Tuesday, September 13, 2016

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Solvabilitas



Rasio Solvabilitas digunakan untuk menunjukkan seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh kewajibannya, baik kewajiban jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang. Kalau pada pembahasan sebelumnya: Analisis Rasio Keuangan: Rasio Likuiditas, digunakan menunjukkan tingkat ke-likuid-an perusahaan (hanya melihat kewajiban jangka pendek). 

Apa perlunya rasio solvabilitas? Solvabilitas dapat menunjukkan sejauh mana aset atau modal perusahaan dalam menutup kewajiban. Kalau perusahaan tidak memiliki kecukupan aset atau modal untuk memenuhi kewajibannya (kewajiban besar sekali, sedangkan modal atau aset sangat kecil), maka perusahaan ini adalah perusahaan yang tidak solvabel. 

Itu artinya, perusahaan terlalu banyak utang tetapi perusahaan tidak memiliki modal dan aset yang cukup untuk meng-cover kewajibannya. Jadi, dalam analisis fundamental, kalau Anda menemukan perusahaan yang tidak solvabel, maka Anda jangan investasi di perusahaan tersebut. Perusahaan bisa terkena risiko gagal bayar. 

Jenis2 rasio solvabilitas:

1. Rasio Utang terhadap Ekuitas / Debt to Equity Ratio (DER).

DER adalah rasio solvabilitas yang paling sering digunakan dalam analisis fundamental. DER menunjukkan sejauh mana perusahaan mengcover kewajiban menggunakan modal (ekuitas) total yang dimiliki perusahaan. Atau bisa juga: Sejauh mana perbandingan kewajiban perusahaan dibandingkan dengan modal sendiri (ekuitas). Rumus DER adalah sebagai berikut.


Menghitung DER cukup mudah, tinggal bagi saja kewajiban total perusahaan dengan aset totalnya. Disini saya akan ambil satu perusahaan, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI). Lihat laporan keuangan AALI dibawah.


Total Assets AALI dibagi dengan Liabilities selama 3 tahun berturut-turut akan menghasilkan DER 2010: 0.18 , DER 2011: 0.21 , DER 2012: 0.33. Artinya, utang AALI sangatlah kecil jika dibandingkan dengan ekuitasnya. Bahkan utang AALI hampir 0, sehingga dari sisi kesehatan solvabilitas, AALI dapat dikatakan sangat baik dan layak investasi. DER yang baik harusnya perusahaan memiliki kewajiban yang lebih kecil dibandingkan ekuitas. 

DER menunjukkan struktur modal perusahaan, apakah perusahaan cenderung lebih banyak menggunakan utang atau modal sendiri? Semakin besar DER, semakin besar pula utang perusahaan. Semakin besar DER, juga bisa menunjukkan utang perusahaan stagnan, tetapi modal perusahaan turun. Sebagai fundamentalist, kalau Anda menemukan DER yang besar karena utang besar, perlu diwaspadai.

Berarti kalau DER perusahaan besar, emitennya jelek donk Bung Heze?

Belum tentu. Kalau misalnya DER perusahaan besar karena utangnya gede, apakah berarti perusahaan ini nggak layak investasi? Well, nggak juga. Kalau utang gede, Anda harus tracing (melalui Catatan Atas Laporan Keuangan), penggunaan utang tersebut untuk apa saja. Kalau penggunaan utang tersebut untuk ekspansi perusahaan, maka utang gede nggak ada salahnya. 

Emiten2 yang baru melantai di Bursa saham, bisa saja memiliki utang yang besar. Hal itu dikarenakan emiten2 tersebut sedang berada dalam tahap ekspansi, sehingga membutuhkan utang dalam struktur permodalannya. Tapi, kalau Anda menemukan emiten dengan utang terlalu besar, dan kinerjanya lagi anjlok, ya ini alamat, Anda jangan investasi di perusahaan tersebut, karena risiko pailit semakin besar.

Kalau DER adalah salah satu analisis fundamental, lalu apakah DER memiliki pengaruh terhadap harga saham Bung Heze? Tanya Anda.

Tentu saja berpengaruh. Nggak percaya?  Kita ambil laporan keuangan emiten PT Bumi Resources (BUMI). Silahkan lihat perbandingan kewajiban dan ekuitas BUMI dibawah.



