mulai memahaminya. Namun barangkali Anda adalah orang yang kritis, kemudian bertanya: "Lalu bagaimana psikologi pasar saham bandar yang suka "mempermainkan" harga saham?" 

Pertanyaan ini yang saya tunggu2

Sederhana saja. Perlu Anda ketahui bahwa bandar juga mempermainkan pikiran Anda dengan cara memanfaatkan situasi fear and greed. Dan bandar biasanya sengaja mengincar saham2 yang harganya rendah bahkan sampai harga Rp100 per lembar dan yang sahamnya tidak likuid. Kenapa kok bandar kebanyakan mempermainkan saham2 yang harganya rendah dan tidak likuid? Bukannya saham yang nggak likuid bukan cuma saham2 yang harganya rendah? Saham2 yang harganya tinggi pun banyak juga yang tidak likuid. 

Psikologi yang akan menjawab pertanyaan tersebut. Saham2 yang harganya rendah tidak akan membutuhkan modal yang besar untuk masuk, bahkan dana Rp500.000 Anda sudah bisa beli sahamnya. Secara psikologi, orang2 akan lebih tertarik ketika melihat shaam murah yang harganya naik kencang, karena merupakan kesempatan cuan dengan modal.

Sedangkan kalau sahamnya mahal dan harganya naik kencang, orang mungkin masih akan pikir2. Selain harganya mahal, sahamnya naik kencang berarti harganya tambah mahal lagi, dan semakin susah mereka untuk menjangkau saham tersebut dengan modal yang kecil.

Bandar biasanya mempermainkan psikologis investor2 ritel dan terbukti investor2 ritel inilah yang selalu terjebak dalam permainan bandar. Bandar seringkali mempermainkan psikologis investor ritel melalui rumor2 yang ada. Namanya juga rumor, kebenarannya belum terbukti. Sudahkah Anda membaca pos: Buy On Rumor, Sell On News?

 Saya kasih contoh konkrit dengan sedikit ilustrasi:

Saham AABB harganya Rp125 dan saham ini tidak likuid. Pergerakan harga saham ini hampir tidak bergerak karena yang mentradingkan hanya sedikit. Tiba2 karena sebuah rumor saham AABB naik kencang sekali. Hari pertama tiba2 naik menjadi Rp140. Keesokan harinya, naik menjadi Rp158. Si Ali mulai tertarik dengansaham AABB. Secara PSIKOLOGIS, Si Ali dapat tergoda membeli saham AABB karena melihat kenaikannya kencang, sudah begitu harganya murah.

Ali mulai masuk di saham AABB di harga Rp160. Dan benar saja sahamnya naik lagi sampai Rp171. Ali sudah menetapkan akan menjual di Rp170, tetapi karena sahamnya naik kencang, disinilah rasa GREED Ali mulai muncul. Ali mulai berharap supaya harga saham naik lagi menjadi Rp179 dan otomatis si Ali sudah melanggar trading plan-nya sendiri. 

Di saat harga naik menjadi Rp173 tiba2 harga jatuh dalam hitungan menit menjadi 164. Ali menjadi panik, namun ditengah kepanikannya (rasa fear) si Ali masih berharap harga saham balik ke harga Rp170. Ternyata, harga saham masih saja jatuh sampai Rp150 dan keesokan harinya harga saham jatuh lagi ke Rp135. Dan beberapa hari kemudian harga saham turun sampai Rp106, kemudian harga saham AABB stagnan. 

Ternyata saham AABB terkena Unusual Market Activity (UMA) karena pergerakan saham yang tidak wajar. Karena melihat saham yang nilainya terus turun, Ali tidak berani cut loss, dan sahamnya 'nyantol'. Dana yang dimiliki Ali terpenjara dan tidak dapat digunakan apa2 selain menunggu harga sahamnya naik kembali (itupun kalau bisa naik melebihi harga beli awalnya). 

Nah dalam praktiknya Anda akan sering menemui hal2 seperti ini. Itulah mengapa banyak yang bertanya kepada saya: "Pak, saham A, saham B naiknya kapan?" Dimana saham2 tersebut yang notabene saham2 nggak likuid. Perlu Anda ketahui, bandar seakan paham apa yang kita inginkan. Bandar tahu jika investor2 ritel mulai masuk di saham2 yang mereka goreng. Saat harga sudah terlalu tinggi menurut pandangan bandar, bandar memahami situasi GREED dari kebanyakan para investor ritel. Disinilah bandar memanfaatkan momen tersebut. 

