Monday, August 08, 2016

Kenali Saham Gorengan di Indonesia

Di pasar modal Anda pasti sering mendengar istilah saham gorengan. Saya rasa semua orang bisa mendefinisikan saham gorengan. Ya, saham gorengan adalah saham yang pergerakannya tidak likuid dan mudah dipermainkan oleh bandar saham. Kalau boleh saya katakan, saham gorengan ini banyaknya malah di Indonesia. 

Lha, kenapa begitu? Tanya Anda.

Sebenarnya ada kaitannya dengan Hipotesis Pasar Efisien. Namun, saya tidak akan membahas lebih banyak tentang topik tersebut (suatu saat akan saya bahas di pos tersendiri). Berhubung di Indonesia ini banyak saham2 gorengan, maka yang perlu Anda ketahui adalah bagaimana mengenali ciri2 saham gorengan. Oke, here we go.

Pertama. Saham gorengan tidak likuid. Tidak likuid artinya kapitalisasi pasarnya* kecil, tidak banyak terjadi aktivitas jual-beli pada saham tersebut. Bisa dikatakan juga, antrian bid-offernya hanya sedikit. Saham2 yang tidak likuid akan lebih mudah dipermainkan oleh bandar, dibandingkan saham2 likuid dengan kapitaliasasi pasar besar dan jumlah antrian bid-offer yang sangat banyak. 

* Kapitalisasi pasar adalah jumlah saham beredar x harga saham perusahaan. 

Kedua. Pola grafiknya sangat tidak beraturan. Volume tidak stabil, seringkali grafik terbentuk dengan volume kecil, tiba2 volume jadi sangat besar tanpa penyebab yang jelas. Harga saham nggak bergerak, pada saat2 tertentu saham naik kencang, lalu turun drastis dengan sangat cepat. 

Anda ingin lihat contoh pola grafik saham gorengan? Berikut adalah contohnya, saham berkode PRAS.



Tampak jelas sekali, inilah contoh grafik saham gorengan. Volume sangat tidak stabil. Seringkali volume tidak muncul, tiba2 muncul dengan volume besar. Saham sering tidak di-tradingkan (lihat tanda persegi). Kemudian sesekali harga saham naik dan turun begitu drastisnya dengan volume besar (lihat tanda panah). Saham2 dengan grafik seperti ini tidak dapat dianalisis dengan analisis teknikal. 

Ketiga. Harga saham cenderung relatif rendah, biasanya dibawah 1.000. Mengapa relatif rendah? Karena semakin kecil harga saham, semakin kecil pula dana yang Anda butuhkan untuk membeli saham. Kemungkinan besar, dan seringkali terbukti saham2 yang digoreng oleh bandar justru adalah saham2 yang harganya rendah,  bahkan saham gocap akan kerap mudah menjadi incaran bandar.

Masih ingat ketika saham BUMI yang sudah menjadi gocap kemudian digoreng kembali? Tepatnya pada tanggal 9 Juni 2016, saham BUMI  masih tidur nyenyak, pada harga Rp50, tetapi tiba2 saja volume membesar. Dan benar saja, keesokan harinya saham BUMI tiba2 bergerak naik sampai kena auto reject kanan. Keesokan harinya lagi, kena AR kanan sampai ke harga 90. Cepat sekali bukan? 

Tiba2 dalam beberapa hari harganya langsung turun drastis, dan sampai saat pos ini ditulis harganya kembali ke 68. Anda bisa lihat grafiknya dibawah. Jelas sekali inilah contoh saham gorengan - Saham BUMI.



Catatan: Harga saham cenderung rendah tidak selalu saham gorengan. Harga saham yang agak tinggi, bisa juga adalah saham gorengan. Namun, secara umum saham gorengan adalah saham2 yang harganya rendah / murah. 

Mengapa saham2 murah (yang tidak likuid) banyak yang digoreng? Dari sisi psikologis, orang akan lebih "senang" melihat saham murah ketimbang mahal, karena lebih mudah untuk membeli sahamnya. Investor ritel di pasar modal dengan modal terbatas sangat buannyakk.. Sehingga, dengan harga saham relatif rendah, bandar lebih mudah mengajak Anda para investor ritel dengan dana kecil agar ikut2an masuk di saham sudah direncanakan bandar, dan ujung2nya jadilah nyangkuters.. 

