Thursday, June 09, 2016

Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part III

Baca pos sebelumnya: Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part II. Pos sebelumnya sudah saya jelaskan mengenai prioritas harga dalam supply dan demand di pasar saham. Di pos ini, saya akan menjelaskan mengenai PRIORITAS WAKTU (TIME PRIORITY)

Price priority merupakan antrian order saham yang didasarkan pada prioritas waktu. Bahasa mudahnya, prioritas waktu artinya antrian saham yang didasarkan pada investor yang melakukan permintaan dan penawaran pada harga yang sama, namun pada waktu yang berbeda.

Berikut tampilan time priority pada software saham

Anggaplah harga 7.025 adalah best bid price dan 7.050 adalah best offer price. Kata Seq pada gambar diatas maksudnya adalah Sequence= menunjukkan urutan order beli dan jual. Perhatikan, terdapat 20 orang yang melakukan antrian bid price pada harga 7.025, dan 20 orang yang mengantri pada harga 7.075 di offer price. 

Cara membaca prioritas waktu adalah sebagai berikut.

Orang pertama yang melakukan antrian pada bid price di harga 7.025, dengan jumlah lot sebanyak 228 lots. Dengan nominal (Value) sebesar Rp160.170.000 (7.025 X 228 lots X 100 lembar). Orang kedua melakukan antrian harga bid 7.025 sebanyak 2 lot dengan nominal 1.405.000. Dan seterusnya. Cara membaca juga berlaku untuk antrian offer price. 

Lalu apa maknanya urutan ini? Inilah yang dinamakan dengan TIME PRIORITY seperti yang telah saya bahas definisinya diatas tadi. Menawar di harga yang sama, tetapi beda WAKTU-nya. Kalau price priority, menawar di HARGA TERBAIK. 

Pada time priority ini, otomatis orang pertama yang melakukan order beli sebanyak 228 lots ordernya akan diproses terlebih dahulu apabila ada penjual yang bersedia menjual INDF di harga 7.025, karena antriannya yang paling pertama.

Jadi, jika di pos sebelumnya:  Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part II katakan Anda melakukan order yang didasarkan pada prioritas harga paling baik akan langsung diproses, sebenarnya di dalam prioritas harga yang paling baik masih terdapat sistem antrian lagi, yaitu antrian yang didasarkan pada urutan WAKTU antrian. Jadi, kalau ada 20 orang yang ingin membeli saham pada 7.025, maka order beli yang akan diproses/ match pertama kali adalah orang yang antri pertama kali di harga 7.025.

Sudah paham sampai disini? 

Kalau Anda sudah paham, sekarang saya akan lanjutkan ke contoh yang lebih dalam lagi. 

Seumpama Anda sudah punya saham INDF sebanyak 100 lots, harga saham Anda naik drastis dan Anda memutuskan untuk jual sahamnya. Anda langsung mau menjual pada harga best bid, pada contoh ini adalah 7.025 sebanyak 100 lots. Nah, bagaimana transaksi ini akan diproses? 

Kasus pertama. Jika Anda menjual sebanyak 1o0 lot, maka orang yang nge-bid di urutan pertama ordernya akan diproses terlebih dahulu. Dengan kata lain, order jual Anda akan deal dengan orang yang meminta beli (bid) di urutan pertama (Pada tabel diatas, orang pertama adalah orang yang melakukan bid sebanyak 228 lot). Hanya saja, Anda tidak akan mengetahui dengan siapa transaksi saham Anda deal, karena sistem trading dilakukan secara online. Jika order Anda deal, maka bid lot di urutan pertama akan berkurang menjadi sebesar 128 (228 - 100) dan valuenya akan menjadi 89.920.000 (7.025 x 100 lembar x 128 lot). Hal tersebut juga berlaku sama untuk offer price.

Kasus kedua. Bagaimana Anda memiliki saham INDF sebanyak 260 lot? Apakah order bisa diproses? Karena pembeli di antrian pertama hanya melakukan bid sebanyak 228 lot. Bisa saja.. Jika Anda membeli sebanyak 260 lot dan ingin menjual, maka otomatis order beli pertama sebanyak 228 lot akan langsung habis. Lalu kemana 32 lot sisanya? Sisanya sebanyak 32 lot, akan diproses di order selanjutnya, yaitu orang yang antri kedua, ketiga dan seterusnya. Karena pada contoh diatas orang yang antri kedua hanya meminta sebanyak 2 lot, maka sisanya 30 lot akan diproses di orang ketiga. Karena orang ketiga hanya meminta 25 lot, maka sisa 5 lot akan diproses di urutan keempat. Karena orang keempat hanya meminta 1 lot, maka sisa 4 lot akan diproses pada orang yang meminta order beli di antrian kelima. Orang kelima meminta sebanyak 5 lot. Oleh karena itu, orang yang sebelumnya antri di urutan kelima sebanyak 5 lot akan menjadi antrian pertama dengan permintaan menjadi 1 lot saja (5 lot - 4 lot). Hal tersebut juga berlaku sama untuk offer price.


Itulah bid dan offer berdasarkan prioritas waktu di pasar saham. Bagaimana, apakah Anda sudah paham? Jika Anda belum paham, cermati dan pahami dengan baik kembali. 

ILUSTRASI TIME PRIORITY SAHAM DI PASAR RIIL

Sebenarnya time priority di pasar saham tidak ada bedanya dengan sistem antrian waktu, ketika Anda membeli barang2 di supermarket atau di toko manapun, yang mana mengharuskan Anda untuk mengantri. Saya berikan contoh konkritnya. 

