Showing posts with label Trading Plan. Show all posts
Showing posts with label Trading Plan. Show all posts

Saturday, September 24, 2016

Ciri-ciri Trader yang Tidak Punya Trading Plan

Dalam menjalankan trading maupun investasi saham, seorang trader / investor harus memiliki trading plan. Jika Anda ingin paham cara membuat trading plan yang baik, silahkan baca pos: Trading Plan Saham yang Baik.

Kenyataannya, banyak sekali trader yang mengabaikan pentingnya trading plan. Atau dalam kasus yang lebih buruk lagi, banyak trader yang cuap2 tentang trading plan, namun mereka ternyata tidak memiliki trading plan yang jelas. Tulisan di pos ini, akan memaparkan kepada Anda tentang ciri2 seorang trader yang tidak memiliki trading plan, yang bisa terlihat jelas dari gaya trading kesehariannya. Tulisan ini juga sebagai bahan evaluasi kita bersama.  

1. Mudah tergoda untuk mengejar saham2 yang naik sangat kencang, meskipun saham tersebut bukan saham gorengan.

2. Membeli saham, namun tidak tahu di harga berapa harus take profit, dan tidak tahu yang harus dilakukan ketika saham yang dipegang turun. 

3. (Khusus trader) Ketika harga saham turun drastis, masih bersikeras untuk hold dan tidak mau cut loss. 

4. Terlalu banyak membeli saham, sehingga portofolio bisa diisi sampai belasan saham. Hal tersebut menunjukkan trader tersebut tidak memiliki manajemen modal. Manajemen modal adalah elemen penting trading plan.

5.  Ketika rugi, selalu timbul rasa keinginan untuk membalas kerugian tersebut. Trader yang punya trading plan, akan tetap slow dan cool ketika rugi. 

6. Mudah euforia saat pasar saham bullish. Contohnya: Menaikkan terus target take profit ketika melihat sahamnya naik.  

7. Berusaha mencoba semua saham yang terlihat layak dibeli. Trader yang punya trading plan, hanya akan trading pada beberapa saham yang sudah diseleksi. Ada kemiripan dengan poin pertama.

8. Mudah tergoda membeli saham berdasarkan rekomendasi. "Katanya" si A saham ini akan naik, lalu Anda ikut2-an beli. "Katanya" si B saham ini akan turun, lalu Anda ikut2-an jual. Trader yang punya trading plan, tidak akan mudah tergoda dengan yang namanya "katanya", karena trading plan membantu Anda untuk tetap berpendirian kuat menghadapi fluktuasi di pasar saham. 

Itulah ciri2 trader yang tidak memiliki trading plan, yang sangat sering saya temui dalam dunia trading (pasar saham). Jika Anda merasa ada dalam poin2 tersebut, maka inilah saatnya Anda harus mulai menyusun trading plan. Trading plan sangat berguna agar sistem trading Anda rapi. Setiap trader yang bisa profit konsisten dari pasar saham dikarenakan mereka punya trading plan. 

Tapi, tentunya kalau saya hanya menuliskan ciri2 trader yang tidak punya trading plan tanpa memberikan solusinya, rasanya kurang afdol. Lalu, bagaimana solusinya? Bagaimana cara membuat trading plan? Jika Anda ingin memahami cara membuat trading plan yang baik + BONUS bocoran trading plan yang saya gunakan dalam trading, Anda bisa  mendapatkan ebook belajar saham + cara membuat trading plan disini: Buku Saham

Trading Plan Saham yang Baik


Kalau Anda trading saham atau forex, Anda pasti sering mendengar anjuran dari para pakar, teman Anda, atau para pemberi rekomendasi saham, bahwa seorang trader dan investor harus trading mengikuti trading plan. Sayangnya, setiap kali yang saya amati, banyak orang memberikan anjuran mengikuti trading plan, tanpa memberitahu apa dan bagaimana seluk beluk trading plan dan cara membuat trading plan yang baik?

Catatan: Trading plan = Sistem trading (diterapkan ketika Anda menjalankan aktivitas trading).

Anjuran membuat trading plan itu adalah saran yangsangat baik, tetapi kalau cuma diberi anjuran tanpa ada step-by-step yang jelas, saya rasa tidak akan memberikan efek apapun pada Anda. Ibaratnya seperti ini:

Dokter memberi nasihat kepada Mirna: "Mirna, untuk hidup sehat kamu harus menjaga dan mengatur pola makan yang benar." Anjuran ini sangat baik, tetapi kalau anjurannya cuman sampai disini saja, maka anjuran dokter tidak akan banyak membantu Mirna untuk mencapai pola hidup yang sehat.

