Showing posts with label Analisis Saham (Fundamental). Show all posts
Showing posts with label Analisis Saham (Fundamental). Show all posts

Sunday, October 02, 2016

Investasikan Modal Anda: PPRO dan WSBP

Sejak Februari 2016, saham PT PP Properti (PPRO) mulai mencatakan kenaikan harga saham yang sangat drastis. Harganya kala itu masih di kisaran 185-190. Dan sekarang memasuki Oktober 2016, harga sahamnya sudah di harga 1.330. Artinya, dalam kurun waktu hampir satu tahun, harga saham PPRO sudah naik sekitar 700%. Beruntunglah bagi Anda yang sudah pegang saham PPRO sejak di harga murah ini. Perhatikan grafik PPRO dibawah.


Bagi Anda yang belum pegang sahamnya, Anda masih bisa beli sahamnya untuk investasi. Tapi kapan belinya? Apakah sekarang kita bisa membeli? 

PPRO memang juga mencatatkan kinerja cemerlang. Salah satunya, tahun 2015 saat kondisi ekonomi lesu PPRO masih mencatatkan kenaikan laba bersih. Namun, anda bisa membeli PPRO saat kondisi pasar sudah benar-benar mulai pulih. Ada beberapa analisis yang perlu saya paparkan: 

1. Sampai saat pos ini ditulis yaitu awal tahun 2017, kondisi bisnis properti masih lesu. Anda bisa lihat tren saham2 properti yang cenderung turun. Properti juga masih belum booming. 

2. Valuasi saham PPRO saat ini sudah terlalu tinggi, walaupun fundamental PPRO masih sangat bagus. PPRO ini pernah saya investasikan pada tahun 2016 saat harganya masih 190-an. Anda bisa baca strategi membeli growth investing disini: Buku Saham. 

Jadi, jika anda ingin investasi PPRO ada baiknya anda menunggu PPRO mulai koreksi, kondisi pasar sudah benar2 bagus dan pastinya BISNIS PROPERTI sudah mulai bangkit lagi, seperti halnya batu bara yang baru2 ini mulai rebound kencang setelah lesu lama. 

Selain PPRO, ada satu saham lagi yang menurut saya punya prospek bagus, yaitu PT Waksita Karya Beton (WSBP) yang baru listing 20 September 2016. WSBP dan PPRO sama2 perusahaan BUMN. WSBP adalah anak usaha Waksita Karya (WKST). WSBP juga merupakan emiten yang sangat layak investasi. Harga sahamnya saat ini masih di kisaran 520. Tren WSBP belakangan ini sideways cenderung turun. 

Tren WSBP hampir sama dengan induknya WSKT. WSKT waktu awal melantai di Bursa, harga sahamnya nggak langsung naik. Bahkan cenderung turun. Perhatikan grafik WSKT dibawah ini. 


WSBP adalah salah satu emiten sub sektor konstruksi yang akan terkena dampak positif tax amnesty dan pembangunan infrastruktur. Jadi, WSBP adalah saham yang sangat layak investasi. 

Namun, sama seperti saham PPRO, karena WSBP ini masuk di satu sektor yang sama, yaitu sektor PROPERTI, maka prediksi saya setelah saham ini IPO, maka pergerakan harganya mungkin lebih fluktuatif, and means anda tidak disarankan untuk langsung masuk dalam jumlah gede untuk investasi.  

Tapi jika nantinya bisnis properti sudah benar2 booming (maybe tahun 2018), maka saya yakin baik PPRO maupun WSBP harganya setidaknya bisa naik kencang. Kalau kita perhatikan grafik WSKT tersebut yang uptrend, seharusnya anak usahanya, WSBP, bisa mengikuti laju pergerakannya. Tapi kita harus tunggu momen yang pas. 

Sunday, September 25, 2016

Strategi Investasi Saham: Perusahaan Induk Vs Perusahaan Anak

Jika Anda ingin investasi saham di pasar modal, yang perlu Anda ketahui adalah prospek perusahaan tersebut. Bagaimana cara mengetahui prospek perusahaan? Yaitu dengan memahami analisis fundamental. Baca juga pos: Inti dan Prinsip Dasar Analisis Fundamental. Baca juga: Analisis Fundamental Terbaik ???

Ketika perusahaan baru saja go public di Bursa Efek, seringkali para investor bingung, apakah perusahaan tersebut memiliki prospek yang bagus atau tidak. Kalau saya jujur, melakukan analisis fundamental itu jauh lebih rumit daripada analisis teknikal. Seringkali emiten yang kelihatannya bagus dan prospek secara fundamental, ternyata harga sahamnya malah anjlok.  

Contohnya, PT Krakatau Steel (KRAS). KRAS adalah saham BUMN yang bergerak di industri produksi besi dan baja. Bahkan emiten ini adalah emiten produksi besi dan baja terbesar di Indonesia. Tapi kok harga sahamnya turun terus sejak IPO? Ternyata penyebab penurunan harga saham KRAS tidak lain karena kinerjanya yang jauh dari harapan. KRAS KRAS tidak mampu menekan biaya operasionalnya dan kalah bersaing dengan China.

Ngomong2 soal investasi saham, saya sendiri adalah tipikal trader. Saya sudah katakan bahwa investasi saham itu analisisnya tidak mudah, tidak semudah menjadi trader (analisis teknikal). Jadi, saya akan investasi kalau saya baru benar2 yakin bahwa emiten tersebut harga sahamnya akan naik di masa mendatang.  

Kalaupun pada akhirnya saya investasi, saham2 yang selalu menjadi tempat favorit saya adalah saham2 BUMN, terutama (sub) sektor konstruksi dan sektor property & real estate. Tetapi syaratnya, saya HANYA MAU investasi kalau perusahaan tersebut adalah perusahaan BUMN dan kalau bisa perusahaan tersebut adalah perusahaan anak yang punya prospek bagus. Baru2 ini, saham yang listing di BEI adalah PT Waksita Beton Precast (WSBP), listing tanggal 20 September 2016. 

Sederhana saja. Saya berikan bocoran dari sisi analisis teknikal. WSBP adalah anak usaha PT Waksita Karya (WKST). Kinerja WSKT sangat bagus yang terlihat dari harga sahamnya yang terus uptrend sejak IPO. Perhatikan grafik saham WKST dibawah.


WSBP IPO dengan harga 490 per lembar. WSKT dulu IPO dengan harga sekitar 530. Tidak jauh beda dengan WSBP. Sekarang harga saham WSKT naik sampai 2.650 (dalam kurun waktu 5 tahun). Perhatikan tanda kotak pada grafik WSKT. WSKT waktu awal melantai di Bursa, harga sahamnya nggak langsung naik. Bahkan cenderung sideways sedikit turun. Tetapi, setelah beberapa bulan harga saham WKST baru naik pesat. 

Kalau melihat perusahaan induknya, prediksi saya harga saham WSBP akan mengikut harga saham perusahaan induknya. Saat ini WSBP masih sideways di harga 525-535. Pada saat hari pertama listing sempat naik ke 610. Setelah itu, WSBP cenderung sideways turun. Namun, Antrian bid-offer yang selalu ramai, yang menunjukkan minat pelaku pasar yang tinggi terhadap WSBP (artinya, WSBP sangat likuid). 