Keempat. Kebanyakan emiten bermasalah. Emiten mengalami masalah utang, track record direksi yang buruk, kebakaran pabrik dan lain-lain. Emiten yang bermasalah biasanya harga sahamnya cenderung turun drastis. Ketika terjadi penurunan harga saham, bandar bisa menaikkan harga saham secara tidak wajar sewaktu-waktu. Meskipun demikian, perlu Anda ketahui bahwa tidak semua saham gorengan adalah emiten2 yang memiliki masalah internal.   

Contohnya, BUMI. Contoh lainnya adalah SIAP, TRAM. 

Kelima. Naik turunnya harga saham tidak pasti. Seperti yang saya paparkan di poin kedua, harga saham gorengan tidak menentu, dan tidak dapat dideteksi oleh analisis teknikal.  

SAHAM GORENGAN ATAU BUKAN????????

Di Facebook Belajar Saham, seringkali saya sering menerima pertanyaan dari rekan2: "Pak, ada rekomendasi saham gorengan nggak?" "Pak, saham gorengan itu apa aja?" 

Nah, kalau Anda ingin tahu daftar saham gorengan yang ada di pasar saham Indonesia, maka saya nggak akan memberikan daftarnya.

"Lho, kenapa? Kok pelit banget" Protes Anda. 

Menentukan saham gorengan atau bukan adalah penilaian yang agak SUBJEKTIF. Apa artinya? Artinya setiap orang, setiap broker, setiap dari Anda, bisa saja memiliki interpretasi yang berbeda-beda untuk menentukan apakah saham A, saham B, saham C termasuk dalam jenis saham gorengan atau bukan. Tidak percaya? Saya beri contoh. 

Saham Sri Isman Rejeki (SRIL) adalah saham LQ45 selama beberapa perioda - saat pos ini ditulis SRIL masih masuk anggota LQ45. Tetapi, banyak trader yang menyebut SRIL adalah saham gorengan. Harga saham SRIL selalu sideways. Tiba2 dengan volume besar SRIL naik kencang, hanya satu-dua hari, lalu turun lagi dengan cepat... Berarti SRIL juga saham gorengan? Dipikir-pikir, iya juga sih....  

Tapi kalau dibilang gorengan kok masuk LQ45? Nah inilah, subjektifitas penilaian setiap orang terhadap saham gorengan bisa saja berbeda. Itulah mengapa saya tidak pernah memberikan daftar saham gorengan, bahkan memberikan rekomendasi saham gorengan. Toh, saya juga nggak punya teman bandar. 

Bagaimana, Anda sudah paham tentang saham gorengan? 

Sunday, August 07, 2016

Analisis Teknikal Saham Vs Bandarmologi ?

Seorang trader (Anda, saya) membeli sebuah saham dengan harapan harga saham akan naik dimasa mendatang. Lalu, darimana Anda bisa begitu yakin dan berharap kalau saham yang Anda beli harganya akan naik dimasa mendatang?

"Menggunakan analisis teknikal" Jawab Anda. 

Ya, saya setuju dengan Anda. Namun pernahkah (bahkan sering) Anda melihat harga saham yang naik-turun begitu cepat, seenaknya sendiri dan seakan sama sekali tidak bisa "dideteksi" melalui analisis teknikal? Atau, pernahkah Anda membeli saham (mungkin saham2 yang kurang likuid) yang secara analisis teknikal sudah rebound, tetapi harga sahamnya malah berantakan? 

Bukankah saham2 di pasar modal itu digerakkan oleh tangan2 manusia? Jadi, apa gunanya grafik teknikal? Grafik kan "cuma" pergerakan harga masa lalu? Bagi para penganut random walk theory, mereka menyatakan bahwa analisis teknikal dan fundamental itu tidak memberikan efek, karena pergerakan harga saham bersifat acak dan tidak dapat dideteksi melalui grafik. Artinya, penganut teori ini tidak mempercayai konsep analisis teknikal: History Repeat Itself. Silahkan baca pos saya: Prinsip-prinsip Dasar Analisis Teknikal. 