Masalahnya, menjaga dan mengatur pola makan yang benar itu yang seperti apa? Apa yang harus dimakan? Apa yang tidak boleh dimakan? Bagaimana aturan dan cara menciptakan pola makan sehat? Apakah pola makan yang benar itu adalah 4 sehat 5 sempurna? Kalau Mirna ada alergi daging ikan, berarti kan nggak bisa menerapkan 4 sehat 5 sempurna? Apakah mengatur pola makan sehat itu harus makan 3 kali sehari, atau 5 kali sehari namun dengan porsi yang lebih kecil?

Sama dengan trading plan. Jika seseorang mengajurkan Anda untuk membuat trading plan dan menjalankannya dalam trading, maka yang ingin saya tanyakan adalah: Trading plan yang baik itu trading plan yang bagaimana? Sebelum membuat trading plan, Anda sudah tahu trading plan itu maksudnya seperti apa? Anda sudah tahu trading plan itu harus dibuat seperti apa?

Mengenai bagaimana cara membuat trading plan saham yang baik dan komplit, saya akan menjabarkannya dalam ebook pasar modal. Anda bisa mendapatkan ebooknya sebanyak 2 jilid dengan total halaman: 315 halaman, disini: Buku Saham. Total 315 halaman tersebut tidak semuanya berisi trading plan, tetapi berisi belajar saham mulai pemula sampai expert dan strategi2 trading. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat review ebooknya. 

Mungkin Anda bertanya-tanya: "Mengapa kok harus diterbitkan dalam bentuk buku (ebook)?"

Cara membuat trading plan dalam ebook saya jabarkan sedetail dan se-komplit mungkin. Selain itu, dalam ebook saya juga memberikan BOCORAN pada Anda, bagaimana trading plan yang saya buat. Saya bersedia memberikan bocoran trading plan pada Anda itu adalah sesuatu yang langka (para pakar pun tidak akan memberikan bocoran trading plannya pada Anda). Oleh karena itu, saya buat panduan trading plan yang baik dalam bentuk ebook New Edition. Sekali lagi, jika Anda ingin paham membuat trading plan secara utuh dan mampu menjalankannya, Anda bisa dapatkan ebooknya disini: Buku Saham.    

Thursday, August 25, 2016

Harga Saham Naik 10%, Yakin Mau Buy?

Sejak DPR menyetujui rancangan UU Tax Amnesty pada 28 Juni 2016, IHSG terus saja naik. Kita sudah pernah membahasnya di pos ini: Tetap Slow dan Waspada Saat Saham Naik. Di saat pasar saham bullish seperti ini, saya sering sekali menemukan saham2 yang harganya dalam sehari tiba2 bisa melejit sampai 10% lebih. Dan tidak jarang "para analis" sering memberikan rekomendasi atau seolah-olah ajakan untuk membeli saham tersebut. 

Kalau ada saham yang tiba2 naik sebanyak itu dalam sehari, tidak menutup kemungkinan keesokan harinya naik akan melanjutkan kenaikannya, bahkan bukan naik biasa, tapi kenaikan yang kencang sekali. Yang jadi masalah, apakah kalau menemukan saham2 seperti itu Anda sebaiknya beli?

Jawabannya: 90% tidak dan 10% ya.  Nah lho ?

Mari saya jelaskan. Dalam kondisi pasar saham bullish seperti saat ini, ada banyak sekali saham  yang tiba2 dalam sehari naik kuencanggg sekali. Katakanlah: WOMF, POOL, INDS, IMJS, HRUM, MYOH dan masih banyak lainnya yang mencatat kenaikan drastis. Kalau Anda menemukan saham2 yang tiba2 naik kencang PADAHAL ANDA JARANG MEMPERHATIKAN SAHAM2 TERSEBUT, maka jangan pernah mengejarnya (Buy).

Bagaimana kalau Anda coba beli saham2 yang naik 10% secara tiba2, dan saham itu belum pernah Anda pantau sebelumnya? 

Oke saya beri satu contoh saham yang naik pesat: INDS. Perhatikan grafik INDS dibawah.


Asumsikan INDS adalah saham yang tidak pernah Anda pantau sebelumnya (Anda tidak paham pola teknikal saham INDS). Pada 10 Agustus 2016, saham INDS mampu mencetak harga high 1.315 (perhatikan tanda panah). Tentu saja INDS sudah mengalami kenaikan harga yang sangat pesat, bahkan hari itu adalah harga tertingginya selama satu tahun. Dan selain itu, pada bulan Maret 2016 harganya masih di kisaran 380-an!

