Showing posts with label Psikologi Trading. Show all posts
Showing posts with label Psikologi Trading. Show all posts

Saturday, October 15, 2016

Manajemen Withdraw dalam Trading

Judul diatas mungkin kurang menarik buat Anda. Kalau trading kan biasanya membahas cara dapat profit. Lha ini kok malah membahas tentang withdraw (WD). Coba Anda baca dulu sampai habis, Anda pasti akan paham makna pos ini. 

Justru hal2 yang "kurang menarik" inilah yang membuat trader menyepelehkannya. Faktanya, banyak sekali trader yang sudah bisa dapat profit, tetapi profit tersebut hilang dalam sekejap mata, hanya karena mereka tidak mempunyai manajemen WD yang baik.   

[Catatan: WD di pasar saham ada 2 makna. Pertama, membatalkan orderan. Kedua, tarik dana (profit) dari rekening investor ke rekening ATM]. WD yang dimaksud di pos ini adalah tarik dana ke rekening ATM. 

Yang sering saya temui, trader sudah dapat profit berlipat justru tidak bisa menikmati hasil keuntungannya tersebut, karena tidak memiliki manajemen WD yang baik. Trader yang sudah mendapatkan keuntungan besar seringkali memiliki kecenderungan menggunakan profitnya untuk ditradingkan kembali. Harapannya, dengan tambahan profit yang dimiliki maka modal semakin besar, sehingga keuntungan yang didapat juga semakin besar. 

Ternyata anggapan ini salah. Trader yang mengharapkan hal demikian inilah menunjukkan sifat RAKUS dari seorang trader. Sifat rakus dan tidak bisa mengendalikan diri inilah yang akhirnya justru menjebak trader pada kerugian. Profit yang sudah susah2 didapatkan hilang sekejap mata ditelan kerugian. 

Saya pribadi pernah mengalami bagaimana profit yang sudah saya dapatkan selama 6 bulan, hanya dihapus dengan kerugian 2 transaksi saham saja. Tepatnya pada saat 6 bulan pertama saya trading di pasar modal, saya bisa mendapatkan return 30% lebih. Karena tidak ingin WD dan ingin agar profit tersebut saya tradingkan lagi (saat itu saya memang ingin dapat keuntungan yang terus lebih besar), akhirnya saya kelewat batas membeli saham, dan portofolio saya minus. 

Cut loss yang saya lakukan menghapus semua keuntungan yang sudah saya dapatkan dalam 6 bulan. Untungnya, yang hilang hanya profit saja, bukan modal trading. Tapi yaaa... Tetap aja terasa nyesek sekali. Coba Anda bayangkan, keuntungan 6 bulan hanya dihapus dengan kerugian 2 transaksi. 

Itulah salah satu pengalaman saya. Ternyata memiliki manajemen WD yang baik itu sangat sangat diperlukan. 

"Lalu, bagaimana solusinya Bung Heze?" Tanya Anda

Ada 3 cara untuk melakukan manajemen WD yang baik yang saya sarankan pada Anda. 

Pertama. Lakukan WD setiap sebulan sekali. Jadi, berapapun profit yang Anda dapatkan dalam sebulan, Anda harus WD. Saya menyarankan WD JANGAN LEBIH DARI SATU BULAN. Misalnya, dalam sebulan Anda profit Rp10 juta. Anda menunggu bulan depan lagi untuk kalkulasi profit selama 2 bulan baru Anda WD. Saya tidak menyarankan, karena Anda bisa tergoda untuk menggunakan hasil profit tersebut. WD-lah secepat mungkin. 

Kedua. Lakukan WD  setiap mendapatkan jumlah profit tertentu, tidak harus menunggu satu bulan. Misalnya, Anda memutuskan akan WD kalau profit sudah 6 juta. Dalam  7 hari trading, Anda mendapatkan profit Rp6 juta. Maka, Anda harus lakukan WD sebesar jumlah yang Anda tetapkan. Aturannya tetap sama, WD tidak boleh dilakukan diatas satu bulan (maksimal satu bulan). Cara ini yang biasa saya lakukan.

Ketiga. WD sebesar sekian persen dari keuntungan Anda. Bagi Anda yang ingin suntik modal dari profit Anda, sah2 saja. Tetapi, Anda harus memanajemen WD Anda. Caranya, dengan menyisihkan profit Anda untuk WD (dinikmati) dan sisanya diinvestasikan kembali. Misalnya, 30% dari profit Anda, Anda WD ke rekening, sisanya 70% diinvestasikan kembali. Cara ini membuat Anda lebih teratur dalam memanajemen profit yang sudah Anda dapatkan. 

Itulah pentingnya manajemen WD.

Perlu Anda ingat: Pasar modal menghukum orang-orang yang memiliki sifat SERAKAH dan RAKUS. Salah satu sifat ini ditunjukkan dengan tidak adanya manajemen WD yang baik (trader ingin terus menggunakan profitnya untuk ditradingkan bukan untuk dinikmati, dengan harapan akan menghasilkan profit yang lebih besar).

Friday, October 14, 2016

Waktu Terbaik Berhenti (Rest) Trading Saham

Trading saham sangat berkaitan erat dengan psikologis trader. Ketika Anda berbicara soal trading, Anda tidak hanya berbicara mengenai beli dan jual saham. Seorang trader yang dalam kondisi psikologis baik akan lebih mudah mendapatkan profit dibandingkan trader yang sedang dalam kondisi psikologis kurang baik, meskipun kondisi pasar dalam keadaan bullish. Apakah Anda juga pernah mengalami hal tersebut?

Jika kondisi Anda dalam kondisi psikologis yang kurang baik, maka Anda saya sarankan untuk berhenti (baca: istirahat / rest) dari trading.

Tapiii... Kondisi psikologis yang kurang baik itu yang seperti apa? 

Anda harusnya berhenti trading jika terjadi tiga kondisi berikut: Pertama, ketika Anda mengalami rugi besar (yang secara psikologis mengganggu Anda). Kedua, ketika Anda mendapatkan profit yang besar. Ketiga, mood sedang jelek

Kondisi pertama: Ketika Anda mengalami rugi besar.

Ketika Anda rugi, dengan catatan kerugian tersebut mempengaruhi kondisi psikologis Anda, maka Anda harus istirahat dari trading. Kerugian yang seperti apa yang mempengaruhi kondisi psikologis Anda? Hanya Anda yang tahu jawabnya.

Rasa2nya, kalau modal Anda 100 juta menjadi 50 juta, pasti akan berpengaruh ke kondisi psikologis Anda. Tapi saran saya, kalau Anda sudah rugi sebesar 10%, maka Anda harus istirahat dahulu. Jangan memaksakan trading. Karena ketika Anda rugi, maka pikiran Anda akan cenderung kurang tenang, sehingga keputusan trading Anda bisa2 menjadi tidak objektif dan hanya terpaku untuk membalas kerugian yang ada. 

Faktanya, banyak banget trader yang ketika rugi besar, malah trading terus. Akhirnya, bukannya kerugian yang berubah jadi keuntungan, tetapi kerugian yang ada bertambah jadi lebih besar.  

Kondisi kedua: ketika Anda mendapatkan profit besar. 

Kalau Anda baca lagi kondisi kedua, saya yakin Anda bakalan protes sama saya. 

Kondisi untung kok malah disuruh berhenti trading? 


Mengapa kok dalam kondisi profit besar Anda juga harus istirahat trading? 

Kondisi profit besar berpotensi membuat seseorang untuk menjadi SERAKAH (greedy). Kalau sudah serakah, trader biasanya akan kehilangan objektivitasnya dalam analisis. Trader cenderung ingin terus mengejar profit. Inilah alasan mengapa banyak trader yang sudah profit, tiba2 berbalik lagi portofolionya jadi rugi dan dipenuhi saham2 nyangkut.