WSBP mengingatkan saya pada saham PPRO. PPRO pada awal melantai di bursa, harganya hanya 150 per lembar (Mei 2015), dan sempat turun sampai 127 tetapi bid-offer PPRO sangat besar. Sekarang, harganya sudah mencaai 1.020, dalam kurun waktu 1,5 (satu setengah) tahun! Saya ikut mengoleksi saham PPRO mulai harga 190 dengan teknik averaging up. 

Analisis yang saya gunakan kurang lebih sama dengan saham WSBP. PPRO adalah anak usaha BUMN dari PTPP. PTPP waktu awal melantai di Bursa harganya hanya sekitar 600-an, dan dalam kurun waktu beberapa tahun, naik sampai 4.000!

Jadi sederhananya seperti ini: Tren harga saham perusahaan anak biasanya akan mengikuti tren harga saham perusahaan induknya. Tetapi, harga saham perusahaan anak TIDAK LEBIH TINGGI daripada perusahaan induk. Artinya, kalau Anda investasi di perusahaan anak, Anda jangan berharap menjual harga sahamnya lebih tinggi dari perusahaan induknya. Anda perhatikan, PPRO tidak lebih tinggi daripada PTPP. WTON tidak lebih tinggi daripada WSKT. 

ANALISIS KONDISI SEKTOR 

Namun, kita juga harus mengamati kondisi sektor tersebut. Saat sektor usaha masih lesu dan belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan di sektor itu, maka anda harus lebih jeli dalam memilih saham untuk investasi. 

Pada umumnya, suatu saham yang harganya bisa naik at least untuk satu tahun mendatang (strategi investasi perusahaan induk vs perusahaan anak) akan terjadi jika kondisi sektor usaha tersebut sedang bagus atau minimal stabil (tidak banyak guncangan / lesu). Anda bisa baca-baca analisisnya lagi disini: Investasikan Modal Anda: PPRO dan WSBP

Tuesday, September 13, 2016

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Pasar

Baca pos: Analisis Fundamental: Analisis Rasio Keuangan.

Rasio pasar digunakan untuk menunjukkan sejauh mana investor saham menilai layak tidaknya harga saham perusahaan untuk dibeli. Harga wajar disini yang dimaksud adalah murah tidaknya harga saham perusahaan. Ketika investor menilai bahwa harga saham perusahaan masih wajar (belum terlalu tinggi) dan perusahaan tersebut memiliki potensi pertumbuhan, maka harga saham perusahaan itulah yang memiliki kesempatan untuk bertumbuh dalam jangka panjang. Jadi, dengan adanya rasio pasar, Anda sebagai calon investor bisa memprediksi harga saham dimasa mendatang menggunakan data2 yang pasti, bukan dengan angan2. 

Pada bahasan ini saya akan menekankan pada 2 rasio pasar saja, yaitu: Price Book to Value (PBV) dan Price Earning Ratio (PER).  PER dan PBV adalah rasio pasar yang paling sering digunakan. Itulah mengapa Anda perlu benar2 memahami kedua rasio tersebut. Dalam prakteknya, PER jauh lebih sering digunakan ketimbang PBV karena PER lebih fokus pada laba bersih, sedangkan PBV lebih fokus pada perhitungan ekuitas. Laba bersih lebih mencerminkan kinerja perusahaan sesungguhnya dibandingkan ekuitas. Itulah mengapa PER lebih sering digunakan ketimbang PBV.  

Berikut adalah jenis2 rasio pasar. 

1. Price Earning Ratio (PER). Untuk penjelasan dan fungsi PER, silahkan baca disini: Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER).

2. Price Book Value Ratio (PBV). 

PBV fungisnya sama dengan PER: Menghitung harga wajar saham perusahaan. Rumus PBV adalah sebagai berikut.



Book value (nilai buku) adalah nilai ekuitas per saham (equity per share). Cara menghitungnya adalah Ekuitas dibagi jumlah saham beredar. Contoh: PT Bank BRI (BBRI), memiliki nilai ekuitas per saham pada tahun 2012 sebesar Rp2.630 per saham. Harga saham BBRI akhir tahun 2012 adalah sebesar 6.950. Maka nilai PBV adalah: 6.950 / 2.630 = 2.64 kali. 

Apakah nilai 2.64 kali ini termasuk murah atau mahal? Untuk menentukan murah atau mahalnya nilai PBV Anda harus membandingkannya dengan sektor industri sejenis. Karena BBRI masuk dalam industri perbankan, maka Anda harus membandingkan dengan sektor perbankan. PBV industri sektor perbankan pada tahun 2012 adalah sebesar 2.37 kali. Karena PBV BBRI lebih tinggi dibandingkan PBV industri, maka dapat dikatakan PBV BBRI termasuk tinggi. Means, harga sahamnya  sudah 'mahal'. 

Tetapi apakah 'mahal' berarti BBRI nggak layak lagi dibeli karena harga sahamnya ketinggian? Tidak juga. PBV adalah salah satu ukuran rasio pasar, namun disisi lain Anda juga harus mempertimbangkan pertumbuhan dan kinerja BBRI. PBV BBRI diatas rata2 industri pada tahun 2012 dan harga sahamnya adalah Rp6.950. Akan tetapi, sampai tahun 2016 ini, harga sahamnya sudah mencapai Rp12.000! 

"Berarti perhitungan rasio pasar nggak akurat donk Bung Heze?" Protes Anda. 

Bukan begitu. Menginterpretasikan rasio memang cukup subjektif. Nilai PBV yang lebih tinggi dibandingkan sektor industri tidak serta merta mencerminkan harga saham yang sudah tidak bisa naik lagi. Perhitungan PBV hanyalah adalah salah satu ukuran. Oleh karena itu, Anda harus memiliki penilaian yang subjektif dan akurat jika ingin menentukan apakah harga saham akan bertumbuh dimasa mendatang. Ada baiknya Anda juga membaca PER, karena PER lebih mencerminkan kondisi kinerja perusahaan (menggunakan laba bersih), sehingga menurut saya pribadi, PER lebih akurat ketimbang PBV. 

Baca juga:

Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER)

Price Earning Ratio (PER) adalah rasio yang selalu menjadi patokan investor untuk menentukan harga wajar saham perusahaan. Wajar disini bisa diartikan: Harganya terlalu tinggi, atau masih murah. Kalau Anda ingin menyimpulkan apakah harga saham PPRO Rp1.000 per lembar saham tergolong mahal atau tidak, Anda harus menggunakan alat bantu rasio, yaitu PER. Jadi, tidak bisa Anda menyimpulkan harga suatu saham murah atau tidak, hanya dari harga sahamnya secara kasat mata.

Secara defisini, PER berarti perbandingan harga saham dengan laba bersih per saham, yang digunakan untuk menghitung harga wajar (murah / tidaknya) harga saham suatu emiten. Rumus PER adalah sebagai berikut.