Salah satunya sebenarnya bisa dibuktikan dengan harga saham yang tidak bisa dideteksi secara teknikal itu tadi. Yaitu saham2 yang digerakkan oleh tangan bandar. Ilmunya adalah bandarmologi. Dan percayalah, Anda maupun saya yang notabene adalah investor ritel dengan modal biasa2 saja nggak akan pernah bisa mengalahkan si bandar (mereka sering bekerja lebih dari satu orang untuk menghancurkan harga saham) yang memiliki modal gede, dan kesempatan besar untuk mempermainkan harga saham.

Lalu pertanyaannya kalau memang seperti demikian, apa gunanya analisis teknikal? Masih bergunakah analisis teknikal untuk trading saham? Jadi siapa yang lebih kuat: Analisis teknikal atau bandar?

Berhubung saya adalah penganut analisis teknikal murni, maka saya akan menjawab bahwa analisis teknikal tetaplah sangat amat berguna. Tetapi, saya harus akui bahwa di pasar modal bandar akan selalu "berkeliaran", untuk meraup keuntungan dan tidak peduli Anda mau untung atau rugi. 

Sehingga, saham2 yang digerakkan oleh tangan2 bandar, menyebabkan analisis teknikal menjadi kurang berguna. Tidak semua saham bisa dengan mudah digerakkan bandar. Artinya, analisis teknikal memang bermanfaat sebagai alat analisis, tetapi tidak untuk semua saham. 

Saya yakin semua saham, selikuid apapun pasti tetap ada bandarnya. Hanya bedanya, saham2 likuid tidak akan mudah digoreng, karena jumlah transaksi dan uang masuk-keluarnya yang sangat besar. 

Kalau Anda sudah tahu di pasar modal bandar pasti berulah. Dan kalau Anda sudah merasakan pahitnya rugi di saham gorengan, maka ya hindarilah saham2 tersebut. Bagaimana cara melihat ciri2 saham gorengan di Indonesia? Baca pos: Kenali Saham Gorengan di Indonesia.. 

 Kalau mau trading, saya sarankan trading-lah di saham2 likuid, yaitu saham2 LQ45. Akan lebih baik lagi kalau Anda trading di saham2 yang sudah Anda pahami pola teknikalnya. Baca pos: Jaminan Cuan: Jaminan Cuan: Tips Memilih Saham untuk Trading - Part I. Baca Part II: Jaminan Cuan: Tips Memilih Saham untuk Trading - Part II.

Thursday, August 04, 2016

Pengaruh Berita dan Keputusan Trading Saham

Di pasar modal akan selalu ramai dengan berita pasar, berita emiten, berita lain2 yang ada kaitannya dengan naik-turunnya IHSG. Setiap ada good news, IHSG bisa langsung melejit. Sebaliknya, ketika ada bad news, IHSG langsung ambruk. Contohnya: Ketika terjadi Brexit (Britain Exit), IHSG langsung anjlok, padahal sejatinya pengaruh Brexit ke Indonesia tidak ada pengaruh secara langsung. 

Jadi seumpama ada berita2 seperti ini:

Nilai ekspor Indonesia bulan ini turun drastis. Apakah itu artinya Anda tidak trading dulu hari itu?

Indeks Asia dibuka sumringah. Apakah itu artinya saatnya Anda trading dan beli saham banyak2?

The FED akan menaikkan suku bunga. Apakah itu artinya Anda tidak usah trading sampai The FED menurunkan suku bunganya?

Laba SMGR semester ini naik dibandingkan perioda yang sama tahun lalu. Apakah itu artinya Anda segera beli saham SMGR?

Jika Anda jawab YA, maka Anda harus banyak belajar analisis teknikal, jangan terpaku pada berita. Berita bukanlah patokan Anda mengambil keputusan trading, tetapi berita ada untuk Anda cermati. Dan satu lagi, berita ada untuk menambah wawasan Anda. Bukan untuk keputusan final jual beli saham. Mengapa demikian?

Saya kasih satu contoh, dari sekian banyak contoh. Kemarin sebelum pasar saham buka, saya baca berita tentang muramnya pasar ASEAN akibat tingginya impor baja dari China. Sebagaimana Anda tahu, barang produk China sangat kuat di pasaran karena harga murah, tapi kualitasnya nggak murahan. China bisa menekan biaya produksi seminimal mungkin. Ketika impor baja meningkat, hal itu turut menekan kelangsungan industri2  baja di Indonesia. Dalam berita Kontan, disebutkan, salah satunya perusahaan baja di Indonesia yang terbesar yaitu PT Krakatau Steel (KRAS). 