Anda yang tidak pernah perhatikan saham INDS, belum pernah pegang saham INDS sejak harganya masih 380-an, dan tiba2 Anda nyadar INDS naik terus dengan pesat. Pada waktu Anda perhatikan ternyata harganya sudah tembus resisten 1 tahun. Anda yakin kalau saham INDS bakal naik lagi, akhirnya Anda berambisi untuk mengejar dan Anda buy di harga 1.300. Ternyata, keesokan harinya 11 Agustus 2016 harga INDS bukannya naik malah turun drastis, dengan haga high hanya 1.155 dan ditutup hanya di harga 1.060. (Perhatikan candle merah setelah tanda panah, menunjukkan penurunan drastis harga saham INDS)


Apa yang terjadi? Saham Anda nyangkut. Ya, bayangkan saja, begitu beli di 1.300 tiba2 dalam satu hari langsung amblas ke 1.155. Ini adalah pelajaran yang bisa Anda dapatkan: Anda jangan pernah berambisi mengejar saham2 yang naik pesat, padahal Anda tidak pernah memperhatikan saham tersebut sebelumnya, Anda juga tidak kenal pola teknikal saham tersebut. Trading dengan cara seperti itu, akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis Anda.  

Anda harus trading mengikuti trading plan yang Anda siapkan. Kalau Anda tergoda dengan saham2 yang naik kencang yang jarang Anda perhatikan (diluar pengawasan monitoring saham Anda), sudah bisa kebaca kalau Anda tidak punya trading plan. Baca juga: Ciri2 Trader yang Tidak Punya Trading Plan (Belum terbit.. coming soon).

Nah, disinilah peran TRADING PLAN berbicara. Trading plan yang seperti apa? Supaya Anda tidak mudah tergoda mengejar saham2 yang naiknya nggak jelas, Anda harus membuat trading plan seleksi saham2 yang  layak dibeli secara analisis teknikal. Artinya, Anda harus trading hanya pada beberapa saham saja yang Anda pahami. Ingat quote Waaren Buffet:
"Risiko trading saham dapat berkurang banyak apabila Anda trading pada beberapa saham saja."
Dengan memantau beberapa saham saja, Anda tidak akan tergoda oleh saham2 yang naik nggak jelas dan di luar pemantauan Anda. 

Nah, tadi saya bilang 90% jangan dibeli dan 10% boleh beli. Dalam hal apa Anda boleh beli?

Anda boleh beli saham yang naik 10% secara cepat, kalau saham tersebut adalah saham yang memang sudah berada dalam pantauan Anda, dan Anda yakin kalau saham tersebut akan tetap melanjutkan kenaikan (rally). 

Jadi, inti dari trading saham adalah: Bagaimana  Anda mengenali pola suatu saham dan bisa mendapat profit konsisten, serta rugi seminimal mungkin, dan bekerja sesuai dengan trading plan. Bukan mengejar barang2 yang tidak Anda kenal. Ibarat pergi ke supermarket untuk belanja, kemudian membeli barang secara asal. 

Friday, August 12, 2016

Tetap Slow dan Waspada di Saat Saham Naik

Judul diatas mungkin menimbulkan sedikit kontroversi bagi pembaca web Saham Gain. Waktu saham naik2nya kan mestinya borong saham yang banyak, ini kok malah disuruh waspada?  Saya bisa membaca pasti itu yang terlintas dalam pikiran Anda. 

Anda semua pasti tahu, saat ini pasar modal Indonesia sedang dilanda euforia. IHSG sekarang sedang melaju kencang bak mobil yang melaju cepat di jalan tol. Berikut adalah laju grafik IHSG yang sedang berada pada tren bullish.


Kalau Anda perhatikan tren diatas, maka posisi IHSG kita sedang bullish. IHSG yang pada Bulan Mei 2016 masih bertengger di posisi 4.600-4.800-an, kini sudah menembus level 5.400 dan akan menguji resisten all time high di angka 5.524. Apa lagi penyebab utamanya kalau bukan: Tax Amnesty dan Sri Mulyani Effect. Dan, IHSG kita terhitung mulai awal tahun memberikan kenaikan paling tinggi diantara indeks2 dunia, kenaikan IHSG sampai 18% sejak awal tahun 2016 - awal Agustus 2016. Bagaimana dengan portofolio Anda? Apakah bertumbuh? Sudah mencetak return berapa persen?

Sebagai sedikit bocoran, saham2 sekarang yang sangat bagus untuk dikoleksi adalah saham2 di sektor properti. 

Kembali lagi dengan judul pos diatas, kalau saham naik kan seharusnya borong saham. Namun, saya justru menyarankan untuk 'tetap waspada'. Apa artinya? Artinya saya menyarankan pada Anda untuk tidak larut dalam euforia pasar. Saat kondisi pasar saham naik, jangan borong banyak saham . Nah lho?

Kenaikan harga saham belakangan ini didukung oleh tax amnesty dan Sri Mulyani Effect. Selain itu, kenaikan juga didukung pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2016 yang naik dibanding kuartal I: 5,18% vs 4,92%. Tetapi sekali lagi, kondisi ekonomi Indonesia masih belum mencerminkan fundamental ekonomi seutuhnya. Mengapa demikian?