BUMI memiliki peningkatan utang yang cukup besar terutama pada tahun 2012 dan 2013. Pada 2012, peningkatan utang sebesar 19,91% dan pada tahun 2013 sebesar 33,17%. Masalahnya, ekuitas BUMI ini ternyata negatif (minus), yang berasal dari retained earnings yang negatif. Hal tersebut menyebabkan DER BUMI menjadi negatif pula. DER selalu naik, bahkan pada tahun 2012, DER nya sampai 17,75 kali. Hal ini menunjukkan BUMI memiliki utang yang sangat besar dalam struktur modalnya. Perhatikan DER BUMI dibawah ini. 


Kalau Anda googling tentang BUMI, BUMI memiliki masalah besar dengan struktur modalnya, dan penggunaan utang yang besar ini menjadi ancaman bagi kelansungan usaha BUMI, sehingga utang BUMI yang besar ini menjadi sorotan. Inilah salah satu alasan mengapa harga saham BUMI turun terus, sampai level gocap. Ini artinya, utang terlalu besar sangatlah tidak baik untuk kelangsungan hidup perusahaan.

Sekali lagi, utang yang gede bukanlah persoalan, selama perusahaan menggunakan utang untuk ekspansi, dan jangan lupa selama kinerja perusahaan tetap OK. Namun, DER yang mencapai 17,75 kali seperti BUMI, menunjukkan bahwa perusahaan tidak sehat (terlalu banyak utang). 

2. Rasio Utang terhadap Aset / Debt to Total Aset Ratio (DTA)

Rasio solvabilitas yang nggak kalah pentingnya, adalah DTA. Rasio ini sangat penting karena menggambarkan seberapa kemampuan aset total perusahaan dalam mengcover kewajiban totalnya. Dengan kata lain, rasio ini menunjukkan perbandingan Utang Total: Aset Total. Berikut rumusnya.


Cara menghitungnya cukup mudah, tinggal Anda bagi aset total dengan kewajiban total. Secara logika, rasio DTA yang baik adalah ketika perusahaan memiliki aset yang lebih besar dibandingkan utang. Aset penting dalam kaitannya dengan utang, karena semakin besar aset perusahaan, semakin mudah perusahaan melunasi kewajiban2-nya. Kewajiban perusahaan, dilunasi melalui aset2nya, salah satunya melalui kas dan setara kas.  

Baca juga rasio2 keuangan lainnya: 
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Likuiditas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Aktivitas
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Pasar

Sunday, September 11, 2016

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Likuiditas


Rasio likuiditas digunakan untuk menunjukkan sejauh mana kemampuan perusahaan dalam memenuhi (membayar) kewajiban lancar (jangka pendek) menggunakan aset lancar. Kewajiban lancar dalam laporan keuangan adalah kewajiban yang memiliki jatuh tempo maksimal sampai dengan 1 tahun. Sedangkan aset lancar yang dimaksud adalah aset yang likuid / mudah dicairkan sewaktu-waktu apabila perusahaan membutuhkan dana. 

Contoh kewajiban lancar dalam laporan keuangan perusahaan adalah utang usaha, utang pajak, pinjaman bank jangka pendek dan lain2. Contoh aset lancar dalam laporan keuangan perusahaan adalah kas dan setara kas, piutang, persediaan, biaya dibayar dimuka. Aset lancar yang paling likuid tentu saja adalah kas dan setara kas, karena bisa digunakan kapanpun perusahaan membutuhkannya.  

Secara logika, rasio likuiditas suatu emiten dapat dikatakan bagus apabila aset lancar perusahaan lebih besar daripada kewajiban lancar. Artinya, nilai aset lancar dibandingkan kewajiban lancar harusnya minimal 1 atau lebih dari satu. Jika perusahaan memiliki kewajiban lebih besar dibandingkan dengan aset lancarnya, maka hal tersebut bisa membahayakan kelangsungan hidup perusahaan (risiko likuidasi). 