Artinya, seharusnya saham KRAS hari itu juga akan turun kan. Tetapi? Pada penutupan, KRAS malah naik sebanyak 6,35%. Dan waktu itu, KRAS memang sudah menunjukkan teknikal rebound, baik dari indikator stochastic, momentum, A/D. Hal ini mengindikasikan bahwa berita bukanlah dasar keputusan untuk membeli dan menjual saham. 

Namun, bukan berarti berita itu tidak penting. Jika berita itu adalah berita yang memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap IHSG, Anda harus peka. Contohnya, ketika Anda mengamati nilai tukar Rupiah terus turun, banyak sektor usaha rugi, tapi IHSG naik terus seperti pada tahun 2015. Nah, ini yang perlu Anda waspadai. Itu adalah indikasi "bubble" ekonomi. Kalau sudah melihat indikasi seperti itu, suatu saat "gelembung"-nya akan meletus. Artinya, Anda harus cepat2 keluar dari pasar dan usahakan jangan trading dulu (wait and see). 

Tapi inti dari pos ini adalah mengajarkan Anda supaya jangan terlalu latah dengan berita. Inti dari trading saham itu sebenarnya cuma satu: Analisis Teknikal. Silahkan baca pos: Prinsip-prinsip Dasar Analisis Teknikal. Coba Anda bayangkan, apakah Anda bisa mengambil keputusan objektif jika Anda memiliki terlalu banyak berita2 informasi? Tentu tidak kan?

Dalam trading saham, banyak trader yang masih sering mengandalkan berita. Laba PT A naik, berarti harga sahamnya bakal naik. Tidak seperti itu. Kalau Anda adalah seorang teknikalis, yang perlu Anda perhatikan adalah momentum-nya (analisis teknikal). So, kalau Anda mau trading saham, fokuslah saja belajar analisis teknikal. Baca pos: Panduan Belajar Analisis Teknikal Saham/Forex. 

Trading Saham: Ekspektasi Vs Realita

Ucok dan timnya akan menjalani pertandingan basket sebatas di Kota-nya. Kalau memang lolos, tim Ucok akan langsung dikirim untuk bertanding di kejuaraan kampus se Jawa Timur. Kalau lolos lagi, naik level bertanding di tingkat nasional. Dan kalau performa tim Ucok luar biasa, tim Ucok punya kesempatan besar untuk bertanding dengan para pemain NBA.

Karena punya kesempatan untuk menjajal dan bertemu dengan pemain NBA, tim Ucok langsung memikirkan strategi bagaimana caranya mengalahkan pemain NBA dengan postur dan badan yang lebih besar.  Ekspektasi Ucok yang terlalu besar untuk bertemu dengan para pemain NBA, bukannya membuat tim Ucok bertemu dengan pemain NBA dan bertanding, malah membuat tim Ucok tidak lolos di pertandingan basket di kotanya. 

Dari kasus diatas, dapat ditarik suatu kesimpulan, kira2 seperti ini: 

"Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Kalau dalam kasus ini berarti: "Ekspektasi yang berlebihan itu tidak baik."

Yang menyebabkan kegagalan tim Ucok dalam meraih kejuaraan basket di kotanya adalah karena tim Ucok tidak fokus pada pertandingan yang dihadapinya, namun malah fokus pada eskpektasinya yang terlalu tinggi untuk menjajal kemampuan pemain NBA.  

Terus Bung Heze, apa hubungannya sama trading saham?

Trading saham sering diidentikkan sebagai profit yang besar. Sehingga, hal tersebut membuat seorang trader pemula melupakan REALITA dan cenderung ber-eskpektasi terlalu tinggi. Ekspektasi yang terlalu tinggi tersebut antara lain: baru belajar trading berharap dapat untung 30%, 40%, 50% per bulan. Seorang pemula, mungkinkah?

Mungkin saja. Tapi kebanyakan trader pemula (baru trading beberapa bulan) yang bisa profit besar di awal2, tidak menutup kemungkinan akan terkena rugi besar pada transaksi saham berikutnya. Hal ini dikarenakan seorang pemula masih perlu banyak belajar, dan membentuk mental serta psikologi trading yang benar. 