Tax amnesty belum memberikan dampak apapun ke sektor riil maupun perekonomian Indonesia, karena dampak tax amnesty bersifat jangka panjang. Bukan berarti ada tax amnesty, maka perekonomian Indonesia langsung pulih dengan segera. Demikian juga dengan masuknya kembali Sri Mulyani sebagai menteri keuangan, bukan berarti ekonomi Indonesia otomatis pulih 100%. Di satu sisi, Indonesia masih terdapat shortfall target pajak sebesar 219 triliun. Sehingga pemerintah harus memangkas belanja negara sebesar 133 triliun, seperti perjalanan dinas, biaya operasional dan biaya2 lainnya yang dianggap kurang diperlukan.

Masih ingat kejadian tahun 2015 kemarin? Kondisi perekonomian kita lesu, sehingga hampir semua harga saham berjatuhan. Padahal, pada pertengahan 2014 - pertengahan April 2015 pasar saham berada dalam tren strong bullish. Sayangnya, di saat strong bullish seperti itu, banyak sekali trader yang memborong saham banyak2, terus beli, tanpa waspada sedikitpun, tanpa mengamankan portofolionya.

Hasilnya, ketika pasar saham benar2 jatuh, buanyaak trader yang sahamnya nyangkut. Kenaikan IHSG yang terjadi sebelumnya hanyalah euforia saja, bukan mencerminkan fundamental ekonomi sesungguhnya. Biasanya, pasar saham yang naik terlalu tinggi tidak menutup kemungkinan adalah indikasi bubble. Meskipun untuk tahun 2016 ini, saya yakin kenaikan IHSG bukanlah pertanda bubble tersebut. 

Nah, inilah yang jadi alasan mengapa dalam keadaan IHSG yang naik kencang, Anda harus tetap waspada. Jangan sampai karena IHSG naik kencang, Anda kehilangan kontrol.

Jadi bagaimana strategi trading yang PALING IDEAL pada saat IHSG sedang (strong) bullish?

Strategi paling ideal adalah dengan menerapkan trading plan. Baca pos: Ciri2 Trader yang Tidak Punya Trading Plan (belum terbit... coming soon). Tetap slow dan waspada terhadap fluktuasi. Tetap menyikapi pasar dengan cool, kalem, rileks, jangan terbawa euforia. Intinya cuman itu saja kok. Dalam kondisi pasar saham bullish, tidaklah sulit (mudah) untuk mendapatkan cuan dari saham. Yang paling penting, Anda harus mampu menyeleksi saham2 yang layak dibeli menurut pengamatan dan analisis Anda, sehingga Anda tidak terjebak dengan saham2 yang naik cepat tanpa didasari alasan yang jelas. 

Saya lebih menyarankan Anda, untuk memasukkan 2-4 saham saja yang menurut Anda bakalan bullish, dengan porsi modal yang lebih besar. Misalnya: Biasanya Anda mendiversifikasikan saham dengan 4-5 saham. Nah, dalam kondisi pasar strong bullish, Anda bisa coba 'menyempitkan' jumlah portofolio Anda menjadi 3 saham saja, dengan alokasi modal yang lebih besar. Selain itu, dengan posisi portofolio yang tidak terlalu banyak akan memudahkan Anda untuk memantau portofolio. 

Friday, June 24, 2016

Arah Harga Saham itu Mudah Ditebak!

Kalau Anda baca judul pos diatas, saya yakin akan ada tiga multitafsir dari para pembaca web Saham Gain. Pertama, Anda setuju dengan apa yang saya tulis. Anda berpikir: "Iya ya, memang mudah menebak harga saham itu mau naik atau turun. Itulah kenapa saya bisa profit konsisten.Kedua, Anda berpikir kalau saya cuma membual. Anda berpikir: "Ah, masa sih yang nulis ini memang pinter nebak arah harga saham?" Ketiga, Bagi Anda yang masih berada dalam posisi portofolio merah (loss), Anda marah dan merasa tersindir.

Well, pos ini tidak bermaksud untuk menyerang siapapun ataupun membujuk diri saya sendiri. Mengapa saya katakan harga saham itu mudah ditebak? 

Memprediksi harga saham pada dasarnya hanyalah menggunakan garis support dan resisten, serta menentukan arah tren harga saham tersebut. Saham yang berada dalam uptrend yang kuat, maka saham tersebut akan terus menembus resistennya. Artinya? Tentu saja, harganya akan terus breakout dan naik. Jadi, patokan harga support dan resisten yang lama sudah pasti nggak berlaku sama sekali, karena harga sudah terbang tinggi. 