Bandar memahami kalau investor2 ritel mudah dipancing melalui kenaikan saham2 "jelek". Saat bandar sudah merasa harga sahamnya tinggi, bandar akan langsung menjual sahamnya, dan sebagian investor ritel pun akhirnya ikut melakukan selling, sehingga bukan tidak mungkin dalam satu saham terjadi panic selling karena perasaan takut (fear).  Setelah bandar mendapat keuntungan besar, bandar akan pergi begitu saja, sehingga trader2 yang belum sempat jual sahamnya, karena dipermainkan oleh perasaan greed oleh para bandar, sahamnya 'nyantol'.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Sedikit melenceng dari topik bahasan ini, melalui tulisan ini sebenarnya saya pribadi juga ingin mengungkapkan - agar pengatur regulasi di pasar modal kedepannya bisa lebih peka terhadap situasi2 seperti ini (saham gorengan). Di akun facebook Belajar Saham, ketika saham2 yang naiknya banyak sekali dan tidak wajar, banyak komentar2 dari rekan2 yang intinya sebenarnya komplain: 

"Kenapa BEI selalu memberikan status UMA dan suspend pada perusahaan2 yang sahamnya naik tidak wajar, tapi kalau sahamnya turun drastis, sama BEI malah dibiarkan aja?" Sejujurnya, saya juga punya pertanyaan yang sama dengan rekan2. Karena saya merasa ketika saham2 yang naik kencang kebanyakan diberikan status UMA yang dapat Anda lihat melalui situs www.idx.co.id. Namun, tidak banyak saham2 yang turun drastis diberikan status UMA. Peran regulator kedepannya semoga lebih bisa menertibkan keberadaan saham2 gorengan di pasar modal, supaya tidak merugikan investor ritel yang dananya kecil. 

Kembali lagi ke toipk, lantas, bagaimana mengalahkan rasa serakah dan takut tersebut? Baca pos selanjutnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part III) - Mengalahkan Fear And Greed.

Sunday, April 03, 2016

Tips Memilih Perusahaan Sekuritas Terbaik

Memilih perusahaan sekuritas yang bagus memang gampang-gampang susah. Kalau Anda ingin buka akun di kantor sekuritas saham, Anda harus memilih satu diantara ratusan perusahaan sekuritas yang ada di Indonesia. Bagi Anda yang ingin buka akun rekening efek Supaya Anda bisa menyeleksi kantor sekuritas mana yang bagus, perhatikan tips2 dibawah ini.

1. Track Record

Hendaknya Anda harus mempertimbangkan track record perusahaan sekuritas. Track record dalam hal ini adalah bebas dari sanksi serta kejujuran dalam mengelola nasabah. Hal ini penting, jika perusahaan sekuritas banyak memiliki sanksi, maka dapat dikatakan perusahaan tersebut tidak bisa mengelola usaha bahkan nasabahnya. 

2. Setoran Awal

Bagi Anda yang merasa memiliki dana serba terbatas tapi ingin terjun ke dunia pasar modal, Anda harus menanyakan berapa setoran awal untuk membuka akun efek. Tahun 2015, Bursa Efek Indonesia mempermudah syarat setoran awal untuk nasabah dengan penyetoran awal minimal hanya Rp100.000, namun tidak semua kantor sekuritas. Anda harus melakukan cross-check.

3. Fee Transaksi

Pertimbangkan fee transaksi. Fee transaksi jangan sampai terlalu besar karena fee transaksi yang besar dapat mempengaruhi jumlah transaksi pembelian maupun penjualan Anda.  

4. Fasilitas Software

Fasilitas software kiranya harus memenuhi kebutuhan para nasabah. Data-data grafik secara real time, akses pialang online melalui software, menu untuk melihat pergerakan setiap sektor perusahaan, informasi laporan keuangan, informasi lokasi perusahaan. Jangan sampai Anda mendapatkan fasilitas software dengan data yang tidak real time setiap saat, sehingga menyesatkan analisis teknikal Anda.  

5. Fasilitas Online Trading

Pertimbangkan kantor sekuritas yang memiliki fasilitas online trading. Hal ini sangat berguna bagi Anda uang ingin trading sendiri.