So, lebih baik tinggalkan ekspektasi2 Anda yang terlalu tinggi, karena ekspektasi adalah ibarat mimpi. Namanya juga mimpi pasti belum terwujud. Kalau Anda terus bermimpi, Anda tidak akan bisa fokus dalam trading Anda. Para trader yang terlalu banyak bermimpi akan dapat profit dalam sekejap mata, yang ada bukannya untung malah buntung. 

Lalu apa yang harus saya lakukan Bung Heze?

Yang harus Anda lakukan adalah: MENERIMA REALITA. Kalau Anda memang rugi, terimalah realita itu. Kalau Anda belum bisa dapat profit segede trader2 lainnya, terimalah realita itu. Kalau IHSG naik tapi saham Anda turun, terimalah realita itu. Kalau saham Anda beli terus langsung turun, terimalah realita itu. Jangan meng-kambinghitam-kan pasar saham sebagai tempat judi atau menyalahkan orang lain, atau marah karena tidak sesuai ekspektasi Anda. 

Perlu Anda pahami:
"Trader yang siap menerima realita adalah trader yang siap untuk bangkit dan belajar". 
Satu-satunya cara supaya Anda mendapatkan profit konsisten dan pada akhirnya mencapai profit yang besar, hanyalah menerima realita, terus BELAJAR dan BERPROSES. Hmmm.. kedengarannya sih mudah, tapi tidak jarang trader yang sulit menerima realita. Kalau rugi menyalahkan pasar, orang lain, broker. Padahal, kerugian yang terjadi adalah murni karena kesalahan trader itu sendiri. Kerugian yang dialami disebabkan karena karena trader terlalu banyak ber-ekspektasi dan melupakan proses. 

Seseorang yang banyak ber-eskpektasi biasanya cenderung kehilangan fokus dalam trading. Karena pikirannya profit besaaarrr melulu, pengambilan keputusan menjadi tidak objektif. Waktu pasar saham bullish kencang, beli saham sebanyk-banyaknya, euforia berlebihan. Waktu pasar saham turun, langsung panik, stress, nggak bisa tidur. 

So, mulai sekarang hilangkan ekspektasi Anda yang berlebihan, dan mulailah menerima realita dari hasil trading Anda. Kalau prinsip saya, trading harusnya dibuat enjoy aja.. Jadi nggak ada yang namanya nggak bisa tidur, mau makan nggak enak, mau beraktivitas nggak enak hanya karena saham. Enjoy dalam trading bisa dicapai kalau Anda terus belajar dan berproses. 

Wednesday, August 03, 2016

Jaminan Cuan: Tips Memilih Saham untuk Trading - Part II


Tips untung dari trading saya sebenarnya simpel saja, saya menetapkan dua syarat utama, seperti yang sudah saya tuliskan di Part I dan dua syarat tambahan lain.

Pertama. Usahakan trading di saham LQ45. Kalaupun bukan LQ45, harus saham yang likuid, dalam arti analisis teknikal masih tetap bisa memprediksi pergerakan harga dari suatu saham.

Kedua. Saham2 yang secara teknikal familiar dengan saya, sehingga saya sudah bisa dengan jelas membaca support dan resisten. Dan ketika saham tersebut sudah sampai ke daerah support tertentu, saya langsung berani membeli dalam jumlah lot besar.  

Ketiga. Nggak terlalu ambisius dengan target take profit. 

Keempat. Bersyukur. 

Dasar dari semua keputusan saya intinya terletak pada analisis teknikal, bukan yang lain. Dalam trading, saya hampir tidak pernah terpengaruh oleh berita. Katakanlah saya mendegar berita2 seperti, laba PT A naik, Indeks Dow Jones turun, IHSG besok diprediksi naik dan lain-lain. Saya hampir tidak pernah terpengaruh, yang penting kalau saham yang ingin saya beli sudah technical rebound, saya akan beli. Dalam trading, keputusan berani tapi tidak gegabah sangatlah diperlukan.