Namun, sebagai seorang fundamentalist, Anda tidak bisa langsung menyimpulkan dari satu sudut pandang saja. Jika kewajiban lancar perusahaan besar, bisa saja menunjukkan perusahaan sedang melakukan ekspansi. Untuk itu, perusahaan perlu menggunakan utang dalam struktur permodalannya. Selain itu, perusahaan2 yang baru melantai di Bursa saham, biasanya akan cenderung menggunakan utang untuk melakukan ekspansi usaha. Ada baiknya, Anda juga perlu menelusuri penggunaan kewajiban lancar perusahaan, biasanya Anda bisa menemukannya pada Catatan Atas Laporan Keuangan. 

Jenis2 rasio likuiditas:

[Saya menggunakan contoh laporan keuangan perusahaan PT Astra Agro Lestari (AALI) tahun 2012]. 

1. Rasio Lancar (Current Ratio)

Rasio lancar adalah perbandingan aset lancar dengan kewajiban lancar. Kegunaan rasio lancar adalah menunjukkan seberapa kemampuan perusahaan dalam menutup kewajiban lancar menggunakan seluruh aset lancarnya. Rasio lancar dikatakan baik apabila  Rumus rasio lancar adalah sebagai berikut:



Pada laporan keuangan, rasio lancar AALI pada tahun 2012 adalah sebesar 0,68 kali dan pada tahun 2011 sebesar 1,27 kali. Artinya, rasio lancar AALI mengalami penurunan. Pada tahun 2012, rasio lancar sebesar 0,68 kali menunjukkan bahwa AALI memiliki kewajiban lancar yang lebih besar ketimbang aset lancarnya. Apakah dalam hal ini berarti AALI tidak layak menjadi wadah investasi? Tungu dulu. Anda tidak bisa menyimpulkan dari satu sisi. Kalau dilihat, kewajiban lancar AALI selalu naik, dan komponen aset lancar terbesar adalah persediaan. Namun, hal tersebut tidak serta merta berarti AALI jelek. 

2. Rasio Cepat (Quick Ratio)

Rasio cepat adalah perbandingan aset lancar dengan kewajiban lancar setelah dikurangi dengan persediaan. Rasio cepat tidak memasukkan persediaan dalam perhitungannya, karena persediaan adalah aset lancar yang paling tidak likuid. Tidak mudah mengubah persediaan dalam waktu cepat menjadi kas dan setara kas. Rasio cepat yang bagus adalah yang nilainya diatas 1. 

Rumus rasio cepat adalah sebagai berikut:



3. Rasio Kas (Cash Ratio)

Rasio kas adalah perbandingan kas dan setara kas terhadap kewajiban lancar. Rasio kas bertujuan untuk melihat sejauh mana kekuatan kas perusahaan dalam menutup kewajiban jangka pendeknya. Kas dan setara kas menjadi ukuran utama dalam rasio likuiditas karena kas adalah aset lancar perusahaan yang paling likuid, di mana jika perusahaan membutuhkannya sewaktu-waktu perusahaan bisa menggunakannya kapan saja. 

Rumus rasio kas adalah sebagai berikut



$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$$

Dari beberapa rasio likuiditas, manakah rasio likuiditas mana yang paling akurat menurut Anda? Kalau dari pengamatan saya, baik melalui laporan ICMD yang dibuat langsung untuk kepentingan investor maupun dari sumber2 lainnya, current ratio adalah rasio lancar yang paling sering dijadikan patokan dalam analisis likuiditas. Mengapa?

Karena biar bagaimanapun, current ratio mencerminkan seluruh aset lancar perusahaan, bukan hanya kas, bukan hanya piutang. Oleh karena itu, supaya Anda nggak bingung dengan rasio yang terlalu banyak, saya menyarankan Anda lebih banyak menggunakan current ratio dalam menilai kondisi likuiditas perusahaan. 

Namun, tidak ada salahnya jika Anda lebih menjabarkan analisis Anda ke dalam beberapa rasio likuiditas lainnya, seperti quick ratio dan cash ratio. Yang perlu Anda ketahui adalah, kewajiban lancar yang besar belum tentu jelek. Anda perlu mengetahui pengunaan utang perusahaan. Kecuali, jika kewajiban lancar perusahaan sangat besar, sedangkan aset lancar perusahaan terus turun dari tahun ke tahun, itu yang perlu Anda waspadai sebagai seorang investor.