Anda sedang memasuki supermarket karena Anda ingin belanja untuk kebutuhan Anda. Anda membeli telor 1/4 kg, harganya 5.500. Ketika selesai berbelanja, Anda pergi ke kasir untuk membayar. Pada saat di kasir, ternyata ada 5 orang yang sudah antri didepan Anda terlebih dahulu. Artinya, jika Anda antri maka Anda ada di antrian keenam. Katakanlah 5 orang tersebut ternyata juga membeli telor 1/4 kg, harganya 5.500. Kapan order Anda akan dilayani kasir?

Tentunya order Anda hanya akan dilayani ketika orang yang ada di antrian pertama sudah dilayani oleh kasir, demikian juga sampai dengan orang kelima. Ketika 5 orang sudah dilayani kasir, Anda orang keenam akan menjadi orang pertama, dan jadilah Anda dilayani oleh kasir.. Anda tidak mungkin nyelonong gitu aja untuk meminta dilayani lebih dulu. Itulah yang dinamakan dengan TIME PRIORITY. 

Jadi, sesungguhnya transaksi di pasar saham bisa terjadi karena murni adanya PERMINTAAN dan PENAWARAN. Ada pihak yang mau beli, ada pihak yang mau jual.

Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part II

Pada pos sebelumnya: Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part I, saya sudah menjelaskan mengenai bid dan offer di pasar saham. Terjadinya mekanisme transaksi di pasar saham didasarkan pada price priority dan time priority. Bagaimana logika dari keduanya? Simak pos saya dibawah ini.

Sebelum itu, Anda perlu memahami konsep hukum permintaan dan penawaran pasar terlebih dahulu:

Jika permintaan > penawaran --> harga barang (saham) akan naik.

Jika penawaran > permintaan --> harga barang (saham) akan turun. 

PRICE PRIORITY  (PRIORITAS HARGA)

Price priority merupakan antrian order saham yang didasarkan pada prioritas harga.  Apa maksudnya? Untuk lebih jelasnya lihat gambaran price priority pada software trading online adalah sebagai berikut. 


Perhatikan bid price dan offer price pada saham PT Indofood Tbk (INDF). Harga bid price Rp7.100 paling atas adalah harga yang paling diprioritaskan. Demikian juga dengan harga offer price Rp7.125 adalah harga offer yang paling diprioritaskan. Mengapa demikian?

OFFER PRICE VS PEMBELI

Saya akan mulai dari offer price (orang2 yang memasang harga jual --> menawarkan sahamnya pada pembeli untuk dijual). Nah, mengacu pada antrian diatas, sekarang ada 5 orang yang memiliki barang dengan kualitas sama. Nama barangnya adalah saham INDF. Perhatikan baik-baik yaa.. 

1. Penjual 1 menawarkan barangnya dengan harga Rp7.125.
2. Penjual 2 menawarkan barangnya dengan harga Rp7.150.
3. Penjual 3 menawarkan barangnya dengan harga Rp7.175
4. Penjual 4 menawarkan barangnya dengan harga Rp7.200
5. Penjual 5 menawarkan barangnya dengan harga Rp7.225.

Sebenarnya masih ada orang keenam, ketujuh dan seterusnya yang melakukan antrian. Tetapi biasanya, softaware trading online tidak menampilkan seluruh antrian beli dan jual. Mungkin tujuannya supaya tidak memberatkan aplikasi. Seumpama Anda memasang order di harga 7.250, maka antrian Anda tidak akan tampak di software. 

Bagaimana prioritas harga bekerja dalam sistem perdagangan saham?

Penjual 1 menempati urutan pertama alias diprioritaskan terlebih dahulu. Mengapa? Karena penjual 1 bersedia menjual saham pada harga yang paling murah diantara para penjual lainnya. Otomatis akan menguntungkan pembeli yang ingin membeli saham INDF, karena pembeli hanya perlu mengeluarkan uang sebesar 7.125 untuk membeli INDF dan tidak perlu mengeluarkan uang lebih besar (7.150, 7.175 dan seterusnya)..

Untuk memudahkan lagi logika tersebut, saya akan berikan ilustrasi dan pertanyaan kepada Anda:

Setelah dapat THR, Anda memutuskan membeli coklat merk so sweet (Saham INDF) dalam jumlah besar. Anda memasuki supermarket A dan melihat harga coklat sebesar 7.200. Karena Anda merasa harganya kemahalan, Anda masuk supermarket yang lain, supermarket B dan harga coklat di supermarket B 7.175. Anda berniat untuk mencari yang harganya lebih murah lagi. Supermarket C ternyata harganya 7.225 lebih mahal. Anda masuk supermarket D dan menemukan harga coklat hanya 7.125. Kemudian Anda masuk lagi ke supermarket E, ternyata harga coklat lebih mahal daripada supermarket D, yaitu 7.150.

Sekarang pertanyaannya, jika Anda menemukan barang dengan merk yang sama dan kualitas yang sama, diproduksi di perusahaan yang sama, yaitu coklat so sweet, kemudian Anda diberikan tawaran pilihan harga: 7.125, 7.150, 7.175, 7.200, 7.225. Anda pilih harga yang mana untuk dibeli? 

"7.125", kata Anda. 

Jika memilih 7.125, pilihan itu adalah pilihan yang paling rasional. 

Dengan kata lain, secara rasional Anda pasti memilih barang dengan kualitas yang sama namun dengan harga yang paling murah. Itulah mengapa 7.125 dikatakan sebagai BEST OFFER. Karena penjual mampu menjual barang yang sama kepada pembeli dengan harga yang PALING MURAH diantara para penjual lainnya.

Kembali lagi ke penjelasan bid-offer sebelumnya. Jadi, katakanlah Anda ingin membeli saham di harga best offer, 7.125, maka Anda tidak perlu melakukan antrian. Artinya, order beli dari Anda akan langsung diproses dan Anda akan langsung deal dengan penjual 1. Lalu, kapan penjual 2 dan seterusnya barangnya bisa laku? Hal itu bisa terjadi apabila terdapat banyak permintaan beli, sehingga barang yang ditawarkan oleh penjual 1 dengan harga terbaik 7.125 habis. Sehingga otomatis harga 7.150 menjadi best offer. Sementara itu, karena harga 7.125 akan bergeser menjadi harga best bid. 