Kalau saya mengumpamakan dengan perumpamaan hidup, maka dalam kehidupan ujian yang sebenarnya bukan hanya terjadi saat Anda sedang susah (rugi dalam trading). Tetapi ujian juga datang saat Anda sedang kaya dan berkelimpahan (profit dalam trading). Karena pada saat seseorang menjadi kaya, biasanya akan ada kecenderungan untuk foya2, sombong, konsumerisme, materialistis dan lain2. 

Demikian juga dengan ketika trader mendapat profit besar, akan ada kecenderungan untuk menjadi euforia, egois, nafsu, ingin terus mengejar profit yang lebih besar. Nah, untuk menekan keinginan2 negatif ini, maka trader harus istirahat dari trading. Istirahat ini ditujukan agar Anda psikologis Anda lebih stabil, dan euforia Anda berkurang. 

Kalau sudah profit, cobalah untuk melakukan aktivitas2 lainnya yang menyenangkan untuk Anda. Baca buku, nonton movie, travelling, pergi main bola....... Pokoknya lupakan dahulu lah soal trading.  

Kondisi ketiga: Anda tidak rugi, tetapi Anda sedang dalam masalah

Ketika Anda mengalami masalah pribadi, sedang marah atau bahkan gembira berlebihan. atau Anda sedang bad mood Anda harus istirahat dahulu, meskipun mungkin Anda tidak sedang dalam kondisi rugi (loss). Kondisi2 inilah yang dapat mempengaruhi objektivitas Anda dalam mengambil keputusan trading. 

Pertanyaan selanjutnya: Berhenti trading ini sampai berapa lama? 1 hari? 4 hari? 1 minggu? 1 bulan? 3 bulan?

Hanya Anda yang tahu jawabnya. Intinya, kalau Anda sedang mengalami ketiga kondisi diatas Anda harus istirahat dari trading, untuk memulihkan kondisi psikologis Anda.

CARA LAIN: Waktu terbaik berhenti trading terkadang tidak harus dilakukan dengan istirahat. Maksudnya? Maksud saya, "berhenti" trading bisa dilakukan dengan cara mengurangi size (jumlah lot) trading secara signifikan (dilakukan ketika Anda sedang dalam posisi rugi). Misalnya, Anda biasanya trading dengan junlah lot besar. Ketika Anda rugi, Anda tetap trading tetapi dengan jumlah lot yang sangat kecil. 5 lot, 7 lot, 10 lot. 12 lot.

Tujuannya adalah untuk mengembalikan mental trading dan kepercayaan diri Anda. Hal inilah yang saya lakukan ketika pasar saham crash tahun 2015, yaitu mengurangi jumlah lot trading secara signifikan. Perlahan tapi pasti, saya bisa membalikkan kerugian besar menjadi BEP. 

So, kesuksesan Anda dalam trading sangat berkaitan dengan psikologis itu sendiri. Kehebatan analisis teknikal Anda, tidak sebanding dibandingkan dengan kemampuan mengelola psikologis. Sehebat apapun analisis Anda, tapi Anda tidak bisa mengatur psikologis, maka karir trading Anda tidak akan bertahan lama. 

Tuesday, September 06, 2016

Makna Dari: "Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful" - Part II


Takut berarti Anda jangan pernah terbawa euforia. Malahan, Anda dianjurkan untuk tidak beli saham terlalu banyak (jangan diversifikasi terlalu banyak). Anda harus terus waspada dengan market. Segera take profit kalau sudah untung. Jangan ngarep terus, mentang2 pasar lagi bullish. 

Lebih baik Anda hanya pegang 2 saham, dengan target take profit yang nggak terlalu lama. Yang lain mau beli 10 saham, biarkan saja. Namanya euforia, cepat atau lambat IHSG akan turun dengan cepat, dan disertai koreksi besar. Nggak percaya? Lihat grafik IHSG dibawah


Tanda IHSG turun sudah terlihat sejak pertengahan Agustus 2016. Dan akhirnya turun pada minggu keempat Agustus (Perhatikan lingkaran). Disinilah pasar saham benar2 koreksi, meskipun kita semua tidak tahu koreksi nya hanya sesaat atau akan koreksi lebih lama lagi. Saham2 mulai banyak koreksi. Pelaku pasar mulai khawatir realisasi tax amnesty yang selama ini digembar-gemborkan, ternyata masih jauh dari kenyataan. Di satu sisi, IHSG memang sudah dianggap ketinggian, sehingga terjadilah aksi profit taking. 

Dana tax amnesty yang diperkirakan akan masuk sejumlah Rp165 triliun sampai akhir Agustus 2016, hanya tercapai 2,6 triliun. Sungguh angka yang sangat jauh dari realita. Pelaku pasar mulai was-was kalau2 dana tax amnesty tidak mencapai target. Itulah mengapa euforia tax amnesty mulai pudar, dan otomatis menjatuhkan IHSG kita. 

Bagaimana dengan suku bunga AS? Di tengah-tengah IHSG turun, dan spekulasi AS menaikkan suku bunga, KATANYA banyak orang hal itulah yang membuat IHSG terkoreksi banyak. Benar sih benar, tapi saya rasa bukan itu faktor utamanya. Yang membuat IHSG selama ini mulai terkoreksi banyak, adalah realiasi tax amnesty yang jauh dari harapan dan IHSG memang saat ini sudah naik terlalu tinggi. Logikanya, nggak mungkin kan orang2 beli barang terus tanpa profit taking? 

Inilah akibat dari euforia berlebihan.... IHSG cepat atau lama akan terjun bebas. Jadi bukan karena suku bunga AS, data Amerika bla bla bla.... Tetapi ya karena semua kembali lagi ke faktor internal kita (yang selama ini banyak dibicarakan ternyata nggak sesuai target).  

Nah inilah mengapa Anda harus TAKUT (FEARFUL) pada saat IHSG sedang naik kencang (euforia).

Kalau Anda masih ngotot beli saham terus karena dipenuhi rasa tamak saat semua orang sedang tamak, padahal sebentar IHSG memasuki masa koreksi, kemungkinan besar saham Anda akan nyantol. 

"Jadi strateginya harusnya bagaimana Bung Heze?"

Seperti pemaparan saya tadi: Anda boleh2 saja beli saham, tetapi Anda harus sangat dan sangat waspada dengan kondisi market. Jangan beli banyak saham, jangan menginapkan saham terlalu lama, segera keluar kalau Anda sudah untung. Anda harus secepat mungkin mengosongkan portofolio Anda kalau sudah untung. Kalau Anda sudah profit, nggak usah beli saham lagi.. Tunggu aja tanggal mainnya, IHSG turun baru Anda beli.

Sebaliknya, pada saat2 IHSG sedang memasuki masa2 koreksi inilah, Anda harus mulai pasang planning untuk membeli saham2 di harga bawah / support-nya (buy on weakness). Saat IHSG koreksi, semua orang panic, Anda harus mulai tamak. 

Intinya, kalau Anda menerapkan quote dari Warren Buffet, maka beberapa hal yang harus Anda perhatikan: 

Pertama. Saat IHSG bullish karena euforia, Anda nggak usah menanggapinya terlalu berlebihan. Nggak usah pegang saham terlalu banyak, tunggu aja market koreksi, baru Anda hajar beli saham yang banyak.

Kedua. Segera keluar dari pasar kalau sudah ada tanda2 IHSG mau turun. Baca juga: Pertanda IHSG akan Jatuh (Belum terbit... coming soon). Jangan pernah takut cut loss. Jangan tamak karena Anda berharap saham Anda naik terus, karena IHSG masih uptrend, padahal IHSG sudah ada tanda2 akan koreksi. 