6. Ketersediaan Rekomendasi Saham Harian

Khusus untuk Anda yang masih belum bisa menganalisis sendiri, jika Anda membutuhkan rekomendasi dari broker, maka pertimbangkan kantor sekuritas yang menyediakan rekomendasi tersebut.  

7. Jumlah Investor (nasabah)

Perlu kiranya diperhatikan berapa jumlah nasabah yang dimiliki kantor sekuritas. Nasabah yang terlalu banyak juga menunjukkan ketidak-efektifan. Mengelola nasabah telralu banyak dapat membuang terlalu banyak waktu dan menurunkan kualitas pelayanan. Pada akhirnya, berpengaruh pada profesionalisme. Sebaliknya, nasabah terlalu sedikit juga menunjukkan kantor sekuritas tersebut tidak profitable. Anda bisa membandingkan 2 / lebih kantor sekuritas untuk mengetahuinya.

8. Modal Perusahaan

Semakin besar modal, perusahaan menunjukkan bahwa semakin banyak transaksi jual-beli saham yang terjadi. Hal ini juga menunjukkan bahwa perusahaan sekuritas tersebut memang dipercaya nasabah.

9. "Punya Nama"

"Punya nama" artinya: kantor sekuritas tersebut sering dipercaya sebagai penjamin emisi efek, atau kantor sekuritas tersebut sering dijadikan rujukan untuk analisis di media masa online ekonomi, seperti Kontan, Bisnis Indonesia.

10. Pertimbangan Tambahan: Punya Prestasi

Anda bisa mempertimbangkan perusahaan yang punya prestasi, seperti peringkat terbaik kantor sekuritas yang mampu menyampaikan ketetapan waktu laporan keuangan, ketepatan disclosure, perusahaan yang punya laba, modal, aset terbanyak. Prestasi kantor sekuritas juga menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memang profitable, sehingga profesional dalam menjalankan bisnisnya. Anda bisa mencari peringkat2 untuk perusahaan terbaik di Majalah Investor, atau investar.idx.co.id atau bisa googling dengan mengetikkan kata kunci tertentu. 

Setiap kantor sekuritas pasti membuka cabang di berbagai kota. Kalau Anda ingin mengetahui alamat kantor sekuritas yang ingin Anda tuju di domisili, jangan tanya saya, karena saya bukan mesin pencari alamat. Silahkan googling, Anda pasti menemukan. Setiap kantor sekuritas juga memiliki website resmi, di mana di web mereka pasti akan dituliskan alamat cabang dan pusat dari kantor sekuritas mereka.

Friday, April 01, 2016

Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)


Pada tahapan pertama yaitu pada saat tahapan mendaki, pelaku pasar akan "dihantui" rasa ragu2 untuk masuk pasar. Pada tahapan ini, akan ada banyak pelaku pasar yang ragu2 apakah saya harus akumulasi atau tidak. Jika saya akumulasi takut sahamnya malah turun, tapi kalau tidak segera pasang posisi buy, sahamnya nanti naik. Perasaan takut dan ragu2 inilah yang pada akhirnya sangat mempengaruhi psikologi dan rasionalitas seorang investor.

Pada tahapan bullish, pada saat harga saham naik kencang, dan harga saham terus saja naik pada tahapan terentu para pelaku pasar akan dihadapkan pada situasi euforia, rasa senang, tidak bisa tidur, gembira yang pada akhrinya akan membawa Anda pada awal mula perasaan tamak/ serakah. Untuk memudahkannya saya berikan ilustrasi.

Si Badu membeli saham TLKM di harga low Rp3.200. Badu menetapkan take profit pada harga Rp3.350. Dan benar saja,  saham TLKM naik terus sampai Rp3.350, dan seharusnya Badu sudah take profit. Tetapi karena melihat grafik TLKM yang sedang dalam tren bullish, Badu mulai menimbang-nimbang dalam hati: "Wah, TLKM naik terus nih, tunggu aja barangkali bisa naik lebih kencang, nanti biar cuan nya bisa lebih gede. Hihihi".

Nah, disinilah sifat greed mulai muncul: perasaan serakah yang diawali dengan rasa terus berharap. Iman kedisiplinan Anda mulai diuji: Apakah Anda bisa mematuhi trading plan Anda sendiri atau tidak? Pada saat pasar dalam kondisi bullish, itulah yang terjadi secara umum, sifat serakah. Sudah untung, sudah waktunya take profit tapi nggak mau take profit malah ngarep terus harga saham naik lebih tinggi.