Katakanlah ternyata Anda menilai bahwa harga 7.125 terlalu mahal, Anda ingin membeli di harga yang lebih murah, yaitu 7.100. Anda bisa membeli di harga 7.100, akan tetapi tidak bisa langsung deal dengan penjual. Anda harus bersedia antri di harga bid price (lihat gambar Bid-Offer seperti yang tertera pada gambar diatas).

Mengapa antri di harga bid price? Tanya Anda

Harga bid price adalah tempat dimana orang2 ingin melakukan PERMINTAAN BELI. Dan setiap pembeli pada umumnya pasti ingin membeli barang dengan harga yang lebih murah bahkan paling murah. Jadi kalau Anda menginginkan membeli di harga yang lebih murah, Anda harus melakukan order antrian pada harga bid. Jika Anda memasang antrian pada harga 7.100, order Anda bisa deal (match) apabila terdapat banyak yang menjual barang pada harga 7.100 (banyak penawaran jual), sehingga harga 7.100 habis dan harga 7.100 bergesar menjadi offer price alias harga saham turun karena tekanan penawaran, sehingga order Anda bisa deal ketika harga turun ke 7.100. 

BID PRICE VS PENJUAL

 

Setelah Anda memhami prioritas harga dari sisi offer price, sekarang saya akan membahas  dari sisi bid price. Bid price merupakan kumpulan harga beli dari orang2 yang ingin membeli saham di harga tertentu. Pada contoh diatas, terdapat 5 harga bid yang ditampilkan:

1. Pembeli 1 meminta barang di harga 7.100
2. Pembeli 2 meminta barang di harga 7.075
3. Pembeli 3 meminta barang di harga 7.050
4. Pembeli 4 meminta barang di harga 7.025
5. Pembeli 5 meminta barang di harga 7.000

Pembeli 1 menempati urutan pertama, alias diprioritaskan terlebih dahulu dalam jual beli saham INDF. Mengapa? Karena pembeli 1 bersedia membeli saham dengan harga yang paling mahal diantara para pembeli lainnya. Pembeli 1 akan memberikan keuntungan kepada penjual. Penjual tentu ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya dari barang yang mereka tawarkan.

Jadi, seumpama Anda menjual barang kepada pembeli 1 di harga 7.100, maka Anda tidak perlu melakukan antrian. Order Anda akan langsung deal / match. Nah, kapan pembeli 2 dan seterusnya barangnya bisa laku? Hal tersebut terjadi apabila banyak penawaran jual, yang menyebabkan harga yang diminta oleh pembeli 1 di harga 7.100 habis terjual. Sehingga, harga 7.075 otomatis akan menjadi best bid price. Harga 7.100 yang sudah habis terjual akan bergeser menjadi harga offer (harga saham turun karena banyaknya penawaran).

Bung Heze, bagaimana kalau saya tidak ingin menjual langsung di harga 7.100, harganya kurang tinggi? Pingin cuan lebih besar

Kalau tidak ingin menjual di harga 7.100 Anda bisa menjual di harga lebih tinggi, katakanlah Anda ingin menjual di 7.175, Anda harus antri pada offer price (tempat orang2 ingin menjual saham dengan menempatkan harga tertentu), Order Anda bisa deal dengan pembeli apabila terdapat banyak permintaan beli, sehingga harga 7.175 menjadi harga best bid. 

Mengapa kalau saya ingin menjual dengan harga yang tinggi harus antri pada offer price (harga penawaran jual)?

Offer adalah tempat orang2 ignin menjual saham. Penjual tentu menginginkan agar bisa menjual di harga yang tinggi atau bahkan paling tinggi. Sehingga, kalau Anda ingin menjual di harga tinggi, Anda harus antri pada offer price. 

So, jika saya rangkum sedikit, order beli dan order jual diatas bisa terjadi semua karena adanya konsep PRIORITAS HARGAJika ada prioritas harga, maka ada pula prioritas waktu. Silahkan baca pos: Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part III.

Monday, June 06, 2016

Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part I

Pada salah satu pos yang saya tulis di web ini: Cara Membeli Saham Online, saya memaparkan panduan kepada Anda bagaimana cara membeli dan menjual saham melalui software saham online yang disediakan oleh setiap perusahaan sekuritas. Pada tampilan Buy dan Sell, Anda akan melihat yang namanya Bid dan Offer. Ketika Anda ingin membeli maupun menjual saham, segala keputusan jual beli Anda pasti akan akan berpatok pada Bid dan Offer. 

Sebenarnya apa sih bid dan offer itu?

Kalau diterjemahkan: Bid = permintaan, offer = penawaran. Jadi sebenarnya, bid dan offer menunjukan sistem permintaan dan penawaran (demand dan supply) jual beli dalam perdagangan saham. Bertemunya pembeli dan penjual di pasar saham bisa terjadi karena adanya bid dan offer. Bid dan offer menunjukkan proses terjadinya suatu transaksi antara pembeli dan penjual di pasar saham. Peranan bid offer sangatlah penting untuk Anda ketahui.

Jadi pada saat apa order beli saham saya dapat deal dengan penjual? Terus darimana sistem antrian jual beli saham dapat tercipta? Inilah yang akan saya kupas tuntas sampai habis di pos ini.

Pertama-tama, untuk memahami analogi sistem antrian jual beli saham, Anda harus memahami proses terjadinya transaksi jual beli di pasar saham. Kalau boleh saya samakan, transaksi di pasar modal sebenarnya sama dengan transaksi jual beli yang dilakukan di pasar tradisional.