EPS adalah perbandingan antara laba bersih dibagi dengan jumlah saham beredar. Untuk memahami EPS lebih dalam, silahkan baca pos: Makna dan Fungsi Rasio Earning Per Share (EPS). 

Cara membaca PER: Semakin tinggi nilai PER, berarti harga saham perusahaan tersebut semakin mahal. Dan sebaliknya, semakin rendah nilai PER, berarti harga saham perusahaan tersebut semakin murah. Kalau PER perusahaan rendah sekali (dibandingkan industri sejenis) dan memiliki prospek pertumbuhan yang baik, ada kemungkinan besar, harga saham perusahaan dimasa mendatang akan naik tinggi. Karena logikanya secara valuasi, harga saham masih murah (dari perhitungan PER), dan didukung dengan prospek bisnis yang bagus. Semakin besar PER, ada kemungkinan harga saham perusahaan dimasa mendatang akan semakin sulit untuk naik lebih tinggi. 

Di paragraf pertama tadi saya menuliskan: "Anda tidak bisa menyimpulkan harga suatu saham murah atau mahal, hanya dari harga sahamnya secara kasat mata". Inilah kegunaan PER. Harga saham PT A adalah Rp2.000, sedangkan harga saham PT B adalah Rp1.000. Memang, secara kasat mata harga saham PT A lebih mahal, tapi secara harga wajar / valuasi belum tentu harga saham PT A lebih mahal. 

Katakanlah EPS PT A dalam setahun sebesar Rp100 per saham, sedangkan EPS PT B sebesar Rp40 per saham. Berarti, PER PT A adalah sebesar 20 kali (2.000/100). Sedangkan PER PT B sebesar 25 kali (1.000/40). Ternyata PER PT A lebih murah dibandingkan PT B. Berarti secara valuasi, harga saham PT A LEBIH MURAH, meskipun harga sahamnya lebih mahal. Jadi, ketika Anda melihat harga saham yang rendah (misalnya cuman Rp600), belum tentu PER-nya rendah. Demikian juga sebaliknya, 

Apakah nilai PER tinggi  berarti harga sahamnya nggak bisa naik lagi dan sebaliknya, kalau PER rendah berarti harga sahamnya pasti akan naik dalam jangka panjang? Baca tulisan saya terus sampai habis.  

Nah, sekarang kita masuk ke contoh konkrit. Pada tahun 2012 diketahui harga saham BBRI adalah Rp6.950 (harga saham akhir tahun 2012). Sedangkan EPS BBRI adalah Rp757 per saham. Maka cara menghitung PER adalah Rp6.950 / Rp757 = 9,18 kali. Apa makna PER 9,18 kali? Apakah PER BBRI termasuk murah atau mahal?

Untuk menentukan PER suatu saham tergolong murah atau mahal (wajar atau tidak), Anda harus membandingkan dengan sektor industri sejenis. PER bisa dikatakan rendah apabila PER berada dibawah PER industri, dan sebaliknya. Pada contoh diatas PER BBRI adalah 9,18 kali. Dan PER industri perbankan adalah 8,73 kali. Artinya PER BBRI berada diatas PER industri. Hal tersebut artinya, harga saham BBRI termasuk mahal. Harga saham mahal dari perhitungan PER bukan berarti harga sahamnya nggak bisa naik lagi. 

Pada tahun 2012 akhir harga saham BBRI masih di harga Rp6.950. Dan tahun 2016 ini, harga sahamnya sudah mencapai Rp12.000! Hal tersebut mengindikasikan bahwa PER yang lebih besar dibandingkan rata2 industri, bukan berarti harga sahamnya nggak bisa naik lagi. Ada banyak faktor yang mempengaruhi naik-turunnya harga saham.

Jika Anda perhatikan, PER BBRI memang lebih tinggi dari rata2 PER industri, tetapi jaraknya (spread) tidak terlalu jauh (9,18 vs 8,73). Hal ini bisa mengindikasikan bahwa harga saham BBRI masih punya peluang besar untuk naik dalam jangka panjang. Anda juga perlu memperhatikan pertumbuhan usaha dari emiten tersebut. PER murah (rendah) belum tentu harga sahamnya pasti akan naik dalam jangka panjang.  

Ada baiknya pula Anda menggunakan tren untuk melihat arah kecenderungan PER. Jika PER emiten secara tren tiba2 melonjak drastis, bahkan jauh diatas rata2 industri dan diikuti dengan kenaikan harga saham secara pesat dalam kurun waktu yang singkat, maka Anda harus mewaspadai saham tersebut. Ada kemungkinan saham tersebut akan lebih sulit untuk naik lagi.   

Ukuran PER  yang Murah?

Saya tidak tahu darimana teorinya, mengapa banyak yang bilang kalau PER diatas 5 itu mahal. Anda tidak bisa serta merta menyimpulkan seperti itu. Seperti saya katakan, jika Anda ingin menentukan harga wajar saham perusahaan, salah satu caranya adalah dengan membandingkan (dengan sektor industri sejenis), dan melihat prospek usaha kedepan.  

Saya ingat waktu awal tahun 2016, dimana harga saham banyak yang mengalami koreksi karena kondisi ekonomi yang lesu tahun 2015. Saat itu mulai banyak analis yang mulai mencari-cari emiten yang nilai PER-nya rendah. 

Banyak analis yang merekomendasikan beberapa saham dengan nilai PER rendah (ukurannya 5 dan dibawah 5). Saat itu, saham SSIA banyak direkomendasikan menjadi saham yang layak 'hold' dengan nilai PER 5 sekian. Ternyata harga saham SSIA nggak kunjung naik seperti yang diharap-harapkan, meskipun banyak analis bilang kalau PER-nya sudah rendah (dibandingkan juga dengan sektor industri sejenis, properti). Perhatikan grafik SSIA dibawah.



Walaupun PER SSIA 'rendah', ternyata harga sahamnya nggak kunjung naik hingga bulan September 2016. Kemungkinan besar, ada banyak faktor yang membuat harga saham tidak kunjung naik. Beberapa diantaranya karena sahamnya mungkin tidak seberapa likuid, pertumbuhan usahanya tidak sebaik sektor industri sejenis, dan masih banyak faktor lainnya.

Berbeda ceritanya dengan PWON. Pada saat awal tahun saat sebagian besar harga saham terdiskon, saham PWON yang PER-nya hanya sekitar 6 kali (dibawah rata2 industri), harga sahamnya naik kencang. Yang dari harga 450 menjadi harga 690 (high) dalam kurun waktu 8 bulan. 

So, menurut saya pribadi, PER bukanlah rasio yang dapat berdiri sendiri. Artinya begini, Anda nggak bisa serta merta menganggap PER emiten 5 kali dan sudah dibawah rata2 industri berarti  harga sahamnya masih punya peluang besar untuk naik dimasa mendatang. Memang benar. Namun, Anda harus mempertimbangkan faktor2 lain, seperti contohnya pertumbuhan usaha, tingkat ke-likuid-an saham. Sebaliknya, Anda juga tidak bisa serta merta menyimpulkan PER diatas rata2 industri berarti harga saham tersebut kemahalan, kecuali kalau PER emiten perbandingannya sangat sangat jauh diatas rata2 industri, bisa jadi harga saham perusahaan memang sudah kemahalan. Buktinya, PER BBRI tahun 2012 diatas rata2 industri, tetapi harga sahamnya masih naik 2 kali lipat. 