Kecuali kalau berita2 yang secara signifikan dapat langsung berdampak pada IHSG, seperti pertumbuhan ekonomi. Kita pernah membahas di pos ini: IHSG dan Pertumbuhan Ekonomi. Jika perekonomian Tiongkok jatuh, maka kemungkinan saya mengurungkan niat sementara untuk beli saham, karena ketika IHSG turun signifikan seperti yang terjadi pada tahun 2015, hampir semua saham anjlok. Kalau Anda memaksakan trading terus, yang ada malah jadi nyangkuters..  

Salah satu saham favorit saya, yang paling sering saya trading-kan adalah saham Pakuwon Jati (PWON). Mengapa PWON kok nggak INDF, GGRM, ICBP, HMSP? Kan saham2 tersebut adalah saham blue chip? Kembali lagi pada alasan kedua: Karena saya lebih familiar dengan saham PWON. Selama trading saham, saya paling sering men-tradingkan saham PWON. Berikut adalah transaksi saham PWON saya mulai bulan Januari 2016  - Juli 2016. 


Bagaimana caranya saya dapat cuan terus dari saham PWON? Yaitu dengan "menghafalkan" daerah support dan resisten. Just that! Sedikit bocoran, sebagai contoh: PWON sampai saat pos ini selalu bergerak di range harga pendek:  support 610-620 dan resisten 640-650. Masalahnya, PWON kalau sudah di harga 650, akan turun lagi alias nggak kuat naik. Mendapatkan cuan dengan cara memanfaatkan range pergerakan harga support dan resisten. Ketika PWON sudah turun ke harga support, saya langsung tabrak best offer 615-620, dan target take profit saya adalah 640-645, terlihat tidak terlalu tinggi, tapi tetap bisa dapat PROFIT KONSISTEN, TENANG, DAN PASTI. 

Bagaimana strategi2 dan cara2 saya yang lebih banyak untuk mendapatkan jaminan profit dari saham2 pilihan? Anda bisa mendapatkan banyak strateginya dalam ebook, silahkan klik: Buku Saham yang saya terbitkan untuk Anda. Buku saham saya rancang khusus untuk belajar saham, mengatur emosi dan psikologis investor, dan strategi trading untuk mendapatkan cuan. 

Selain saham PWON, saham yang sering saya trading-kan adalah saham PP Properti (PPRO). PPRO saya pegang sejak harga 190, average up 4x dan saya jual di 330. Beberapa kali membeli saham PPRO, dan pernah juga membeli PPRO di harga 560, take profit di 615. 


Mengapa saya memilih saya PWON, apakah hanya karena faktor teknikal? Salah satunya saya suka trading PWON adalah karena saham ini termasuk dalam LQ45, yang lebih memberikan kenyamanan trading pada saya. Namun, bukan berarti saya menghindari saham2 non LQ45. Kalau Anda lihat lagi, saya juga sering trading saham PPRO yang bukan saham LQ45. Kalau ingin dapat cuan semua kembali lagi: Gunakanlah analisis teknikal, dan usahakan Anda harus familiar dengan pola saham yang Anda tradingkan. 

Jadi, bukan karena saham tersebut adalah LQ45, blue chip, maka Anda pasti bisa dapat cuan. Kalau MOMENTUM-nya nggak pas, ya Anda tetap bisa rugi. 

Dari profit yang saya dapatkan, saya nggak terlalu ambisius mencapai target di harga yang terlalu tinggi. Jika sudah menetapkan target take profit sekian, harus Anda jalankan sistem trading Anda. Dan yang terpenting, jangan lupa bersyukur ketika Anda bisa mendapatkan profit dari hasil trading Anda. 

Tuesday, August 02, 2016

Jaminan Cuan: Tips Memilih Saham untuk Trading - Part I

Saya pernah berbincang dengan salah seorang trader saham di Facebook Belajar Saham, kemudian dari perbincangan tersebut, trader tersebut mengatakan:

"..... Itulah kenapa saya cuma berani trading di saham LQ45, karena di pasar modal banyak bandar yang suka mempermainkan harga. Soalnya, saham LQ45 mengandung risiko yang kecil dan terbukti likuid."