Baca juga rasio2 keuangan lainnya:

Analisis Rasio Keuangan: Rasio Solvabilitas 
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Profitabilitas 
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Aktivitas 
Analisis Rasio Keuangan: Rasio Pasar

Friday, September 09, 2016

Cara Menggunakan Indikator Money Flow Index

Salah satu analisis teknikal yang dapat digunakan dalam mengambil keputusan trading adalah indiktor Money Flow Index (MFI). Kalau diartikan berarti: 

Money: Uang
Flow: Arus / aliran 
Index: Indeks

Berarti terjemahannya kira2: Indeks arus / aliran uang. Apa maksudnya? MFI berarti adalah indikator yang digunakan untuk mengukur aliran uang masuk dan aliran uang keluar, baik dari investor lokal maupun investor asing dalam suatu saham. Karena MFI digunakan untuk mengukur aliran uang masuk dan keluar, maka MFI juga melibatkan volume dalam indikatornya

Dengan kata lain, MFI sebenarnya juga mengukur minat pasar terhadap suatu saham (arus masuk dan keluar sangat berkaitan dengan minat pasar). Itulah mengapa MFI juga melibatkan volume dalam indikatornya. Jika Anda belum paham mengenai volume, silahkan baca pos: Cara Menggunakan Volume Saham dan Forex. 

Cara membaca indikator MFI sangat mudah, hampir sama dengan cara membaca indikator2 lainnya, seperti relative strengh index, stochastic dan lain2. Berikut adalah tampilan charting indikator MFI. 



Cara Membaca Indikator MFI 

MFI memiliki 2 buah garis batas utama, yaitu, garis overbought (jenuh beli) dan oversold (jenuh jual). Garis overbought ada di angka 80 keatas. Garis oversold ada di angka 20 kebawah (perhatikan tanda panah diatas). Artinya, jika indikator MFI berada di angka 80 keatas, artinya sudah terlalu banyak aliran uang masuk dari investor, yang menyebabkan harga saham naik, sehingga menyebabkan jenuh beli. 

Sedangkan, apabila indikator MFI berada di angka 20 kebawah, artinya sudah terlalu banyak aliran uang keluar dari investor, yang menyebabkan harga saham turun, sehingga menyebabkan jenuh jual. 

Kapan Membeli dan Kapan Menjual?

Idealnya, Anda membeli kalau garis MFI menunjukkan kenaikan, maka hal tersebut adalah sinyal bahwa harga saham akan naik. Sedangkan Anda menjual kalau garis MFI menunjukkan penurunan, maka hal tersebut adalah sinyal bahwa harga saham akan mengalami penurunan. Perhatikan gambar dibawah.


Perhatikan tanda persegi diatas. Ketika garis MFI turun, akan diikuti dengan penurunan harga saham. Pada saat garis MFI mulai turun, Anda sell. Sebaliknya, ketika garis MFI naik (perhatikan tanda lingkaran), akan diikuti dengan kenaikan harga saham. Jadi, pada saat garis MFI naik, Anda buy. 

Waspadai, jika garis MFI sudah berada di zona overobught, ada kemungkinan harga saham akan koreksi. Demikian juga sebaliknya, ketika MFI berada di zona oversold, ada kemungkinan harga akan rebound, sehingga pada saat MFI berada di zona oversold, maka hal itu adalah peluang Anda untuk beli.


"Tapi itu kan teorinya, bagaimana dengan prakteknya?"

Selalu saya katakan, tidak ada yang pasti di pasar modal. Apa yang saya tulis diatas, adalah KECENDERUNGAN, bukan rumus pasti. Jadi, ketika MFI naik, tidak serta merta 100% harga saham akan naik. Ada baiknya Anda mengkombinasikan dengan indikator lainnya. Untuk leibh jelasnya, silahkan baca divergen MFI dibawah.

Divergen MFI

Seperti indikator2 lainnya, indikator MFI bisa saja menghasilkan divergen. Divergen disini maksudnya adalah MFI dan harga saham bergerak ke arah yang berlawanan. Ketika indikator MFI bergerak naik, harga saham malah bergerak turun dan sebaliknya. Perhatikan gambar dibawah. 



Perhatikan tanda persegi. Tampak bahwa indikator MFI bergerak turun melandai, tetapi harga saham malah naik. Inilah yang disebut dengan divergen. Untuk menggunakan indikator MFI, ada baiknya Ada mengkombinasikan dengan indikator2 lainnya. 