Pada tahapan jenuh, sifat greed pelaku pasar semakin memuncak. Harga saham semakin naik dalam titik harga resisten tertentu, namun hampir dipastikan harga saham tidak naik sekncang ketika masih berada pada tahap bullish. Pada tahapan ini, pelaku pasar sudah mulai mengurangi aksi beli karena harga saham dinilai sudah terlalu tinggi, namun masih banyak diantara para pelaku pasar yang memegang sahamnya, masih ngarep harga saham naik lagi. Pada tahapan ini pula rasa gelisah semakin besar: Antara hold atau segera profit taking. Walaupun trading plan Anda mengatakan inilah saatnya profit taking. 

Harga saham yang sudah naik terlalu tinggi pada akhirnya pasti akan koreksi. Di pasar modal tidak ada yang namanya saham naik terus nggak pernah turun. Pada tahapan terakhir, yaitu tahapan koreksi, harga saham yang semula harganya tinggi mulai mengalami penurunan. Disinilah rasa GREED berubah menjadi FEAR.

Kita pakai ilustrasi Si Badu tadi. Si Badu membeli saham TLKM pada harga Rp3.200, sudah waktunya take profit, tapi Badu tidak bisa disiplin dengan trading plan-nya sendiri, yang seharusnya Badu menetapkan take profit di harga Rp3.250 malah terus ngarep harga naik. Ternyata harga saham TLKM yang awalnya naik sampai, katakanlah Rp3.405, turun jadi Rp3.340. Badu mulai takut dan mikir:

"Wah, kok harganya malah turun. Tunggu dulu ah. Barangkali nanti harganya naik lagi, profitnya bisa balik lagi." Disini sudah terlihat Badu mulai takut (gelisah).

Ternyata, TLKM malah turun lagi Rp3.150. Artinya, Badu malah mengalami kerugian dari yang semula seharusnya Badu sudah untung. Badu mulai cemas dan menyesal:

"Kenapa tadi TLKM nggak aku jual. Sekarang malah nyangkut sahamnya." Badu terus kepikiran dengan sahamnya yang nyangkut dan Badu takut sahamnya turun lagi. Akhirnya karena dibayangi perasaan takut, Badu melakukan cut loss.

Perasaan fear akan selalu membayangi pelaku pasar terutama di saat indeks mengalami koreksi. Bahkan tidak memungkinkan jika suatu saham mengalami penurunan yang dalam, dapat memicu aksi panic selling. Aksi panic selling juga merupakan perasaan fear.

Dan perlu Anda ketahui, Fear and Greed adalah dua kondisi dimana keduanya akan selalu, dan pasti 100% terulang. Jadi, psikologi market, baik forex maupun saham dapat dijelaskan melalui dua kondisi tersebut: FEAR AND GREED, yang juga dapat dipelajari atau dipermudah penjelasannya melalui 4 tahapan tersebut. 

Jadi kalau boleh saya rangkum kedua kondisi tersebut, ketika kondisi pasar saham dilanda perasaan FEAR, maka hal2 inilah yang terjadi:

- Tidak percaya diri
- Panik
- Khawatir
- Cemas
- Gelisah
- Mental jatuh

Sebaliknya, ketika kondisi pasar saham dilanda perasaan GREED dalam kondisi pasar bullish, maka hal2 inilah yang terjadi:

- Euforia

- Rasa senang berlebihan
- Rasa berharap
- Percaya diri berlebihan
- Keinginan untuk terus membeli saham
- Gelisah

Psikologi pasar saham akan dijelaskan melalui hal2 tersebut, dalam kondisi pasar sedang bullish dan kondisi pasar sedang bearish. Lalu bagaimana dengan psikologi bandar? Silahkan baca pos selanjutnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part II) --> Psikologi Bandar.

Membeli Saham Tanpa Analisis Teknikal

Peranan analisis teknikal memang sangat diperlukan bagi Anda seorang trader. Akan tetapi, banyak yang mencoba "melawan" analisis teknikal. Banyak pertanyaan dari rekan2 trader, rekan2 pemain saham pemula yang bertanya: 

"Apakah bisa melakukan trading (jual-beli) saham tanpa menggunakan analisis teknikal sama sekali?"