Mungkin tidak sedikit dari kalangan trader, atau mungkin termasuk juga Anda yang hanya berani trading di saham LQ45, karena saham LQ45 mengandung risiko yang kecil. Selain itu, banyak saham LQ45 adalah saham blue chip, yang punya kinerja apik, cemerlang kapitalisasi pasar yang besar. Sehingga implikasinya kalau trading di saham LQ45 pasti bisa dapat cuan. Benarkah begitu? 

[Catatan: Saham LQ45 adalah kumpulan 45 saham di Bursa Efek yang yang paling likuid (aktif diperdagangkan). LQ45 diperbaharui setiap 6 bulan sekali. Pos mengenai saham2 LQ45 akan saya tulis menyusul di pos tersendiri].

Banyak trader pemula yang membeli saham, dengan alasan karena perusahaan tersebut "bagus", likuid, blue chip dan sebagainya. Pokoknya yang bagus2. 

Kalau beli saham, mau beli saham perusahaan apa bro?

Perusahaan Astra aja" Jawab Anda.

Kenapa beli Astra?

"Karena perusahaannya bagus, sudah gitu terkenal" Lanjut Anda. 

Perusahaan "bagus" itu relatif sekali ya. Astra misalnya, saya yakin semua pasti tahu apa itu perusahaan Astra. Astra adalah perusahaan besar, dan sahamnya seperti ASII juga menjadi saham blue chip sampai saat ini. Tapi yang jadi pertanyaan selanjutnya, kalau Anda seorang trader, apakah ketika Anda membeli saham Astra, 100% pasti untung? Sama juga dengan saham LQ45 atau saham2 blue chip lainnya. Apakah dengan membeli saham LQ45 berarti Anda mendapatkan jaminan cuan? Jawabannya: Tidak. 

Dalam melakukan pick stock (pemilihan saham), semua harus didasarkan pada: Pertama, ANALISIS TEKNIKAL. Bukan didasarkan pada saham itu saham LQ45, blue chip dan sebagainya. Memang, ketika membeli saham LQ45 risikonya akan lebih kecil, karena Anda terbebas dari risiko goreng-menggoreng saham. Namun, pada dasarnya seorang trader yang mengerti trading, cuan bisa didapatkan karena mempelajari analisis teknikal (momen). 

Mempelajari analisis teknikal means Anda sudah belajar untuk menghindari saham2 gorengan. Sebagaimana Anda paham sendiri, analisis teknikal pun kesulitan memprediksi pergerakan harga saham gorengan. Hal tersebut dikarenakan saham gorengan bukan "bermain" analisis teknikal, namun lebih ke arah permainan bandarmologi. Baca pos: Trading Saham: Analisis Teknikal Vs Bandarmologi (belum terbit... coming soon). 

Kedua, Tingkat familiar terhadap suatu saham. Seorang trader yang bisa dapat cuan besar dari saham tertentu, belum tentu Anda bisa mendapatkan cuan besar dari saham yang sama. Mengapa demikian? Karena tingkat familiar terhadap suatu saham setiap trader bisa berbeda-beda. Trader A sangat paham dengan grafik saham UNVR, sehingga trader A bisa dapat cuan terus-menerus dari saham UNVR. Namun, hal ini belum tentu berlaku untuk trader B. Bisa saja trader B bisa mendapatkan cuan terus-menerus dari saham MPPA, karena si B lebih familiar dengan pola saham MPPA, ketimbang UNVR. Sah2 saja.    

So, Anda saya sarankan boleh trading dengan memasukkan modal gede pada satu saham HANYA JIKA Anda sudah sangat familiar dengan saham2 tertentu, sehingga Anda sudah paham betul kemana arah saham2 tersebut bergerak. Harus beli di kisaran support berapa, harus jual di resisten berapa, harus wait and see sampai harga turun ke angka berapa. 

Kalau ingin mencoba saham2 yang lain, yang belum pernah Anda beli (belum familiar), tapi masih likuid? Ya oke2 saja. Tapi, saran saya kalau Anda masih belum familiar dengan suatu saham, Anda hanya boleh membeli dalam jumlah lot yang tidak terlalu banyak (kecil), untuk membuktikan terlebih dahulu apakah saham yang Anda beli di harga sekian benar2 naik, atau malah turun. 