Maka, ketika ada kesempatan untuk membeli di harga "high" dan menjualnya di harga lebih tinggi (buy high sell higher), kesempatan tersebut adalah kesempatan emas. Sebaliknya, kalau harga saham berada pada tren turun, dan harga terus turun, maka harga saham tersebut memiliki potensi besar untuk terus jebol melewati support2 pentingnya. 

Itu artinya, kalau Anda ingin cuan, belilah saham2 yang sedang uptrend, bukan saham2 yang sedang jatuh. Memang, saham2 yang sedang jatuh memiliki potensi untuk rebound dan Anda bisa membeli di harga rendah. Namun, Anda membutuhkan suatu sinyal yang pas, dan hati2 harga saham yang jatuh terus bisa mengindikasikan saham tersebut adalah saham yang tidak likuid. Saham2 uptrend akan naik terus, dan koreksi yang terjadi umumnya adalah koreksi sehat, sehingga jika banyak para trader berpikiran kapan harga saham ini akan jatuh soalnya sudah "kemahalan", sehingga saya bisa membeli di harga yang rendah, maka pemikiran itu sangatlah salah.  

Percaya atau tidak, sebenarnya, banyak dari pedagang saham seperti Anda dan saya yang tidak perlu kesulitan untuk menebak arah harga saham menggunakan analisis teknikal, bahkan dengan analisis yang cukup simpel nggak perlu rumit2. Dibalik semua itu, pernahkah harga saham yang Anda prediksi benar, tapi cuan yang Anda dapat malah nggak segede prediksi Anda yang benar itu?

Jika Anda pernah mengalami hal demikian, maka sesungguhnya yang jadi kendala utamanya sebenarnya bukanlah Anda yang tidak jago memprediksi, tetapi ada satu faktor paling penting lainnya, yaitu KEMAMPUAN EKSEKUSI. Kehebatan Anda dalam memprediksi hanyalah kemampuan Anda diatas kertas. Yang paling penting adalah bagaimana Anda bisa eksekusi saat pasar saham sedang jalan, saat harga saham terus bergerak liar. Disitulah ketangguhan Anda baru diuji. 

Misalkan: Hari ini Anda rencana membeli saham AKRA dengan modal Rp15 juta. Anda yakin kalau saham AKRA akan naik kencang dalam beberapa waktu kedepan. Tiba2 Anda membaca rekomendasi analis lain yang bilan kalau saham LPPF akan naik kencang. Kemudian ada analis lagi yang mengatakan bahwa saham SMGR akan naik. Anda yang pada awalnya berencana memasukkan modal 15 juta di saham AKRA, jadi kalang kabut saat lihat kondisi pasar saham yang sudah jalan, terlebih ketika Anda lihat saham LPPF dan SMGR mulai bergerak naik. Akhirnya, Anda pun beli saham AKRA, LPPF dan SMGR, dengan alokasi dana masing2 5 juta, karena Anda takut ketinggalan kereta. Itu artinya, Anda belum bisa meng-eksekusi pasar.  

Itulah kenapa kalau Anda perhatikan, banyak sekali orang yang bisa ngomong ini dan itu tentang saham, tentang prediksi harga saham, tetapi mereka sendiri belum bisa cuan dari trading saham. 

So, untuk menjadi seorang trader yang handal Anda dituntut untuk tidak hanya jago prediksi harga saham, tetapi Anda harus mampu melakukan eksekusi dengan benar dan sesuai trading plan Anda.   

Wednesday, April 13, 2016

Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part II (Konsistensi Trading Plan)

Di pos saya sebelumnya: Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part I saya sudah membahas cara membuat trading plan. Nah, barangkali Anda orang yang kritis kemudian bertanya kembali:

 "Berarti dengan trading plan dan memtauhinya, sudah menjamin saya bisa langsung untung besar donk?"

Kalau Anda bertanya seperti itu, jujur saja saya jawab apa adanya: Tidak juga....

Selalu saya utarakan kepada Anda khususnya melalui tulisan2 yang saya utarakan di pos web ini, jangan memiliki harapan yang terlalu besar untuk bisa profit segede mungkin dari pasar saham. Dapat profit dari pasar saham itu tidak mudah. Maka dari itu, untuk menyiasatinya dan untuk mematahkan siklus psikologi pasar yang berulang, Anda harus disiplin dan konsisten dalam menjalankan trading plan Anda. Ketika Anda bisa menjalankan trading plan dengan konsisten, maka profit juga akan mengikuti dengan konsisten. Baca pos: Kesalahan Utama Trading: Untuk Uang. 

Perhatikan kata kunci dari kata2 yang saya cetak tebal: KONSISTEN. Jadi, tujuan PERTAMA ketika Anda membuat trading plan adalah membuat supaya Anda bisa UNTUNG KONSISTEN dan bisa menekan kerugian Anda secara KONSISTEN pula. Untung konsisten bukan berarti untung gede dan spektakuler!