Tuesday, September 06, 2016

Makna Dari: "Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful" - Part II


Takut berarti Anda jangan pernah terbawa euforia. Malahan, Anda dianjurkan untuk tidak beli saham terlalu banyak (jangan diversifikasi terlalu banyak). Anda harus terus waspada dengan market. Segera take profit kalau sudah untung. Jangan ngarep terus, mentang2 pasar lagi bullish. 

Lebih baik Anda hanya pegang 2 saham, dengan target take profit yang nggak terlalu lama. Yang lain mau beli 10 saham, biarkan saja. Namanya euforia, cepat atau lambat IHSG akan turun dengan cepat, dan disertai koreksi besar. Nggak percaya? Lihat grafik IHSG dibawah


Tanda IHSG turun sudah terlihat sejak pertengahan Agustus 2016. Dan akhirnya turun pada minggu keempat Agustus (Perhatikan lingkaran). Disinilah pasar saham benar2 koreksi, meskipun kita semua tidak tahu koreksi nya hanya sesaat atau akan koreksi lebih lama lagi. Saham2 mulai banyak koreksi. Pelaku pasar mulai khawatir realisasi tax amnesty yang selama ini digembar-gemborkan, ternyata masih jauh dari kenyataan. Di satu sisi, IHSG memang sudah dianggap ketinggian, sehingga terjadilah aksi profit taking. 

Dana tax amnesty yang diperkirakan akan masuk sejumlah Rp165 triliun sampai akhir Agustus 2016, hanya tercapai 2,6 triliun. Sungguh angka yang sangat jauh dari realita. Pelaku pasar mulai was-was kalau2 dana tax amnesty tidak mencapai target. Itulah mengapa euforia tax amnesty mulai pudar, dan otomatis menjatuhkan IHSG kita. 

Bagaimana dengan suku bunga AS? Di tengah-tengah IHSG turun, dan spekulasi AS menaikkan suku bunga, KATANYA banyak orang hal itulah yang membuat IHSG terkoreksi banyak. Benar sih benar, tapi saya rasa bukan itu faktor utamanya. Yang membuat IHSG selama ini mulai terkoreksi banyak, adalah realiasi tax amnesty yang jauh dari harapan dan IHSG memang saat ini sudah naik terlalu tinggi. Logikanya, nggak mungkin kan orang2 beli barang terus tanpa profit taking? 

Inilah akibat dari euforia berlebihan.... IHSG cepat atau lama akan terjun bebas. Jadi bukan karena suku bunga AS, data Amerika bla bla bla.... Tetapi ya karena semua kembali lagi ke faktor internal kita (yang selama ini banyak dibicarakan ternyata nggak sesuai target).  

Nah inilah mengapa Anda harus TAKUT (FEARFUL) pada saat IHSG sedang naik kencang (euforia).

Kalau Anda masih ngotot beli saham terus karena dipenuhi rasa tamak saat semua orang sedang tamak, padahal sebentar IHSG memasuki masa koreksi, kemungkinan besar saham Anda akan nyantol. 

"Jadi strateginya harusnya bagaimana Bung Heze?"

Seperti pemaparan saya tadi: Anda boleh2 saja beli saham, tetapi Anda harus sangat dan sangat waspada dengan kondisi market. Jangan beli banyak saham, jangan menginapkan saham terlalu lama, segera keluar kalau Anda sudah untung. Anda harus secepat mungkin mengosongkan portofolio Anda kalau sudah untung. Kalau Anda sudah profit, nggak usah beli saham lagi.. Tunggu aja tanggal mainnya, IHSG turun baru Anda beli.

Sebaliknya, pada saat2 IHSG sedang memasuki masa2 koreksi inilah, Anda harus mulai pasang planning untuk membeli saham2 di harga bawah / support-nya (buy on weakness). Saat IHSG koreksi, semua orang panic, Anda harus mulai tamak. 

Intinya, kalau Anda menerapkan quote dari Warren Buffet, maka beberapa hal yang harus Anda perhatikan: 

Pertama. Saat IHSG bullish karena euforia, Anda nggak usah menanggapinya terlalu berlebihan. Nggak usah pegang saham terlalu banyak, tunggu aja market koreksi, baru Anda hajar beli saham yang banyak.