Ketiga. Peranan cash itu sangat penting. Kalau Anda punya cash banyak saat IHSG koreksi, disitulah Anda bisa mulai TAMAK dengan mengejar saham2 di harga bawah.

Makna Dari: "Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful" - Part I

Ingat kata2 bijak Warren Buffet, investor saham yang sangat kaya berkat hasil investasi di Bursa saham?
"Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful"
Kata2 bijak diatas artinya kira2: Jadilah takut ketika semua orang sedang tamak, dan jadilah tamak ketika semua orang sedang takutMaksudnya begini: Ketika IHSG sedang naik kencang2-nya, saat semua orang larut dalam euforia pasar, saat semua orang terus saja ingin memborong saham banyak-banyak, saat semua orang pamer profit sana-sini, Anda HARUSNYA TAKUT.

Sebaliknya, saat IHSG sedang jatuh, semua orang sedang panic selling, banyak prediksi sana-sini yang bilang IHSG masih turun lagi, asing net sell terus, sebagian besar saham sudah pada turun, banyak orang yang takut jual karena sahamnya nyantol, disitulah Anda HARUSNYA TAMAK (Gunakan dana Anda banyak2 untuk beli saham).

"Lho? Masa sih iya?" Tanya Anda. Saya jelaskan perlahan.

Indonesia sering kali (sangat sering) dihadapkan pada situasi market yang bullish kencang. Sayangnya, kondisi market yang lagi bullish2nya ini tidak ditunjang dengan kondisi fundamental. Hanya sekedar euforia. Kalau sudah euforia, artinya? Artinya: nggak lama kemudian harga saham akan turun. Tepat sekali.

Contoh baru2 ini: Sejak akhir Juni 2016 - pertengahan Agustus pasar saham terus saja rally kencang. Apalagi penyebab utamanya kalau bukan tax amnesty effect dan Sri Mulyani effect. Ekpektasi yang sangat tinggi seakan tax amnesty benar2 sudah memenuhi target. Ekspektasi berlebihan seakan ekonomi  Indonesia sudah pulih. 

Mengenai tax amnesty, kita pernah membahasnya disini: Tax Amnesty, Awal Bangkitnya Pasar Modal dan Perekonomian Indonesia? Part I. Tax Amnesty, Awal Bangkitnya Pasar Modal dan Perekonomian Indonesia? Part II.

Tentunya, momen ini dimanfaatkan pelaku pasar untuk memborong saham dalam jumlah besar. Memborong saham dalam jumlah besar means mayoritas harga saham naik. Saya selama ini sering mengamati saham2 properti. Contohnya ASRI yang pada April lalu masih di harga 400-an, tiba2 naik sampai 550! PWON yang pada bulan2 April-Mei harganya masih mondar-mandir aja di harga 500-an, sekarang sudah mencapai 690 di harga resisten puncak. LPKR yang harganya pada bulan Juni masih sekitar 980, tiba2 melonjak jadi 1.190. Dan masih banyak lagi saham2 yang rebound-nya kenceng amat. Fantastis!!

Banyak juga kok trader2 yang bisa profit besar dengan memanfaatkan momen euforia ini. Tapi, kalau menurut ajaran Opa Warren, saat2 seperti itu Anda harusnya TAKUT (FEARFUL). 

Lho berarti saya nggak boleh beli saham donk Bung Heze? 

Bukan begitu. 

Ingin tahu penjelasannya lebih lanjut? Silahkan baca ke Part II: Makna Dari: "Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful" - Part II.

Thursday, June 30, 2016

Virtual Trading Begitu Mudah Profit, Begitu Trading Beneran.......

Pernahkah Anda melakukan virtual trading (demo trading), sebelum Anda benar2 melakukan trading beneran? Sebagian besar pemula di kalangan dunia persahaman sudah pernah mencicipi virtual trading.

[Catatan: Virtual trading adalah trading yang dilakukan tidak menggunakan uang sungguhan alias menggunakan dana virtual, dan karena tidak pakai dana beneran, saham yang dibeli juga hanyalah catatan diatas kertas/ demo, namun tetap menggunakan situasi market secara riil.]

Para trader seringkali mendapatkan "cuan" yang besar dalam waktu yang cepat dari aktivitas virtual trading. Bahkan para pemula yang baru saja belajar saham, waktu disuruh virtual trading ternyata bisa dapat "cuan" banyak. Trader yang bisa dapat "cuan" besar dari aktivitas virtual trading, seringkali merasa sangat percaya diri ketika trading di pasar saham riil. Tidak jarang para newbie yang akhirnya merasa dirinya seolah-olah sudah pintar dan hebat mengeksekusi pasar. 

Tapi begitu trading pakai modal beneran... Bukannya untung malah buntung... Bukannya profit gede malah profit pas-pasan. Nah, kenapa ya kok bisa begitu?

Situasi dan kondisi virtual trading dengan trading beneran sangatlah berbeda. Terutama dalam hal PSIKOLOGIS. Virtual trading memberikan Anda rasa free. Mengapa demikian? Karena Anda trading pakai uang2-an. Kalau Anda untung, meskipun untung puluhan juta, uangnya ya nggak bisa Anda gunakan untuk apa2. Sebaliknya, kalau Anda rugi toh juga nggak ada efeknya, kan nggak pakai uang beneran?

Sedangkan kalau Anda sudah trading sungguhan, Anda mempertaruhkan dana Anda di saham. Dana Anda ibarat nyawa. Selama masih ada nyawa, Anda tetap bisa hidup. Selama masih ada dana, Anda tetap bisa trading. Nah, kalau udah nggak ada nyawa (modal) gimana? Kan nggak bisa trading lagi? Karena pakai modal beneran, pasti akan ada rasa fear and greed. Silahkan Baca postingan: Psikologi Pasar Saham: Empat Tahapan Penting. Baca juga: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I) (Baca sampai Part III).

Kalau IHSG naik, saham Anda naik akan ada kecenderungan untuk jadi serakah (greed). Kalau IHSG turun, saham Anda turun, akan ada kecenderungan untuk jadi takut dan panik (fear). Inilah yang membedakan trading pakai uang dengan trading pakai "uang". Kalau pakai "uang", Anda mau untung atau rugi segeda apapun nggak akan ada pengaruhnya. Inilah mengapa kalau trading di pasar beneran akan sangat berpengaruh pada psikologis Anda. 

Di pasar virtual, Anda bisa meraup untung besar. Tapi, jangan harap Anda bisa mendapatkan hal yang sama pada saat Anda trading beneran. Jadi, ingatlah: TRADING VIRTUAL SITUASINYA JAUH BERBEDA DENGAN TRADING BENERAN.  

"Nah terus, berarti latihan pakai virtual trading itu nggak penting dong Bung Heze?" Tanya Anda.  

Anda jangan terlalu cepat menyimpulkan demikian. Trading pakai akun virtual itu SANGAT PERLU, terutama untuk pemula yang baru memutuskan akan trading di pasar saham. Atau sangat berguna untuk Anda yang sudah mengalami kerugian besar, kemudian Anda mau bangkit lagi, alangkah baiknya kalau Anda melakukan recovery dengan berlatih dahulu pakai akun virtual.

Jadi, kegunaan Anda melakukan virtual trading adalah untuk BERLATIH. Berlatih untuk apa? Untuk membaca kondisi pasar, untuk membaca situasi market, untuk memahami pergerakan harga saham dan teknikalnya, untuk membiasakan diri Anda melihat pasar. Ibarat Anda mau lomba menyanyi. Bagaimana mungkin Anda bisa menang lomba menyanyi dengan ditonton oleh ratusan orang, kalau Anda tidak berlatih dahulu? Berlatih menyanyi sendiri, berlatih saat nggak ada siapa2. Itulah ibarat perlunya virtual trading untuk Anda.