Lho?

Saya ulangi lagi: Transaksi jual beli di pasar saham logikanya sama dengan transaksi yang terjadi di pasar tradisional. Dimana akan terjadi tawar menawar harga. Kalau Anda bisa memahami pasar tradisional, apalagi Anda yang sering berbelanja disana, maka seharusnya Anda bisa memahami logika sistem jual beli di pasar saham dengan lebih mudah.

INGAT HUKUM PERMINTAAN DAN PENAWARAN PASAR:

Jika permintaan > penawaran --> harga barang (saham) akan naik.
Jika penawaran > permintaan --> harga barang (saham) akan turun. 

Hukum permintaan dan penawaran ini yang akan menjadi dasar saya dalam menjelaskan logika bid-offer di pasar saham. Jadi, Anda perlu pahami konsepnya sebelum saya bahas lebih dalam. 

Oke, sebelum memahami lebih lanjut mengenai transaksi permintaan dan penawaran di pasar saham, ada baiknya Anda mengerti istilah2 berikut, karena kosakata2 ini akan banyak digunakan dalam bahasan selanjutnya.

Split: Banyaknya orang yang melakukan order (order beli dan jual) antrian pada harga tertentu.

Bid lots: Banyaknya jumlah lot (satuan perdagangan saham, 1 lot = 100 lembar) beli yang diminta oleh pembeli.

Offer lots: Banyaknya jumlah lot jual yang diminta oleh penjual.

Bid price: Harga beli

Offer price: Harga jual

Permintaan dan penawaran (bid-offer) di pasar saham

Transaksi di pasar modal hanya bisa terjadi seperti pada transaksi jual beli di dunia nyata apabila terdapat pihak yang membeli (Bid) dan pihak yang menjual (Offer). Coba bayangkan kembali bagaimana transaksi di pasar tradisional terjadi. Logikanya sama dengan pasar saham. Hanya yang membedakan, pada pasar saham pembeli dan penjual tidak bertemu secara langsung (tatap muka). Apalagi sistem transaksi saham sekarang hampir semua dilakukan secara online, maka Anda bisa melakukan transaksi saham dari rumah tanpa bertemu langsung dengan pembeli / penjual.

Transaksi beli dan jual saham sangat tergantung pada dua hal utama, yaitu prioritas waktu (time priority) dan prioritas harga (price priority).

Apa itu price priority dan time priority? Bagaimana logika perdagangan di pasar saham, hingga tercipta sebuah mekanisme transaksi? Silahkan simak pada pos selanjutnya: Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham - Part II. Baca juga pos: Kegunaan Mengatami Sistem Antrian Bid-Offer di Pasar Saham.

Saturday, June 04, 2016

Arti dan Ilustrasi Satuan Perdagangan dan Fee Transaksi Saham

Ketika Anda trading saham, Anda akan dihadapkan pada istilah "lot". Apa itu sebenarnya istilah "lot"? "Lot" tidak lain digunakan untuk menyebut satuan perdagangan saham. Ibarat, menggunakan satuan Kilometer (Km) untuk jarak, Kilogram (Kg) untuk satuan berat dan lain-lain. Maka, satuan perdagangan saham menggunakan lot.

1 lot = 100 lembar saham. Aturan ini berlaku efektif sejak 6 Januari 2014. Aturan lama, 1 lot = 500 lembar saham. Tujuan Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah satuan perdagangan saham tidak lain adalah supaya transaksi di pasar saham menjadi lebih likuid, karena dengan mengurangi jumlah lembar saham, maka harga saham menjadi lebih murah, sehingga lebih mudah diperdagangkan dan bisa menjangkau investor2 ritel. 

Saya rasa Anda sudah paham tentang istilah lot di Bursa Efek. Barangkali tidak afdol kalau saya hanya menjelaskan tentang istilah lot pada pos ini. Ada baiknya Anda perlu mengetahui secara keseluruhan bagaimana cara menghitung transaksi dalam jual-beli saham di pasar modal.

Sebelum masuk lebih jauh, saya akan menjelaskan tentang fee transaksi saham. Dalam pelaksanaan perdagangan transaksi di Bursa saham, terdapat biaya transaksi yang harus dibayar oleh investor berdasarkan nilai per transaksi, baik transaksi beli maupun transaksi jual. 

Besarnya fee transaksi yang ditetapkan setiap kantor sekuritas berbeda-beda. Secara umum, fee transaksi beli lebih kecil ketimbang fee jual. Umumnya, fee beli biasanya berada di kisaran 0,15-0,30.Sedangkan fee jual di kisaran 0,25-0,40. Untuk software trading dari perusahaan sekuritas yang saya gunakan, fee beli sebesar 0,17% dan fee transaksi sebesar 0,27%.

Jika Anda menggunakan fasilitas online trading, maka besarnya fee transaksi jauh lebih kecil ketimbang menggunakan full service broker. Saat inipun, kantor sekuritas berlomba-lomba untuk memberikan nominal fee transaksi sekecil mungkin untuk menarik calon nasabah. Kalau Anda bertanya, kantor sekuritas mana fee transaksinya yang paling kecil? Jujur saya tidak tahu. Silahkan Anda tanyakan sendiri ke kantor sekuritas yang bersangkutan. Baca juga: Tips-tips Memilih Perusahaan Sekuritas Terbaik. Jika Anda ingin mencari kantor sekuritas yang ada di kota Anda, silahkan baca pos: Cara dan Teknis Membuka Rekening Saham. Saran saya, jika Anda memilih kantor sekuritas, pilihlah yang jumlah fee-nya "bersahabat". Jangan memilih fee yang besarnya sampai 0,5%.