Wah, berarti saya tidak bisa untung besar donk kalau sudah punya trading plan?

Maksud saya bukan seperti itu. Sekarang saya beri 2 pilihan pada Anda:

1. 25 kali transaksi saham Anda menghasilkan 18 untung dan 7 cut loss tapi keuntungan Anda sangat konsisten walaupun kecil dan cut loss Anda dua kali lebih kecil dari cuan Anda. Total: Anda cuan

2. Anda dalam 2 kali transaksi untung Rp10.000.000, tapi dalam 5 transaksi saham berikutnya rugi Rp10.000.000. Total: break event poin (BEP).

Anda pilih yang mana? Kalau menurut ilmu konsistensi, seharusnya yang lebih baik yang pilihan nomor 1. 

Kenapa Anda perlu untung konsisten dahulu? Karena di pasar saham Anda tidak akan mudah untuk meraup keuntungan. Seperti pengalaman saya, 6 bulan pertama trading saham, saya bisa mendapatkan cuan yang gede, setelah itu hanya 2 transaksi saya, bisa menimbulkan kerugian sebesar cuan yang saya peroleh di 6 bulan pertama. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena saya tidak punya trading plan.  

Jadi perlu Anda ketahui, kalau Anda trading tidak punya trading plan dampaknya akan sangat berbahaya bagi modal yang Anda tanamkan di saham. Kenyataannya, banyak sekali pemula yang cuma mau untung besar dalam sekejap tanpa punya trading plan. Banyak sekali orang2 yang terjebak dalam iming2 bahwa trading saham itu mudah tanpa memaparkan risiko dan pentingnya trading plan. Dan percayalah Anda tidak akan untung tapi malah buntung.. 

Dengan trading plan bukan berarti Anda tidak bisa untung besar dari pasar saham. Para full time trader pasti bisa mendapatkan keuntungan besar dari saham? Lho kok bisa begitu? Jelas saja, karena para full time ini hanya memenuhi kebutuhuan hidup sehari-harinya dari saham saja, sehingga dipastikan full time bisa dan paham cara mencetak cuan yang besar dari pasar saham. Baca juga pos: Menjadi Full Time Trader Part I.

Tapi yang saya tekankan disini bukan cuan yang besar, namun konsistensinya. Para full time trader bisa mencetak cuan yang besar, dan mereka melakukannya secara KONSISTEN, termasuk ketika mereka harus menetapkan batasan cut loss secara KONSISTEN juga. Para trader yang sudah bisa mencetak keuntungan secara spektakuler di pasar saham, bukan berarti mereka trading beberapa bulan kemudian cuan gede.

Para trader yang bisa mencetak keuntungan besar diawali dari KONSISTENSI mereka. dari kekonsistenannya menjalankan trading plan itulah, perlahan mereka bisa mencetak trading2 berkualitas dan akhirnya berubahlah menjadi profit yang besar yang diperoleh secara KONSISTEN pula. Jadi, trader yang sudah bisa untung secara konsisten dan atau konsisten dan besar, mereka tidak mudah terpengaruh total oleh kondisi psikologi FEAR AND GREED, karena mereka memiliki dan menjalankan trading plan-nya.

Saya pribadi baru bisa mencetak keuntungan konsisten dengan strategi2 teknikal yang saya buat setelah saya menjalankan trading plan saya. Di awal menjalankan trading plan, saya sering berganti trading plan dan pada akhirnya saya menemukan trading plan dan strategi "bermain" saham yang pas. 

Ketika saya mendapatkan untung konsisten, hal ini bukan juga jaminan untuk saya bahwa saya tidak terbawa oleh arus psikologi fear and greed. Namun, trading plan mampu mengarahkan Anda untuk menuju pada konsistensi trading yang benar..

Jadi, berhentilah berharap terlalu besar dari pasar saham. Tentukan tipe dan strategi trading Anda, dan buatlah trading plan serta laksanakan.  

Saturday, April 09, 2016

Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part I

Berkaitan dengan pos sebelumnya: Psikologi Pasar: Fear And Greed Part III salah sudah menulis tentang bagaimana cara untuk mengalahkan psikologi yang berulang: FEAR and GREED yang selalu menghantui para trader. Seperti saya paparkan di pos sebelumnya, cara paling penting untuk mengalahkan psikologi tersebut adalah dengan cara membuat dan mematuhi TRADING PLAN Anda. Dengan trading plan, jalan Anda akan lebih lurus dan tidak tergoda dengan saham2 yang tidak jelas.

Lalu Anda bertanya: "Trading plan itu yang seperti apa ya?