Implikasi lainnya, PER yang terlalu rendah bisa jadi saham tersebut tidak laku. Sebaliknya, PER terlalu tinggi bisa jadi harga saham memang sudah kemahalan. Atau, PER terlalu tinggi, bisa jadi saham tersebut memang banyak peminatnya, sehingga saham tersebut bisa dikatakan likuid.  

Disinilah peran seorang funamentalist. Untuk menganalisis suatu perusahaan, Anda harus memiliki tingkat kepekaan dan analisis yang tajam. Subjektifitas setiap orang bisa berbeda-beda. 

Analisis Fundamental Terbaik ???

Banyak pertanyaan dari rekan2, baik melalui Facebook Belajar Saham, maupun melalui email suksesbelajarsaham@gmail.com: 

"Pak Heze, analisis fundamental terbaik dilihat dari sisi apa?" 
"Gimana caranya menganalisis fundamental perusahaan dengan tepat?"
Dan masih banyak pertanyaan lainnya tentang analisis fundamental.  

Well, kalau Anda bertanya seperti demikian, maka saya akan bertanya kembali pada Anda: 

"Analisis teknikal apa yang terbaik?"

"Tidak ada, semua tergantung pada penggunanya" Jawab Anda. 

Demikian juga dengan analisis fundamental. Analisis fundamental terbaik itu TIDAK ADA. Semua kembali lagi kepada penggunanya. Sudahkah Anda baca pos2 saya disini: Analisis Fundamental: Analisis Rasio Keuangan?. Coba Anda jelajahi pos2 sampai rasio2 keuangan likuiditas, profitabilitas dan lain2. Disana ada banyak sekali rasio2 keuangan yang saya paparkan. Dan rasio2 tersebut, sejatinya memang dikhususkan untuk investor sebagai bahan pertimbangan analisis mereka.

"Banyak sekali ya rasio2 keuangannya?" Gumam Anda.

Memang buuuanyak sekali, sampai2 saya mumet sendiri.. Rasio2 yang saya tulis di pos2 tersebut sebenarnya adalah rasio2 penting. Dari mana tahu kalau penting? Rasio2 tersebut adalah rasio2 yang saya bahas pada tampilan laporan keuangan ICMD. Jika Anda belum paham ICMD dan kegunaannya, silahkan baca pos: Analisis Fundamental: Memanfaatkan Laporan ICMD. 

Jadi, diluar rasio2 tersebut, masih ada PULUHAN RASIO KEUANGAN lainnya yang jika dibahas semua, maka mungkin akan jadi satu buku tebal. Nah, yang jadi pertanyaan dengan rasio2 sebanyak itu, manakah yang akan Anda ambil untuk Anda jadikan keputusan investasi saham? Kan nggak mungkin Anda ambil semua rasio yang jumlahnya puluhan-ratusan. Bukannya semakin banyak informasi, justru akan membuat Anda menjadi semakin bingung?

Prinsip "Analisis fundamental terbaik", sebenarnya sama dengan prinsip "Analisis teknikal terbaik". Kalau di analisis teknikal, semakin banyak Anda menggunakan indikator, maka Anda akan semakin bingung dan latah. Sama dengan analisis fundametal, semakin banyak alat bantu yang Anda gunakan, bukannya semakin memudahkan Anda, malah semakin membingungkan Anda. 

Kalau Anda tanya ke saya: Analisis fundamental terbaik, maka Anda sendirilah yang bisa menemukan jawabannya. Saya tidak bisa menjawab untuk Anda. Karena cara saya belum tentu cocok untuk Anda, dan cara Anda pun belum tentu cocok untuk saya. Satu2nya cara untuk menemukan analisis fundamental yang pas, adalah dengan trial and error

Banyak orang berpikir, bahwa analisis fundamental itu rumit, karena harus belajar lebih mendalam tentang kondisi perusahaan. Kalau Anda membaca tentang gaya investasi Lo Kheng Hong, maka beliau nggak hanya belajar laporan keuangan, tapi sampai mempelajari GCG-nya. Apakah Anda harus meniru beliau? Tentu saja Anda tidak harus meniru mentah2, kecuali kalau Anda merasa benar2 cocok dengan gaya beliau. 

Analisis fundamental bisa dilakukan secara sederhana dan praktis. Contohnya: Saya pernah menganalisis saham PPRO di ebook belajar saham ketika harganya masih di kisaran 185-190 per lembarnya (sekitar Bulan Februari 2016). Anda bisa mendapatkan buku-nya (ebook) disini: Buku Saham. Dan saat pos ini ditulis, Anda tahu harganya berapa? Sudah mencapai Rp1.045 per lembar. Analisis fundamental yang saya gunakan nggak neko2. Saya nggak pakai banyak rasio untuk membaca pergerakan harga saham dimasa mendatang.  

Jadi pos ini menuju pada tiga kesimpulan utama. Pertama, nggak ada cara menganalisis fundamental terbaik, sama halnya seperti analisis teknikal. Analisis fundamental terbaik, kembali pada Anda masing2. Kedua, Anda tidak perlu menggunakan analisis yang terlalu rumit (kecuali kalau Anda mahir), karena hal tersebut akan membigungkan Anda untuk mengambil keputusan investasi. Ketiga, saya harus akui, analisis fundamental membutuhkan kejelian yang luar biasa. Cara menemukan formula analisis fundamental terbaik.

Makna dan Fungsi Rasio Earning Per Share (EPS)

Baca juga: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas / Rentabilitas.

Rasio Earning per Share (EPS) atau dalam bahasa Indonesia: Rasio Laba per Saham. Laba disini yang dimaksud adalah: Laba bersih. Sedangkan saham yang dimaksud disini adalah: Jumlah saham yang beredar di pasar. Jadi, pengertian EPS:

Pertama, digunakan untuk menunjukkan seberapa besar laba yang dihasilkan per lembar saham beredar. Kedua, menunjukkan laba bersih yang siap dibagikan kepada pemegang saham. Ketiga, Seberapa besar keuntungan yang diperoleh investor berdasarkan per lembar sahamnya. Rumus EPS adalah sebagai berikut:



Anda tidak perlu repot2 menghitung EPS. Cukup Anda ketahui saja caranya, karena pada laporan keuangan sudah disajikan informasi mengenai EPS.

Faktor2 penyebab kenaikan EPS

1. Laba bersih meningkat, jumlah saham beredar tetap. 
2. Laba bersih meningkat, jumlah saham beredar turun / berkurang.
3. Laba bersih meningkat, jumlah saham beredar meningkat, tetapi perusahaan tetap mampu mencetak kenaikan laba bersih yang naik secara signifikan. 