Nah lalu apa hubungan antara lot dan fee transaksi saham? Tentu saja keduanya digunakan untuk menghitung transaksi beli dan transaksi jual saham.. Dalam menghitung jumlah modal yang harus Anda bayar untuk beli atau jual saham, Anda harus memperhitungkan jumlah lot serta fee yang Anda bayarkan. 

Silahkan lihat ilustrasi perhitungan beli dan jual saham pada tabel dibawah ini. 



Misalkan Anda membeli saham PWON tanggal 2 Oktober di harga 394. Anda berencana membeli sebanyak 27 lot. Maka total biaya yang harus Anda bayarkan adalah sebesar:

394 X 27 lot X 100 lembar = Rp1.063.800

1.063.800 + ( 1.063.800 * 0,17% fee beli) = Rp1.065.608 --> adalah biaya total yang harus Anda bayarkan. Catatan: Fee beli yang saya gunakan sebesa 0,17% adalah aturan fee beli dari kantor sekuritas yang saya gunakan trading. 


Kemudian pada tanggal 5 Otober Anda ingin menjual saham PWON yang Anda miliki pada harga 402 sebanyak 27 lot. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut.

 402 X 27 lot X 100 lembar = Rp1.085.400

1.085400 + (1.085.400 * 0,27 fee jual) = Rp1.082.469 --> adalah biaya total yang harus Anda bayarkan. Catatan: Fee jual yang saya gunakan sebesa 0,17% adalah aturan fee beli dari kantor sekuritas yang saya gunakan trading. 

Jadi sesungguhnya nilai yang Anda bayarkan untuk membeli saham PWON bukan sebesar Rp1.063.800, namun sebesar Rp1.065.608, setelah ditambah fee beli. Demikian juga ketika Anda menjual saham PWON, maka nilai yang Anda terima bukan sebesar Rp1.085.400, namun sebesar Rp1.082.469. Itulah mengapa saya menyarankan pada Anda untuk memilih kantor sekuritas dengan fee sekecil mungkin. 

Friday, June 03, 2016

Arti dan Ilustrasi Suspensi Saham

Pernahkah Anda mendengar berita emiten yang kira2 bunyinya seperti ini: 

"Saham AHAA terkena suspensi karena harga saham bergerak di luar batas kewajaran. Saat ini saham AHAA belum bisa diperdagangkan di Bursa. Perseoran akan memberikan keterbukaan informasi sebagai tindak lanjut atas kasus suspensi tersebut"

Apa arti dari informasi diatas? Pertama Anda harus pahami kata kuncinya. Kata kunci dari informasi tersebut adalah: SUSPENSI. Suspensi artinya penghentian aktivitas perdagangan saham sementara dari Bursa Efek Indonesia. Jadi, kalau saham perusahaan AHAA sebelumnya bisa Anda beli di pasar saham, ketika saham AHAA terkena suspensi, maka Anda tidak bisa memperdagangkan saham AHAA sampai status suspensi perusahaan AHAA "dicabut" oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Kalau saham suatu emiten status suspennya sudah "dicabut" (unsuspend), maka saham perusahaan tersebut sudah bisa Anda perdagangkan kembali di Bursa Efek.

Hal2 apa saja yang menyebabkan perusahaan sahamnya bisa terkena suspensi? Ada banyak faktor saham perusahaan Tbk bisa terkena suspensi.  

Pertama. Harga saham perusahaan bergerak dalam aktivitas yang tidak wajar atau Unusual Market Activity (UMA). Perlu Anda ketahui, sebelum perusahaan terkena suspensi, biasanya BEI menetapkan status UMA terlebih dahulu kepada emiten yang bersangkutan. Ketika harga saham terus bergerak tidak wajar, kemungkinan besar BEI akan men-suspen perusahaan tersebut, sehingga otomatis saham tidak bisa diperdagangkan di pasar saham. Namun perlu Anda ketahui, tidak selalu perusahaan yang kena UMA, pasti kena suspen. Bisa saja, status UMA sudah tidak melekat lagi pada perusahaan, jika pada perdagangan saham selanjutnya, harga saham kembali bergerak wajar. 

Kedua. Saham Gorengan. Saham yang sedang digoreng bandar, sehingga pergerakannya menjadi tidak wajar, bisa menjadi saham dengan kategori UMA. Akhirnya, saham tersebut bisa berpotensi terkena suspensi dari Bursa Efek.

Ketiga. Saham perusahaan sering kena auto reject. Perusahaan yang terus-menerus kena autor reject, mengindikasikan bahwa ada yang tidak wajar dalam aktivitas perdagangan sahamnya (UMA). Jika Anda belum paham auto reject, silahkan baca pos: Arti dan Istilah Auto Reject Saham.

Keempat. Perusahaan yang bersangkutan terkena masalah yang berkepanjangan. Misalnya: perushaaan terbelit kasus utang berkepanjangan, atau ada penggelapan dana dari perusahaan sehingga aktivitas operasional perusahaan tidak berjalan dengan semestinya.

Kelima. Adanya kebijakan2 perusahaan yang tidak diungkapkan ke publik. Misalnya: kebijakan merger, akuisisi dan lain2, atau bahkan kebijakan2 perusahaan yang menjadi rumor sehingga membuat pergerakan harga saham menjadi tidak wajar. Kebijakan2 perusahaan yang tujuannya tidak jelas, bisa menjadi penyebab saham perusahaan terkena suspen.

Keenam. Keterlambatan perusahaan menyampaikan kewajibannya ke Bursa Efek Indonesia. Contohnya: Keterlambatan perusahaan dalam kewajiban menyampaikan deadline laporan keuangan, perusahaan belum membayar denda keterlambatan, belum membayar biaya anual listing fee, dan lain2. Jadi, perusahaan yang terkena suspensi tidak selalu berkaitan dengan kenaikan/penurunan harga saham perusahaan yang tidak wajar. Memang sih, emiten2 yang sering bermasalah karena keterlambatannya, biasanya harga sahamnya nggak likuid dan turun, atau bahkan tidak bergerak. Jadi, kalau Anda trading, hindari membeli perusahaan2 yang sering bermasalah. Sudah ada beberapa emiten yang di-suspend karena keterlambatannya menyampaikan kewajiban ke BEI. 