Kedua. Segera keluar dari pasar kalau sudah ada tanda2 IHSG mau turun. Baca juga: Pertanda IHSG akan Jatuh (Belum terbit... coming soon). Jangan pernah takut cut loss. Jangan tamak karena Anda berharap saham Anda naik terus, karena IHSG masih uptrend, padahal IHSG sudah ada tanda2 akan koreksi. 

Ketiga. Peranan cash itu sangat penting. Kalau Anda punya cash banyak saat IHSG koreksi, disitulah Anda bisa mulai TAMAK dengan mengejar saham2 di harga bawah.

Makna Dari: "Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful" - Part I

Ingat kata2 bijak Warren Buffet, investor saham yang sangat kaya berkat hasil investasi di Bursa saham?
"Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful"
Kata2 bijak diatas artinya kira2: Jadilah takut ketika semua orang sedang tamak, dan jadilah tamak ketika semua orang sedang takutMaksudnya begini: Ketika IHSG sedang naik kencang2-nya, saat semua orang larut dalam euforia pasar, saat semua orang terus saja ingin memborong saham banyak-banyak, saat semua orang pamer profit sana-sini, Anda HARUSNYA TAKUT.

Sebaliknya, saat IHSG sedang jatuh, semua orang sedang panic selling, banyak prediksi sana-sini yang bilang IHSG masih turun lagi, asing net sell terus, sebagian besar saham sudah pada turun, banyak orang yang takut jual karena sahamnya nyantol, disitulah Anda HARUSNYA TAMAK (Gunakan dana Anda banyak2 untuk beli saham).

"Lho? Masa sih iya?" Tanya Anda. Saya jelaskan perlahan.

Indonesia sering kali (sangat sering) dihadapkan pada situasi market yang bullish kencang. Sayangnya, kondisi market yang lagi bullish2nya ini tidak ditunjang dengan kondisi fundamental. Hanya sekedar euforia. Kalau sudah euforia, artinya? Artinya: nggak lama kemudian harga saham akan turun. Tepat sekali.

Contoh baru2 ini: Sejak akhir Juni 2016 - pertengahan Agustus pasar saham terus saja rally kencang. Apalagi penyebab utamanya kalau bukan tax amnesty effect dan Sri Mulyani effect. Ekpektasi yang sangat tinggi seakan tax amnesty benar2 sudah memenuhi target. Ekspektasi berlebihan seakan ekonomi  Indonesia sudah pulih. 

Mengenai tax amnesty, kita pernah membahasnya disini: Tax Amnesty, Awal Bangkitnya Pasar Modal dan Perekonomian Indonesia? Part I. Tax Amnesty, Awal Bangkitnya Pasar Modal dan Perekonomian Indonesia? Part II.

Tentunya, momen ini dimanfaatkan pelaku pasar untuk memborong saham dalam jumlah besar. Memborong saham dalam jumlah besar means mayoritas harga saham naik. Saya selama ini sering mengamati saham2 properti. Contohnya ASRI yang pada April lalu masih di harga 400-an, tiba2 naik sampai 550! PWON yang pada bulan2 April-Mei harganya masih mondar-mandir aja di harga 500-an, sekarang sudah mencapai 690 di harga resisten puncak. LPKR yang harganya pada bulan Juni masih sekitar 980, tiba2 melonjak jadi 1.190. Dan masih banyak lagi saham2 yang rebound-nya kenceng amat. Fantastis!!

Banyak juga kok trader2 yang bisa profit besar dengan memanfaatkan momen euforia ini. Tapi, kalau menurut ajaran Opa Warren, saat2 seperti itu Anda harusnya TAKUT (FEARFUL). 

Lho berarti saya nggak boleh beli saham donk Bung Heze? 

Bukan begitu. 

Ingin tahu penjelasannya lebih lanjut? Silahkan baca ke Part II: Makna Dari: "Be Fearful When Others Greedy dan Greedy When Others Are Fearful" - Part II.