Menurut definisi saya trading plan merupakan untuk Strategi perencanaan manajemen modal trader dan investor dalam memetakan portofolio pilihan, menetapkan strategi analisis indikator dan menetapkan batasan take profit (memaksimalkan keuntungan) serta menimimalkan kerugian sekecil mungkin, supaya bisa mendapat profit secara konsisten, yang pada akhirnya bisa membuat profit menjadi besar. 

Jadi kata2 kunci trading plan disini adalah:

- Perencanaan portofolio
- Perencanaan indikator pilihan
- Memaksimalkan profit
- Meminimalkan cut loss
- Memanajemen modal

Tujuan trading plan: sangat jelas untuk menghindarkan Anda dari kondisi psikologis yang berpotensi menyerang Anda: FEAR and GREED, seperti yang saya paparkan di pos2 sebelumnya tentang psikologi trading. Tujuan akhirnya: Anda profit maksimal dan rugi seminimal mungkin.

OK Anda sudah paham apa itu trading plan dan mengapa sangat dibutuhkan. Nanti akan saya jelaskan lebih banyak tentang kegunaan trading plan ini. Mungkin Anda sudah banyak yang tidak sabar dan bertanya: "Terus gimana caranya buat trading plan?"

Disinilah saya akan memberi saran singkat pada Anda mengenai cara membuat trading plan untuk tahap pemula - mahir, berdasarkan pada kata2 kunci diatas. Saya mulai saja.

---------------------------------------------------------

Anda adalah seorang pemula, benar2 pemula... Maka apa yang harus saya lakukan?

Pertama. Tentukan jangka waktu trading. Anda ingin trading harian, mingguan, atau bahkan menjadi scalping trader, yang masuk-keluar pasar hanya dalam hitungan jam bahkan menit? Jika Anda memilih untuk menjadi scalping dan trading mingguan tidak masalah, namun pisahkan dana Anda. Untuk pemula, saya menyarankan Anda trading harian, sekitar 2 hari - 1 minggu. Tujuannya supaya Anda lebih banyak mempelajari analisis teknikal dan mempelajari pergerakan market. Dengan demikian, Anda bisa lebih peka. 

Kedua. Perencanaan modal dan manajemen modal. Modal pemula yang saya sarankan ada di kisaran Rp1.000.000 - Rp1.500.000. Jangan lebih dari itu. Setelah itu, Anda rencanakan maksimal Anda punya 3 portofolio. Jangan pernah menghabiskan dana Anda 100% pada saham2 yang Anda beli. Selalu sisakan dana di account balance Anda. Untuk memanajemen modal, bahasan trading plan secara jelas silahkan baca lagi pos: Perencanaan Dana Untuk Trading Saham, Baca juga: Ilustrasi Membeli Saham dengan Modal Rp500.000

Ketiga, siapkan portofolio pilihan Anda. Saran saya, usahakan Anda memilih portofolio dari saham2 LQ45. Anda harus memiliki saham2 pilihan Anda yang Anda gunakan untuk trading. Tujuannya agar Anda tidak mudah terjebak dengan saham2 yang pergerakannya tidak likuid. Sudahkah Anda membaca pos: Menggunakan Diversifikasi Saham yang Pas. Baca juga: Menetapkan Saham Pilihan Trading. Baca juga: Trader Harus Punya Saham Pilihan.

Keempat, siapkan indikator2 yang cocok untuk Anda. Setiap indikator yang digunakan oleh orang lain belum tentu cocok untuk Anda. Oleh karena itu, Anda harus memulai dengan trial and error untuk mencoba indikator2 yang cocok dan pas untuk trading Anda. Baca pos: Analisis Teknikal Klasik Vs Teknikal Modern.

Kelima. Nah ini adalah bagian terpenting yang TIDAK BOLEH DIABAIKAN oleh setiap trader. Apa itu? Menentukan take profit dan batasan cut loss. Saat membeli saham, Anda harus sudah tahu kapan Anda tak profit dan kapan Anda cut loss. Lalu berapa persentase saya harus melakukan take profit dan cut loss?

Sebenarnya take profit itu paling tidak harus 2x lebih banyak dari cut loss (take profit: cut loss= 2:1). Kalau sudah expert, take profit harus 3x lebih banyak dari cut loss (take profit: cut loss= 3:1. Intinya, Anda harus bisa sebesar mungkin dengan menyempitkan / meminimalkan sekecil-kecilnya batasan cut loss. 

Tapi kalau Anda pemula, kelihatannya sulit kalau Anda harus menetapkan take profit segede mungkin dan cut loss sekecil mungkin. Maka dari itu, saran saya untuk pemula, Anda menetapkan disiplin cut loss sebesar 5% dengan take profit sebesar 6-7%.. Silahkan lihat tabel dibawah.