Beberapa poin ini harus Anda pahami, dan Anda harus jeli mencerna berita di pasar modal, supaya saham Anda tidak 'nyangkut' di saham2 yang terkena suspensi.  

Pada saat terkena suspensi, pihak perusahaan akan melakukan klarifikasi masalah2 yang dihadapi, mengungkapkan keterbukaan informasi, termasuk kebijakan2 penyelesaian masalah kepada Bursa Efek Indonesia. Jika permasalahan perusahaan dapat segera menemui titik terang yang menyebabkan harga saham bergerak tidak wajar, maka Bursa Efek akan membuka kembali perdagangan saham perusahaan. Istilahnya: unsuspensi. 

Bung Heze, sampai kapan jangka waktu suspensi perusahaan?

Tidak ada jangka waktu pasti. Yang jelas, jangka waktu suspensi suatu perusahaan akan berakhir lebih cepat apabila perusahaan bisa mengungkapkan keterbukaan informasi secepat mungkin. Suspensi bisa terjadi beberapa hari saja, atau bahkan saham perusahaan terkena suspensi bisa sampai satu tahun! Tentunya, kalau Anda ingin tahu kenapa BEI menerapkan adanya suspensi, supaya perdagangan saham di Bursa Efek bisa berjalan dengan wajat dan teratur.

Lalu, bagaimana caranya supaya Anda bisa mengetahui saham2 apa saja yang terkena UMA maupun Suspensi?

Mudah saja. Anda bisa memantaunya melalui situs www.idx.co.id. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut.

Pertama. Buka situs www.idx.co.id

Kedua. Pada bagian kiri, menu beranda IDX klik Berita & Pengumuman. Setelah itu, Anda akan menemukan tulisan Unusual Market Activity (UMA) dan Suspensi (perhatikan lingkaran merah pada gambar dibawah).  

Ketiga. Klik menu Unusual Market Activity (UMA) dan Suspensi, tergantung mana yang ingin Anda lihat.  



Situs resmi IDX akan menampilkan surat resmi mengenai saham2 perusahaan yang terkena suspensi, unsuspensi maupun perusahaan2 yang terkena UMA. Sehingga, hal tersebut sangat memungkinkan Anda untuk membaca segala keterbukaan informasi tentang UMA dan suspensi. Berikut adalah contoh surat dari BEI kepada emiten BAEK terkait pembukaan kembali suspensi (unsuspensi).
Kalau Anda ingin melihat perusahaan2 yang kena suspensi atau UMA, Anda juga bisa melihat melalui situs IDX, pada bagian bawah situs IDX, Anda juga bisa melihat informasi UMA dan suspensi (lihat lingkaran merah pada gambar dibawah).


Dengan mengetahui informasi saham2 emiten yang terkena UMA dan suspensi, minimal Anda bisa mengamankan modal Anda supaya Anda tidak trading di saham2 tersebut. 

Strategi Membeli Saham Auto Reject

[ Catatan: Saya pribadi tidak menyarankan Anda membeli saham2 yang terkena auto reject, karena fluktuatifnya tinggi dan melatih jantung Anda. Harga saham kena AR kiri bisa naik, namun bisa turun lebih dalam lagi / kena suspen. Kalau Anda membeli harga saham yang kena AR kanan, dan naik cepat sekali di awal sesi I, bisa jadi Anda nggak dapat barang, kalau Anda kejar di harga tinggi, bisa jadi harga sahamnya udah mentok, atau bahkan koreksi. Karena saham AR fluktuatifnya cepat dan biasanya digunakan untuk trading pendek, maka kalau Anda ingin beli saham AR, risiko dan keuntungan Anda tanggung sendiri. ]

Sebelum masuk ke bahsan utama pos ini, jika Anda belum memahami istilah auto reject (AR), silahkan baca pos: Arti dan Ilustrasi Auto Reject Saham. Di pos sebelumnya sudah saya dengan detail tentang auto reject. Setelah Anda membaca dan mendalami tulisan saya, tiba2 Anda punya pertanyaan bagus:

"Bung Heze, bisakah saya dapat cuan dengan membeli saham2 yang kena auto reject?"

Sebelum Anda tahu jawabannya ya atau tidak, Anda harus memahami kecenderungan pergerakan harga saham keesokan hari setelah terkena auto reject. Dan yang terpenting, Anda harus memperhatikan paragraf pertama tulisan saya: Catatan.

Perlu Anda ketahui, ketika saham terkena auto reject atas / auto reject kanan, pergerakan harga keesokan harinya biasanya akan cenderung menguat signifikan hingga 6-7%. Tetapi kenaikan ini berlangsung dalam waktu yang sangat cepat, bahkan dalam hitungan menit sejak pasar saham pertama dibuka (jam 09:00). Setelah kenaikan 6-7%, harga saham perlahan akan mengalami penurunan perlahan tapi pasti. 

Perhatikan, kata pemicu pada kalimat diatas adalah "biasanya". Artinya, apa yang saya tulis diatas bukanlah rumus yang absolut. Ingatlah, tidak ada rumus pasti di pasar modal. Saham2 yang terkena auto reject atas, pada umumnya akan mengalami kenaikan harga signifikan pada awal sesi perdagangan keesokan hari, namun tidak selalu 100% terjadi hal yang sama pada saham2 auto reject atas. 