Sebenarnya, saya pribadi sudah mencoba trading tanpa menggunakan analisis teknikal. Kalau saya, caranya dengan stand by di layar software saham saya mulai pasar buka jam 09.00 tepat. Kemudian saya lihat Top Stock (Top Gainers by % Change), lalu saya lihat saham-saham lapis tiga yang harganya dibawah Rp700 yang pada pukul 09.00 sudah mengalami kenaikan cukup tinggi, sampai 2% lebih, saham itu langsung saya beli, karena biasanya sampai satu jam kemudian, harga sahamnya naik sampai 7-8% (tergantung kenaikannya, 10% juga bisa). 

Cara seperti itu terbukti bisa memberikan keuntungan bagi saya beberapa kali. Sebagai contoh, saya pernah untung dari saham DSFI sampai 3 kali dari strategi itu.  Dengan cara seperti itu, saya jadi scalping trader. Dalam 45 menit saja, saham yang saya beli tadi langsung saya jual dan cuan.

Cara lainnya, pernah membeli saham hanya dengan melihat antriannya saja. Pokok kalau permintaannya banyak dan pelan2 harganya naik, saya langsung beli sahamnya. Kemudian, sesaat ketika  antrian beli mulai menipis saya siap2 pasang sell.

Tetapi dengan cara2 seperti ini, Anda harus di depan layar terus dan memantau harga saham. Cara yang lebih canggih, kalau Anda punya teman bandar, Anda bisa memanfaatkan informasi dari bandar, saham apa yang akan digoreng. Kemudian, Anda beli saja saham tersebut lalu jual kalau bandar sudah memberi informasi pada Anda bahwa saham akan dijual. 

Nah, akan tetapi poin penting yang ingin saya sampaikan pada Anda disini adalah: saya sudah tidak mau memakai cara-cara seperti ini lagi. Alasannya:

Pertama. Saya punya prinsip bahwa membeli saham = membeli perusahaan. Jadi, saya tidak mau membeli tanpa dasar analisis dan cuma kira2 saja.

Kedua, Gambling. Cara-cara seperti itu terlalu gambling. Mungkin masih banyak cara lagi selain cara saya mendapatkan capital gain tanpa analisis teknikal. Tapi, intinya tetap sama gambling. Pada poin pertama sudah saya paparkan bahwa membeli saham = membeli perusahaan. Walaupun hanya untuk jangka pendek, tapi saya tidak memegang prinsip saham adalah gambling. Semua tergantung cara Anda memperlakukan bisnis saham. 

Ketiga. Latihan jantung. Melihat harga saham yang naik tapi kemudian turun - lalu naik lagi - turun lagi membuat jantung saya berdebar-debar. Dari sisi psikologis sebagai trader, membuat saya pribadi menjadi tidak tenang. Kembali lagi ke poin 2, akibat sifat gambling, perasaan Anda mungkin jadi tidak tenang karena segala sesuatunya hanya berdasarkan kira2 saja. Kalau gambling, berarti selain Anda melihat saham ini akan naik cepat beberapa menit, saham juga ada potensi turun cepat dalam beberapa menit saja... 

Keempat.  Memprediksi menggunakan analisis teknikal saja bisa meleset, bagaimana kalau tidak pakai analisis? Sekalipun menggunakan analisis teknikal, prediksi Anda masih tetap bisa meleset. Kenapa begitu? 

Karena di pasar modal Anda tidak akan pernah bisa memastikan segala sesuatu. Anda hanya bisa memprediksi... Saya ulangi sekali lagi, "Di pasar modal Anda TIDAK PERNAH BISA MEMASTIKAN kenaikan-penurunan harga saham, Anda hanya bisa MEMPREDIKSI. Kalau Anda tidak menggunakan analisis untuk memprediksi pergerakan harga saham, apalagi kalau tidak pakai analisis Anda mau pakai apa? Sudah pasti Anda hanya akan ber- gambling ria. Menunggu ketidakpastian dan membuat Anda tidak tenang. Padahal, prinsip dari saham, adalah bisnis bukan gambling. Itulah kenapa alat analisis selalu diperlukan.

So, kesimpulannya, kalau Anda ingin membeli saham, Anda tidak saya sarankan bermain tanpa dasar analisis. Baca juga postingan: Menggunakan Analisis Teknikal Secara Bijak. Satu hal yang pasti, kalau Anda trading tanpa dasar analisis, itu sama saja dengan gambling. Semua pembelajaran membutuhkan proses dari nol.