Faktor2 penyebab penurunan EPS

1. Laba bersih turun, jumlah saham beredar tetap
2. Laba bersih turun, jumlah saham beredar naik / bertambah
3. Laba bersih meningkat, jumlah saham beredar meningkat signifikan, sehingga membuat nilai rasio EPS turun. 

Implikasi rasio EPS: jika EPS meningkat berarti keuntungan yang diperoleh investor per lembar saham semakin besar, dan sebaliknya. Karena jika EPS meningkat, berarti perusahaan mampu menghasilkan kenaikan laba bersih, sehingga investor akan memperoleh keuntungan laba per lembar yang semakin besar. 

Lantas mengapa Anda perlu mengetahui rasio EPS? 


EPS perlu Anda ketahui untuk melihat seberapa besar keuntungan yang bisa Anda dapatkan per lembar saham (sesuai definisi diatas). Pertama, hal ini dikarenakan untuk membeli sebuah perusahaan (baca: investasi), Anda perlu membeli laba per saham, bukan membeli laba keseluruhan (membeli perusahaan secara keseluruhan). Anda tidak mungkin membeli perusahaan secara keseluruhan.  

Kedua, perusahaan dengan laba bersih yang lebih besar, belum tentu memiliki laba per lembar saham yang sama. Tidak percaya? Misalnya: Perusahaan A memiliki laba bersih Rp100.000. Perusahaan B memiliki laba bersih sebesar Rp50.000. Tetapi jumlah saham beredar perusahaan A sebesar 10.000 dan perusahaan B sebesar 4.000. 

Maka, laba per saham perusahaan A adalah: 100.000 / 10.000 = Rp10. Sedangkan laba per saham perusahaan B adalah: 50.000 / 4.000 = Rp12,5. Laba perusahaan A memang lebih besar 2x lipat dibandingkan perusahaan B, tetapi laba per saham perusahaan B ternyata lebih besar ketimbang perusahaan A. Hal tersebut dikarenakan jumlah lembar saham beredar pada perusahaan B lebih sedikit dibandingkan perusahaan A. 

Perlu Anda ingat, jumlah lembar saham beredar bisa saja bertambah maupun berkurang. Jumlah saham beredar bertambah apabila perusahaan melakukan aksi korporasi seperti stock split, right issue. Sedangkan jumlah lembar saham beredar berkurang apabila perusahaan melakukan aksi korporasi seperti reverse stcok split. 

EPS memang bisa digunakan untuk membandingkan pertumbuhan laba per saham. Dengan EPS, Anda akan tahu bahwa laba bersih perusahaan yang lebih besar ketimbang perusahaan lainnya, belum tentu perusahaan yang labanya lebih besar pasti lebih menarik. Jadi, dengan EPS Anda bisa melihat apakah laba per saham perusahaan lebih besar atau kecil. 

Itulah mengapa EPS banyak digunakan dalam analisis fundamental. EPS masih ada kekurangannya. Apa kekurangannya? EPS tidak bisa digunakan untuk menentukan wajar tidaknya harga saham perusahaan.

Oleh karena itu, rasio EPS biasanya dikombinasikan dengan Price Earning Ratio (PER) untuk menghitung harga wajar saham. Silahkan baca pos: Harga Wajar Saham: Price Earning Ratio (PER)

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Aktivitas / Efisiensi

Baca pos: Analisis Fundamental: Analisis Rasio Keuangan.

Rasio aktivitas atau rasio efisiensi digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas penggunaan sumber daya perusahaan. Atau, bisa juga seperti ini: Seberapa efektif manajemen perusahaan dalam mengelola aset2 perusahaan.

Masih bingung dengan definisi diatas? Atau sudah jelas sekali? Atau masih bingung-bingung jelas? Mari kita bahas lebih dalam lagi arti rasio efisiensi diatas. Mengapa rasio ini sangat diperlukan dalam analisis fundamental?

Perusahaan PT Apik Terus Tbk adalah perusahaan manufaktur produksi makanan ringan. Di gudang perusahaan tersebut terdapat banyak sekali barang bahan baku maupun bahan jadi (persediaan). Sayangnya, banyak sekali barang2 yang tidak bergerak, dan manajemen perusahaan yang bernama Pak Cuek, terkesan cuek saja dengan hal tersebut. Karena banyak barang yang tidak bergerak, akhirnya banyak barang yang kedaluwarsa dan mempengaruhi proses produksi perusahaan. 

Yang jadi pertanyaan: Kalau ada perusahaan yang tidak bisa memanajemen barang2nya, apakah Anda akan investasi di perusahaan tersebut?

"Tidak", Jawab Anda.

Tentu saja. Perusahaan yang tidak bisa memanajemen aset2nya, menunjukkan bahwa operasional perusahaan tersebut tidak berjalan dengan efektif. Dampaknya, akan langsung ke kinerja perusahaan. Jadi itulah, kegunaan rasio aktivitas dalam analisis fundamental saham. 

Jenis2 rasio aktivitas adalah sebagai berikut.

1. Perputaran Persediaan

Perputaran persediaan menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan / seberapa efisien pihak manajemen perusahaan dalam mengelola persediaannya. Artinya, bagaimana manajemen perusahaan harus mampu mengelola persediaan, agar tingkat persediaan di gudang tidak terlalu tinggi (besar) dan juga tidak terlalu rendah. 

Rumus perputaran persediaan adalah sebagai berikut:



Misalnya diketahui . Harga pokok penjualan bisa Anda dapatkan di laporan laba rugi yng merupakan komponen pengurang dari Penjualan Bersih. 

Artinya, perputaran persediaan perusahaan adalah sebesar 9 kali dalam setahun. 

Kalau berdasarkan definisi diatas, berarti perputaran persediaan harusnya nggak boleh terlalu besar, dan tidak boleh terlalu kecil. Kalau perputaran persediaan terlalu kecil, berarti bagi perusahaan persediaan adalah aset lancar yang sulit untuk dijual. Perputaran persediaan yang terlalu kecil juga mengindikasikan adanya hambatan2 dalam proses produksi perusahaan. Logikanya, proses produksi membutuhkan bahan baku (persediaan). Kalau proses produksi terhambat karena masalah internal, maka barang2 persediaan perusahaan juga tidak bisa digunakan untuk produksi.  

Selain itu, perputaran persediaan terlalu kecil dapat menghadapkan  perusahan pada biaya penyimpanan, risiko keuasangan, kerusakan fisik yang dapat meningkatkan biaya bagi perusahaan. Sebaliknya, tingkat perputaran persediaan terlalu cepat akan berdampak pada volume penjualan perusahaan. 

Misalnya, perputaran persediaan terlalu cepat kurang baik untuk perusahaan, karena perusahaan akan kesusahan apabila stock persediaan kosong. Jika ada pelanggan memesan barang yang sifatnya urgent, atau bahan baku perusahaan tidak bisa datang dalam waktu cepat, maka perusahaan tidak akan bisa memenuhi volume penjualan. Means, perusahaan tidak bisa memenuhi keinginan pelanggan. 