Jadi kesimpulannya, kalau Anda ingin membeli saham auto reject atas, saya menyarankan Anda trading untuk scalping (trading untuk hitungan menit) saja. Dengan catatan, saham tersebut memang menunjukkan kenaikan pada sesi awal yang cukup signifikan, artinya saham tersebut akan diangkat kencang untuk beberapa menit kedepan. Akan tetapi, jika saham tidak likuid, antrian bid dan offer sedikit, saya sarankan untuk menghindari saham tersebut. 

Saya beri satu contoh saham yang pernah terkena auto reject atas, yaitu: PT PP Properti Tbk (PPRO). Pada 13 April 2016, saya amati saham ini sampai sesi I kenaikan harganya masih normal2 saja. Tiba2 sore harinya harga saham PPRO sudah kena auto reject kanan. Karena saya kaget sekali bercampur rasa senang karena saya pegang saham PPRO dalam jumlah lot yang lumayan banyak, saya langsung cari informasi tentang emiten PPRO, dan ternyata kenaikan harga saham PPRO sampai terkena auto reject kanan dikarenakan kenaikan laba signifikan emiten PPRO.  Harga closing PPRO saat itu mencapai 290. 

Keesokan hari, selama 15 menit pertama jam bursa berlangsung, harga saham PPRO langsung melonjak sampai harga high 320. Setelah itu, harga PPRO anjlok sampai 276. 

Lalu bagaimana dengan saham2 yang kena auto reject bawah / auto reject kanan? Saham2 yang kena auto reject bawah inilah yang sebenarnya tidak saya sarankan untuk Anda beli.


Saham2 yang kena auto reject bawah pada hari pertama, perdagangan hari berikutnya biasanya rentan terkena auto reject kiri lagi, atau tidak kena auto reject tapi mengalami penurunan harga saham drastis, atau bahkan tidak diperdagangkan pada keesokan harinya (biasanya saham2 gorengan). Saham2 yang kena auto reject bawah, pada umumnya dikarenakan ada berita buruk yang menyebabkan sentimen negatif yang besar, sehingga terjadi aksi jual besar2an yang menyebabkan harga saham turun drastis.  

Tapi kan, kalau saham kena auto reject kiri terus artinya harga saham tersebut sudah rendah, kenapa nggak dibeli aja kalau harga udah rendah banget? Protes Anda. 

Benar kata Anda. Saham yang kena auto reject bawah, apalagi sampai beberapa hari kalau Anda lihat di grafik, harga saham tersebut akan tampak sangat kelihatan anjlok menembus support2nya. Namun, kalau Anda cermati lagi kata2 saya diatas: "Saham2 yang kena auto reject bawah pada hari pertama, perdagangan hari berikutnya biasanya rentan terkena auto reject kiri lagi, atau tidak kena auto reject tapi mengalami penurunan harga saham drastis, atau bahkan tidak diperdagangkan pada keesokan harinya", maka saham2 yang kena auto reject bawah sangat berisiko untuk Anda beli msekipun harganya sudah rendah.

Sebagai contoh saham TAXI. Pada Bulan Desember 2015, saham TAXI terkena auto reject kiri, karena ada bad news. Auto reject ini ternyata berlangsung sampai 4 hari berturut-turut. Coba Anda bayangkan, jika Anda membeli saham TAXI pada saat hari kedua autoreject, saham Anda pasti nyantol, karena pada hari ketiga dan hari keempat masih kena auto reject lagi.

Berarti nggak bisa dapat cuan dari saham yang kena auto reject bawah donk?

Tidak juga. Kembali lagi ke contoh saham TAXI. Setelah 4 hari terkena auto reject kiri, keesokan hari pada tanggal 17 Desember 2015, TAXI tiba2 naik sampai 34%. Artinya, kalau seandainya saja Anda membeli saham TAXI pada saat TAXI naik 8%-an, kemudian hari itu juga Anda jual, maka Anda bisa untung 15% lebih kan?

Jadi, kalau Anda ingin membeli saham yang terkena auto reject kiri, saran saya adalah saham tersebut masih likuid (dari sisi bid-offer), dan saham tersebut di awal sesi sudah memberikan tanda2 kenaikan harga saham (bisa ditandai dengan kenaikan harga saham yang cukup cepat di awal sesi).

Saya kira itu saya yang bisa saya sampaikan mengenai auto reject di pos ini. Semoga bermanfaat untuk Anda.  

Thursday, June 02, 2016

Arti dan Ilustrasi Auto Reject Saham

Pada saat jam trading di Bursa saham berlangsung, pernahkah Anda melihat antrian harga saham yang antrian bid atau antrian offer habis sama sekali? Kalau Anda pernah mengamati, itulah yang dinamakan dengan auto reject. Jika Anda belum paham apa itu bid dan offer, silahkan baca: Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham.

Auto reject adalah penolakan secara otomatis oleh Jakarta Automatic Trading System (JATS) terhadap penawaran jual dan permintaan beli yang dimasukkan ke dalam JATS sebagai akibat dilampauinya batasan harga yang ditetapkan oleh Bursa Efek. 

Mengapa perlu ada autoreject?

BEI menetapkan auto reject dengan maksud agar transaksi yang terjadi di Bursa Efek benar2 berlangsung menurut mekanisme pasar yang sehat, wajar dan teratur. Artinya, pihak Bursa Efek tidak menginginkan adanya harga saham yang turun terlalu dalam, yang menyebabkan para trader rugi terlalu besar. Dan juga pihak Bursa Efek tidak menginginkan adanya kenaikan harga yang terlalu tinggi, sehingga dimanfaatkan oleh pihak2 tertentu (bandar).

Berikut merupakan aturan auto reject dari Bursa Efek Indonesia (BEI)


Catatan: Pada saat emiten hari pertama melantai  di Bursa Efek setelah melalui proses Initial Public Offering (IPO), maka batasan auto reject ditetapkan dua kali lipat dari harga normal.