Monday, September 05, 2016

Analisis Fundamental: Analisis Rasio Keuangan

Seorang investor saham (bukan trader saham), pasti membutuhkan suatu alat analisis dalam mengambil keputusan investasinya. Jika Anda seorang investor, maka Anda harus memiliki kemampuan untuk menganalisis LAPORAN KEUANGAN. Dengan kata lain, Anda harus mampu mengetahui komponen2 penting dalam laporan keuangan (bisa membaca dan menginterpretasikan laporan keuangan emiten). Baca juga: Inti dan Prinsip Dasar Analisis FundamentalCara Mendapatkan Laporan Keuangan PerusahaanAnalisis Fundamental: Memanfaatkan Laporan ICMD.

Masalahnya, komponen dan elemen dalam laporan keuangan itu ada banyak sekali... Anda mau pakai patokan yang mana untuk jadi pertimbangan alat analisis investasi Anda? Di dalam analisis laporan keuangan (ALK), ada yang namanya analisis rasio keuangan

Analisis rasio keungan ditujukan untuk mengetahui perbandingan kondisi kesehatan perusahaan ditinjau dari berbagai hal. Dengan kata lain, adanya rasio keuangan akan memudahkan Anda untuk mengetahui sejauh mana keefektifan kinerja sebuah perusahaan, yang ditinjau dari berbagai hal. Misalnya: Bagaimana keefektifan perusahaan dalam menghasilkan laba, Anda bisa meninajunya, misalnya melalui Return to Equity (ROE).

Kalau Anda ingin mengetahui apakah utang perusahaan banyak atau tidak, mana mungkin Anda hanya melihat utang perusahaan (kewajiban) saja tanpa membandingkan dengan komponen lain? Oleh karena itu, terciptalah Debt to Equity Ratio (DER), yang bisa membantu mempermudah Anda untuk mengetahui apakah utang perusahaan tergolong besar atau wajar.

Contoh lainnya, kalau Anda ingin mengetahui harga wajar saham sebuah perusahaan untuk keputusan investasi, Anda tidak akan bisa menentukan wajar tidaknya harga saham kalau Anda tidak menggunakan rasio keuangan, yaitu Price Earning Ratio (PER). 

Kalau Anda melihat di laporan2 tahunan perusahaan, atau laporan ICMD, Anda selalu menemukan rasio keuangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa rasio keuangan sangat penting bagi Anda, jika Anda adalah seorang investor. Dengan rasio keuangan, Anda juga bisa menentukan tren kinerja dari sebuah perusahaan. Disitulah akan muncul pendapat objektif: Apakah saya harus investasi di perusahaan ini atau tidak?

Meskipun analisis rasio keuangan bukanlah patokan baku dalam menentukan keputusan investasi. Disamping analisis rasio keuangan, Anda juga harus mempertimbangkan aspek2 lainnya, seperti pembagian dividen, GCG dan lain2. Namun rasio keuangan merupakan salah satu alat yang membantu banyak dalam mengambil keputusan investasi Anda. 

Rasio keuangan dibagi menjadi 5 jenis rasio utama (Silahkan klik link dibawah, untuk mengetahui penjelasan dari masing2 rasio keuangan, dan pentingnya rasio2 tersebut dalam investasi saham). 

1. Rasio Likuiditas
2. Rasio Solvabilitas
3. Rasio Profitabilitas / Rentabilitas
4. Rasio Aktivitas
5. Rasio Pasar 

Pelajari juga analisis rasio-rasio keuangan yang seringkali menjadi perhatian para pelaku pasar, analis saham, dasar keputusan investasi maupun mungkin juga anda gunakan dalam penelitian. 

1. Analisis Fundamental Saham - Return on Asset (ROA)
2. Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part I
3. Analisis Fundamental Saham: Return to Equity (ROE) - Part II
4. Makna dan Fungsi Rasio Earning Per Share (EPS)
5. Analisis Fundamental Saham: Price Earning Ratio (PER)
6. Rumus Altman Z-Score untuk Prediksi Kebangkrutan
7. Cara Menghitung Nilai Buku per Saham (Book Value per Share) 
8. Analisis Fundamental Saham: Price to Book Value (PBV)
9. Kegunaan dan Cara Menghitung Dividend Payout Ratio
10. Kegunaan dan Cara Menghitung Dividend Yield
11. Analisis Fundamental: Analisis dan Kegunaan Rasio Net Profit Margin (NPM)
12. Analisis Fundamental: Debt to Equity Ratio (DER)
13. Analisis Fundamental: Analisis Rasio Lancar (Current Ratio)
14. Analisis Fundamental: Analisis Rasio Cepat (Quick Ratio)

Saturday, September 03, 2016

Reverse Stock Split di Bursa Saham

Reverse stock split (RSS) kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia artinya: Kebalikan dari pemecahan saham. Arti yang lebih mudah dicerna lagi adalah: PENGGABUNGAN SAHAM dalam corporate action (aksi korporasi). Jika Anda belum mengerti stock split, silahkan baca pos: Stock Split di Bursa Saham.