Lalu yang jadi pertanyaan, seberapa besar perputaran persediaan dikatakan bagus?

Perputaran persediaan yang baik dari setiap perusahaan harus memiliki patokan sendiri. Hal ini dikarenakan setiap sektor usaha pasti memiliki perputaran persediaan yang berbeda. Perputaran persediaan sektor batu bara pasti berbeda dengan perputaran persediaan sektor manufaktur.

Jika Anda ingin melihat perputaran persediaan perusahaan yang baik, Anda harus membandingkannya dengan sektor industri sejenis. Kemudian, Anda buat garis tren selama beberapa tahun terakhir.  

2. Perputaran Piutang Usaha

Rasio perputaran piutang usaha digunakan untuk menunjukkan seberapa efisien perusahaan dalam menagih piutang usaha dari penjualannya menjadi kas. Rumus piutang usaha adalah sebagai berikut.



Semakin cepat / besar perputaran piutang, artinya semakin cepat perusahaan dalam melakukan penagihan piutang. Semakin cepat perusahaan melakukan penagihan piutang, semakin banyak kas yang diperoleh perusahaan. Kas adalah aset lancar perusahaan yang paling likuid. Jika perusahaan memiliki banyak kas, maka likuiditas perusahaan bagus.  

Perputaran piutang yang besar artinya bisa juga seperti ini: perusahaan dapat meminimalkan cadangan piutang piutang tak tertagih dalam penjualannya selama operasi berjalan. Kalau cadangan piutang tak tertagih perusahaan semakin besar, akibat perusahaan nggak mampu menagih piutang, ya sama saja bohong kan perusahaan melakukan dagang? Kalau piutang benar2 tak tertagih, maka nggak ada uang yang diterima perusahaan.  

Jadi dalam analisis fundametal saham Anda harus hati2, kalau aset lancar perusahaan guedee banget, belum tentu perusahaan tersebut benar2 likuid. Anda harus lihat dahulu komponen aset lancar yang paling berpengaruh. Kalau ternyata aset lancar yang paling signifikan adalah piutang usaha, sedangkan kas-nya kecil, maka hal itu bisa mengindikasikan kalau perputaran piutang perusahaan kurang baik. 


3. Perputaran Aset Total

Rasio perputaran aset total menunjukkan seberapa efektif kemampuan manajemen perusahaan dalam menggunakan aset2 perusahaan untuk menghasilkan penjualan yang lebih besar. Rumus perputaran aset total adalah sebagai berikut. 



Perputaran aset dapat naik apabila:

- Penjualan bersih naik dan aset mengalami penurunan.
- Penjualan bersih naik dan aset stagnan
- Penjualan bersih naik dan aset naik, namun kenaikan penjualan lebih besar.

Sedangkan perputaran aset akan turun apabila:

- Penjualan bersih turun dan aset mengalami peningkatan
- Penjualan bersih turun dan aset stagnan 
- Penjualan bersih naik dan aset naik, namun kenaikan penjualan lebih kecil. 

Apabila nilai perputaran aset perusahaan besar / meningkat, implikasinya: Perusahaan dapat memanfaatkan aset2nya untuk menghasilkan penjualan yang besar. Artinya begini: Dengan aset yang kecil (aset stagnan atau turun), suatu perusahaan dapat memaksimalkannya menjadi penjualan yang lebih besar. Atau, dengan kenaikan aset yang tidak terlalu besar, perusahaan tetap mampu menghasilkan penjualan yang besar. Perputaran aset yang meningkat menunjukkan keefektifan manajemen dalam memaksimalkan penjualan dari aset2nya. 

Jika Anda ingin menetukan apakah perputaran aset perusahaan tergolong bagus atau tidak, Anda harus membandingkannya dengan sektor usaha sejenis. Mengapa? Karena perputaran aset dari perusahaan jasa dan manufaktur sudah pasti berbeda. Perputaran aset perusahaan jasa mungkin saja tidak segede pada perusahaan manufaktur. 

Demikianlah penjelasana mengenai rasio aktivitas. Dalam mengambila keputusan investasi saham, Anda memerlukan rasio ini untuk mengetahui keefektifan "kondisi manajemen" dalam kinerjanya.

Baca juga rasio2 keuangan lainnya: 

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Likuiditas
Analisis Rasio Keuangan: Solvabilitas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas / Rentabilitas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Pasar

Analisis Fundamental Saham - Return on Asset (ROA)

Baca juga: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas / Rentabilitas.

Return on Asset (ROA) adalah salah satu rasio penting dalam dunia investasi saham dan keuangan yang sering dijadikan tolok ukur investor dalam berinvestasi di sebuah perusahaan. Apa perlunya Anda mengetahui ROA perusahaan? 

ROA termasuk dalam salah satu rasio profitabilitas. Baca juga: Baca juga: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas. ROA digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan tingkat pengembalian atas aset menjadi laba bersih.  Masih bingung dengan pengertian ROA diatas?

Lebih mudahnya begini: ROA adalah sejauh mana kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih dari aset total yang dimiliki. Sesuai definisinya, maka rumus ROA adalah sebagai berikut.

Cara menghitung ROA sangat mudah. Misalnya diketahui:

Laba bersih PT A: Rp10.000
Aset total PT A: Rp2.000
Maka ROA adalah: Rp10.000 / Rp2.000 = 5 kali. 

Baca juga: Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part I. Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part II. Kalau ROA semakin besar artinya semakin bagus. Sebelum saya membahas lebih dalam tentang ROA, saya ingin menjelaskan faktor2 yang menyebabkan ROA naik dan ROA turun (berdasarkan rumusnya).

Penyebab Kenaikan ROA

1. Laba bersih naik, aset total turun.
2. Laba bersih naik, aset total stagnan.
3. Laba bersih dan aset total naik (kenaikan laba lebih besar dibandingkan aset total). 

Penyebab Penurunan ROA

1. Laba bersih turun, aset total naik.
2. Laba bersih turun, aset total stagnan.
3. Laba bersih dan aset total turun (penurunan laba bersih dibandingkan aset total).

ROA naik implikasinya berarti: Dengan sumber daya yang dimiliki (aset total), perusahaan mampu memaksimalkannya menjadi laba bersih. Hal ini berarti, dengan aset2 yang dimiliki perusahaan, perushaaan mampu memanfaatkan aset2nya dengan baik, sehingga bisa menghasilkan keuntungan bagi perusahaan. Terlebih lagi jika Anda menemukan perusahaan yang aset totalnya turun atau stagnan, tetapi laba bersih naik terus, hal ini bisa mengindikasikan: Dengan aset yang sedikit, perusahaan tetap mampu memaksimalkan kinerjanya, sehingga bisa menghasilkan laba bersih yang besar. 

Nah, itulah pentingnya ROA. Sudah paham? Lalu apa kegunaan ROA dalam investasi saham? Saya berikan ilustrasinya. 