$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Percuma saja kalau sahamnya bagus, masuk LQ45 tapi momennya nggak pas. Bisa2 Anda malah rugi. Tidak percaya? Saya berikan satu pengalaman saya. Tahun 2016 saya melakukan cut loss di saham LQ45. Waktu itu saya membeli saham SRIL di harga 288. Teknikal SRIL menunjukkan kalau SRIL sudah rebound. Bukannya naik, harganya malah langsung turun. Harap2 cemas, sahamnya turun terus, akhirnya turun beberapa poin langsung saya cut loss. 

Pengalaman lainnya, saya pernah melakukan cut loss pada saham BRMS, yang notabene adalah saham gorengan. Alih2 dapat untung cepat, malah harus cut loss. Untungnya, saya membatasi kerugian: Turun beberapa poin, langsung jual, jadi saya tida terjebak dalam kerugian yang besar, apalagi sampai jadi nyangkuter. Itulah mengapa di pos: Hindari Day Trading, Cara Instan Jadi Kaya, saya memberi arahan pada Anda untuk terus menghindari keinginan instan untuk bisa cepat kaya dari saham.    

Lalu, bagaimana caranya saya dapat profit di pasar saham? Bagaimana caranya saya bisa dapat jaminan cuan dari trading saham? Bagaimana caranya saya bisa dapat untung konsisten? Benar2 ingin tahu caranya, dan screet shoot beberapa saham yang saya beli? Silahkan simak ke Part II: Jaminan Cuan: Tips Memilih Saham untuk Trading - Part II.

Monday, August 01, 2016

Kumpulan Indeks Saham Dunia

Ketika membaca surat kabar, atau baca2 berita online pasar modal, media masa setiap hari pasti mengumumkan posisi kenaikan atau penurunan indeks saham luar negeri pada hari sebelumnya. Misalnya: 

Bursa Amerika pada perdagangan kemarin ditutup menguat. Indeks Dow Jones ditutup menguat +0.15% ke level 18.406 menyusul naiknya data tenaga kerja Amerika. Indeks S&P juga ditutup menguat +0.09%  ke level 2.076.

Bursa perdagangan Shanghai Stock Exchange (SSE) menguat mencapai level tertingginya selama enam bulan. 

Apakah Indeks Dow itu? Apakah SSE itu? Sebelum memahaminya Anda harus tahu terlebih dahulu daftar indeks saham dunia. Indeks saham yang saya paparkan dibawah adalah indeks saham yang sering dijadikan acuan)
















Keterangan:
JCI = Biasanya disebut sebagai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
NYSE = Gabungan saham seluruh emiten Amerika ("IHSG"-nya Amerika).
DJI (Dow Jones Industrial Average) =30 saham industri besar Amerika Serikat. 
SP500 = Kumpulan 500 saham 
Nasdaq = 

Di Indonesia, pergerakan chart IHSG memang paling sering dijadikan acuan untuk memprediksi arah pasar pada hari berikutnya. Namun, tahukah Anda bahwa di Indonesia sendiri, indeks saham tidak hanya terdiri dari IHSG, namun terdiri dari banyak indeks2 lainnya. Sama seperti Amerika, Bursa saham utamanya adalah NYSE, namun di Amerika terdapat indeks yang "dipecah-pecah", seperti Dow Jones, SP500, Nasdaq dan lain2. Berikut adalah indeks di bursa saham Indonesia.











Kalau di Indonesia, yang paling sering dijadikan acuan selain IHSG adalah Indeks LQ45. Mengapa LQ45? Karena saham2 LQ45 terdiri dari 45 saham paling likuid di Bursa Efek, dan banyak dari saham2 LQ45 yang sering menjadi penggerak pasar, seperti BBRI, UNVR, GGRM, HMSP dan lain2. Sehingga, korelasi antara IHSG dengan saham LQ45 adalah 99%. Jika saham2 LQ45 menguat, maka hampir pasti IHSG akan menguat. Namun demikian, karena IHSG adalah indeks besarnya dan mencerminkan pergerakan semua emiten di Bursa Efek, maka IHSG tetaplah menjadi fokus para analis, maupun pergerakan pasar saham kedepan. 

Nah, sekarang Anda sudah paham mengenai istilah indeks saham dunia. Lalu, apa perlunya memahami indeks saham dunia? Untuk mendapat jawawabnnya, silahkan baca pos: Makna Indeks Saham Dunia Bagi Pemain Saham.