Target pertama bukan dapat untung sebesar-besarnya, tapi adalah supaya Anda bisa profit konsisten dan Anda menekan kerugian dengan konsisten. cut loss sebesar 5% terlihat cukup berat, namun setidaknya Anda belajar terlebih dahulu. Setelah Anda sudah mulai memahami pasar, Anda sudah tahu batasan2 cut loss dan take profit. Anda bisa menurunkan batasan cut loss lebih rendah dengan take profit lebih besar. ANda bisa menaikkan 2x liat take profit: cut loss = 2:1. Berikut adalah saran take profit dan cut loss jika Anda sudah mulai memahami kondisi pasar dan seluk beluk trading.





Jika Anda sudah mahir, Anda bisa meningkatkan take profit Anda dan meminimalkan persentase cut loss. Dan tentu saja, inilah akhir dari tujuan dari setiap orang untuk trading dan sekaligus menjadi tujuan akhirnya yaitu memaksimalkan profit dan meminimalkan kerugian sekecil-kecilnya. 

Jika Anda bertanya kembali: "Seberapa lama kira2 seseorang dapat dikatakan mahir untuk menjadi seorang pro dan bisa handal dalam memaksimalkan keuntungan dan menekan kerugian?"

Tidak ada patokan pasti. Namun, kalau Anda baru berkecimpung di dunia saham 2-3 tahun, maka saya pastikan Anda belum cukup kuat untuk bisa naik ke posisi pro..  Coba Anda bayangkan, seorang Christiano Ronaldo (CR). CR bisa bermain di klub2 besar, seperti Manchester United dan Real Madrid, mencetak banyak gol2 spektakuler dengan skill yang menawan, apakah CR hanya butuh berlatih selama 2 tahun? Tentu tidak kan? CR butuh berlatih bertahun-tahun, bahkan mungkin sejak dia masih usia dini. 

Sama juga dengan trading saham. Kalau Anda ingin mahir, mulailah dengan belajar, mulailah dengan membuat trading plan. Kembali lagi ke bahasan poin kelima maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

"Take profit dan cut loss harus ditentukan berdasarkan trading plan Anda, bukan berdasarkan antrian bid-offer".  Anda harus sudah memiliki trading plan dan Anda harus berusaha untuk mematuhi trading plan Anda sendiri. 

Keenam. Disiplin dan konsisten. Ini adalah bagian paling sulit untuk diterapkan. Kalau Anda beli saham, Anda menetapkan take profit sebesar 5%, lalu harganya tiba2 naik 5%, segera tak profit. Itu adalah arti dari disiplin dan konsisten. 

Banyak trader yang terjebak dalam kondisi pasar. Mereka sesungguhnya sudah memiliki trading plan, karena mereka melihat harga saham yang naik cepat, mereka terus ngarep, dan akhirnya mereka yang harusnya sudah profit malah rugi. Sayang sekali bukan?

"Tapi Pak, saya sudah disiplin dan konsisten menjalankan trading plan, kok malah banyak cut loss-nya ya?"

Kalau Anda terus2-an cut loss, berarti ada yang salah dengan salah satu trading plan Anda. KEMUNGKINAN TERBESAR adalah: Kesalahan Anda membaca indikator, kurang peka dalam memprediksi pergerakan market, indikator yang Anda gunakan tidak cocok dengan karakter Anda, atau bahkan Anda malah beli saham2 yang tidak likuid. Jadi, kalau Anda terus2 an cut loss, segera perbaiki cara analisis Anda.

Kemudian Anda masih belum puas dan kembali menimpal: "Hahaha cut loss? buat apa? Toh harganya nanti juga naik, rugi lah kalau cut loss, ntar malah rugi."

Cut loss adalah bagian dari trading plan. Kalau Anda tidak melakukan cut loss, waktu dan modal Anda akan hilang. Mengapa? Karena dengan cut loss sedini mungkin:

1. Anda menyelamatkan modal Anda.
2. Anda bisa memindahkan/membeli saham di harga yang rendah dan bagus.

Dibandingkan menahan saham nyantol yang bisa Anda jual, kenapa tidak Anda alihkan saja ke saham2 yang bisa mencetak profit? Baca juga psos: Penyebab Saham 'Nyantol': Trader Tidak Mau Cut Loss."

Itulah kira2 cara membuat trading plan yang saya sarankan kepada Anda. Ingat itu tadi adalah saran. Sesuaikan sendiri dengan kondisi Anda. 

Jadi Pak, Apakah ketika kita membuat trading plan, maka kita bisa mencetak keuntungan2 spektakuler?... 

Silahkan simak jawabannya di pos lanjutan: Membuat Trading Plan (Pemula - Expert) Part II (Konsistensi Trading Plan).