Katakanlah Anda sedang menganalisis emiten2 sektor infrastruktur. Akhirnya Anda memutuskan untuk memilih antara perusahaan A dan perusahaan B untuk dianalisis. Perusahaan A dan perusahaan B memiliki aset total yang sama / kurang lebih sama. Tetapi, laba bersih perusahaan A jauh lebih besar daripada perusahaan B. ROA perusahaan B ternyata kecil sekali karena labanya juga kecil. Berarti itu artinya, dengan nilai aset yang sama dengan perusahaan B, perusahaan A mampu menciptakan laba yang lebih besar.

Jika dilihat dari sisi ROA, maka perusahaan A lebih menarik untuk dijadikan tempat investasi. Idealnya begini:

Ketika melihat perusahaan A calon investor akan berkata: "Wah, perusahaanmu hebat ya. Bisa menghasilkan laba yang gede. Anda benar2 bisa memanfaatkan sumber daya sebaik mungkin." 

Ketika melihat perusahaan B, calon investor akan berkata: "Lho, Anda punya pabrik dimana-mana, pabrik Anda besar, kendaraan banyak, uang Anda banyak, kok labanya cuman segini?" 

So, dari sisi penilaian investor (dari sisi ROA), perusahaan A akan lebih menarik untuk dijadikan tempat berinvestasi saham, ketimbang perusahaan B.

Gimana, sudah jelas kegunaan ROA?

ROA yang Ideal???

Seperti rasio2 keuangan lainnya, ROA yang ideal (bagus), berarti Anda harus membandingkannya dengan sektor usaha sejenis. Jika ROA perusahaan diatas rata2 industri sejenis, maka perusahaan tersebut layak investasi (dari sisi ROA).

Kalau Anda ingin menganalisis ROA ideal, saran saya Anda lebih baik mencari perusahaan2 yang asetnya besar, dan labanya juga besar. Mengapa? Karena perusahaan yang memiliki aset besar dibandingkan perusahaan2 sejenis lainnya, biasanya adalah emiten yang memimpin sektor nya.

Atau, Anda bisa mencari perusahaan2 yang asetnya tidak terlalu besar, namun pertumbuhan labanya pesat. Biasanya perusahaan2 ini adalah pemain

Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part I

Baca juga: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas / Rentabilitas.

Anda pasti sering mendengar rasio seperti judul pos diatas: Return to Equity (ROE). Para analis fundamental biasanya sering menyarankan membeli (investasi) perusahaan tertentu karena ROE nya meningkat. Sebenarnya apa itu ROE? Dan apa manfaat ROE untuk investor? Mengapa ROE sering dijadikan sebagai salah satu ukuran penting dalam analisis fundamental?

ROE termasuk salah satu rasio profitabilitas. Baca juga: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas. ROE digunakan untuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba bersih dari ekuitas / modal yang dimiliki (baik modal sendiri maupun modal yang disetor oleh pemegang saham). Atau dengan kata lain, mengukur pengembalian atas modal.

ROE menjadi ukuran penting dalam analisis fundamental karena ROE mengukur seberapa besar perusahaan mampu memuaskan kepentingan pemegang saham (yang menanamkan modal di perusahaan). Rumus ROE adalah sebagai berikut.





Cara menghitung ROE sangat mudah. Anda tinggal membagi laba bersih tahun berjalan dengan ekuitas dalam laporan perubahan ekuitas. Saya menggunakan contoh laporan keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tahun 2010 (Million Rupiah). Diketahui:

Laba bersih: 2.103.652
Ekuitas (shareholders equity) 2010: 7.457.257
ROE: Laba bersih / ekuitas: 2.103.652 / 7.457.257 x 100%: 28,21%. 

Penyebab kenaikan ROE

Kalau berdasarkan rumus diatas, ROE bisa meningkat apabila: 

1. Laba bersih perusahaan mengalami peningkatan sementara ekuitas stagnan.
2. Laba bersih mengalami peningkatan dan ekuitas turun.
3. Laba bersih mengalami peningkatan dan ekuitas juga meningkat, tetapi persentase peningkatan laba bersih lebih tinggi. 

Penyebab penurunan ROE

Sedangkan jika mengacu pada rumus ROE diatas, ROE akan turun apabila:

1. Laba bersih perusahaan mengalami penurunan sementara ekuitas stagnan.
2. Laba bersih mengalami turun dan ekuitas meningkat.
3. Laba bersih mengalami penurunan dan ekuitas juga turun, tetapi persentase penurunan laba bersih lebih besar.  

Yang jadi pertimbangan dalam investasi saham, ROE yang selalu meningkat dari tahun ke tahun atau setidaknya berada dalam tren naik selama beberapa tahun, berarti: Pertama, perusahaan tersebut mampu memaksimalkan tingkat pengembalian ekuitas untuk menghasilkan laba bersih. Kedua, ROE naik artinya perusahaan bisa memuaskan kepentingan pemegang saham. 

Ketiga. ROE yang meningkat juga memiliki implikasi: Dengan ekuitas yang lebih kecil (dibandingkan persentase ekuitas sebelumnya atau laba bersih) perusahaan mampu memaksimalkan ekuitasnya untuk menghasilkan laba bersih yang besar. Berarti kalau ROE besar dan bisa naik secara stagnan, perusahaan tersebut layak investasi (dari sisi ROE). 

Bagaimana jika ROE perusahaan turun? Apakah berarti perusahaan tersebut jelek? Belum tentu. Anda harus melihat komponen2 yang menyebabkan penurunan ROE. Misalnya: Perusahaan2 yang baru go public biasanya cenderung memiliki komponen ekuitas yang besar, karena perusahaan pada awal go public akan selalu suntik modal untuk ekspansi, sehingga kalau ROE turun, maka hal itu bukanlah masalah yang terlalu besar. 

Kalau ROE perusahaan turun karena perusahaan tidak bisa mencetak laba yang besar / mencetak kenaikan laba. Atau ROE turun karena ekuitas perusahan besar sekali, walaupun laba naik (kenaikan ekuitas lebih besar dari laba) artinya: Pertama, perusahaan tidak mampu memaksimalkan sumber dayanya (ekuitas) untuk mencetak profit yang besar. 

Kedua. Perusahaan tidak mampu memuaskan kepentingan pemegang saham. Ingat, bahwa komponen ekuitas adalah dividen (saya bahas di Part II). Baca part II: Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part II. Kalau ekuitas perusahaan besar walaupun laba besar (sehingga ROE tetap turun), bisa jadi karena perusahaan tidak menggunakan sumber dayanya untuk memuaskan kepentingan pemegang saham (membagi dividen yang besar). 

Jika ROE perusahaan turun karena alasan2 tersebut, maka bisa jadi perusahaan tersebut tidak layak investasi (dari sisi ROE).

"Berarti kalau ROE perusahaan turun karena perusahaan nggak mau bagi dividen besar, perusahaan tersebut nggak layak investasi ya Bung Heze?" Tanya Anda

Untuk menjawab pertanyaan Anda, silahkan baca ke part II: Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part II. 