"Jadi, Bung Heze apa sebenarnya inti dari pos ini?" Timpal Anda.   

Ada dua hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda, dan poin2 ini sekaligus meluruskan persepsi banyak para pemula yang selama ini salah besar. 

Pertama. Virtual trading bukanlah sebagai ukuran seberapa besar Anda bisa meraup profit, dan Anda umpamakan profit tersebut akan terjadi di pasar riil saat Anda mempertaruhkan dana Anda. Saya ulangi sekali lagi: Virtual trading bukanlah sebagai ukuran seberapa besar Anda bisa meraup profit, dan Anda umpamakan profit tersebut akan terjadi di pasar riil saat Anda mempertaruhkan dana Anda.

Jadi, profit yang Anda dapatkan di virtual trading nggak ada hubungannya sama sekali dengan pasar riil saat Anda sudah menyuntikkan modal. Pada virtual trading, Anda trading pakai "uang". Sedangkan pada pasar sungguhan, Anda trading pakai uang. Kondisi psikologi akan sangat berbeda. 

Lalu, apa tujuan dari virtual trading? Kembali lagi Anda baca beberapa paragraf sebelumnya, bahwa virtual trading bertujuan untuk membaca kondisi pasar, untuk membaca situasi market, untuk memahami pergerakan harga saham dan teknikalnya, untuk membiasakan diri Anda melihat pasar

Kedua. Kalaupun Anda bisa "profit" gede saat virtual trading, Anda jangan sok pintar dan jangan sok hebat. Apalagi sampai pamer2 kalau Anda sudah merasa bisa trading. Mindset demikian dapat menghancurkan Anda ketika Anda trading di pasar sungguhan, pakai dana sungguhan, beli saham sungguhan.  Karena ketika Anda sudah merasa sok2-an dan ternyata apa yang terjadi sama sekali tidak sesuai, dijamin Anda bakalan luar biasa stress.. 

Friday, June 24, 2016

Arah Harga Saham itu Mudah Ditebak!

Kalau Anda baca judul pos diatas, saya yakin akan ada tiga multitafsir dari para pembaca web Saham Gain. Pertama, Anda setuju dengan apa yang saya tulis. Anda berpikir: "Iya ya, memang mudah menebak harga saham itu mau naik atau turun. Itulah kenapa saya bisa profit konsisten.Kedua, Anda berpikir kalau saya cuma membual. Anda berpikir: "Ah, masa sih yang nulis ini memang pinter nebak arah harga saham?" Ketiga, Bagi Anda yang masih berada dalam posisi portofolio merah (loss), Anda marah dan merasa tersindir.

Well, pos ini tidak bermaksud untuk menyerang siapapun ataupun membujuk diri saya sendiri. Mengapa saya katakan harga saham itu mudah ditebak? 

Memprediksi harga saham pada dasarnya hanyalah menggunakan garis support dan resisten, serta menentukan arah tren harga saham tersebut. Saham yang berada dalam uptrend yang kuat, maka saham tersebut akan terus menembus resistennya. Artinya? Tentu saja, harganya akan terus breakout dan naik. Jadi, patokan harga support dan resisten yang lama sudah pasti nggak berlaku sama sekali, karena harga sudah terbang tinggi. 

Maka, ketika ada kesempatan untuk membeli di harga "high" dan menjualnya di harga lebih tinggi (buy high sell higher), kesempatan tersebut adalah kesempatan emas. Sebaliknya, kalau harga saham berada pada tren turun, dan harga terus turun, maka harga saham tersebut memiliki potensi besar untuk terus jebol melewati support2 pentingnya. 

Itu artinya, kalau Anda ingin cuan, belilah saham2 yang sedang uptrend, bukan saham2 yang sedang jatuh. Memang, saham2 yang sedang jatuh memiliki potensi untuk rebound dan Anda bisa membeli di harga rendah. Namun, Anda membutuhkan suatu sinyal yang pas, dan hati2 harga saham yang jatuh terus bisa mengindikasikan saham tersebut adalah saham yang tidak likuid. Saham2 uptrend akan naik terus, dan koreksi yang terjadi umumnya adalah koreksi sehat, sehingga jika banyak para trader berpikiran kapan harga saham ini akan jatuh soalnya sudah "kemahalan", sehingga saya bisa membeli di harga yang rendah, maka pemikiran itu sangatlah salah.  

Percaya atau tidak, sebenarnya, banyak dari pedagang saham seperti Anda dan saya yang tidak perlu kesulitan untuk menebak arah harga saham menggunakan analisis teknikal, bahkan dengan analisis yang cukup simpel nggak perlu rumit2. Dibalik semua itu, pernahkah harga saham yang Anda prediksi benar, tapi cuan yang Anda dapat malah nggak segede prediksi Anda yang benar itu?

Jika Anda pernah mengalami hal demikian, maka sesungguhnya yang jadi kendala utamanya sebenarnya bukanlah Anda yang tidak jago memprediksi, tetapi ada satu faktor paling penting lainnya, yaitu KEMAMPUAN EKSEKUSI. Kehebatan Anda dalam memprediksi hanyalah kemampuan Anda diatas kertas. Yang paling penting adalah bagaimana Anda bisa eksekusi saat pasar saham sedang jalan, saat harga saham terus bergerak liar. Disitulah ketangguhan Anda baru diuji. 

Misalkan: Hari ini Anda rencana membeli saham AKRA dengan modal Rp15 juta. Anda yakin kalau saham AKRA akan naik kencang dalam beberapa waktu kedepan. Tiba2 Anda membaca rekomendasi analis lain yang bilan kalau saham LPPF akan naik kencang. Kemudian ada analis lagi yang mengatakan bahwa saham SMGR akan naik. Anda yang pada awalnya berencana memasukkan modal 15 juta di saham AKRA, jadi kalang kabut saat lihat kondisi pasar saham yang sudah jalan, terlebih ketika Anda lihat saham LPPF dan SMGR mulai bergerak naik. Akhirnya, Anda pun beli saham AKRA, LPPF dan SMGR, dengan alokasi dana masing2 5 juta, karena Anda takut ketinggalan kereta. Itu artinya, Anda belum bisa meng-eksekusi pasar.  

Itulah kenapa kalau Anda perhatikan, banyak sekali orang yang bisa ngomong ini dan itu tentang saham, tentang prediksi harga saham, tetapi mereka sendiri belum bisa cuan dari trading saham. 

So, untuk menjadi seorang trader yang handal Anda dituntut untuk tidak hanya jago prediksi harga saham, tetapi Anda harus mampu melakukan eksekusi dengan benar dan sesuai trading plan Anda.   

Trading Saham, Bikin Kaya?

Setelah menjalani trading saham, setelah merasakan jadi seorang pemula, setelah gonta-ganti sistem dan trading plan. Setelah mengalami seluk beluk dunia trading, kadang untung, kadang rugi. Sekarang saya menyimpulkan, tipe trading yang paling cocok untuk saya adalah swing trading. Bagaimana dengan Anda? 