"Penggabungan saham, emang cara menggabung saham itu gimana Pak Heze?" Tanya Anda.

Penggabungan saham atau RSS berarti adalah kebalikan dari stock split. Saya berikan ilustrasi mudah. Anda memiliki uang Rp20.000 sebanyak 5 lembar. Anda butuh menukarkan duit gede Rp100.000 karena dompet Anda semakin "tebal" akibat terlalu banyak uang kecil. Anda pun menukarkan uang Rp20.000 sebanyak 5 lembar tadi dengan uang Rp100.000 sebanyak 1 lembar.   


Jadi, Anda awalnya memiliki jumlah uang sebanyak 5 lembar, kini Anda hanya memiliki jumlah uang sebanyak 1 lembar, tetapi nilai Rupiahnya tetap sama (tidak berubah). Itulah ilustrasi penggabungan saham. Sudah menangkap maksud saya? Lalu, apa tujuan dari RSS? Apa dampak RSS terhadap harga saham dan jumlah saham beredar?

RSS tidak akan mengubah nilai Rupiah saham Anda. RSS akan mengubah: Jumlah saham yang Anda pegang, mengubah harga saham perusahaan menjadi lebih tinggi, dan mengubah jumlah lembar saham beredar di pasar. Dengan RSS, maka jumlah saham beredar akan semakin sedikit. Logikanya, jika beberapa saham digabung jadi satu, maka jumlah saham beredar akan semakin sedikit. 

Tujuan emiten melakukan RSS: Supaya menaikkan harga saham perusahaan, sehingga saham perusahaan menjadi likuid kembali.

Biasanya RSS dilakukan jika harga saham perusahaan sudah sangat rendah. Harga saham rendah biasanya dikarenakan harga saham tersebut turun terus, sehingga menjadi tidak likuid. RSS cenderung dilakukan jika harga saham sudah menyentuh level gocap (Rp50).

Harga saham yang sudah berada pada harga Rp50, yang merupakan batas harga terendah di BEI, sejatinya harganya "lebih rendah" lagi. Hal tersebut dikarenakan ketika harga saham mencapai Rp50, maka banyak nyangkuters yang sebenarnya ingin menjual sahamnya di harga Rp47, 48, 49, 50, 50, 51, 52, tetapi harganya sudah mentok di Rp50, sehingga harganya nggak bisa turun lagi. Atas dasar inilah emiten perlu melakukan RSS. Dengan RSS, maka investor bisa menjual sahamnya di harga yang lebih tinggi. 

Cara Membaca Pengumuman RSS

Contoh perusahaan yang melakukan RSS: PT Buana Listya Tama Tbk (BULL). Berikut adalah pengumuman RSS BULL:

Emiten: BULL
Rasio RSS: 8:1
Cum RSS: 6 Maret 2015
Ex RS: 9 Maret 2015

Arti pengumuman tersebut adalah: BULL akan melakukan RSS dengan rasio 8:1. Setiap pemegang saham BULL yang memiliki 8 saham BULL sampai tanggal cum date 6 Maret 2015, akan digabung menjadi 1 saham baru pada tanggal ex date 9 Maret 2015.  
Kalau saya rangkum: Dengan RSS, maka harga saham perusahaan akan menjadi lebih tinggi, sehingga:

- Investor ritel maupun institusional yang sahamnya nyangkut (Karena harga saham mentok di harga Rp50), bisa menjual saham di harga yang lebih tinggi. 

- Harapannya, dengan RSS harga saham perusahaan lebih banyak diminati investor. Dikarenakan harga saham tidur dan rendah, secara value tidak menarik untuk ditradingkan dibandingkan dengan harga saham yang agak tinggi.

- RSS dapat mengurangi jumlah saham beredar, nilai nominal tetap.