ROE paling ideal

"Bung Heze, berapa ROE paling ideal?" Tanya Anda

Ini adalah pertanyaan yang pasti ada di benak investor. Saya jawab: tidak ada ukuran pasti. Kalau Anda ingim tahu ROE perusahaan tergolong layak investasi atau tidak, ada 2 cara yang bisa Anda lakukan. Pertama, cek grafik tren ROE paling tidak 3-5 tahun kebelakang. Kalau ROE perusahaan secara tren naik, maka perusahan tersebut layak investasi (dari sisi ROE). 

Tapi kalau saya nemu ROE perusahaan 10% apakah itu adalah angka yang bagus atau kurang Bung Heze?

Nah itu dia. Ukuran angka ini mungkin bisa membingungkan. Oleh karean itu, kalau Anda masih belum puas dengan cara pertama maka cara kedua adalah dengan membandingkan ROE dengan satu sektor industri sejenis. Misalnya: Ultrajaya (ULTJ) bisa Anda bandingkan dengan Siantar Top (STTP), Sekar Bumi (SKBM) dan perusahaan industri sejenis lainnya.

Kemudian, Anda lihat jika ROE perusahaan yang Anda analisis diatas rata2 ROE industri, maka perusahaan tersebut bisa dikatakan bagus untuk investasi (dari sisi ROE).  Karena jika perusahaan memiliki ROE melebihi rata2 industri, maka perusahaan tersebut adalah perusahaan yang bisa memaksimalkan profit dan bisa memuaskan kepentingan pemegang saham dibandingkan perusahaan2 sejenis lainnya.

ROE dan Dividen

Sesuai kegunaannya, ROE salah satunya menunjukkan seberapa besar perusahaan mampu memuaskan kepentingan pemegang saham. Implikasi tersebut sangat berkaitan dengan dividen. Apa hubungan antara ROE dan dividen? Silahkan baca tulisan saya di Part II: Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part II.

Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part II


ROE dan Dividen

Di Part I, sudah saya jelaskan bahwa ROE yang besar (meningkat) berarti perusahaan mampu memberikan imbal hasil kepada para pemegang saham. Artinya, bisa jadi ROE yang besar berarti perusahaan bisa memberikan DIVIDEN yang besar kepada pemegang saham.

Lho kok bisa begitu Bung Heze? Memangnya apa hubungannya?

Sabar bro.. Saya jelaskan pelan2. Kita mulai membedah sedikit laporan keuangan perusahaan. 

Kalau Anda membuka laporan keuangan perusahaan, tepatnya pada bagian laporan perubahan ekuitas, salah satu komponen ekuitas adalah DIVIDEN. Dividen ini akan dikurangkan dari Total Laba Komprehensif Tahun Berjalan alias Laba Bersih. Salah satu komponen total saldo laba dalam ekuitas peusahaan adalah laba bersih. Kalau laba bersih perusahaan semakin besar, maka saldo laba perusahaan juga turut mengalami peningkatan. Kalau saldo laba perusahaan naik, maka perusahaan berpeluang membagikan dividen yang besar. 

Silahkan lihat laporan perubahan ekuitas perusahaan ADHI tahun 2011 (terutama yang saya beri stabilo kuning). 
(Klik gambar untuk memperbesar)

Pada laporan perubahan ekuitas diatas, tampak jelas bahwa salah satu pengurang saldo laba (Saldo Laba per 31 Desember 2011) adalah pembayaran dividen itu sendiri. 

[Catatan: Laba bersih yang besar belum tentu diikuti pembgian dividen yang besar. Tidak ada rumus untuk itu, semua tergantung pada kebijakan masing2 perusahaan. Bisa saja, laba besar tetapi dividen yang dibagikan kecil. Pada umumnya, perusahaan yang mengalami kenaikan laba, juga membagikan dividen yang lebih besar pada pemegang saham].

Dividen besar means perusahaan dapat memuaskan kepentingan pemegang saham. Logikanya, semakin besar dividen, maka semakin besar kekayaan pemegang saham. Jika Anda belum mengetahui tentang pengumuman dividen, silahkan baca: Membaca Pengumuman Dividen. 

Lalu apa hubungannya dengan ROE?

Tadi sudah saya tuliskan: "Bisa jadi ROE yang besar berarti perusahaan bisa memberikan DIVIDEN yang besar kepada pemegang saham". Artinya, kalau ROE meningkat karena perusahaan membayar dividen yang besar (membayar kenaikan dividen), sehingga mengurangi komponen ekuitas, maka ROE perusahaan otomatis akan naik. Ingat, jika ekuitas berkurang dan laba naik maka dapat meningkatkan ROE perusahaan. 

Bagaimana jika ekuitas perusahaan besar sekali, tetapi laba perusahaan juga meningkat, tetapi menurunkan nilai ROE? 

Tadi sudah saya jelaskan bahwa salah satu komponen pengurang ekuitas perusahaan adalah dividen itu sendiri. Kalau Anda perhatikan lagi komponen laporan keuangan ADHI diatas, atau kalau Anda perhatikan laporan keuangan emiten, rata2 pengurang dalam komponen ekuitas (saldo laba) adalah pembayaran dividen. 

Jadi, kalau ekuitas besar sekali dan laba perusahaan meningkat tetapi ROE turun, bisa jadi hal tersebut dikarenakan perusahaan tidak memaksimalkan sumber dayanya untuk membagi dividen yang besar pada investor. Mungkin secara kasat mata dividen yang dibagikan naik, tetapi kalau ekuitas perusahaan besar sekali, perusahaan harusnya mampu membagikan dividen lebih tinggi. 

Tetapi sekali lagi, Anda tidak bisa langsung buru2 menyimpulkan bahwa perusahaan yang nggak mau bagi dividen besar adalah perusahaan yang tidak layak investasi. Perusahaan memiliki hak untuk tidak membagi dividen / membagi dividen kecil, karena perusahaan sedang ekspansi. So, perusahaan yang tidak membagi dividen besar, yang menyebabkan ROE turun, mungkin tidak 100% bisa Anda simpulkan sebagai perusahaan yang buruk. Anda harus tahu motif perusahaan tidak membagi dividen melalui catatan atas laporan keuangan.

Di satu sisi, ekuitas yang besar bisa jadi karena perusahaan melakukan aksi korporasi seperti right issue. Right issue menambah modal perusahaan, sehingga meningkatkan ekuitas. Contoh perusahaan yang melakukan right issue, adalah PT Nippon Indosari Corpindo (ROTI). Sehingga, bisa jadi ROE perusahaan turun karena adanya right issue yang menambah modal perusahaan secara signifikan. Berikut laporan keuangannya (lihat tanda stabilo kuning).  

Klik gambar untuk memperbesar

Jadi itulah pentingnya ROE dalam analisis rasio keuangan, analisis rasio profitabilitas, dan lebih2 analisis fundamental saham (kalau Anda mau investasi saham di perusahaan). ROE begitu penting karena salah satunya menunjukkan sejauh mana ukuran perusahaan mampu memuaskan pemegang saham. Lah kalau perusahaan aja nggak mampu memuaskan Anda sebagai pemegang saham, lebih baik jual saja sahamnya. Iya kan?