Sebagai seorang trader, apalagi kalau Anda pemula, Anda akan menghadapi suatu dilematis, yang saya namakan dengan DILEMA TRADING. Dilema trading yang saya maksud adalah:
Saham rebound secara indikator, tapi begitu sahamnya dibeli, harganya langsung turun. Saham yang ragu dibeli, harganya langsung melejit naik. Beli saham dalam jumlah lot sedikit, harganya naik banyak. Beli saham dengan jumlah lot yang besar, harganya langsung anjlok. Punya 3 pilihan saham rebound, salah satu dibeli harganya langsung turun, tapi saham 2 saham lainnya yang tidak dibeli itulah yang harganya naik kencang. Take profit saham, harganya malah lanjut naik. Cut loss saham, harganya balik naik.  Ragu beli saham ini itu karena saham sudah rally dan ketinggian, harganya tambah naik lebih kencang. Tapi kalau saham yang sudah naik kencang dibeli, harganya langsung koreksi. 
Kalau Anda seorang pedagang saham, coba Anda renungkan dilema trading diatas. Saya yakin Anda, saya tidak akan menyangkal kenyataan yang menyakitkan tersebut. Mengapa saya menulis quote tersebut? Karena itulah yang saya alami sendiri sebagai seorang trader. Dilema, pengalaman, dan kenyataan trading inilah yang paling amat sangat menjengkelkan. Dan percaya nggak percaya, banyak bahkan semua pedagang saham mengalami hal yang sama, namun mereka malu untuk mengakuinya. Para trader kebanyakan memamerkan profit yang mereka raih, namun apakah dibalik semua itu mereka juga menyembunyikan dilema tradingnya? 

Seminar2 saham, pelatihan2 tentang investasi saham, workshop apapun yang berhubungan dnegan dunia persahaman, setiap pembicara akan selalu men-sugesti Anda: "Investasi saham itu mudah untuk dapat profit". Mereka menctohkan tokoh A lah, tokoh B lah yang terjun ke dunia saham dan dapat profit berlipat-lipat. Seakan sungguh men-sugesti Anda kalau inilah saatnya Anda buka akun rekening saham dan investasi saham, karena dengan saham Anda bisa profit berlipat-lipat. 

Kemudian para pemula buanyakk, yang tanpa bekal apapun mengenai risiko saham bertanya: "Pak, apakah bisa profit 30% sebulan?" "Metoda trading Anda bisa menjamin profit berapa persen sebulan?" Sungguh salah dan ngawur semua pemikiran2 tersebut, pemikiran2 yang hanya bertujuan dapat profit instan tanpa ada usaha keras. Kata2 yang menjebak dan men-sugesti calon2 investor dan trader saham untuk segera masuk ke dunia saham... dan kemudian hasilnya?... Bukan untung, malah buntung.... 

Kalau sudah buntung, akhirnya menyalahkan pasar saham sebagai penyebab kerugian. Pasar saham judi lah, pasar saham suka bohong lah, orang lain yang salah lah. Tidak mau mengakui kesalahan sendiri.  

Mengapa jarang sekali ada para trader maupun "pakar" yang mau mengakui  dan menuliskan seperti quote saya diatas? Kebanyakan karena orang2 tidak mau mengakui bahwa itulah kenyataan yang sebenarnya. Sedikit ada yang berani mengungkap kesulitan2 dalam trading saham. Sedikit ada yang mengungkap bahwa pemula akan sering salah, pemula akan sering rugi. Sedikit ada yang berani mengungkap kenyataan dan dilema trading. 

Kalau Anda protes: "Mengapa Bung Heze berani menulis pos ini?" 

Karena saya ingin berbagi pada Anda tentang kenyataan trading. Kenyataan artinya bukan hanya memunculkan yang baik2 saja, terus yang buruk2 disembunyikan. Saya menulis pos ini bukan karena ada udang di balik batu. Namun, saya ingin meluruskan persepsi Anda tentang trading dan investasi saham. Sekaligus MENJADI BAHAN EVALUASI untuk diri saya sendiri. 

Sebagai pemula, performa trading saya sebenarnya tidaklah buruk. Selama 6 Bulan pertama saya dapat return yang lumayan gede untuk ukuran seorang pemula. [return akan saya berikan menyusul]. Namun, setelah itu hingga satu setengah tahun saya malah mengalami kerugian dan kerugian. Dan kalau kembali pada quote saya diatas tentang dilema trading, itulah yang saya alami. Akhirnya, cara terbaik adalah berhenti trading sementara dan melakukan evaluasi. 

Jujur saja, ketika dilanda kerugian saya sempat beberapa kali berpikir untuk tutup akun saja dan berhenti total dari trading saham. Tapi dengan segala perjuangan, saya berusaha untuk tidak menyerah saat itu juga. Terus maju, terus evaluasi. Hingga akhirnya saya menemukan pola yang pas, indikator yang tepat yang bisa MEMINIMALKAN KERUGIAN SEKECIL MUNGKIN dan bisa dapat PROFIT KONSISTEN. 

Dengan segala pembelajaran, akhirnya saya lebih siap menerima risiko. Saya tahu jalan menuju sukses tidaklah instan. Saya tahu yang instan2 ujungnya nggak baik. Bahwa untuk berhasil, Anda harus membangun pondasi terlebih dahulu. Membangun pondasi dengan cara belajar rugi dan menerima kenyataan yang nggak enak. Anda harus mau mengakui bahwa pasar adalah benar. Dan itu artinya? Artinya Anda harus ikut yang benar, Anda tidak bisa melawan arus pasar.

Bung Heze, berarti kapan waktu yang pas untuk trading / investasi saham?

Kalau di seminar2 saham, jawabannya adalah sedini mungkin. Tapi, menurut saya itu bukan jawaban. Waktu yang tepat untuk investasi saham adalah ketika Anda sudah siap menerima risiko, ketika Anda tidak berharap dapat profit instan, ketika Anda sudah siap untuk rugi sebagai pemula, ketika Anda siap menerima bahwa Anda memang rugi dan pasar memang benar. 

Jadi kalau Anda sudah siap terjun ke dunia saham, termasuk Anda yang sudah trading tapi mindset Anda masih salah, maka perhatikan tahapan2 supaya Anda bisa kaya dari saham:

Pertama. Siap2 rugi selama 1-1,5 tahun. Walaupun 6 bulan - 1 tahun pertama bisa profit. 

Kedua. Belajar sekuat tenaga menemukan sistem yang tepat, 6 bulan - 9 bulan. Tahap ini, Anda akan sering gonta-ganti sistem.

Ketiga. Mulai belajar meminimalkan rugi.

Keempat. Mulai belajar untuk profit konsisten (bukan profit besar), disertai kerugian yang sangat minimal.

Jadi, tahapan pertama untuk kaya dari saham bukan berpikir bagaimana bisa dapat profit 30% sebulan, tapi langkah awalnya adalah Anda harus sudah siap rugi (Baca: berproses) terlebih dahulu.

Siapkah Anda? 

Target Laba Trading, Hanya akan Membebani Anda

Kalau Anda baca judul diatas, mungkin judul ini berbeda jauh dengan web2 lain, yang kebanyakan malah memberikan saran pada Anda tentang berapa persen target laba yang seharusnya bisa Anda raih. Pada pos ini, saya malahan menyarankan pada Anda untuk melupakan target laba?

Lho, kok begitu? Masa trading nggak ada target labanya? Protes Anda.

Sekarang saya tanya kembali pada Anda: Seandainya hari ini Anda menargetkan bisa profit sebanyak 7%, apa yang akan Anda lakukan? Seandainya pula, Anda punya target setiap bulan bisa profit sebanyak 7 juta supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup. Apa yang akan Anda lakukan?

Anda tentu akan berusaha sekuat tenaga, dengan seluruh kemampuan trading Anda untuk mendapatkan itu semua bukan? Iya kalau tercapai, tapi kalau tidak? Dinamika pasar saham sangat cepat. Naik turunnya IHSG sangat cepat. Berita di pasar modal bisa saja langsung mnegguncang pasar saham tanpa Anda duga-duga, sehingga Anda pun sebenarnya susah untuk mematok angka sekian yang harus dicapai.

Tidak jarang saham yang Anda beli, Anda harapkan naik tapi malah turun. Tidak jarang Anda harus menentukan pilihan sulit antara cut loss atau hold dulu. Sehingga, kalau Anda menentukan target laba dengan angka sekian, yang terkesan dipaksakan, Anda akan stress sendiri kalau Anda ternyata tidak bisa mencapainya dalam jangka waktu yang sudah Anda tetapkan. 