Untuk memahami auto reject, Anda harus mengerti fraksi harga. Jika Anda belum paham fraksi harga, silahkan baca: Arti dan Ilustrasi Fraksi Harga SahamJika Anda sudah paham batasan auto reject, mari simak contoh ilustrasi auto reject dibawah ini.

Misalkan harga pembukaan saham ABCD berada pada harga Rp2.500. Karena harga sahamnya Rp2.500, maka batas autoreject nya sebesar 25%. Artinya, kenaikan harga saham ABCD maksimal adalah sebesar 2500 + (2.500 X 25%) = 3.125. Sedangkan kalau harga saham ABCD turun, maka penurunan sedalam-dalamnya adalah 2.500 - (2.500 X 25%) = 1.875. Perhitungan ini berlaku untuk satu hari perdagangan Bursa. 

Nah, jadi misalnya Anda memasang order beli dan order jual melebihi batas auto reject, maka order Anda akan ditolak otomatis oleh sistem. Jadi, dalam satu hari perdagangan, Anda maksimal bisa meraup keuntungan pada harga Rp3.125. Jika Anda mengalami kerugian, kerugian maksimal yang Anda tanggung adalah sebesar Rp1.875.

Lalu, bagaimana saya mengetahui saham2 yang terkena auto reject?

Di paragraf pertama kalimat pertama pos ini saya menuliskan:  "Antrian harga saham yang antrian bid atau antrian offer habis sama sekali." Maka, itulah ciri2 dari saham yang kena auto reject. 

Dalam praktiknya, kadangkala Anda menemukan saham yang harganya mengalami kenaikan drastis, sehingga mengalam kenaikan drastis, sehingga tidak ada lagi pelaku pasar yang melakukan penawaran jual (offer). Kasus ini disebut sebagai auto reject atas / auto reject kanan

Sebaliknya, kalau harga saham turun drastis sehingga tidak ada lagi pelaku pasar yang melakukan permintaan beli (bid). Kasus ini disebut sebagai auto reject bawah / auto reject kiri. Kenapa hal ini bisa terjadi? Karena seperti yang saya paparkan, auto reject terjadi adanya ATURAN Bursa Efek untuk mengatur mekanisme transaksi yang wajar. 

AUTO REJECT ATAS / AUTO REJECT KANAN

Pada saat harga naik terlalu tinggi melebihi batas kenaikan maksimum aturan auto reject, artinya para pembeli saham (permintaan) berbondong-bondong bersedia membeli saham yang ditawarkan oleh penjual saham (penawaran), sampai2 penjual yang menjual saham habis karena terlalu banyak permintaan beli (barangnya habis laku terjual).

Penjual yang menawarkan barangnya pada harga berapapun, dari harga yang paling murah sampai yang paling mahal, laku terbeli sehingga penawaran jual habis sama sekali. Dengan kata lain kalau mengacu pada hukum ekonomi permintaan dan penawaran, ketika permintaan besar, harga akan mengalami kenaikan. 

Hukum ekonomi permintaan dan penawaran: permintaan > penawaran --> harga akan naik, dan sebaliknya. Kalau Anda ingin tahu bagaimana auto reject di pasar saham, tampilan auto reject atas adalah sebagai berikut. 

Contoh auto reject atas. Lihat penawaran jual (offer) habis.



AUTO REJECT BAWAH / AUTO REJECT KIRI

Mengapa di pasar saham, harga bisa turun terlalu dalam sampai2 tidak ada yang melakukan permintaan beli? Karena pada saat harga turun terlalu sampai pada batas penurunan maksimum auto reject, artinya banyak sekali penjual saham yang ingin menjual sahmanya, sehingga mengalahkan banyaknya permintaan beli. Baca pos: Permintaan dan Penawaran (Bid-Offer) di Pasar Saham

Pada saat penawaran jual deras sekali, maka permintaan beli pun akan habis karena minat jual saham sangat besar. Karena minat jual sangat besar dan ketika harga saham berada pada batas auto reject, harga saham bisa kena autor reject bawah. Auto reject bawah berarti permintaan beli yang meminta di harga yang paling rendah pun akan laku oleh penjual saham.

Contoh kasus auto reject bawah di pasar saham. Lihat permintaan (Bid) habis sama sekali. 



















$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Bagian awal tulisan di pos ini tadi saya katakan, penerapan auto reject supaya transaksi saham dapat berjalan dengan WAJAR. Wajar dalam hal apa? Penetapan auto reject  dari BEI diterapkan agar transaksi di pasar modal benar2 terlaksana dengam teratur. Coba Anda bayangkan, jika harga saham dalam sehari turun sampai 35% (batas auto reject rentang harga 50-200) saja, penurunan 35% itu sudah besar sekali. Bayangkan jika tidak ada auto reject, dan harga saham bisa turun sampai, katakanlah 65%.. Tentu penurunan sebanyak itu sangatlah tidak wajar dan bisa merugikan para trader. 

Lalu, bagaimana jika ada perusahaan yang kena auto reject atas atau auto reject bawah dalam satu hari perdagangan? Apa yang akan dilakukan pihak regulator (Pihak BEI)? 

Jika dalam satu  hari perdagangan Bursa, saham perusahaan terkena auto reject mungkin masih tidak apa-apa. Akan tetapi, jika saham kena auto reject beberapa hari berturut-turut dan terus-menerus, kemungkinan besar saham perusahaan bisa terkena suspensi. Apa itu suspensi? Silahkan baca pos: Arti dan Ilustasi Suspensi  Saham BEI.

Kemudian Anda masih belum puas, dan Anda bertanya kembali: Bung Heze, kira2 saham2 yang kena auto reject bagus untuk dibeli atau tidak? Nah, untuk menjawab pertanyaan Anda, silahkan Anda baca pos: Strategi membeli saham auto reject.