Dan kalau Anda memaksakan target laba sekian, maka ketika Anda mulai sulit mencapainya Anda akan kehilangan rasionalitas. Misalnya, mulai nekat beli saham gorengan dalam jumlah lot yang banyak. Membeli saham2 apapun yang harganya naik. Keluar dari jalur trading plan yang sudah ditetapkan. 

Tapi, Bung Heze bukannya target laba adalah bagian dari ukuran keberhasilan trading?  

Benar kata Anda. Bahkan target laba itu sendiri sebenarnya adalah bagian dari ukuran keberhasilan trading plan yang Anda jalankan. Jika Anda bisa konsisten profit 5% sebulan, maka Anda harus berusaha mempertahankan profit tersebut. Kalau Anda bisa konsisten dapat profit, dan meminimalkan rugi, itu artinya trading plan Anda perlu dipertahankan dan itu artinya pula trading plan Anda memang berjalan dengan baik.  

Lha, berarti kesimpulannya menentukan target laba itu perlu atau tidak?

Anda tidak perlu terlalu kaku mematok berapa hasil yang harus Anda dapatkan untuk besok, untuk sebulan, untuk tiga bulan dan seterusnya. Kenapa? Karena saya paparkan tadi, bahwa hal tersebut hanya akan membuat Anda terbebani ketika Anda tidak bisa menetapkan target. Anda HANYA BOLEH mematok target laba, jika Anda SUDAH BISA PROFIT KONSISTEN, dan Anda bisa mempertahankan dengan dengan rasionalitas Anda. 

Saran saya: Jangan memikirkan berapa laba yang bisa Anda dapatkan dari saham. Teruslah belajar untuk dapat profit konsisten. Kalau Anda sudah bisa profit konsisten dengan menekan kerugian sekecil mungkin, hitunglah berapa persen profit yang bisa Anda dapat. Persentase profit itulah yang nantinya Anda jadikan acuan untuk mematok target laba Anda kedepan. 

Saturday, April 09, 2016

Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part III)

Baca juga pos sebelumnya (Part I): Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)


Di dua pos sebelumnya saya sudah menjelaskan banyak mengenai psikologi pasar yang berulang, dan psikologi bandar. Dan kini Anda mengetahui mengapa di pasar modal psikologi Fear and Greed ini akan selalu terulang, karena dalam ilmu psikologis quote terkenal: Orang akan cenderung merespon dengan emosi yang sama terhadap masalah yang sama. Hal ini juga berlaku untuk pasar modal, di mana cerminan psikologis (pasar merespon masalah yang sama dengan cara yang sama) pasar digambarkan dalam grafik harga saham (chart). Fear and greed akan selalu terulang dan pasar akan meresponnya dengan cara yang sama.

Dari dua pos Part I dan Part II yang sudah saya jelaskan, saya dan Anda pasti setuju bahwa psikologi pasar bisa menjerumuskan kita dalam kerugian yang besar. Bahkan dalam kondisi pasar bullish sekalipun seorang trader tanpa perencanaan yang baik bisa rugi besar. Tapi masalahnya,  walaupun siklus emosi tersebut selalu terulang, namun tidak mudah untuk mengalahkan rasa fear and greed. Lalu bagaimana cara mengatasinya? 

Jawabannya adalah: TRADING PLAN dan KONTROL EMOSI.

Membuat dan mematuhi trading plan Anda adalah hal yang paling penting. Tanpa trading plan, Anda akan kesulitan mengelola portofolio dan manajemen modal Anda. Tidak percaya? Silahkan baca pos selanjutnya: Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part I. Intinya, trading plan membuat trading Anda menjadi lebih teratur dan konsisten. Sangat penting untuk menetapkan kedisiplinan dalam trading plan Anda. Jangan melanggar aturan Anda sendiri. Profit konsisten bisa Anda dapatkan kalau Anda bisa mematuhi trading plan Anda sendiri.

Rekomendasi para analis. Terlalu percaya pada rekomendasi para analis membuat trading plan Anda semakin kacau, yang pada akhirnya percaya atau tidak akan membuat Anda terjebak dalam kondisi fear and greed. Silahkan baca pos: Seberapa Akurat Rekomendasi Para Analis?

Kedua, kontrol emosi. Kontrol emosi tidak lepas dari kemampuan Anda menjalankan trading plan Anda. Ketika Anda bisa menjalankan trading plan dan KONSISTEN melakukannya, Anda tidak akan terjebak dalam kondisi fear and greed. Fear and greed di pasar modal terjadi karena para trader tidak bisa mengendalikan emosi mereka. Emosi yang berlebihan terjadi karena mereka mudah tergoda oleh saham2 yang naik cepat tanpa didasari analisis yang baik. 

Dalam kondisi pasar yang sedang bullish, Anda tidak boleh mudah tergiur untuk lekas membeli saham2 yang harganya naik kencang. Apalagi, kalau saham2 tersebut sudah diluar trading plan Anda. 

Tapi Pak, harganya naik terus nih. Untuk apa momen tersebut kalau nggak dimanfaatin?

Jika Anda bertanya seperti itu maka akan saya jawab: saham2 di pasar modal dalam kondisi bullish, akan ada banyak sekali yang naik, apakah Anda harus membelinya semua? Kalau Anda membeli semua, portofolio Anda akan membengkak, dan profit Anda tidak akan maksimal. Anda harus mampu menyeleksi portofolio berdasarkan analisis Anda. 

Demikian juga dengan kondisi pasar yang sedang bearish. Katakanlah karena kondisi pasar yang sedang bearish, harga saham Anda turun. Apakah Anda harus ketakutan sampai keringat dingin?

Tentu saja tidak. Lalu bagaimana cara mengatasi kondisi pasar bearish? CUT LOSS. Kalau harga saham Anda sudah turun sesuai dengan batasan cut loss Anda, segera cut loss, jangan panik dan jangan terus berharap. Anda tidak perlu takut luar biasa ketika pasar bearish. Ketika Anda cut loss, Anda sudah mengamankan modal Anda. Keputusan selanjutnya adalah wait and see dan melihat peluang di harga rendah.

'Ah, Pak Heze ini. Ngomong gampang. Ngelaksanakannya susah.

Saya akui melaksanakan tidak semudah bicara. Saya sendiri terkadang ragu untuk mematuhi beberapa trading plan saya sendiri, tapi mau tidak mau saya harus melaksanakannya. Ketika saya mematuhi trading plan saya, kerugian saya terkontrol dan saya bisa profit konsisten. 

So, cara mengalahkan kondisi pasar fear and greed itu sendiri adalah dengan mematuhi trading plan Anda. Dengan menyiapkan take profit dan mematuhi batasan cut loss.  Sudahkah Anda membaca pos: Fakta-fakta Psikologi di Pasar Saham? Tentunya, Anda juga harus bisa membaca kondisi pasar. Artinya apa? Artinya, Anda harus bisa melakukan analisis pasar secara objektif dan independen, yang tidak terlalu bergantung pada analis. 

Keberhasilan Anda mematahkan siklus psikologi emosi yang berulang, tergantung dari diri Anda sendiri, bukan pada orang lain, bukan pada pasar. Pasar tidak akan peduli seberapa besar Anda untung, seberapa besar Anda rugi.

Tuesday, April 05, 2016

Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part II) --> Psikologi Bandar

Baca juga pos sebelumnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)

Nah, setelah memahami mengenai psikologi pasar yang utama, yaitu Fear And Greed, Anda mulai memahaminya. Namun barangkali Anda adalah orang yang kritis, kemudian bertanya: "Lalu bagaimana psikologi pasar saham bandar yang suka "mempermainkan" harga saham?" 

Pertanyaan ini yang saya tunggu2

Sederhana saja. Perlu Anda ketahui bahwa bandar juga mempermainkan pikiran Anda dengan cara memanfaatkan situasi fear and greed. Dan bandar biasanya sengaja mengincar saham2 yang harganya rendah bahkan sampai harga Rp100 per lembar dan yang sahamnya tidak likuid. Kenapa kok bandar kebanyakan mempermainkan saham2 yang harganya rendah dan tidak likuid? Bukannya saham yang nggak likuid bukan cuma saham2 yang harganya rendah? Saham2 yang harganya tinggi pun banyak juga yang tidak likuid. 

Psikologi yang akan menjawab pertanyaan tersebut. Saham2 yang harganya rendah tidak akan membutuhkan modal yang besar untuk masuk, bahkan dana Rp500.000 Anda sudah bisa beli sahamnya. Secara psikologi, orang2 akan lebih tertarik ketika melihat shaam murah yang harganya naik kencang, karena merupakan kesempatan cuan dengan modal.

Sedangkan kalau sahamnya mahal dan harganya naik kencang, orang mungkin masih akan pikir2. Selain harganya mahal, sahamnya naik kencang berarti harganya tambah mahal lagi, dan semakin susah mereka untuk menjangkau saham tersebut dengan modal yang kecil.

Bandar biasanya mempermainkan psikologis investor2 ritel dan terbukti investor2 ritel inilah yang selalu terjebak dalam permainan bandar. Bandar seringkali mempermainkan psikologis investor ritel melalui rumor2 yang ada. Namanya juga rumor, kebenarannya belum terbukti. Sudahkah Anda membaca pos: Buy On Rumor, Sell On News?

 Saya kasih contoh konkrit dengan sedikit ilustrasi:

Saham AABB harganya Rp125 dan saham ini tidak likuid. Pergerakan harga saham ini hampir tidak bergerak karena yang mentradingkan hanya sedikit. Tiba2 karena sebuah rumor saham AABB naik kencang sekali. Hari pertama tiba2 naik menjadi Rp140. Keesokan harinya, naik menjadi Rp158. Si Ali mulai tertarik dengansaham AABB. Secara PSIKOLOGIS, Si Ali dapat tergoda membeli saham AABB karena melihat kenaikannya kencang, sudah begitu harganya murah.

Ali mulai masuk di saham AABB di harga Rp160. Dan benar saja sahamnya naik lagi sampai Rp171. Ali sudah menetapkan akan menjual di Rp170, tetapi karena sahamnya naik kencang, disinilah rasa GREED Ali mulai muncul. Ali mulai berharap supaya harga saham naik lagi menjadi Rp179 dan otomatis si Ali sudah melanggar trading plan-nya sendiri. 

Di saat harga naik menjadi Rp173 tiba2 harga jatuh dalam hitungan menit menjadi 164. Ali menjadi panik, namun ditengah kepanikannya (rasa fear) si Ali masih berharap harga saham balik ke harga Rp170. Ternyata, harga saham masih saja jatuh sampai Rp150 dan keesokan harinya harga saham jatuh lagi ke Rp135. Dan beberapa hari kemudian harga saham turun sampai Rp106, kemudian harga saham AABB stagnan. 

Ternyata saham AABB terkena Unusual Market Activity (UMA) karena pergerakan saham yang tidak wajar. Karena melihat saham yang nilainya terus turun, Ali tidak berani cut loss, dan sahamnya 'nyantol'. Dana yang dimiliki Ali terpenjara dan tidak dapat digunakan apa2 selain menunggu harga sahamnya naik kembali (itupun kalau bisa naik melebihi harga beli awalnya). 

Nah dalam praktiknya Anda akan sering menemui hal2 seperti ini. Itulah mengapa banyak yang bertanya kepada saya: "Pak, saham A, saham B naiknya kapan?" Dimana saham2 tersebut yang notabene saham2 nggak likuid. Perlu Anda ketahui, bandar seakan paham apa yang kita inginkan. Bandar tahu jika investor2 ritel mulai masuk di saham2 yang mereka goreng. Saat harga sudah terlalu tinggi menurut pandangan bandar, bandar memahami situasi GREED dari kebanyakan para investor ritel. Disinilah bandar memanfaatkan momen tersebut. 

Bandar memahami kalau investor2 ritel mudah dipancing melalui kenaikan saham2 "jelek". Saat bandar sudah merasa harga sahamnya tinggi, bandar akan langsung menjual sahamnya, dan sebagian investor ritel pun akhirnya ikut melakukan selling, sehingga bukan tidak mungkin dalam satu saham terjadi panic selling karena perasaan takut (fear).  Setelah bandar mendapat keuntungan besar, bandar akan pergi begitu saja, sehingga trader2 yang belum sempat jual sahamnya, karena dipermainkan oleh perasaan greed oleh para bandar, sahamnya 'nyantol'.

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Sedikit melenceng dari topik bahasan ini, melalui tulisan ini sebenarnya saya pribadi juga ingin mengungkapkan - agar pengatur regulasi di pasar modal kedepannya bisa lebih peka terhadap situasi2 seperti ini (saham gorengan). Di akun facebook Belajar Saham, ketika saham2 yang naiknya banyak sekali dan tidak wajar, banyak komentar2 dari rekan2 yang intinya sebenarnya komplain: 

"Kenapa BEI selalu memberikan status UMA dan suspend pada perusahaan2 yang sahamnya naik tidak wajar, tapi kalau sahamnya turun drastis, sama BEI malah dibiarkan aja?" Sejujurnya, saya juga punya pertanyaan yang sama dengan rekan2. Karena saya merasa ketika saham2 yang naik kencang kebanyakan diberikan status UMA yang dapat Anda lihat melalui situs www.idx.co.id. Namun, tidak banyak saham2 yang turun drastis diberikan status UMA. Peran regulator kedepannya semoga lebih bisa menertibkan keberadaan saham2 gorengan di pasar modal, supaya tidak merugikan investor ritel yang dananya kecil. 

Kembali lagi ke toipk, lantas, bagaimana mengalahkan rasa serakah dan takut tersebut? Baca pos selanjutnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part III) - Mengalahkan Fear And Greed.

Friday, April 01, 2016

Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)


Pada tahapan pertama yaitu pada saat tahapan mendaki, pelaku pasar akan "dihantui" rasa ragu2 untuk masuk pasar. Pada tahapan ini, akan ada banyak pelaku pasar yang ragu2 apakah saya harus akumulasi atau tidak. Jika saya akumulasi takut sahamnya malah turun, tapi kalau tidak segera pasang posisi buy, sahamnya nanti naik. Perasaan takut dan ragu2 inilah yang pada akhirnya sangat mempengaruhi psikologi dan rasionalitas seorang investor.

Pada tahapan bullish, pada saat harga saham naik kencang, dan harga saham terus saja naik pada tahapan terentu para pelaku pasar akan dihadapkan pada situasi euforia, rasa senang, tidak bisa tidur, gembira yang pada akhrinya akan membawa Anda pada awal mula perasaan tamak/ serakah. Untuk memudahkannya saya berikan ilustrasi.

Si Badu membeli saham TLKM di harga low Rp3.200. Badu menetapkan take profit pada harga Rp3.350. Dan benar saja,  saham TLKM naik terus sampai Rp3.350, dan seharusnya Badu sudah take profit. Tetapi karena melihat grafik TLKM yang sedang dalam tren bullish, Badu mulai menimbang-nimbang dalam hati: "Wah, TLKM naik terus nih, tunggu aja barangkali bisa naik lebih kencang, nanti biar cuan nya bisa lebih gede. Hihihi".

Nah, disinilah sifat greed mulai muncul: perasaan serakah yang diawali dengan rasa terus berharap. Iman kedisiplinan Anda mulai diuji: Apakah Anda bisa mematuhi trading plan Anda sendiri atau tidak? Pada saat pasar dalam kondisi bullish, itulah yang terjadi secara umum, sifat serakah. Sudah untung, sudah waktunya take profit tapi nggak mau take profit malah ngarep terus harga saham naik lebih tinggi.

Pada tahapan jenuh, sifat greed pelaku pasar semakin memuncak. Harga saham semakin naik dalam titik harga resisten tertentu, namun hampir dipastikan harga saham tidak naik sekncang ketika masih berada pada tahap bullish. Pada tahapan ini, pelaku pasar sudah mulai mengurangi aksi beli karena harga saham dinilai sudah terlalu tinggi, namun masih banyak diantara para pelaku pasar yang memegang sahamnya, masih ngarep harga saham naik lagi. Pada tahapan ini pula rasa gelisah semakin besar: Antara hold atau segera profit taking. Walaupun trading plan Anda mengatakan inilah saatnya profit taking. 

Harga saham yang sudah naik terlalu tinggi pada akhirnya pasti akan koreksi. Di pasar modal tidak ada yang namanya saham naik terus nggak pernah turun. Pada tahapan terakhir, yaitu tahapan koreksi, harga saham yang semula harganya tinggi mulai mengalami penurunan. Disinilah rasa GREED berubah menjadi FEAR.

Kita pakai ilustrasi Si Badu tadi. Si Badu membeli saham TLKM pada harga Rp3.200, sudah waktunya take profit, tapi Badu tidak bisa disiplin dengan trading plan-nya sendiri, yang seharusnya Badu menetapkan take profit di harga Rp3.250 malah terus ngarep harga naik. Ternyata harga saham TLKM yang awalnya naik sampai, katakanlah Rp3.405, turun jadi Rp3.340. Badu mulai takut dan mikir:

"Wah, kok harganya malah turun. Tunggu dulu ah. Barangkali nanti harganya naik lagi, profitnya bisa balik lagi." Disini sudah terlihat Badu mulai takut (gelisah).

Ternyata, TLKM malah turun lagi Rp3.150. Artinya, Badu malah mengalami kerugian dari yang semula seharusnya Badu sudah untung. Badu mulai cemas dan menyesal:

"Kenapa tadi TLKM nggak aku jual. Sekarang malah nyangkut sahamnya." Badu terus kepikiran dengan sahamnya yang nyangkut dan Badu takut sahamnya turun lagi. Akhirnya karena dibayangi perasaan takut, Badu melakukan cut loss.

Perasaan fear akan selalu membayangi pelaku pasar terutama di saat indeks mengalami koreksi. Bahkan tidak memungkinkan jika suatu saham mengalami penurunan yang dalam, dapat memicu aksi panic selling. Aksi panic selling juga merupakan perasaan fear.

Dan perlu Anda ketahui, Fear and Greed adalah dua kondisi dimana keduanya akan selalu, dan pasti 100% terulang. Jadi, psikologi market, baik forex maupun saham dapat dijelaskan melalui dua kondisi tersebut: FEAR AND GREED, yang juga dapat dipelajari atau dipermudah penjelasannya melalui 4 tahapan tersebut. 

Jadi kalau boleh saya rangkum kedua kondisi tersebut, ketika kondisi pasar saham dilanda perasaan FEAR, maka hal2 inilah yang terjadi:

- Tidak percaya diri
- Panik
- Khawatir
- Cemas
- Gelisah
- Mental jatuh

Sebaliknya, ketika kondisi pasar saham dilanda perasaan GREED dalam kondisi pasar bullish, maka hal2 inilah yang terjadi:

- Euforia

- Rasa senang berlebihan
- Rasa berharap
- Percaya diri berlebihan
- Keinginan untuk terus membeli saham
- Gelisah

Psikologi pasar saham akan dijelaskan melalui hal2 tersebut, dalam kondisi pasar sedang bullish dan kondisi pasar sedang bearish. Lalu bagaimana dengan psikologi bandar? Silahkan baca pos selanjutnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part II) --> Psikologi Bandar.

Monday, March 28, 2016

Psikologi Pasar Saham: Empat Tahapan Penting

Kalau Anda bertanya, psikologi market itu seperti apa? Maka saya bisa mengungkapkannya dengan dua kata: FEAR , GREEDFear berasal dari bahasa Inggris yang artinya takut, sedangkan greed artinya serakah/ tamak. 

Sebelum saya berbicara banyak mengenai fear and greed, ada baiknya saya mengungkapkan pada Anda, bahwa di pasar modal, pergerakan IHSG dan pergerakan harga saham secara spesifik akan terjadi dalam 4 SIKLUS tahapan. 

1. Tahapan mendaki. Pada tahapan ini, harga saham berada di posisi rendah, dan para pelaku pasar sudah bersiap-siap melakukan akumulasi saham untuk mengangkat harga saham tertentu, karena harganya sudah rendah, sudah koreksi. Biasanya pada tahapan ini, tipe2 investor dan trader cerdas (smart money), yang bisa membaca pergerakan harga saham lebih awal, akan masuk lebih dahulu untuk melakukan buy.

2. Tahapan bullish. Pada tahapan ini, karena sudah banyak para pelaku pasar yang akumulasi, harga saham akan berada dalam tren naik. Dan biasanya, para investor ritel yang tidak sehebat smart money, mereka baru akan berani masuk pada saat saham tersebut benar2 bullish, seperti pada tahapan 2 ini. 

3. Tahapan jenuh. Harga saham tidak mungkin naik terus. Setelah harga saham naik mencapai titik tertentu karena terus diangkat, yang artinya secara teknikal harga saham sudah ketinggian atau kemahalan (jenuh beli), harga saham akan cenderung sideways dan mulai terlihat tren turun jangka pendek. Disini sudah mulai terlihat beberapa pelaku pasar mulai menjual sahamnya.

4. Tahapan koreksi. Setelah harga saham mencapai jenuh beli, terjadilah aksi ambil untuk atau profit taking. Hal ini dilakukan oleh para pelaku pasar dengan cara menjual sahamnya yang harganya sudah dianggap terlalu tinggi, sehingga menyebabkan harga saham koreksi atau turun sementara. Pada tahapan koreksi, bisa saja koreksinya lebih rendah daripada harga pada saat saham berada di tahapan 1, tetapi bisa juga harga koreksinya masih lebih tinggi daripada harga saham pada saat berada di tahapan 1. Biasanya, kalau saham tersebut likuid, prospek dan bagus, maka meksipun terjadi koreksi tetapi harga saham masih lebih tinggi daripada harga saham pada siklus di tahapan 1.

Berikut 4 siklus tahapan yang menentukan psikologi pasar.









Penerapan riil 4 tahapan siklus pada saham INDF.    


Setelah melalui tahapan koreksi ini, harga saham akan kembali lagi ke tahapan 1, demikian seterusnya. Itulah kenapa saya katakan sebagai siklus. Namun, untuk saham2 spesifik, memang tidak semua bisa menerapkan 4 tahapan tersebut, karena ada banyak saham yang pergerakannya sideways terus, saham gorengan yang naik turunnya tidak bisa ditebak karena tidak likuid, atau bahkan saham tidur yang tidak bergerak sama sekali. 

Empat siklus tahapan inilah merupakan tahapan-tahapan dimana psikologi pasar sesungguhnya terjadi, yaitu FEAR and GREED. "Lalu, apa hubungannya tahapan2 ini sama fear and greed?" Tanya Anda.

Tentu saja sangat berhubungan. Psikologi pasar bisa dijekaskan melalui tahapan2 tersebut. Lalu bagaimana tahapan2 ini dapat menyebabakan seseorang menjadi serakah atau sebaliknya takut? Silahkan baca pos selanjutnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed (Part I)